
Dengan hari yang berat yang dimiliki oleh para gadis, sesi pelatihan siang dan malam telah berlalu, tetapi semua yang dihasilkan para gadis adalah kekalahan berturut-turut. Muka masam dan lelah terlihat di setiap wajah para gadis. Yuuki tidak pernah menunjukkan wajah kesulitan sekalipun, dia hanya mengganti rencana di setiap sesi pelatihan. Karena itu para gadis, tidak pernah memprediksi hal itu.
Siangnya, para gadis terus mengeluh karena teriknya matahari dan lembapnya hutan. Kepanasan, kehabisan cairan dan kehabisan tenaga membuat rencana yang telah direncanakan oleh para gadis menjadi tidak matang, dan menjadi kekalahan yang lebih buruk dari sesi pelatihan pagi. Kerja sama dan kemampuan para gadis bahkan lebih buruk dari pagi tadi.
Bahkan ketika malam, para gadis tidak bisa mengatasi gelapnya hutan saat itu, hanya mengandalkan pada cahaya bulan yang tidak seberapa. Hanya Marrona dan Natasha dapat melihat gelapnya malam, tapi kemampuan para gadis tidak ada yang berpengalaman pada malam hari. Biasanya ketika malam hari, sebelum mereka datang ke Mansion Tomoe, Para gadis menganggap malam adalah waktunya istirahat. Meskipun begitu, mereka telah menyiapkan rencana terbaiknya tapi tetap saja...
Yuuki sudah berpengalaman pada malam hari ketika dia dan Astia melawan seorang pembunuh di malam hari. Ketidakberdayaan para gadis ketika melawan seseorang yang berpengalaman hanya bisa disebut dengan – Kekalahan yang sempurna.
Meskipun begitu— Para gadis sedang duduk di sofa aula, mereka hanya bisa menghela napas dalam kekalahan, menderita kehilangan kesempatan berturut-turut. Annastasia adalah gadis pertama yang menunjukan frustasinya.
"Ahhhhhhhhhhhhhhh!! Kenapa kita tidak bisa menang melawan master?!"
"Bagaimana caranya? Master selalu mempunyai rencana di setiap saat."
"Perbedaannya adalah master tidak mengeluh dalam situasi sesulit apapun. Sedangkan kita?"
Lilac menyadarkan tentang kesalahannya sendiri dan rekannya. Mengeluh tentang kepanasan dan dehidrasi karena tidak membawa perlengkapan yang matang. Karena itu mereka tidak mendapat suatu pencapaian.
"Apakah kita harus memikirkan rencana super licik?" Kata Lilac.
"Apa-apaan super itu?"
"Kita harus menemukan informasi sepenting mungkin. Misalnya tentang kelemahannya... Yah, itu kalau kita bisa menemukannya, tapi selama ini..."
"Kita kira master lemah terhadap sesuatu tapi itu malah berbalik kepada kita. Nyatanya pemikiran kitalah yang menghancurkan kita. Master hampir tidak ada celah."
Gadis-gadis membicarakan rencana mereka selanjutnya di aula. Duduk di sekita meja dan sofa, saling melempar serangan ide yang cukup masuk akal, tapi hanya berakhir sia-sia. Mereka harus menghemat waktu sebaik mungkin atau mereka akan kehabisan waktu saat sesi pelatihan pagi datang kembali. Memikirkan rencana yang matang dan mengurus pekerjaan rumah itu tidaklah mudah.
"Tidak masuk akal. Apa itu tadi? Bagaimana master selincah dan secepat itu? Apa master benar-benar manusia?" Annastasia mengeluh, gadis lainnya hanya meresponnya dengan pasrah, seperti tidak ada yang bisa mengatasinya.
Annastasia melanjutkan, "Dan juga, saat sesi pelatihan pagi tadi, kenapa master bisa menjebak kita dengan tali menyebal kan itu? Tch! Aku sudah memerhatikannya berkali-kali, aku yakin dia tidak mempunyai benda seperti itu."
