I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II

I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II
Chapter 11.1



....


"Master, kenapa?"


"Seharusnya kau sudah menyadari kalau aku sudah gagal dan menipumu."


"Master, gagal? Menipuku? Kenapa? Master tidak pernah seperti itu!!"


"Seharusnya kau sadar Natasha. Aku sudah tidak menepati janjiku dan aku juga gagal menjadi pemimpin. Betapa naifnya diriku, 'tidak akan membiarkan kalian mati'? Hah, hanya orang yang bodoh dan naif yang bisa mengatakan hal itu dengan mudah. Padahal aku selalu menggiring kalian ke dalam jurang kematian."


"Master, jangan mencela diri master sendiri, itu tidak benar. Kami semua sudah memutuskan untuk selalu mengikuti jalan master. Apapun itu, master tidak pernah mengecewakan kami..."


Jujur saja aku terkesan atas perkataan Natasha sekarang.


"Aku akan jujur padamu Natasha. Sebelum kalian datang, aku gagal melindungi adikku dan kehilangannya. Sekarang, kalau aku kehilanganmu karena mengorbankan dirimu hanya karena keegoisanku, aku tidak menerimanya."


"Master..."


"Karena itulah saat latihan pertama kita aku menetapkan pada diriku, kalau aku kehilangan salah satu dari kalian... Aku akan mengikuti kalian."


"Itu...?"


"Ya, aku juga akan ikut mati."


Aku tidak berbohong. Aku sudah tidak mempunyai apa-apa di dunia ini... Uang, harta, popularitas, penampilan, aku tidak butuh itu semua. Bahkan itu semua yang akan membuat manusia menjadi sombong dan arogan. Aku hanya membutuhkan orang yang bisa memahamiku dan aku juga memahami mereka. Karena itulah aku menginginkan hubungan timbal balik yang tulus, selain itu... aku tidak membutuhkannya.


Lucu sekali. Kenapa aku baru menyadari hubungan yang seperti itu... Ini membuatku ingin tertawa. Betapa menyedihkannya masa laluku sehingga aku tidak pernah merasakan hubungan timbal balik seperti itu. Apakah ini yang disebut ketulusan?


"Karena itulah Natasha! Ini adalah perintah terakhirku untukmu. Kuharap kau memenuhinya..." Nadaku melemah, "Sekarang bunuh aku."


"Ba-baiklah master." Sekarang dia tidak menahannya, wajahnya terus dialiri oleh air mata


Natasha mengambil belatiku, memegang dengan erat dengan kedua tangannya, kemudian berjalan ke arahku. Air matanya terus mengalir tanpa henti.


(Jangan hiraukan aku, aku sudah membuat ruang untukmu, Demi-Human.)


Aku meliriknya, wujud golem yang dipenuhi tanaman berubah menjadi ke bentuk manusia. Wujudnya seperti orang dewasa yang kusam dan kurus. Mendekat ke arah kami.


Ternyata itu wujud aslinya.


Di saat yang sama tanaman merambat membuat ruang di area dadaku yang tadinya dijerat.


"Master..." Natasha berhenti tepat di depanku, "Aku akan mematuhi perintahmu meskipun aku akan menyesal selamanya."


"..." Aku tersenyum tipis untuk menanggapi perkataannya.


"Sebelum itu aku akan mengatakan sesuatu... Master juga boleh untuk tidak menanggapi perkataanku. Jadi... "


Aku kembali tersenyum tipis. Air mata masih terus mengalir di wajah Natasha. Dia membuat suara yang kecil yang tidak didengar oleh siapapun kecuali aku.


"Master, sampai kapanpun... Aku sangat mencintaimu..."


"...."


Ini pertama kalinya untukku dan momen yang paling mendebarkan untuknya ketika dia benar-benar sadar saat mengatakan itu.


Saat Natasha benar-benar sendirian ketika menjelajahi dunia manusia, dia benar-benar menjadi sangat diasingkan karena dirinya adalah Demi-Human, ras yang berbeda dari manusia yang seorang mayoritas.


Natasha dianggap menjijikan dan dibenci oleh manusia karena perawakannya yang menyerupai binatang sehingga manusia memperlakukan Natasha sebagai 'binatang' yang sesungguhnya.


