
Di sebuah hutan yang sangat lebat, pohon-pohon menjulang tinggi dengan cahaya matahari menembus dedaunan. Terdapat gua besar yang gelap dan teridentifikasi ada sekelompok goblin yang berada di dalamnya. Tepat 200 meter di depan gua tersebut ada seorang gadis elf berambut hijau yang sedang menarik busurnya, mengarah ke gua itu.
“Setidaknya jangan runtuhkan gua itu.”
Seorang gadis elf berambut perak berkata demikian, dia berbicara di balik pohon sambil bersender santai.
“Aku tahu, kita tidak akan mendapatkan bayaran kalau mereka terperangkap di gua itu karena runtuh.” Kata gadis berambut hijau.
“Tujuannya adalah menghabisi semua goblin itu.”
“Ya.”
Mereka berdua mengambil permintaan dari misi itu karena mempunyai alasan, itu karena di sekitar hutan tersebut ada sebuah desa, dan desa itu diserang oleh sekelompok goblin yang ada di hutan. Namun, karena tidak ada yang mengambil misi tersebut karena banyak dari petualang yang meremehkan itu, jadi hampir setiap harinya penduduk setempat akan selalu mendapatkan korban yang berjatuhan.
Fiuh~
Sebuah angin lembut membelai anak panah tersebut, tanpa suara dan tanpa emosi, hanya bergerak secepat gelombang suara dan merobek suara di sekitarnya. Sebelum mencapai gua itu, anak panahnya menyebar ke segala arah seolah-olah itu adalah ilusi, tapi itu adalah murni kesalahpahaman dari gadis elf itu.
Tanpa menunggu satu detik, sebuah suara ledakan memekakkan telinga. Ledakan itu berasal dari serangannya ke setiap sisi gua itu tanpa merusak gua. Hanya menimbulkan kegaduhan dan keributan.
“Mereka datang, Lilia.” Katanya.
“Aku tahu.”
Beberapa langkah cepat berasal dari dalam gua itu, dan para goblin menunjukkan dirinya di dalam pandangan si gadis elf berambut hijau.
“Dua puluh— tidak, tiga puluh goblin.”
Tidak lama kemudian para goblin itu menyadari keberadaan si gadis elf, mereka terlihat marah dan kemudian berlari menuju si gadis elf dengan senjata tajamnya.
“Aku masih bertanya-tanya, kenapa warga setempat bisa kewalahan menghadapi mereka yang lemah, sedangkan dunia ini bisa saja membunuh mereka dengan cepat?” katanya.
Dia masih terlihat santai tanpa ketakutan melawan 30 goblin hanya dengan dua orang saja.
“Entahlah, Lilac. Tapi kenyataannya mereka diburu oleh goblin-goblin itu setiap hari. Itu yang menunjukkan seberapa putus asanya mereka sehingga mereka tidak ingin bertahan hidup dan tidak mau menjadi lebih kuat.”
“Yah, mungkin saja begitu...” kemudian Lilac melanjutkan, “Kalau begitu, mari kita mulai ini...”
Setelah kalimatnya berakhir, Lilac melompat tinggi ke udara, seperti melakukan teknik akrobatik, kemudian melesatkan anak panahnya dengan cepat.
Tidak ada yang bereaksi dari gerombolan goblin itu, hanya beberapa ledakan yang menghancurkan mereka dalam sekejap. Lubang-lubang besar terbentuk akibat dari anak panah yang dilancarkan oleh Lilac. Tersisa setengah yang bertahan hidup dari keseluruhan goblin yang keluar dari gua itu.
Karena insting mereka mengatakan ada bahaya yang mengancam dan korban dari pihak mereka telah dihabisi separuhnya, mereka lari berhamburan tidak teratur.
“Inilah sebabnya aku bosan menghadapi kalian setiap hari.” Kata Lilia dengan kebosanannya, dia berada di tempat yang tidak dijangkau oleh para goblin.
Lilia mengambil beberapa belati dari tasnya dan melesatkan kepada para goblin yang berlatian itu dengan kecepatan yang sama seperti anak panah Lilac. Tidak ada yang menyadari, tiba-tiba satu persatu goblin berjatuhan seperti tanpa sebab, hanya saja tenggorokan mereka terbelah dengan sempurna.