"Umm sebenarnya itu kesalahanku. Aku tidak menyangka master mencurinya saat dia menyelamatkanku tadi pagi." Lilac berbicara sambil menjatuhkan pandangannya.
"Ah itulah sebabnya. Tapi aku tidak menyalahkanmu. Kau datang dari kerajaan yang jauh, jadi kau selalu membawa tali itu bukan?"
"Ya maafkan aku."
"Hey Elma, berbicaralah sesuatu."
Annastasia memanggilnya tapi Elma hanya meremas kepalanya dan menjatuhkan pandangannya.
"Ah! aku sedang pusing. Tiga kali berturut-turut aku dikalahkan. Belum pernah aku dikalahkan sememalukan ini!"
Ketika Elma berbicara kasar, Natasha hanya bisa memakluminya.
"Maklumi saja Anna, Elma memang seperti itu. Tapi sepertinya malam ini aku tidak nafsu untuk makan."
"Aku juga."
"Kekalahan seperti ini juga membuatku tidak enak badan."
Kekecewaan para gadis kepada dirinya sendiri membuat nafsu makan mereka hilang, tapi Astia dan Lilia datang dan membawakan sepotong kue dan teh hangat untuk para gadis.
"Um! Ini enak."
"Oh ini melegakan sekali."
"Ah~ inilah yang terbaik. Perasaanku lebih baik."
Para gadis menyicip teh hangat dan kue mereka, hasilnya mereka lebih baik dan menghela napas mereka dalam-dalam.
"Sang pemimpin kita dan Astia memanglah terbaik."
"Mereka memang begitu hebatnya dalam menghangatkan suasana."
"Dengan begini aku lebih bersemangat!"
Ketika Lilia sedang minum teh hangatnya, mata Annastasia menyipit seperti merencanakan sesuatu. Dengan tatapan penuh semangat dan keanggunan, kau bisa melihat jejak kelelahan bahkan di wajahnya yang cantik.
"...Fufufu, meremehkan aku untuk ketiga kalinya... aku tidak akan menyerah."
"Sebelumnya kau pernah ngomong begitu."
Annastasia melanjutkan tanpa peduli perkataan Natasha, "Meskipun master selalu bertarung dengan kita, tapi aku melihat pergerakannya terus memainkan kita. Itu membuatku kesal"
"Sepertinya kau memiliki dendam."
"Gimana aku tidak kesal? Master selalu berkata 'pertarungan kalian membosankan' begitu. Apa kalian tidak kesal?"
Setiap kali para gadis mengalami kekalahan, Yuuki dengan biasa mengatakan 'pertarungan kalian membosankan', mereka menerima itu dengan berat hati. Tapi hanya Annastasia yang tidak terima, dan ini membuat rasa permusuhan terhadap Yuuki.
Natasha mencoba membuka pendapatnya.
"Tidak juga, memang itulah kenyataannya."
"Benar kata Natasha. Lagipula master selalu memberikan saran ketika dia bertarung bukan?" Lilia menambahkan.
"Yah benar sih, tapi... Ah sudahlah! Kalau seperti ini terus aku akan mengambil program rencana super licik."
Lilac bereaksi saat dia memakan kuenya, "Itu ideku bukan?"
"Oke dengarkan aku..."
Annastasia mengumumkan, gadis lainnya menoleh ke arahnya tapi hanya Elma yang cuek.
"Aku akan mengorbankan sesi pelatihan malamku besok dan aku akan menunjukkan bagaimana wanita dewasa bertindak. Jadi aku bisa mengatasi ini sendiri."
"Kau masih berumur 17 tahun."
"Aku tidak peduli." Elma hanya menjawab acuh tak acuh.
"Baiklah. Hanya gadis cantik sepertiku yang dapat melakukannya."
Perkataan Annastasia membuat pertanyaan besar di setiap wajah para gadis. Lilac lah yang pertama mengatakannya.