Meskipun Natasha menahan itu semua dan membuat kepribadian yang kuat, tapi semakin lama dia tidak tahan mendapatkan perlakuan itu. Dia tidak menemukan sebuah arti dari kebahagiaan dan akhirnya menjalankan hidupnya dengan membenci dirinya sendiri.


Saat aku bertemu dengannya, dia benar-benar ahli menampilkan topeng yang tebal untuk menutupi rasa sakitnya. Ketika kami berbicara, Natasha perlahan sedikit demi sedikit membuka topengnya dan akhirnya menangis seperti yang dialaminya sekarang di depanku.


Kenapa orang-orang mempertanyakan dan menghina identitasnya, padahal dia hanya gadis biasa.


Seperti yang kulihat di depanku, dia menangis seperti anak kecil, meluapkan emosinya, bergetar karena ketakutan akan kehilangan orang yang dia sayangi. Ternyata dia punya sisi imut seperti ini...


Aku tersenyum karena heran. Sampai repot-repot mencintai manusia sepertiku, padahal dirinya juga membenci manusia.


"Aku sangat senang Natasha. Akhirnya kau jujur pada dirimu dan mengungkapkan perasaan tulusmu itu. Aku menunggu itu sejak pertama kali kita bertemu. Akhirnya kau juga mencintai manusia meskipun itu hanya untukku, tapi itu adalah kemajuan yang besar. Saat aku tiada, aku berharap kau dapat mencintai manusia lain dan kembali mencintaimu sendiri. Saat itu juga kau dapat menemukan kebahagiaanmu sendiri."


Akhirnya saat ini, detik ini, momen ini, Natasha telah menghancurkan topengnya sendiri.


Natasha terisak, air matanya terus mengalir. Dia menekan pegangan belatinya


"Karena inilah aku kesulitan memenuhi perintahmu, master. Hanya dirimulah master yang benar-benar memahami perasaanku. Perasaanku terus mengatakan ingin terus mencintaimu dan menjagamu tapi... Membunuh master itu... ternyata mustahil."


Natasha terus terisak dan menangis ketika dia bergetar memegang belatinya.


"Maafkan aku master..."


Aku tersenyum dan menutup mata ketika Natasha melayangkan belatinya tanpa keraguan ke dadaku.


Inilah saatnya.


(Apa...?!)


Wujud manusia dari monster itu tiba-tiba tidak bergerak dan kaku. Tubuhnya diselimuti dan tenggelam karena air dalam jumlah besar. Kemudian air itu menyebar dari tubuhnya dan menjerat anggota geraknya serta menyekik lehernya. Itu teknik manipulasi air yang mengunci pergerakan mahluk yang kupanggil 'Cernunnos' itu.


Sebelum itu tikaman Natasha dihentikan oleh perisai air transparan yang mengelilingi tubuhku.


"Kemampuan ini...?"


Dari balik pepohonan gumpalan air membentuk bor dan diperbanyak sehingga menjadi puluhan, kemudian melayang dengan cepat mengarah ke Cernunnos. Tubuh dari mahluk itu robek dan terus robek hingga hancur tak tersisa, tapi dengan kecepatan regenarasinya, dia kembali pulih.


Setelah itu, seseorang berlari sambil memegang panah, kemudian melompat melalui pohon dan melayang di udara. Dia berteriak.


"Sialan kau Natasha! Apa yang kau katakan sampai master bisa tersenyum seperti itu?!"


Gadis berambut hijau, melompat ke udara, melayangkan sebuah serangan beruntun sebelum dia mencapai ke tanah.


Di sisi lain, gadis berambut biru cerah melakukan hal yang sama dengan membuat serangan membabi buta.


Tembakannya membuat robekan udara hingga mencapai target dan kemudian meledak dengan membuat lubang besar di tubuh Cernunnos.


Serangan dari kedua gadis tersebut dari segala sisi, memberikan dampak yang besar sehingga membuat kemampuan regenerasi cepat mahluk itu tertutup. Tidak ada kesempatan berbicara untuk mahluk itu.


(Sialan!! Apa ini?!!)


Tubuhnya mengalami pelambatan regenerasi ketika diselimuti oleh air. Sepertinya dia marah.


Tanpa disadari olehnya, seseorang lagi, gadis bertelinga hewan muncul tepat di belakangnya dan mengarahkan tangannya ke leher mahluk itu.


