I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II

I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II
Chapter 10.2



"Huh~ bagaimana ini?"


Aku terus menghela napas. Huh, sepertinya aku harus membuatnya berbicara dengan hal sama seperti yang kulakukan tadi.


Baiklah, aku akan membuat dua opsi. Di antara dua opsi itu, salah satunya akan membuat Natasha tertarik untuk berbicara. Atau bahkan keduanya bisa digunakan.


"Natasha, maaf, aku tidak bisa menjawab perasaanmu untuk sekarang."


Ternyata opsi pertamaku tidak ada respon. Matanya tetap menatap kosong. Nah untuk opsi kedua...


"Natasha, aku tahu... Senyummu, kasih sayangmu, rasa cintamu hanya untukku. Jujur saja aku juga menyayangimu, karena itulah aku memilihmu dalam misi ini, bukan orang lain..."


Aku menunggu responnya...


Tapi tetap saja, matanya tetap menatap kosong. Huh, padahal kupikir itu yang akan membuatnya sadar. Setelah membuat kata-kata sulit itu hasilnya masih tidak ada. Jadi bagaimana membuatnya sadar...


"Natasha, jadi..."


Aku menatap ke arah lain tapi di sisi lain, aku tidak sadar kalau Natasha berjalan dan memelukku.


"Natasha...?"


"Master... Aku tidak percaya... master menerima perasaanku...?"


Aku tidak tahu apakah dia sudah sadar atau tidak karena aku tidak bisa melihat matanya. Tapi aku bisa memastikan dia masih dalam keadaan tidak sadar, aku tahu itu dari cara bicaranya.


Kepercayaan...


"Itu dia..."


Kalau aku menyangkal semua pemikirannya tentang mitos itu, mungkin dia akan sadar. Natasha masih tidak melepaskan pelukannya.


"Natasha, kau sekarang harus sadar. Kau bilang tadi, kalau kau akan menyerahkan seluruh tubuh dan jiwamu hanya untukku. Nah sekarang kau harus menuruti perintahku..."


Tidak ada respon darinya.


"Semua hal yang sedang kau lihat hanyalah ilusi. Kepercayaanmu tentang mitos di hutan ini itu adalah seseuatu yang dilebih-lebihkan, aku bisa menjelaskannya dengan mudah. Kalau ada suara yang menghantuimu saat ini, itu adalah sebuah delusi, aku juga dapat menjelaskannya..."


Mudah-mudahan dia akan sadar.


"Aku katakan sekali lagi Natasha... Itu semua hanyalah ILUSI!!"


Pelukannya sedikit menguat...


"A—Apa... Apa yang telah kulakukan...?"


"Huh~Akhirnya kau sadar..."


Mata Natasha kembali cerah setelah melepaskan pelukannya.


"Tenanglah, aku juga tidak tahu penyebabnya..."


"Tidak, maksudku. Kenapa aku memelukumu, master?"


Natasha terkejut sekaligus bingung, dia sedikit menjaga jarak dariku karena itu.


"Entahlah, aku juga kaget dengan hal itu."


"Aduh, pikiranku, penuh dengan kekacauan..." Natasha memegang kepalanya, "Apa yang sebenarnya terjadi...? Yang kuingat, aku melihat master menggambar peta, tapi kenapa tiba-tiba...?"


"Huh, sepertinya dari situ ingatanmu hilang. Aku juga tidak mengerti kenapa ini terjadi... Apa kau tidak ingat yang telah kau lakukan?"


Wajahnya terkejut. "Eh, apa aku melakukan hal yang lebih dari itu?!"


"Yah, itu..."


Aku melihat ke arah lain. Aku juga tidak mungkin mengatakan hal yang Natasha katakan tanpa sadar tadi. Itu akan membuatnya malu.


"Ma- maafkan aku, master!! Kalau aku melakukan hal yang berlebihan tanpa kusadari, aku mohon maaf!" Dia membungkuk dalam-dalam.


