I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II

I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II
Chapter 26 : Annastasia dan Elma



Di sebuah tempat yang cukup gersang dan kering, mereka berdua hanya melihat dataran yang tandus sejauh mata memandang. Sejauh seratus kilometer dari Ibukota Kekaisaran Engrayn, Annastasia dan Elma sedang melakukan pencarian atau lebih tepatnya mereka sedang melakukan pekerjaannya sebagai petualang.


Tebing-tebing tinggi yang berwarna oranye kecoklatan membuat daerah itu seperti gurun pasir, tapi karena penelusurannya, mereka berdua tidak terlalu mempermasalahkan kebutuhan bertahan hidup mereka.


Meskipun air adalah masalah utamanya, tapi Annastasia dan Elma sudah terlatih dalam menanggapi daerah yang seperti ini, pelajaran ini juga pernah didapatkan dari master mereka. Jadi air tidak akan menjadi penghambat untuk mereka.


“Baiklah, Elma... Aku akan menyerahkan penjagaan musuh untukmu.”


“Aku tahu.”


Mereka berdua berada di atas bukit bebatuan yang besar, di sekitarnya ada sebuah Gua yang teridentifikasi markas sebuah bandit besar. Karena Annastasia menemukan celah yang tidak ditemukan oleh bandit yang berada di atas bukit tersebut, Annastasia memutuskan untuk mencuri sebuah barang dari celah tersebut.


Barang yang ingin dicuri oleh mereka berdua adalah sebuah artefak kuno yang bisa menjadi nilai barang yang sangat tinggi kalau ditukarkan di Guild Petualang. Karena itu mereka berdua setidaknya mencari keberadaan artefak itu meskipun memakan waktu yang lama.


Kemudian Annastasia masuk ke dala, celah itu menggunakan tali tambang yang sudah diikat oleh sebuah batu besar.


“Itu dia artefaknya...” gumam Annastasia, “Pelan-pelan... tetap tenang~”


Kalau Annastasia membuat kegaduhan sedikit saja, itu bisa membuat suara yang menggema di dalam Gua itu.


Artefak itu berbentuk persis seperti pisau atau belati, tapi sangat melengkung dan memiliki corak yang memiliki warna yang gelap. Artefak itu tertaruh di sebuah tempat yang terjaga dengan baik, tapi tidak dijaga oleh bandit-bandit itu.


“Bisakah kau lebih cepat?” teriak Elma dari atas celah tersebut, yang menjaga Annastasia dari luar.


Annastasia sedikit demi sedikit mengulurkan tangannya dan mencoba meraih artefak itu, kamudian akhirnya dia menyentuhnya dan mengambilnya.


“Iya, ini aku sudah dapat.” Bisik Annastasia.


Kemudian Annastasia mendengar teriakan dari atasnya...


“Ah, ahhh...!! Aduh!” Lalu disertai Elma yang jatuh ke tanah.


Namun Elma tidak bisa menanggung yang malu seperti itu, itulah yang membuat dia kembali berdiri ketika dia persis di depan Annastasia yang masih bergantung pada tali tambang.


“A-apa yang kau lakukan, bodoh?” Annastasia bahkan tidak menyangka hal ini.


“Tenang saja, aku akan menjagamu.” Itulah kata Elma ketika menahan rasa sakit dan malu.


Ketika Elma melangkahkan kaki selangkah, dia menyentuh sebuah kabel dan menariknya— hasilnya bunyi lonceng keras berbunyi bergema di seluruh area Gua.


“Huh~” Annastasia hanya menepuk jidatnya saja.


“Ehehe, maaf.”


Lalu, sekumpulan bandit pun datang dan menyerang mereka berdua.


“Penyusup! Serang mereka!” teriak salah satu bandit.


“Cih!” decak Annastasiia.


Elma terus tersenyum tidak bersalah pada Annastasia, tapi dia langsung mengangkat sabit besar yang dari punggungnya.


“Tidak perlu membunuh mereka...” kata Annastasia.


“Ya aku tahu! Hah!!”


