
Setelah aku pergi dari markas Laven, aku kembali ke penginapanku. Aku punya niat untuk mempersiapkan semua peralatanku ketika aku sudah di penginapan, dan memberitahu kepada gadis lainnya.
Ngomong-ngomong tentang alat yang bisa membuat kami berkomunikasi jarak jauh— telah hancur saat kami melawan monster kelas bencana itu secara langsung. Karena itu saat ini kami sudah tidak bisa berkomunikasi jarak jauh kembali, jadi aku harus mengumulkan para gadis dengan seperti biasanya.
Huh~ Aku harap mereka semua saat ini sedang di penginapan...
Saat aku memasuki penginapan dan menuju ke ruangan kami tinggali, ternyata pintunya tidak dikunci, itu artinya ada orang di dalam.
“Master?” Gadis berabut biru langit— Amarilis memanggil.
“Oh, Amarilis ya... dimana gadis yang lain?”
Karena aku hanya merasakan hanya ada Amarilis di penginapan lain dan tidak melihat gadis lainnya, aku bertanya kepadanya.
“Um, sepertinya gadis yang lain juga masih menjalankan tugasnya...”
Karena aku yang membuat kebijakan untuk para gadis agar mempersiapkan rencananya masing-masing, mereka semua bertindak dengan mandiri tanpa arahanku langsung. Jadi aku tidak mengetahui rencana mereka sedikitpun, mungkin yang mengambil komando ini adalah tetap Lilia orangnya, karena pada dasarnya dia adalah pemimpin para gadis.
“Begitu...” sesuai dugaanku kalau mereka tidak ada di sini, kemudian aku melanjutkan, “Lalu apa yang kau lakukan? Bukankah kau seharusnya bersama Natasha?”
Itu karena aku memasangkan Amarilis dengan Natasha, dan juga aku melihat Amarilis sedang tidak memakai pakaian misinya tapi sedang memakai pakaian lain. Sepertinya itu adalah pakaian bertualangnya.
“Oh, Natasha sekarang sedang mengganti pakaiannya di kamarnya, kami juga sedang ingin mengikuti Party besar petualang dalam menyesaikan sebuah Quest.” kata Amarilis.
Ternyata begitu, mereka berdua sudah memiliki rencananya. Dengan sebuah awal dari rencana tersebut, kemungkinan akan mendapatkan hasil yang berupa informasi yang didapatkan dari para petualang yang ada di sana.
“Oh, master, kau pulang?” tiba-tiba Natasha keluar dari kamarnya.
“Ya, ada beberapa hal yang harus kuurus.” Jawabku.
“Baiklah kalau begitu... kami akan pergi dulu!” kata Natasha.
Sepertinya dia sudah siap dengan perlengkapannya dan pergi dengan terjadwal... Aku hanya mengangguk atas jawabannya. Oh iya, harus ada yang kukatakan.
“Oh iya, tunggu sebentar.” Kataku.
“Hmm?” mereka berdua berhenti sebelum keluar pintu dan menoleh ke arahku.
Karena salah satu persyaratan dari Laven berikan tentang informasi yang diberikan olehnya, aku membutuhkan bantuan gadis lainnya.
“Kalau kalian bertemu Annastasia dan Elma, beritahu mereka kalau aku ingin bertemu mereka.” Kataku.
“Baiklah, master!” jawab Natasha, tapi dia melanjutkan, “Master, apa kau butuh pelukan hangat dariku? Ini bisa dibilang salam untuk kepergianku!”
Itulah yang Natasha katakan.
“Natasha?” bahkan Amarilis bingung karena itu.
Aku langsung pergi menuju kamarku dan mengatakan, “Tidak perlu...”
Aku tahu perasaan sebenarnya Natasha terhadapku dan aku juga tahu tentang senjata andalannua untuk menggodaku, tapi tetap saja... mungkin dia masih khawatir dengan diriku karena aku pernah ‘mati’ dan meninggalkan rasa sakit kepada mereka semua, jadi mungkin itu adalah rasa rindu mereka terhadapku. Dan Natasha yang menunjukkan itu dengan karakteristiknya sendiri.
Jadi Natasha tidak akan sakit hati dengan candaaku seperti itu.
Baiklah, mereka berdua sudah menutup pintunya dan tersisa aku sendiri di penginapan ini.