"Apa kau tidak malu berkata seperti itu di depan kami semua?"
Kemudian Amarilis. "Apa menurutmu kami semua tidak cantik bagimu?"
Karena itulah, menyombongkan diri karena kecantikannya yang indah di depan para gadis lainnya hanya menjadi bumerang batin kepada Annastasia sendiri. Saat ini dia hanya tersenyum kesakitan karena kesalahannya sendiri.
"Oke kalian tenang dulu... Nah aku akan menggunakan kecantikanku untuk merayu master. Dengan itu kalian bisa menyerang master dengan sembunyi-sembunyi. "
"Ohh, itu menjelaskan banyak hal."
Astia tidak terganggu dengan itu, dia hanya bisa menyesap teh hangat sambil membawa nampan di dekatnya.
"Fufufu, kebanyakan pria itu sederhana. Mereka pasti memiliki pemikiran cabul tentang bagaimana wanita cantik ketika menggoda mereka. Otak mereka dipenuhi dengan nafsu dunia yang menipu. Dengan itu aku bisa memamerkan sedikit dadaku, dan bertingkah imut..."
"Apa kau menyamakan pria bejat diluar sana dengan master? Sungguh memalukan."
"Natasha benar, tapi tunggu... pengetahuan itu kau dapat dari mana? Apa jangan-jangan kau sering melakukan hal itu?"
"Mana mungkin, Banyak buku dewasa yang menceritakan itu di luar sana. Aku pernah membacanya saat kecil."
Natasha dan Lilia hanya bisa menepuk kepalanya sendiri dan menghela napas.
"Pantas saja kau seperti ini. Pandanganmu tentang pria sudah rusak sejak kecil."
"Kalau begitu aku akan bertanya satu hal." Sekarang Amarilis membuka suaranya, Annastasia menoleh ke arahnya sambil memiringkan kepalanya, "Apa kau yakin dengan kecantikanmu atau dapat menarik perhatian master?"
"Kenapa tidak?"
"Heh~ Gini ya, setiap pria pasti menyukai tipe gadis dengan kecantikan berbeda-beda. Jadi itu artinya kecantikan itu relatif bagi mata setiap pria."
"Apa artinya?"
"Gampangnya, meskipun kau menyebut dirimu cantik dan sebagainya tapi kalau master tidak tertarik padamu maka bagi master kau memang tidak menarik."
"Ah begitu ya. Itu gawat."
Meskipun penampilan Annastasia adalah yang paling berpotensi untuk menarik perhatian lawan jenis, tapi dia adalah yang paling tidak mengerti tentang hal ini, apalagi tentang pria. Dia hanya mencoba menjadi yang paling tahu.
"Bisa-bisanya kau berbicara tentang ketertarikan itu ketika di depan pemimpin kita dan Astia yang paling lama bersama master. Kalau master memilih, mereka berdua adalah yang paling terdepan dalam hal kemenarikan di mata master." Kata Amarilis yang kesal
Mungkin Amarilis kesal dengan perkataan Annastasia sebelum-sebelumnya, tapi menampilkan senyum tipis ketika dia menambahkan.
"Tapi mungkin kita akan mencoba rencana Anna."
"Sudah kubilang aku akan menunjukkan kebolehanku."
"O-oke? Aku tidak benar-benar mengerti tentang itu, tapi itu kedengarannya seperti rencana orang dewasa." Lilac mencari kemudian kehilangan apa yang sedang dikatakan oleh gadis itu di perkataan selanjutnya, matanya hanya menunjukkan kebingungan.
"Baiklah. Kalau begitu kita semua sudah sepakat."
Gadis-gadis telah sepakat atas rencana Annastasia. Mereka tidak bersemangat atau berusaha menolaknya, tapi gadis lainnya tidak ada pilihan selain menerima rencana aneh itu, mereka hanya menemukan kebuntuan ketika merencanakan sesuatu.