Elma langsung menerjang ke arah sekumpulan bandit tersebut, dan menebas mereka dengan punggung sabitnya.


Anak panah terlancarkan ke arah Annastasia dan Elma, tapi Elma menangkis itu dan Annastasia menghindarinya. Ketika pertarungan Elma terjadi, ada beberapa orang yang melewati jangkauan serang Elma, lalu bandit-bandit itu mulai menyerang Annastasia.


Tentu saja Annastasia tidak menggunakan bomnya di tempat itu. Ketika salah satu bandit menyerang Annastasia dengan sebuah pukulan dan tendangan, dia mengantisipasi itu dengan kemampuan bela diri miliknya.


Di saat itulah bandit yang menyerang Annastasia terpukul mundur, tapi Annastasia menambah sebuah serangan dengan sebuah batu yang ditendang olehnya. Hasilnya mengenai perut dan kepala bandit itu.


Ketika garis depan yang dihadapi oleh Elma— banditnya mulai berkurang, Annastasia memutuskan pergi melalui terowongan yang ada di sana.


“Anna! Kau mau kemana?!” teriak Elma.


“Tentu saja kabur!”


“Cih!”


Kemudian Elma mengejar Annastasia yang pergi melarikan diri, dan menemukan sebuah cahaya yang bisa diidentifikasikan bahwa itu jalan keluar.


Tidak hanya itu juga, sebelum keluar Annastasia menyelipkan beberapa bom ledak ke sebuah bebatuan yang berada di dalam Gua.


“Tujuan kita hanya mengambil artefak ini.” Kata Annastasia ketika menunjukkan artefak itu kepada Elma, “Kita tidak perlu mengurusi bandit-bandit itu.”


Annastasia memasukkan kembali artefak itu ke dalam tasnya.


“Setidaknya jangan membuat kesalahan aneh berulang kali!” tambah Annastasia.


“Huh, iya iya.”


Ketika mereka keluar dari Gua dan mendapatkan pemandangan yang terik, ledakan terjadi.


Boom!!


Gua itu runtuh dan sepertinya tidak ada bandit yang mengejar mereka.


“Yah, setidaknya tidak ada yang mengejar kita karena mereka terjebak di reruntuhan itu.” Kata Elma.


“Kalau skenarionya seperti itu... kayaknya ga mungkin deh.”


Seperti kata Annastasia, puluhan bandit keluar dari sisi lain bukit dan kemudian mengejar mereka berdua. Yang harus mereka berdua lakukan adalah berlari, tapi itu akan sangat melelahkan di bawah matahari yang terik. Mereka harus melakukan ssesuatu untuk menghindari kelelahan yang seperti itu.


“Itu dia!!” teriak Elma.


Mereka berdua melihat sebuah kereta kuda dan kuda yang masih dala keadaan yang menarik kereta itu... beruntungnya tidak ada yang menaiki kereta kuda tersebut.


“Ayo.”


Mereka berdua berlari menuju kereta kuda tersebut, kemudian Annastasia meraih tali kemudi kudanya dan disertai Elma yang memegang bahunya di belakang.


“Um...”


Sepertinya ada sebuah masalah internal yang dialami Annastasia.


Kemudian Elma yang menyadarkannya.


“Ngomong-ngomong, apa kau bisa mengendarai kuda ini?” tanya Elma


Meskipun Annastasia sudah memegang tali kemudinya, tapi dia masih belum melakukan apapun.


“Itu... memang bagaimana caranya?” tanya balik Annastasia ketika dia menatap Elma.


“Eh?”


“Eh?”


Mereka berdua saling bertatapan dan mempunyai pertanyaan yang sama dan memiliki masalah yang sama— bahwa mereka tidak pernah mengemudikan kereta kuda itu.


“Yasudah lakukan apapun untuk menjalankah ini! Cepat!!” teriak Elma.


“I-iya!!”


Dengan asal, Annastasia melecutkan tali kemudinya dan disertai ringkikan suara kuda. Kereta kuda itu segera berjalan dan kemudian semakin lama bertambah kecepatannya.