“Ngomong-ngomong aku tidak melihat Dusk...” gumamku.
Memang benar aku mengajak Dusk untuk mengikuti misi ini karena kami semua tidak tega meninggalkannya sendiri di Mansion. Jadi mungkin saat ini Dusk bersama dengan gadis lainnya?
Mungin dari regu Lilia atau Annastasia yang mengajaknya, atau mungkin Astia? Sepertinya antara ketiga regu itu.
Oke, sekarang aku mengganti pakaian misiku berubah menjadi ke pakaian petualangku yang biasa, dan menunggu hingga waktunya tiba.
Ketika hari menjelang malam, aku pergi ke tempat tujuanku— yaitu ke sebuah arena besar, yang dulunya bekas asal mula pembantaian dari iblis. Kenapa selalu di tempat ini?
Aku dapat melihat petualang lainnya yang sudah berkumpul.
Mereka— orang yang menyelenggarakan perekrutan ini berpidato tentang hal-hal yang tidak penting, memperlihatkan hal yang tidak penting juga. Namun aku melihat ke sisi lainnya, sepertinya para petualang ini mempunyai kualitas tinggi sebagai petualang. Aku bisa melihat itu dari tampilan luarnya.
Saat ini aku masih duduk di tempat yang cukup terhindar dari keramaian, dan mengawasi tindakan petualang sekitar. Kalau boleh dibilang, pemimpin dari perekrutan ini memiliki kualitas yang sama seperti Rose— yaitu salah satu petualang terkuat di dunia.
Maka dari itu banyak petualang yang ingin masuk ke kelompoknya.
Oke, telah disebutkan pertarungan ini hanya memiliki satu ronde, tapi memiliki batas waktu— ini adalah pertarungan yang memiliki tipe Battle Royale.
Itu artinya dari seluruh petualang yang ada di sini hanya akan menyisakan satu orang petualang yang mampu lulus dan dapat diterima oleh kelompok besar mereka.
Peraturan lainnya adalah— mereka diperkenankan memakai senjata yang terbuat dari kayu yang sudah dipersiapkan. Lalu salah satu mereka akan dianggap gugur kalau mereka tidak dapat melanjutkan pertandingan, dengan kata lain pingsan.
Petualang yang memiliki bakat dengan sihir akan diperbolehkan menggunakan senjata miliki pribadinya. Jadi, kalau di sini ada Ellena, dia akan menang dengan sangat mudah.
Aku tidak tahu pasti ada berapa peserta yang mengikuti perekrutan ini, tapi sepertinya hampir mencapai seratus petualang.
Namun tempat pertarungannya hanya di arena ini saja. Itu adalah kecacatan regulasi mereka tentang standar kualitas petualang. Padahal agar petualang itu disebut kuat maka mereka harus ditempatkan di sebuah tempat yang bervariasi seperti di pegunungan, hutan, atau tebing sekali pun.
Itu yang akan menunjukkan kualitas mereka sebagai petualang.
Maka dari itu, aku tidak bisa menggunakan kecerdasanku di sini untuk memanfaatkan faktor alam, jadi saat ini aku akan murni menggunakan kekuatanku saja. Begitu pula dengan petualang lainnya.
Petualang yang hanya mengandalkan otak ototnya yang akan berkuasa di sini. Mungkin mereka sangat payah dalam beradaptasi dengan faktor alam, tapi kalau pertarungan langsung mereka sangat diunggulkan.
Baiklah~
Saat aku melihat peserta lainnya, aku ke arena utama di barisan terakhir agar Laven dapat melihatku dengan jelas dari arah yang tidak kuketahui.
Tubuh mereka besar-besar melebihi diriku kecuali petualang yang bertipe Magic Caster atau Sorcerer.
Aku tidak mengenal satu pun dari mereka, tapi aku dapat mengetahui siapa yang paling kuat di antara mereka. Aku dapat merasakan dominasi itu dikeluarkan secara terang-terangan.
Aku tidak terlalu menyadarinya, tapi ternyata ada banyak penonton yang melihat kami semua di area bangku penonton. Padahal ini sudah malam tapi suasananya cukup meriah.
Ketika aku ingin mengambil pedang kayu itu, petualang-petualang lain terlihat membentuk kelompok. Sepertinya mereka ada yang mengenal satu sama lain...