"Seharusnya kau punya hak untuk diam!"


Tapi gadis bertelinga hewan, tidak membiarkan satu detik pun mahluk itu meregenerasi tubuhnya. Sayatan dan tebasan berlangsung intens sehingga kau bisa melihat organ tubuh bertebaran di mana-mana, tapi ketika tubuh itu terbelah, dia meregenerasi dirinya kembali secara berulang-ulang.


Ketika gadis bertelinga hewan itu melakukan serangan tanpa henti, Di sisi lain Natasha terkejut sampai dia tidak sadar kalau air matanya sudah tidak jatuh lagi, dan perasaan senang muncul di wajahnya.


"A—aku tidak percaya ini..." Belatinya jatuh dari tangannya.


"Kenapa? Kau tidak senang karena gagal membunuhku?" Tanyaku secara sarkastik


"Tidak, bukan begitu... Tapi bagaimana, gadis lain datang?"


"Huh~ Aku sangat khawatir pada kalian. Ini benar-benar beresiko, Aku tidak bisa membayangkan kalau terjadi sesuatu padamu, Tuan Yuuki." Gadis lain datang dan menunjukkan rasa khawatirnya, itu Astia.


"Eh, aku menduga kemampuan ini, tapi ini benar-benar Astia datang? Syukurlah~ aku benar-benar tidak tahu kalau kalian akan datang." Kata Natasha ketika dia melihat kedatangan Astia.


Poin pentingnya adalah ketika Natasha melupakan perkataanku.


"Seharusnya kau sadar Natasha. Aku kan sudah bilang tadi dan menanyakanmu. Apa kau menyerah dan berpikir sudah tidak ada jalan keluar, Natasha?" Kataku.


"Tapi pemikiranku terbantah saat master memerintahkanku untuk membunuh master."


"Itu juga termasuk ke dalam rencanaku. Aku juga sudah bilang, cara untuk menghambat regenerasinya kita harus mencari titik lemahnya. Kupikir saat mahluk itu merubah wujudnya ke bentuk manusia, itu benar-benar langkah yang besar."


"Karena itu akan repot saat kita menghadapi wujud monsternya." Astia menambahkan.


"Jadi selama ini... Sejak kapan kelompok kalian datang ke tempat ini, Astia?" Tanya Natasha.


"Hmm, coba kupikir. Sepertinya saat Tuan Yuuki sudah tidak ada cara untuk melawan, ketika Tuan Yuuki terjerat."


Ekspresi Natasha mengerti itu. Tapi wajahnya mengalami kegelisahan tertentu. Aku mengerti itu.


"Tenang saja Natasha, aku tidak akan melupakan semua ungkapan perasaanmu. Perkataanku waktu itu adalah kejujuranku dan ketulusanku. Jadi perasaanmu tersampaikan."


"Apa itu?" Astia memotong.


Untuk saat ini aku tidak menanggapi pertanyaan Astia.


Kegelisahan di wajah Natasha sekarang hilang dengan sepenuhnya. Dia mengambil belatiku yang terjatuh dari tangannya, kemudian tersenyum saat dia mengelap tetes terakhir air matanya.


"Terima kasih master. Aku benar-benar bersyukur bertemu denganmu."


Setelah kata-katanya, belati itu diberikan kepada Astia, kemudian Natasha pergi membantu gadis lainnya.


Hanya ada aku dan Astia di sini.


"Sepertinya dia sudah lebih sering tersenyum." Kata Astia.


"Saat dia membuang topeng tebalnya itu membuat kelegaan tersendiri buatku."


"Tidak, perkataanku ditujukan untukmu. Untuk Natasha adalah hal lain."


"Hmm?"


Perkataan Astia membuatku bertanya-tanya.


"Saat kamu berbicara dengan Natasha, Tuan Yuuki dalam momen tertentu terus tersenyum. Aku tidak tahu tentang apa hal itu, tapi itu adalah momen yang tidak biasa."


"Padahal aku hanya ingin jujur saja."


"Padahal kalau kamu membiasakan diri seperti itu di depan semua gadis dan memperlihatkan kepribadianmu yang hangat, itu akan membuat pandangan yang berbeda. Yah, sifatmu yang dingin itu juga punya sisi yang menarik juga."