“Woah! Ini cepat!”


Seperti yang dikatakan Elma, kereta kuda itu melaju dengan sangat cepat meskipun hanya dua kuda yang menariknya. Asap-asap yang disebabkan debu pasir segera menghalangi pandangan dan tidak hanya itu.


“Yah sepertinya kau jangan mengagumi kecepatan kuda ini, tapi coba lihatlah betapa keras kepalanya bandit-bandit itu!”


Elma melihat ke belakangnya, ternyata puluhan bandit-bandit itu mengejar mereka berdua dengan mengemudi kuda juga, bedanya mereka langsung menaiki kuda itu tanpa sebuah kereta. Dan tentu saja bandit-bandit itu bisa lebih cepat daripada kereta kuda Annastasia dan Elma.


Karena bandit-bandit itu lebih cepat, satu persatu dari mereka melompat dari kuda mereka dan meraih bagian belakang kereta kuda.


“Baiklah sepertinya aku akan menghadapi mereka...” kata Elma, kemudian dia berbalik menghadapi bandit yang berada di bagian belakang kereta.


“H-hey! Elma jangan tinggalkan aku sendiri mengendarai kuda ini!” teriak Annastasia dari bagian kemudi.


“Kau pikir dengan menemanimu mengendarai, semuanya akan lancar? Bagaimana dengan bandit ini?”


Sekarang persis di depan Elma ada bandit yang sudah mengeluarkan kedua belatinya dan mencoba menyerang Elma.


“Kau fokus saja mengendarai kuda itu, aku akan mengurusi bagian sini.” Tambah Elma.


Saat ini Elma tidak bisa menggunakan sabit besarnya karena keterbatasan ruang di dalam kereta kuda tersebut— kecuali dia menghancurkannya, tapi itu cukup berakibat fatal untuk mereka.


Namun, Annastasia memiliki sesuatu...


Annastasia melempar sesuatu, dengan segera Elma menanggapi hal itu dengan menutup matanya— ledakan cahaya menusuk seluruh mata yang melihatnya.


“Ugh! Mataku!!” teriak bandit itu.


Karena bantuan dari Annastasia, Elma dengan mudahnya menendang bandit itu hingga terjatuh dari kereta.


“Masalah di sini selesai.” Kata Elma.


“Sepertinya belum...”


Masih tersisa banyak bandit yang mengejar mereka, tapi Annastasia memiliki sebuah rencana lagi.


“Elma, ke sinilah!” Kemudian Elma menghampiri Annastasia di bagian kemudi, lalu, “Ambil ini.” Kata Annastasia.


Annastasia memberikan alih kemudinya kepada Elma tanpa menunggu jawaban dari Elma.


“EH?! Tunggu aku juga tidak bisa!” teriak Elma.


“Aku juga, aku mengendarai kereta kuda ini hanya bermodal perasaanku saja.”


Sekarang Elma yang mengendarai kereta kuda tersebut, itu masih dalam trek lurus yang artinya mudah untuk dikontrol. Sekarang Annastasia berdiri dan pergi ke bagian belakang kereta kuda.


“Kau mau kemana?” tanya Elma.


“Tenang saja, aku akan menggunakan keahlianku di sini!”


Kemudian Annastasia mengeluarkan beberapa macam bom yang berada dari tasnya. Annastasia langsung menyebar bom itu ke beberapa tempat, dan terjadilah sebuah ledakan di berbagai tempat.


Setelah itu, anak panah melesat dengan kecepatan super, lalu menancap ke sebuah lantai kayu dalam kereta kuda.


“Huh, hampir saja.”


Anak panah itu hampir mengenai Annastasia, tapi dia menghindarinya dengan mulus. Namun, tidak hanya sampai situ saja, para bandit itu terus melesatkan anak panah ke arah kereta kuda.


“U-um Anna... kalau kau tidak mengatasi serangan itu, kemungkinan besar serangannya bisa mengenai kuda ini.” kata Elma.


