I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II

I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II
Chapter 24.2



"Sudah kubilang jangan menghadapi mereka secara langsung!" Teriak Lilia kepada dua orang itu.


Mereka berempat berada di hutan sebelah utara desa, dan saat ini Lilia sedang menebas satu per satu Orc dengan ekspresi kesal. Menggunakan kedua belati di tangan lalu menebas area vital Orc itu tanpa membuat kerusakan lebih yang membuat seragam Lilia kotor.


"Ta-tapi aku sudah berusaha."


Masalah mental sedang dimiliki oleh Mord saat ini ketika dia ketakutan. Lalu dia sedikit membuat jarak dari Orc yang menyerangnya. Perbedaan kekuatan yang membuatnya sedikit mundur, padahal serangan Orc itu tidak lebih dari kuat dari seorang amatir sekalipun— hanya menyerang Mord dengan instingnya saja.


Itulah yang membuat Lilia kesal,


"Apa kau tidak pernah berpikir, hah?! Tentu saja, kalau kau kalah kekuatan fisik dengan Orc itu pakailah otakmu untuk menutupi kelemahanmu itu! Makanya aku sudah bilang jangan menyerang mereka secara langsung!"


Sebelumnya Lilia telah melihat preferensi kedua pria itu dalam sebuah pertarungan dan kelas petualang, teknik dan kekuatan mereka tidak ada yang bisa diharapkan di saat melawan musuh yang lebih kuat dari mereka.


"Ma-maaf!" Kata Mord saat dia bergetar memegang pedangnya.


"Yah, kalian memang harus lebih banyak pengalaman." Lilac mengatakan itu jauh di belakangnya.


Di saat Lilac mengatakan itu, sebuah anak panah melesat kemudian melubangi tubuh Orc itu tanpa membuatnya bereaksi. Lilac hanya melakukan itu dengan santai.


"Baiklah, kalian ulangi sekali lagi." Kata Lilac acuh tak acuh, "Aku dan Lilia akan mendukung kalian dari belakang dan menilai seberapa besar potensi kalian untuk dapat disebut 'Petualang'."


"Kami mengerti!" Leo dan Mord serentak mengatakan itu.


Ketika Lilia mengurusi Orc lain dan menghabisinya, Leo dan Mord memulai langkahnya satu persatu, berlari menuju satu Orc yang ingin menyerang mereka.


Tanpa sadar mereka berpencar ke dua sisi yang berbeda dan membuat bingung Orc itu. Orc itu memutuskan memfokuskan pandangannya pada Leo, menyerang Leo menggunakan kapak besarnya tapi Leo tidak membuat kesalahan yang sama untuk kedua kalinya, dia menghindarinya yang hampir mengenai tubuhnya lalu membuat tebasan ke arah leher Orc itu.


"Hah?" Leo terkejut.


Pedangnya segera ditangkap oleh Orc itu, lalu darah mengucur dari tangan Orc. Karena Orc itu tidak mempunyai pertahanan makanya dia mengorbankan salah satu tangannya. Tapi itu yang membuat Leo tidak bisa bergerak dan tidak bisa mencabut pedangnya.


Kalau dia tidak melepaskan pedangnya, malahan dia akan terkena serangan Orc itu dalam sekejap. Tapi sebelum itu...


"Grrrr!!" Orc itu berteriak kesakitan.


Mord menebasnya dari belakangnya, menebas punggung Orc itu berkali-kali dan terus mengucurkan darahnya. Tapi kekurangannya adalah Mord kurang dalam penebasanya, karena itu setelah beberapa tebasan yang ke sepuluh, pedangnya ditangkap oleh Orc itu dengan tangan kanannya.


"Sial! Aku tidak bisa menariknya!" kata Mord ketika tangan bergetar.


Sekarang Leo dan Mord tidak bisa bergerak karena pedang mereka ditangkap secara terbuka oleh Orc itu, tapi Orc itu juga tidak bisa melakukan apa-apa tanpa kedua tangannya.


"Meskipun itu cukup kasar dan amatir, tapi setidaknya itu sudah cukup." Lilac tersenyum, lalu dia melesatkan anak panah ketika pertahan Orc itu terbuka.


Anak panah dilesatkan, merobek udara dengan kecepatan tinggi yang bahkan membuat telinga sakit, dengan instan itu membuat tubuh Orc itu hancur tak tersisa.


Tidak ada darah yang berhamburan atau tubuh yang berserakan, Leo dan Mord hanya melihat Orc itu menghilang tanpa sisa seolah Orc itu tidak pernah ada di sana.