Ternyata itu, aku sedikit terkekeh karenanya, "Dari mana? Mereka menganggapku begitu hanya orang-orang aneh saja. Lagipula akhir-akhir ini aku melunak."


"Ya, memang aku aneh, tapi terserah padamu..."


"?"


Aku melihat ke arah Astia, ada perubahan yang dramatis darinya. Dia menggigit bibirnya dan mengepalkan kedua tangannya, sekarang Astia benar-benar sedang frustasi.


"Aku benar-benar khawatir..." Lalu Astia memegang kayu yang menjeratku dan menghadapku, menyenderkan kepalanya di bahuku sehingga menutupi wajahnya. "Kalau aku tidak tepat waktu, aku tidak tahu hal buruk apa yang akan menimpamu..."


Aku tidak menjawabnya. Mungkin Astia benar-benar dalam kekhawatiran tapi perasaannya adalah fakta. Kalau dia tidak sampai atau gagal mengikuti petunjuk jalan yang telah kuberikan, mungkin aku sudah mati di tangan Natasha. Dan Natasha akan kembali ke dalam jurang kebencian sekali lagi.


"Aku tahu kalau kamu memintaku untuk mempercayaimu dan aku sudah melakukannya, tapi tetap saja... Kalau kamu dalam bahaya, aku selalu ketakutan."


Air mata jatuh dari mata Astia. Aku tidak tahu kalau kekhawatirannya untukku membawa beban berat untuknya. Dia benar-benar—


"Maaf, aku tidak menyadari itu. Banyak hal-hal yang asing di dunia ini bagiku, aku masih mencernanya dan mencoba mempelajarinya. Banyak bahaya di depanku karena aku ingin bertahan dari semua itu, aku tahu itu tapi aku tidak menyadari situasi yang bahkan di dekatku... Sekali lagi, maafkan keegoisanku."


Astia masih mendekap di bahuku, "Padahal aku yang harus minta maaf padamu, padahal aku yang harus memercayaimu, tapi kekhawatiranku yang akan membuatmu menahan diri."


Setelah Astia melepaskan diriku dan sedikit menjauh. Dia sudah melepaskan kekhawatirannya dan menjadi seperti biasa kembali. Dia tersenyum saat melihatku.


"Baiklah kumaafkan!" Kataku untuk mencairkan suasana.


"Nah, kenapa kamu begitu sombong?"


"Gapapa, aku hanya mencairkan suasana. Nah sekarang lepaskan aku."


Daritadi aku masih belum terlepas dari jeratan akar-akar dan batang dari bekas serangan monster itu, jadi seluruh tubuhku agak sakit-sakitan.


"Buat apa? Ini adalah hukumanmu karena membuat wanita menangis."


Oh oke, sekarang Astia membuat penolakan yang tidak masuk akal.


"Sekarang— Tidak, dari dulu kamu sudah berani padaku ya?"


"Apa iya? Lagipula Tuan Yuuki dan aku tidak mempunyai hubungan seperti atasan dan bawahan, kita hanya mempunyai hubungan yang akrab. Jadi tidak masalah kalau aku membantahmu atau kontra terhadapmu. Lagipula kalau Tuan Yuuki menyebutkan hubungan tentang antara majikan dan budak, itu hanya sebuah perantara kepercayaan yang dibuat secara sepihak, dan itu tidak kuakui!"


"Baiklah, terserah apa katamu. Selama kalian bisa menangani hal ini, aku tidak akan turun tangan."


"Lihat saja, aku yakin setelah banyak perkembangan dan pengalaman dalam pelatihan, yang lain pasti dapat menangani—"


Astia menutup mata ketika dia mengatakan dalam kesombongan, tapi sebelum dia mengakhirinya dia tercengang oleh sesuatu.


"Ada apa?"


Astia tidak menjawabku, dia langsung pergi ke tempat gadis lainnya saat berhadapan dengan Cernunnos.


Huh~ sepertinya ada hal yang diluar dugaannya sampai seperti itu. Aku ingin ke sana tapi aku masih terjerat. Aku membutuhkan beberapa waktu untuk membakar jeratan ini, jadi aku hanya bisa memercayakan monster itu kepada kalian...


つづく


Jangan lupa like, komen, dan klik favorit ya untuk membuat Author semangat terus!!