Sejenak Annastasia menoleh ke arah Elma, dan dia berpikir bahwa yang dikatakan olehnya memang benar. Kalau sedikit saja sebuah serangan mengenai kedua kuda yang menarik kereta itu, kemunkinan besar kuda itu akan panik tidak terkendali.


“Bagaimana ini...” pikir Annastasia.


Dia tidak menemukan cara untuk melumpuhkan bandit-bandit itu sehingga tidak lagi mengejar mereka berdua. Masalahnya Annastasia tidak mempunyai serangan yang cukup memadai untuk mengatasi serangan para bandit itu.


Kemudian Annastasia mendengar suara yang ada di belakangnya, dia menoleh ke belakang dan melihat Elma sedang mengikat tali tambang di tubuhnya.


“Elma, apa yang kau lakukan?”


“Huh, kau tidak bisa mengatasi mereka, bukan? Kalau begitu aku saja.” Kata Elma ketika dia selesai mengikatnya dan mengambil sebuah papan yang cukup besar.


“K-kau gila dengan bandit sebanyak itu!”


“Yah, maka dari itu kau harus memikirkan caranya— duduk di kemudi dan memikirkan sebuah rencana agar kita bisa kabur dari sini.”


Annastasia juga melihat tali kemudinya tidak dipegang oleh siapapun, maka dari itu dia harus kembali mengambilnya, dan memikirkan sebuah cara.


“Lalu, apa yang ingin kau lakukan?” tanya Annastasia.


Melihat Elma membawa sebuah papan dan tubuhnya diikat oleh tali tambang yang sudah terikat di bagian dalam kereta— kemungkinan itu agar Elma tidak jatuh dari kereta.


“Kalau begitu lihat aku... master pasti akan takjub kalau melihat aku akan melakukan ini...” kata Elma, ketika dia melempar papan itu ke tanah pasir.


Lalu Elma melompat ke papan itu, dan akhirnya papan itu terseret ketika menopang tubuh Elma yang ditarik oleh kereta kuda.


“K-kau gila...”


Annastasia melihatnya dengan tidak percaya, dengan tindakan Elma yang seperti itu, dia menumpaskan beberapa bandit dengan ujung sabitnya ketika dia berseluncur dengan papan kayu tersebut.


“Oh iya... siapa yang mengemudi kudanya?” Annastasia langsung kembali dek kemudi.


Ketika Annastasia memikirkan sebuah rencana, dia tidak menemukan sesuatu apapun dari kepalanya— itu benar-benar kosong. Annastasia tidak menemukan rencana apapun, kalau tidak dia terus berharap pada Elma yang sudah berusaha penuh dalam menumpas bandit-bandit itu.


“Sepertinya aku bisa mengalihkan perhatian dengan artefak ini... eh, dimana...?”


Ketika Annastasia membuka tasnya, dia tidak menemukan artefak itu dan ketika dia melihat ke sekitar ada seseorang yang hampir tidak bisa diraskan keberadaannya.


“Aku ambil kembali barang berharga milikku...” bisik dari seseorang.


Orang itu hampir tidak bisa terlihat, tubuhnya transparan dan hampir menghilang— sepertinya masih di dalam kereta kudanya.


“Elma! Bandit yang tidak bisa terlihat itu mengambil artefaknya!”


Elma langsung tanggap dengan teriakan Annastasia dari arah depan.


“Kenapa bisa!” Elma cukup kesal ketika dia masih mengatasi bandit-bandit yang menaiki kuda tersebut.


Lalu Elma sekilas melihat ke arah kereta kuda, sepertinya memang bandit itu tidak bisa terlihat. Kalau dia benar-benar menghilang dan akhirnya kabur tanpa diketahui oleh mereka berdua, maka rencana mereka berdua selama ini akan gagal.


Karena itu Elma akan melakukan sesuatu.


“Huh~ kenapa aku harus mengeluarkan kemampuanku di saat aku menjalankan rencana yang melelahkan ini...”