Yah, pada dasarnya aku tidak butuh itu. Ngomong-ngomong pedang lamaku yang berkualitas itu telah hancur ketika melawan monster kelas bencana. Jadi aku tidak membawa senjata kecuali belati dan beberapa bom ke Kekaisaran Engrayn ini.
“Ronde pertama dan yang terakhir! Tanpa batas waktu...” kata seseorang yang menjadi penyelenggara tersebut, “Seleksi perekrutan Divergent...!! Dimulai!”
Ternyata nama kelompok yang akan kumasuki adalah Divergent... tapi sebelum itu...
Mereka semua saling berhadapan dan saling menyerang. Tentu saja, seluruh mata melihat ke arah petualang yang lebih lemah dulu, yaitu aku.
Beberapa orang melesat ke arahku dan berusaha menyerang titik vitalku. Untuk menghindari itu, aku melompat ke belakang dengan santai, tapi itu belum selesai— seorang Magic Caster membuat sebuah sihir ledakan ke arahku.
Aku juga menghindarinya, hasilnya ledakan asap terjadi, aku memanfaatkan ledakan asap ini dengan ledakan asap dari bom asapku. Kabut asap ini semakin tebal dan meluas.
Ini adalah Battle Royale, jadi mereka semua saling bertarung dan saling melumpuhkan satu sama lain. Karena aku yang telah membuat kabut asap ini, pertama aku akan mengeliminasi penyerang jarak jauh di antaranya Sorcerer atau Magic Caster yang sudah kuamati sejak awal aku masuk ke arena ini.
Trik ini tidak akan membuat mereka sadar kalau aku pelaku sebenarnya dalam mengeliminasi mereka, ini berkat kabut asap ini.
Sebenarnya aku sudah terbiasa dengan kabut asap ini, karena para gadis selalu saja menggunakan serangan bervariasi dalam menyerangku. Itulah yang membuatku terbiasa dengan segala jenis serangan dan trik serang, jadi aku bersyukur berlatih bersama para gadis.
Aku melumpuhkan setiap targetku dengan memukul tengkuk mereka dengan pedang kayu ini dan tidak akan yang menyadari hal ini.
Seseorang membuat tebasan besar, akibatnya kabut asap ini menghilang secara sempurna. Namun aku sudah menyelesaikan rencana pertamaku. Hasilnya seluruh penyerang jarak jauh telah tereliminasi.
Orang besar dan tinggi itulah yang melakukannya, perawakannya seperti Gorou tapi memiliki perlengkapan pakaian yang lebih lengkap.
Baiklah, aku tidak peduli itu. Sekarang adalah beralih ke rencana keduaku... yaitu tidak perlu ikut campur atas pertarungan ini. Aku akan membiarkan mereka saling bertarung hingga para petualang terus tereliminasi hingga berkurang dalam segi kuantitas.
Karena atmosfer dari keberadaanku sangat minim, aku bisa pergi ke arah dinding arena tanpa ada yang menyadarinya. Dan melihat mereka bertarung tanpa henti.
Aku juga menunggu tindakan dari Laven, mari kita lihat apa yang akan dilakukannya...
****
Gadis berambut pirang pendek sedang membawa senjata jarak jauhnya yang berada di punggunya. Gadis itu adalah Laven.
Sekarang dia berada di tingkat tertinggi dari arena pertarungan itu dan sedang melihat para petualang sedang saling bertarung dalam memperebutkan posisi di dalam kelompok petualang Divergent.
Ketika mereka semua masih dalam keadaan bertarung, Laven mempersiapkan senjatanya yaitu Sniper dengan mengganti efek tembakan menjadi peluru ‘pelumpuh’.
“Apa yang Ryuuji sekarang lakukan?” gumam Laven.
Karena dia penasaran dengan hal itu, sebuah ledakan asap menyelimuti arena itu.
“Mengganggu sekali! Ini pasti gara-gara Ryuuji itu!” kesal Laven.
Dia juga pernah merasakan itu sebelumnya ketika melawan Yuuki, tapi sekarang Laven dalam posisi membantunya dalam melumpuhkan peserta lainnya. Ini bisa disebut curang, tapi ini adalah bukan semata-mata dalam memasuki kelompok Divergent itu, tapi mengulik kejahatan di balik kelompok itu
Karena dugaan Laven yang menyalahkan Yuuki, hasilnya dalam penembakan itu akan terganggu meskipun dengan dalam kabut asap itu yang sebenarnya Laven dapat mengatasi halangan tersebut. Tapi saat ini dia akan menunda penembakan sampai asap itu menghilang.