Kemudian Lilac bergumam tanpa didengar oleh siapapun, "Huh~ baiklah sudah habis waktu untuk pamer, sekarang aku akan menggunakan anak panah biasa tanpa membuat kecurigaan lebih jauh."


Leo dan Mord hanya terkejut dan heran tanpa bisa mengeluarkan kata-katanya, ini memang diluar jangakuan kekuatan mereka yang tidak seberapa, dan kemudian menatap Lilac yang mengacuhkan mereka.


"Apa kalian hanya bisa bengong dan berdiam diri begitu saja?!” Lilia kembali berteriak, mengungkapkan keluhannya, "Kalau kalian sudah puas hanya karena mengalahkan satu Orc saja, kalian tidak akan pernah berkembang. Masih banyak Orc yang terlihat, habisi semuanya!"


Ketika mereka ingin mengatakan "Siap! Mengerti!" mereka dikejutkan di arah lain bahwa sudah puluhan Orc yang jatuh berhamburan tanpa meninggalkan bekas luka yang besar di tubuhnya. Lilia benar-benar melakukan teknik membunuh yang efisien.


"Siap! Mengerti!" Serentak Leo dan Mord.


Kemudian mereka berdua menjalani misi itu dengan dibantu Lilac dan Astia hingga matahari mulai meninggalkan langit.


****


Setelah mendapatkan bukti yang mereka peroleh dari pertarungan itu dan mendapatkan konfirmasi dari desa yang bersangkutan, mereka berempat kembali ke Guild Petualang untuk mendapatkan bayaran mereka sesuai tingkat kesulitannya. Lalu Leo dan Mord membungkuk, bermaksud berterima kasih kepada Lilia dan Lilac yang telah membantu mereka.


"Kami sangat berterima kasih! Kalau kalian tidak ada kami tidak tahu lagi akan mencari bantuan kepada siapa." Kata Leo yang membungkuk diikuti Mord di sebelahnya.


"Tidak masalah, aku yang akan kerepotan kalau membiarkan kalian bertarung sendirian." Jawab Lilia ketika Lilac mengangguk menyetujui perkataan Lilia.


Bukan tanpa alasan Lilia menjawab itu dengan "tidak masalah", tapi kalau kedua pria itu dibiarkan begitu saja lalu menyebarluaskan informasi tentang dirinya kepada orang jahat, itu akan membuat masalah yang percuma di masa depan.


"Baiklah kalau begitu sesuai kesepakatan kita, kalian dilarang menemui kami lagi... Dah~" Kata Lilia sambil melambaikan tangannya ketika dia ingin pergi.


Tapi sebelum itu terjadi...


"Tunggu Nona Lilia, sebelum itu izinkan kami untuk membayar hutang kami karena telah memberikan banyak pelajaran saat bertarung melawan Orc!" Kata Leo sebelum membiarkan Lilia dan Lilac pergi.


"Ya, benar. Malam ini kami terpaksa mengikuti acara kencan buta dari atasan kami, lalu kami disuruh untuk mencari dua gadis lainnya karena kekurangan wanita di acara itu."


Mungkin Lilia dapat menerima perkataan dari Leo, tapi setelah Mord menambahkan pernyataan itu, dia terkejut dan merasa perkataan kedua pria itu tidak masuk akal.


Lalu kedua orang itu perlahan-lahan menurunkan tubuhnya, berlutut dan kemudian bersujud di depan Lilia dan Lilac. Memohon di depannya, dan dilihat semua orang bukanlah sebuah tindakan yang mudah dilakukan.


Leo yang memulai permohonannya, "Tolonglah kami, kalau kami tidak memenuhi perintah atasan kami, kami bisa dihajar dan dikeluarkan dari kelompok."


"Huh~" Lilia hanya bisa menghela napas karena melihat betapa gagalnya kedua pria itu.


Memang aneh kenapa mereka berdua masih bertahan hidup di dunia ini, ternyata mereka hanya mengekor ke sebuah kelompok yang kuat dan berakhir menjadi pecundang di sana.


Lilia hanya bisa menebak apa yang terjadi dan menilai kondisi yang sedang dialami oleh kedua pria itu. Wajah rupawan memang dimiliki oleh kedua pria itu, tapi penampilan bukan segalanya. Lagipula penampilan bukan sesuatu yang dibutuhkan untuk hidup di dunia yang kacau ini. Kalau mereka terus mengekor kepada pemimpin yang otoriter dan terus menjadi pecundang, mereka akan terus tidak akan berkembang sampai mereka mati.


Kemudian Lilac membisiki sesuatu yang di sampingnya, "Ini mungkin sebuah jebakan Lilia, apa kau yakin tidak memberitahukan ini kepada master dulu?"