Dengan itu, pembantaian mereka telah selesai.
“Huh~”
Lilia menghela napas ketika dia melangkahi mayat-mayat goblin itu dan mengambil belati yang dia lempat di pohon. Dia merasa kalau melakukan hal itu terus menerus tidak akan memberikan kemajuan pada timnya dan hanya akan membawa informasi kosong. Jadi dia harus memikirkan cara untuk melewati lingkaran yang selalu dia jalani selama ini.
“Seperti biasa kau melakukan itu...” Lilac mengatakan itu sambil menyilangkan tangannya.
“Yah mau bagaimana lagi? Aku juga tidak ingin tangan dan seragamku kotor. Meskipun aku adalah petarung jarak dekat, tapi aku terpaksa karena keadaan yang memaksaku begini.” Kata Lilia.
“Dan juga, darah dari goblin-goblin itu menjijikan dan bau.”
Lilia tidak mempunyai penolakan atas perkataan Lilac. Dia hanya fokus mengambil belati-belatinya yang dia lempar dan membersihkannya sebersih mungkin.
“Yah karena itu sebabnya—”
“Lilia?”
Kalimat Lilia terhenti dan terlihat aneh, karena itu Lilac menanyakannya.
Dalam seketika, Lilia membuat pergerakan, melemparkan sebilah belati ke sebuah pohon dan mengoyak batang pohon itu.
“?!”
Suara seseorang terdengar dari balik pohon itu, terkejut karena belati menancap persis di depan mereka.
Karena itu Lilac menyadarinya, dia langsung bersiap dengan busurnya.
“Siapa di sana?!” teriak Lilia.
Setelah ancaman yang diberikan Lilia, seseorang— dua orang pria keluar dari pohon dengan wajah ketakutan. Mereka terlihat memakai pakaian petualang dan menyarungkan pedangnya di punggung mereka.
“Ma-maaf kami ti-tidak bermaksud membututi kalian, tapi kami mendengar dari nona resepsionis kalau ada dua orang yang mengambil misi membasmi kelompok goblin.” Kata salah satu dari mereka.
“Lalu?” balas Lilia.
Hanya dengan perlengkapan dan pakaian yang murah, mereka memang terlihat petualang kelas rendah. Hanya dengan penampilan yang seperti itu, Lilia dan Lilac menganggap mereka benar-benar lemah.
Lilia terlihat ingin mengatakan sesuatu, “Oh berarti dari awal, kalian sudah mengikuti kami?”
“Maaf sebesar-besarnya, kami benar-benar tidak bermaksud menguntit kalian.”
Mereka berdua hampir bersujud hanya untuk meminta maaf, tapi tanggapan Lilac hanya melihat mereka berdua sebagai ‘penguntit yang cabul’. Lilia juga melihat mereka bedua sebagai ‘sampah’.
Lilia dan Lilac melihat mereka seperti itu bukan hanya faktor emosi, tapi keberadaan dan kekuatan asli mereka telah diketahui oleh orang asing. Dan itu yang membuat kegagalan pertama mereka dalam menyembunyikan diri sebaik mungkin.
“Jadi tujuan kalian? Aku tidak bermaksud membuat harapan kalian pupus karena aku sudah mengambil misi kalian, tapi kalian bisa melihat apa yang sudah terjadi di sana.” Tatapan Lilia masih merendahkan mereka, dan menunjuk ke arah mayat-mayat goblin yang bertumpuk.
Kedua pria itu terkejut. Meskipun mereka mengetahui perbuatan Lilia dan Lilac terhadap kelompok goblin itu, tapi ketika melihatnya lebih dekat, itu benar-benar di luar jangkauan dan pemahaman mereka.
“Itu... ah tidak, aku sudah tidak memikirkan misi itu lagi. Tapi, hari ini saja kami ingin membentuk party dengan kalian.”
“Hah?”
Kemudian kedua pria itu bersujud di atas tanah, memohon bantuan Lilia dan Lilac, “Kami mohon, kami membutuhkan seseorang untuk membantu kami. Kami sudah meminta orang lain, tapi mereka tidak mau karena mereka menganggap kami adalah orang-orang lemah.”