“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Laven yang menyadari ada dua orang di dekatnya.
“Bos, kami ingin memastikan kalau bencana di masa lalu tidak akan melibatkanmu kembali.” Jawabnya.
Mereka berdua adalah pembunuh bayaran yang sama seperti Laven, bisa dibilang mereka berdua adalah bawahan Laven— Roger dan Bravo.
“Kekhawatiran kalian tidak beralasan, dan juga kalian tidak dibutuhkan untuk saat ini.” Tambah Laven.
“Baiklah, bos. Tapi setidaknya kami akan menemanimu di sini.” Kata Bravo.
Laven masih fokus pada pertarungan itu melalui Scope sniper itu. Setelah beberapa saat, kabut asap itu menghilang dengan sempurna karena tebasan seseorang. Laven melihatnya, banyak petualang yang terkapar tidak sadarkan diri setelah kabut asap itu menghilang.
Sepertinya kemampuanmu itu masih belum tumpul, Ryuuji.
Yang harus Laven perhatikan saat ini adalah, melumpuhkan sebagian besar petualang yang terlihat berkualitas. Pertama, Laven menargetkan orang yang telah menghempaskan kabut asap itu. Hasilnya— sempurna, tidak ada kecacatan dalam penembakannya, dan juga tidak ada yang menyadari keberadaan Laven.
Tembakan demi tembakan dia lancarkan, tanpa sebuah suara sedikitpun. Laven juga memosisikan tembakannya saat seseorang akan diserang dan dipastikan orang itu akan kalah. Dengan pengalihan itu, Laven menembaknya dan melumpuhkannya sehingga tembakan Laven tidak akan dicurigai oleh satu pun petualang...
“Nah, sekarang dimana Ryuuji?” gumam Laven.
Dia terus meneropong dan melihat di sudut arena, ada sebuah laki-laki yang sedang melihat ke arah Laven persis ke arah Laven sendiri. Itu bukanlah sebuah kebetulan, tapi laki-laki itu benar-benar menyadari keberadaan Laven.
“Ryuuji itu!! Ternyata dia sudah menyadariku dan bermalas-malasan dalam menjalankan tugasnya!”
“Bos, maaf... kami mengganggu kekesalanmu, tapi sebenarnya kenapa kau serius dalam berhutang nyawa kepada bocah laki-laki itu?” sela Roger.
Namun, Laven tidak langsung menjawabnya. Dia menunggu itu beberapa detik ketika Laven mengawasi kondisi pertarungan itu.
Kemudian Laven menjawab dengan tenang, “Simpel saja, laki-laki yang kalian sebut bocah itu telah menyelamatkan nyawaku saat insiden iblis di masa lalu.”
“Begitu...”
Sekarang Roger mengerti kenapa dia selalu melihat bosnya gelisah ketika membicarakan laki-laki yang bernama Ryuuji itu.
Kemudian, Laven membereskan senjatanya dan kembali membungkusnya. Laven menggendongnya kembali di belakang punggungnya. Karena itu kedua rekannya kebingungan dengan itu.
“Bos, bukankah tugas kita adalah melumpuhkan semua peserta itu dan membuat bocah laki-laki itu menang?” tanya Bravo.
“Tidak, aku berubah pikiran.” Kata Laven, “Aku akan membuat Ryuuji itu mengalami kesulitan dan merasakan akibatnya dari bermalas-malasan itu!”
Meskipun hanya tinggal belasan petualang yang tersisa, tapi Laven membiarkannya, meskipun itu adalah petualang yang sangat diunggulkan. Ini hanyalah rasa iseng dari Laven sendiri.
Kemudian Laven berbalik ke arah Yuuki, dan mengarahkan jempol padanya tapi Laven membaliknya. Itu adalah celaan yang sangat kanak-kanak dan tidak memiliki motif apapun.
Namun cukup mengejutkan bagi Laven, setelah dia melakukan itu, Ryuuji kembali bergerak dalam melumpuhkan musuhnya...
“Tidak mungkin...” hanya itu reaksi terkejut dari Laven.
つづく
Kalau ada typo bertebaran mohon dikoreksi ya, dan jangan lupa like, komen dan klik favorit ya! Terimakasih!