"Gapapa, lagipula itu di luar kemampuanmu. Nah, setelah ini aku ingin bertanya dan mengatakan beberapa hal."


"Hmm?"


Aku memasukan peralatan dan peta yang kubuat ke dalam tas, dan bersiap untuk ke tempat lain.


"Natasha, apa yang kau rasakan saat kau tidak sadar tadi?"


"Maaf, aku tidak ingat apapun. Itu terjadi begitu cepat. Kesadaranku menghilang pun aku juga tidak merasakannya, dan tiba-tiba a-aku dipelukan master."


Wajahnya memerah. Sepertinya dia mengatakan beberapa hal tadi dibawah perintah alam tak sadarnya, mungkin.


"Begitu..."


"Tapi sepertinya aku sempat bermimpi dan menerima bisikan yang memanipulasiku."


"Aku mengerti. Sekarang kau harus ingat ini... kalau kau mendengar bisikan itu, acuhkan saja. Kalau bisikan itu terus menumpuk, pegang saja tanganku."


"Eh, bolehkah?"


Aku akan kerepotan kalau dia terganggu karena bisikan entah dari mana itu.


"Ya, dan juga... Oh iya mimpi seperti apa yang kau alami?"


"Umm, itu... itu..." Dia ragu-ragu mengatakannya, "Itu kemungkinan suara master."


Huh~ Sepertinya memang suaraku benar masuk ke dalam dirinya, atau memang itu adalah halusinasi yang dipikirkan Natasha sehingga membuat diriku seolah-olah nyata di mimpinya. Makanya aku kaget tiba-tiba tadi Natasha mengungkapkan perasaannya.


"Huh baiklah..." Lagi-lagi aku mengehela napas, "Ingat ini Natasha, aku akan memegang bahumu atau tanganmu ketika aku berbicara. Itu akan memastikan kalau aku yang benar-benar berbicara. Tentang suaraku di mimpiku, itu kemungkinan adalah ilusi yang disebabkan oleh hutan ini."


"Terima kasih master, aku akan mengingat itu."


"Baiklah ayo..."


Aku menggendong tasku dan mulai berjalan, Natasha berjalan di sampingku. Aku masih bertanya-tanya apa yang membuat Natasha terpengaruh halusinasi.


"?"


Tiba-tiba Natasha memegang tanganku dengan erat.


"Sebenarnya, sejak aku sadar, bisikan-bisikan itu terus menghantuiku." Kata Natasha


"Apa yang mereka katakan?"


"Itu..." Dia sedikit takut, "Itu... katanya, master akan mati dalam waktu dekat."


Bisikan macam apa itu? Awalnya aku berpikir Natasha terkena serangan psikologis karena keadaan hutan ini yang cukup menyerang mental, tapi setelah kejadian tadi, aku memiliki pemikiran lain kalau ada sesuatu di balik ini semua.


"Apa, aku tidak akan mati. Selama kalian para gadis masih berada dalam pengawasanku, aku tidak akan mati meninggalkan tugasku."


"Tapi bisikan itu, tetap saja... ini membuatku gila."


Natasha semakin erat memegang tanganku.


"Mari kita ubah persepsimu..." Aku memegang bahunya dan menatap Natasha, "Pertama, cobalah ubah pemikiranmu tentang mitos itu, suara itu, dan apapun yang merusak pikiranmu, anggap mereka semua tidak nyata, tolak keberadaan mereka. Mereka tidak lebih dari rendahan yang suka mengusikmu, tentu kau lebih superior dari mereka. Mereka tercipta dari rasa takut yang kau ciptakan sendiri. Tolak keberadaan mereka, dan pelan-pelan dalam melakukannya. Kau juga tidak dilarang untuk memikirkanku. Kalau kau nyaman, maka terus saja memikirkan diriku. Pelan-pelan bisikan dan rasa takutmu akan hilang."