Setelah mereka berdua membuat permintaan itu, Lilia dan Lilac hanya ingin membuat penolakan di kepala mereka, tapi Lilia tidak ingin ada informasi bocor karena dirinya telah berbuat kesalahan.
“Huh~ baiklah. Angkat kepala kalian, kalian hanya akan terlihat sangat lemah kalau kalian melakukan itu.”
“Eh, benarkah?” wajah kedua pria itu terlihat lebih segar.
“Ya, aku hanya kasihan kepada kalian.”
Kemudian Lilac bertanya kepada Lilia karena hal yang tidak disangka olehnya, “Kau yakin Lilia?”
“Aku tidak ada pilihan lain. Mereka bisa saja membocorkan informasi tentang kita, jadi setidaknya hari ini aku tidak ingin melepaskan mereka.” Bisik Lilia dari samping.
“Kalau begitu baiklah.” Kemudian Lilac membuat suara tegas kepada kedua pria itu, “Kalau begitu hanya hari ini saja! Kalau besok kalian menemui kami atau menunggu kami di Guild Petualang, aku tidak akan segan-segan menyuci otak kalian!”
““Kami mengerti!!””
Mereka berdua membuat suara tumpang tindih, dengan hormat menyetujui itu.
****
“Jadi, sampai kapan kami harus mengikuti kalian?” tanya Lilia.
Di sebuah perjalanan, mereka menuju sebuah tempat yang tidak diketahui Lilia. Kedua pria itu yang memimpin perjalanan, karena membutuhkan bantuan Lilia dan Lilac, jadi mereka berdua yang harus menunjukkan arahnya.
“Sebentar lagi kita akan sampai di sebuah desa. Mereka meminta Guild petualang untuk memberikan bantuan dari petualang, karena warga desa itu merasakan kehadiran kawanan Orc yang melintasi hutan di dekat desa mereka.”
“Orc? Bukankah mereka lebih kuat daripada goblin? Kenapa kau malah mengambil misi yang lebih berbahaya?” tanya Lilia.
Namun, jawaban dari pria itu membuat Lilia menghela napas, “Kami tidak ada pilihan lain, itu adalah satu-satunya misi dengan tingkat terendah yang tersisa.”
“Itulah sebabnya kalian meminta bantuan kami?” tambah Lilac.
“Ya...” ekspresi sedih terlihat dari wajah pria itu, dia hanya pasrah dengan keadaan.
Setelah beberapa saat mereka berempat sampai ke sebuah desa yang tidak terlalu luas dan aman, oleh karena itu tempat itu akan menjadi sasaran empuk dari monster-monster lainnya.
Kedua pria itu melanjutkan untuk mencari keberadaan Orc dengan menanyai ke sejumlah orang dan kepala desa. Untuk berjaga-jaga Lilia dan Lilac juga menanyakan kepada penduduk setempat agar tidak ada informasi bohong.
Setelah itu mereka kembali menemui Lilia dan Lilac.
“Bagaimana?” tanya Lilia.
“Sekitar dua kilometer dari desa ini, tepatnya di sebelah hutan utara. Para pemburu telah menemukan keberadaan Orc itu.”
Perkataannya sama seperti informasi yang telah Lilia dapatkan.
“Kalau begitu ayo, tidak usah membuang-buang waktu.”
“Tunggu, sebelumnya kami belum mengetahui nama kalian berdua.” Kata pria itu.
“Huh baiklah...” Lila menghela napas, lalu melanjutkan, “Namaku Lilia, dan dia Lilac.”
“Begitu ya, nama yang bagus. Perkenalkan namaku Leo dan ini temanku Mord.” Kata Leo sambil mengenalkan Mord.
“Kalau begitu, untuk hari ini mohon kerja samanya.” Lilia hanya terlihat acuh tak acuh sambil menggendong tasnya.
Setidaknya agar tidak ada kehilangan komunikasi dalam kerja sama mereka, mereka harus menyebutkan nama masing-masing dari mereka. Itulah yang dipikirkan oleh Lilac, meskipun Leo dan Mord hanya akan menjadi beban tapi dia tidak ingin mereka bedua mati hanya karena Lilac membiarkan mereka berjuang dengan kekurangan orang.
Kemudian, mereka berempat pergi ke hutan utara untuk membasmi kawanan Orc yang meresahkan penduduk desa.
つづく