****
Setelah itu para gadis kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat, hanya tersisa Astia dan Lilia di aula itu sambil membereskan cangkir.
"Umm Astia, kau gelisah ya mendengar saat mendengar rencana Anna?"
"Emm tidak juga. Mereka bebas merencanakan apapun terhadap Tuan Yuuki, di sini aku hanya menjadi pengamat."
"Kau bohong. Saat mendengar rencana Anna tanganmu bergetar, sebenarnya kau marah kan?"
"Ketahuan deh. Aku tidak bisa menyembunyikan itu darimu."
Astia hanya membuat senyuman paksa. Dia tidak tahu dengan apa menjawab ekspektasi Lilia. Tapi benar, ketika para gadis merencakan sesuatu untuk merayu Yuuki,Astia hanya bisa marah dalam diam.
Astia sadar kalau dirinya bukan siapa-siapa, jadi dia merasa tidak berhak marah atas rencana itu.
"Tapi kenapa? Bukankah kau yang paling dekat dengan master? Seharusnya kau tidak membiarkan mereka."
"Aku tidak punya hak untuk itu. Bukankah sudah dijelaskan kalau para gadis boleh melakukan cara apapun?"
"Lalu, bagaimana dengan perasaanmu?"
"Aku tidak tahu..."
Astia tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata. Sejak dulu dia selalu dalam kebingungan dalam menjelaskan perasaannya terhadap orang yang sering di dekatnya. Tapi hanya satu yang dia tahu...
"Aku tidak bisa membiarkan perasaan pribadiku menghalangi pekerjaanku. Tapi..."
"Tapi?"
Lilia melihat Astia yang masih menjatuhkan pandangannya ke bawah ketika ia menaruh cangkir ke atas nampan. Tapi ketika Astia ingin menjawab rasa penasaran Lilia, dengan perlahan Astia menatap Lilia.
"Tolong mengertilah..."
Lilia terkejut, tidak bisa berkata apa-apa. Lilia melihatnya... itu adalah tatapan dengan penuh kesedihan. Harapan yang tidak dipenuhi, rasa bersalah yang dalam, dan ketidakberdayaannya, seluruh isi hati itu seolah dilukiskan di mata Astia. Rasa penasaran Lilia selama ini seolah terjawab karena tatapan itu.
Lilia hanya menduganya. Dia hanya tidak ingin Lilia mengerti lebih jauh tentang isi hatinya. Kalau tidak, Lilia hanya akan menghancurkan hati Astia.
"Maafkan aku Astia, aku terlalu berlebihan." Lilia hanya bisa meminta maaf dengan segenap hati karena ia merasa bersalah karena telah menyinggung perasaan pribadi Astia.
"Tidak, kau tidak perlu minta maaf. Selama kau mengerti aku akan senang."
Kemudian Astia langsung tersenyum riang, seolah dia telah melupakan ekspresi tadi. Lilia juga terkejut dengan perubahan cepat ekspresi Astia.
"Terima kasih atas perhatiannya."
"Eh kenapa jadi sopan? Ah kalau begitu ayo bantu aku menyiapkan makan malam."
"Tentu!"
Dengan itu Lilia pergi ke dapur, membantu Astia untuk menyiapkan makan malam untuk para gadis.
Lilia hanya bisa memendam perasaan Astia di dalam hatinya, dia tidak ingin orang lain mengetahuinya atau apapun itu, dan dia adalah orang pertama yang mengetahui seluruh isi hati Astia hanya dengan menatapnya saja. 'Tidak ingin orang yang disayanginya menghilang lagi' Itulah perasaan Astia sebenarnya. Dengan kehidupan yang sangat berat yang ia jalani, Astia hanya bisa tersenyum dan tidak ingin orang lain mengetahui tentang beratnya dengan kehidupan seperti itu.
—Ah~ Astia memang hebat. Tidak ada yang bisa mengalahkan ketangguhannya.
つづく
Jangan lupa, like, komen dan klik favoritnya ya!