Perasaan Natasha terhadap diriku memang nyata, karena itu, untuk membuatnya lebih baik maka memikirkan hal-hal yang membuat senang, itu akan menghindarkan dari halusinasi yang tercipta dari pikiran Natasha sendiri.


"Terima kasih master, ini lebih baik."


"Ayo..."


"Cih! Tempat ini masih saja berkabut."


Kami sampai tempat di dekat Gua yang kami temukan ini, tapi kami terpaksa melewati kabut tebal ini sekali lagi. Tapi kupikir meskipun aneh dan hening, tempat ini memang tidak ada apa-apa di sini. Natasha juga masih tidak ingin melepaskan genggamannya padaku.


"...."


Natasha perlahan melepaskan genggamannya. Dia juga sedikit demi sedikit berjalan meninggalkanku tanpa arah.


"Kau mau kemana, Natasha?" Reflek aku menarik tangannya, ada keanehan darinya.


Yang kulihat sekarang, mata Natasha kembali menjadi kosong. Kesadarannya kembali menghilang. Keanehan macam apa lagi ini...


"Benar-benar, sesuatu yang membuatnya seperti ini membuatku kesal...!"


Seharusnya Natasha bisa menahan bisikan itu dengan cara pikirannya terfokus padaku, tapi sepertinya dia tidak bisa menahannya lagi.


Detik berikutnya, ada suara-suara yang bisa kudengar di belakangku. Suara itu seperti gerakan ular yang mengendap-ngendap.


"?!"


Aku menarik badan Natasha tiba-tiba. Itu bukan ular, bahkan lebih buruk lagi... Itu adalah akar dari tanaman merambat yang mencoba menarik kaki Natasha. Jumlahnya ada 1...2, tidak bahkan lebih dari sepuluh.


Aku langsung mengangkat Natasha dan menggendongnya, lalu pergi dari sini secepatnya.


"Cih! Mengganggu sekali!"


Akar-akar itu merambat dengan sangat cepat, seperti ular yang menyamai kecepatan lariku. Tapi anehnya mereka hanya mengincar Natasha.


"Sadarlah, Natasha!"


Mata Natasha tetap kosong setelah aku mencoba membuatnya bangun. Aku tidak bisa mengeluarkan bola ledak-ku karena kedua tanganku penuh karena menggendong Natasha.


Setidaknya aku harus melewati kabut ini.


"Natasha!!" Aku berteriak, "Aku menyayangimu!!"


Tiba-tiba mata Natasha kembali mendapatkan cahayanya, dia tesentak ketika aku masih menggendongnya.


"Ah, iya, apakah aku melewatkan sesuatu? Eh... Apa ini?!"


Memalukan sekali. Tapi aku sudah menemukan jawabannya... Natasha akan sadar kalau aku membuat terpicu emosinya.


"Tenang saja, kita sedang kabur dari benda aneh sialan itu."


"Eh..."


Natasha mencoba memastikan dan tanpa sadar memelukku ketika dia melihat ke belakang. Khh! aku bisa merasakan aset lembutnya itu...


"Apa-apaan itu, itu ular sampai sebanyak itu?!"


"Tentu bukan, makanya aku kabur karena gak tahu benda aneh macam apa itu... Yang kumengerti itu adalah tanaman merambat yang punya kekuatan super."


"Hati-hati master, kabut ini mengganggu sekali."


"Ya harusnya kau yang sadar dengan apa yang sedang kugendong sekarang."


"Eh iya deng..."


Natasha sedikit tertawa dalam situasi yang cukup berbahaya ini.


"Baiklah, aku akan melemparmu dan kau pastikan mendarat dengan sempurna... Aku akan memberimu dukungan penuh."


"Eh, Eeehhhh!!"


Tanpa menunggu jawaban, aku langsung melemparnya ke atas beberapa meter. Dengan instan, aku mengambil tiga bola peledak dan melemparkannya ke tanaman merambat itu.