"Huh, aku tahu itu. Tapi sayangnya kalau ini benar-benar jebakan maka target kita juga mengetahui identitas kita, dan itulah salah satu informasi penting yang harus kita dapatkan."


Bahkan Lilia dapat melihat ini terlalu jelas kalau dibilang itu adalah sebuah jebakan. Mengundang orang asing secara blak-blakan dengan wajah polos dan cara permohonannya yang memainkan rasa simpati orang lain. Kalau itu semua bukan jebakan yang mudah ditebak oleh Lilia, atau malah ini adalah jebakan dari seseorang yang amatir?


"Huh, baiklah kalau begitu." Lilia membuat keputusan, "Aku akan menerima tawaran kalian tentang kencan buta itu. Tapi! kalau kalian menipu kami, apakah besok kalian akan tetap bernapas atau tidak, aku tidak tahu."


"Baiklah Nona Lilia! Kami sangat berhutang padamu." Mereka berdua terus merendahkan kepalanya ke lantai yang dingin.


"Dan juga jangan tambahkan 'Nona' di depan namaku." tambah Lilia.


"Dimengerti!"


Kemudian, malamnya Lilia dan Lilac pergi ke tempat yang sudah dijanjikan yaitu sebuah restoran yang cukup terkenal. Mereka dapat melihat Leo dan Mord di depan restoran itu.


"Ah No- Lilia dan Lilac ya, aku sudah menunggu kalian." Kata Leo yang senang terhadap kehadiran Lilia dan Lilac.


"Jadi ini tempatnya?"


Lilia tidak mempunyai niat untuk serius dalam kencan buta itu, makanya dia masih menggunakan pakaian misinya.


"Ya, kalau begitu mari kita masuk."


Di sebuah restoran yang banyak pengunjung yang berdatangan, restoran itu tidak berkesan seperti mewah dan mahal, tapi tempat itu benar-benar populer, mungkin karena banyak petualang yang menjadi pelanggan tetap di sana.


Lalu, sebelum Lilia dan Lilac mencapai di tempat duduknya, mereka melihat dua orang yang sangat mereka kenal.


"Ke-kenapa Anna dan Elma di sana?" Kata Lilia yang terkejut.


Bahkan Lilia yang seharusnya mendapatkan banyak laporan dari gadis lainnya tidak dapat mengetahui keberadaan rekannya yang berada di jangakuan pandangannya.


"Lilia... Bukannya tempat duduk itu...?" Lilac yang menyadari Lilia lebih lanjut.


Acara kencan buta itu dilakukan dan dipesan di tempat duduk yang memiliki meja panjang tersebut, dan saat ini ada dua rekannya yang juga duduk di tempat itu.


Jangan-jangan mereka juga berakhir ke tempat ini?


Pemikiran Lilia yang tidak beralasan cukup membuat ketidaktahuan Lilia semakin berat. Pertanyaan Lilia hanya satu yaitu...


Di saat yang sama, setelah Mord duduk di tempatnya, Leo memanggil Lilia dan Lilac kalau itu tempatnya.


"Lilia, di sini tempatnya, silahkan duduk."


Ketika Leo memanggil Lilia, mata Annastasia dan Elma menatap ke arah Lilia dan Lilac berada. Meskipun reaksi mereka hampir sama seperti orang pada umumnya, tapi dibalik itu semua mereka berdua juga memiliki keterkejutan yang sama.


Lilia cukup kagum dengan akting Anna dan Elma yang tidak memberikan reaksi berlebihan, dan hanya sekadar meliriknya saja.


Kemudian Lilia dan Lilac duduk di samping Anna dan Elma, seolah tanpa mengenal satu sama lain. Untungnya juga Anna dan Elma saat ini memakai pakaian kasual jadi tidak akan dicurigai.


Lilia berpkir untuk saat ini sepertinya kencan buta ini masing-masing empat peserta, yaitu empat peserta laki-laki dan empat peserta perempuan. Jadi dia melihat ke arah lawan bicaranya yaitu ada Leo dan Mord.


Mungkin di samping Mord itu adalah pemimpinnya.


Memikirkan hal ini saja membuat Lilia dan Lilac menghela napas berat. Namun, ekspresi terkejut itu kembali muncul ketika dia melihat peserta laki-laki lainnya yang sedang menutup matanya. Lilia sangat mengenalnya dan ini di luar dugaannya.


"Master?!" Lilia hanya bisa menggumamkan hal itu tanpa membuat dirinya dicurigai. Hanya bisa terkejut dalam diam.


つづく


Jangan lupa like, komen, dan klik favorit ya!