Seketika Elma menggunakan sihirnya— aliran petir menyelimuti dirinya, menyambar ke arah yang tidak beraturan dan berubah menjadi guntur yang bercabang. Itu memang tidak bisa dikendalikan, tapi berkat penghalang transparan dari Astia, Elma tidak terluka.


Lalu...


“Anna, lompat ke arahku!!” teriak Elma.


“K-kau gila! Ini terlalu cepat! Aku juga tidak bisa menghentikan kuda ini!” kata Annastasia ketika dia masih mengendarai kuda.


“Cepat!!” kembali Elma berteriak.


“Cih!” Annastasia langsung berdiri, berlari, kemudian melompat ke arah Elma.


Itu seperti sebuah lompatan yang memeluk seseorang dari jauh. Lebih gilanya lagi, Annastasia melompat ke sebuah inti dari aliran petir yang mengamuk sesukanya.


“Ini gila!!” teriak Annastasia ketika dia melompat ke arah Elma.


Lalu Elma menangkap dan memeluk Annastasia. Annastasia tidak terluka karena amukan petir Elma, itu berkat penghalang transparan dari Astia.


“Aku akan lebih senang kalau aku melompat untuk master.” Tambah Annastasia.


“Aku pun begitu— tapi sebelum mempermasalahkan itu...!!”


Elma mengangkat sabitnya tinggi-tinggi. Amukan petirnya mulai menghancurkan sekitarnya dan menyambar bandit-bandit di sekitarnya


Ketika Elma dan Annastasia masih tertarik oleh kereta kuda tersebut, Elma mengatakan, “Inilah amukan dari kekuatanku!!”


Amukan petir-petir itu meluas dan merusak area yang lebih luas— menyambar bandit bandit serta memutuskan tali tambang yang menarik mereka.


“Kau terlalu percaya diri sekali ya...” Annastasia tersenyum ketika dia masih dalam keadaan memeluk agar dia tidak terjatuh dari papan kayu tersebut.


Lalu... bandit yang terlihat dari jauh, sedang memegang sebuah artefak, telah terkena sambaran Elma. Perlahan-lahan laju seluncur mereka melambat dan akhirnya berhenti. Mereka berdua langsung mengejar bandit yang mengabil artefak tersebut.


Ternyata bandit yang mengambil artefak itu, tergeletak tak sadarkan diri. Dengan pakaian yang compang camping dan seluruh rambut dari bandit itu berdiri, kemungkinan dia memang tersambar, tapi tidak sampai menemui ajalnya.


“Aku akan ambil kembali, yah?” kata Annastasia ketika mengambil artefak itu dari tangan bandit.


“Huh~ susah sekali menahan daya kerusakan pada petir itu.” Kata Elma.


Kalau Elma tidak menurunkan kualitas kerusakannnya berjuta-juta kali lipat, maka tempat itu akan menjadi kawah dan akan membunuh bandit-bandit itu hingga lenyap.


“Kau tidak membunuh mereka, kan?” tanya Annastasia.


“Tentu saja, aku masih mempunyai rasa kemanusiaan— tidak mungkin aku sebegitu kejamnya pada mereka.”


“Hmm...”


Annastasia tersenyum ketika mendengar jawaban itu, dan dia memasukkan kembali artefak itu ke dalam tasnya.


“Baiklah, ayo tukarkan ini lalu pulang. Kita bisa dimarahin oleh Astia karena belum pulang.” tambah Annastasia.


“Y-yah, kita juga belum pulang selama sehari. Mungkin master sedang mencari kita.”


Mereka pulang kembali ke tempat penginapan yang mereka tinggali di Ibukota Kekaisaran, dan itu masih sangat jauh berpuluh-puluh kilometer. Jadi membutuhkan banyak waktu untuk mencapai ibukota, tapi untungnya mereka bisa memikirkan rencana dan skenario minta maaf agar kesalahan mereka terampuni.


“Astia kalau lagi marah memang menakutkan.” Itulah kata-kata terakhir dari Elma sebelum menuju ke ibukota, dan Annastasia hanya mengangguknya.


つづく