Tanah dan akar tanaman itu meledak berhamburan kemana-mana, akar yang melayang itu juga meledak dan kemudian berserakan di mana-mana.


"Huh." Natasha mendarat dengan baik, memijakkan kakinya di atas tanah, "Bagaimana, apa ini sudah selesai?"


"!"


Ketika Natasha bertanya, di balik kabut serangan akar muncul dengan sangat cepat, melebihi kecepatan reaksi mata. Itu serangan susulan yang berbahaya. Aku kembali menarik tubuh Natasha karena reflek untuk mengindari serangan yang terfokus pada Natasha, kemudian aku menarik tangannya untuk kabur lagi.


"Tentu saja belum... Kenapa kau begitu meremehkannya?"


"Maaf master, suara-suara itu selalu mengganggu konsentrasiku."


Kami mengobrol ketika kami lari dikejar-kejar tanaman merambat itu.


"Apa sekarang sudah lebih baik?"


"Ya! Sekarang sudah jauh lebih baik." Katanya sambil mengepalkan tangannya.


"Perhatikan langkahmu. Sampai kita menemukan tubuh aslinya, kita harus terus lari... Cih coba saja ada cara untuk menghilangkan kabut ini."


Kabut ini membuat pandanganku menyempit hingga lima meter doang. Di saat aku melihat ke belakang, akar-akar itu masih mengejar kami dengan kecepatan yang sama dengan jumlah yang lebih banyak.


Aku bisa saja membakar hutan ini dalam jarak yang cukup luas... Tapi gila saja! Itu namanya pembakaran hutan!!


Ketika aku mencoba menemukan jalan keluar, Natasha berkata sesuatu selanjutnya.


"Kenapa kita tidak coba saja?" Katanya


"Menghilangkan kabut ini?"


Natasha kembali mengepalkan tangannya, "Ahahaha! Tentu saja!"


Aku tidak yakin apa yang ingin dilakukannya tapi..."Baiklah, aku akan mengulur waktu."


Aku menghunus pedangku, kemudian membuat tolakan kaki, mengerem dan berbalik ke belakang dengan instan. Aku menancapkan pedangku ke tanah, di saat yang sama api keluar dari tanah dan membentuk dinding api yang besar.


Akar-akar itu terbakar dan terkoyak, berusaha menembus dinding api milikku.


Aku melihat kebelakang, melihat apa yang dilakukan Natasha.


Natasha menghunuskan pedangnya, Mata birunya menatap akar-akar itu terbakar. Dia membuat kuda-kuda, menarik pedangnya dengan perlahan ke belakang. Membuat kekuatan di pedangnya, dan menghempaskannya ke depan.


"SONICALLY AIR!!"


Natasha berteriak, pedangnya menghasilkan udara berputar dengan intesitas dan tekanan yang sangat kuat.


Aku dengan cepat menghindar dari jalur serangannya. Serangannya mencapai ke area yang sangat luas, sehingga merusak akar-akar tanaman merambat itu tanpa sisa.


"Sebelum kau menyerang master, langkahi dulu mayatku dasar suara-suara sialan!!" Natasha berteriak mencemooh dan kembali menyarungkan pedangnya.


Kabutnya menghilang dengan sempurna karena serangan angin Natasha tadi. Di dalam hatiku aku memujinya...


"Huh~ seharusnya kau bisa menggunakan kemampuan ini dari awal..."


"Yah jangan memojokiku master. Aku menggunakan ini karena terpaksa... Kalau tidak, mana mungkin aku menunjukkan kartu trufku di depanmu, master."


"Huh, baiklah."


つづく


Jangan lupa klik like, komen dan Favoritnya ya! untuk membuat author semangat terus!


Oh iya mungkin 2 atau 3 chapter lagi akan ada ilustrasi untuk Natasha yg udh aku buat!!!