I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II

I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II
Chapter 28.1



Di malam hari yang sudah cukup larut, dunia seakan berubah menjadi sebuah kegelapan yang diterangi oleh cahaya dari obor. Annastasia, Elma dan Laven yang membawa obor itu untuk menerangi jalan kami ketika menelusuri hutan.


Sementara itu aku menggendong seseorang di punggungku, yaitu Lilac. Lalu, Astia menggendong gadis lainnya yaitu Lilia.


Ketika pada waktu lalu akhirnya aku memutuskan untuk menjadikan Lilia dan Lilac sebagai umpan, itu adalah rencana darurat ketika aku mendapatkan kehadiran mereka berdua saat berada di restoran. Padahal rencananya aku akan menggunakan Annastasia dan Elma untuk menarik perhatian Razor si pemimpin Kelompok Divergent. Namun, karena Lilia dan Lilac yang telah meminum minuman yang sudah diracun oleh salah satu bawahan Razor, pada akhirnya Lilia dan Lilac yang menjadi incaran Razor itu.


Sepertinya akibat dari meminum racun yang berada di dalam minuman mereka, tubuh mereka akan mengalami kekakuan seperti batu dan menghilangnya energi sihir.


Yah, pada akhirnya meskipun kedatangan Lilia dan Lilac sedikit merusak rencana kami, tapi aku dapat mengatasi itu di saat-saat terakhir.


Untuk tubuh Razor saat ini yang sedang pingsan, dia sedang dibawa oleh bawahan Laven di belakang kami, sedangkan Laven yang memimpin jalan. Rencananya kami akan menggali informasi dari Razor di markas Laven. Itu bertujuan kalau ada sebuah sesuatu yang di luar jangkauan kami, setidaknya kami tidak akan mengganggu kehidupan yang ada di kota.


“Mmm...”


Sepertinya Lilac mengeluarkan suaranya.


“Master...?”


“Kau bangun?”


Sepertinya dia memang sudah bangun, tapi dia kaget tiba-tiba berada di gendonganku.


“Ke-kenapa aku bisa di sini?” tanyanya yang kebingungan.


“Tadi kau pingsan saat melawan orang itu, kan? Jadi tentu saja aku yang menggendongmu.” Aku tidak bisa melihat wajahnya ketika aku menggendongnya di punggungku.


“I-iya sih...aduh duh!”


Sepertinya Lilac masih merasakan sakit di bagian belakangnya ketika dipukul oleh Razor.


“Saat ini kau beristirahatlah dengan tenang...” kataku untuk menenangkannya ketika dia ingin mengamati sesuatu yang sedang terjadi.


“Tentu saja... aku sangat tenang di sini. Lagipula saat ini aku sangat dekat dengan master, jadi aku bisa memeluk master dari belakang sesuka hati.” Lilac mengatakan itu dengan tenang dan pelan, tapi kedua tangannya meraihku dan memelukku.


“Hey, apa yang kau lakukan? Huh~” aku hanya bisa menghela napas.


Yah mau bagaimana lagi? Lagipula saat ini dia sedang kesakitan.


“Sepertinya memang benar... bau master memang sangat menenangkan.”


“Siapa yang bilang begitu? Lagipula, hey! Buat apa kau mengendus-endus diriku?”


Tapi ketika aku bilang hal itu, Lilac menghentikan perbuatan anehnya dan berubah menjadi lebih tenang— masalahnya dia tetap berada di posisi memelukku.


Meskipun aku tahu gadis lainnya memperhatikan aku sejak tadi, tapi ketika mereka melihat ekspresi tenang Lilac, mereka tidak jadi membuat masalah yang bisa mengganggu ketenangan Lilac. Sepertinya di sini aku yang harus lebih tenang.


Aku pikir Lilia belum bangun dari pingsannya ketika dia masih digendong oleh Astia.


Setelah beberapa saat kami berjalan, akhirnya kami sampai ke markas Laven yang berada di dalam hutan.


Setelah melakukan beberapa persiapan, Razor di bangku dan kedua tangannya diikat dengan erat oleh bawahan Laven. Meskipun saat tadi aku menendang keras di bagian wajah Razor hingga dia pingsan, tapi Laven memberikan pengaruhnya yang lebih lama agar Razor tetap tidak sadar.


“Baiklah, sekarang kau sadarlah.” kata Laven ketika menjentikkan jarinya.


Razor langsung membuka matanya seolah dia terkejut dengan situasi sebelumnya. Ketika dia menyadari bahwa dia sadar, dia menggeliat berusaha melepaskan ikatannya.


“Sebaiknya kau jangan memberontak, ikatan itu akan menyerap sihirmu.”


Oh... sepertinya itu efisien sekali, bahkan aku tidak pernah mencoba untuk mempelajari hal itu. Yah lagipula teknik itu berkaitan dengan profesi pembunuhnya.


“Ugh, siapa kau?!” teriak Razor


“Apa kau benar-benar tidak mengenal kami?”


Ketika Razor melirik ke arah lainnya, dan tatapannya berhenti ketika melihat sniper Laven yang tergantung di tangan Laven— itulah yang membuat membuat Razor terkejut sampai tidak bisa berkata-kata.


“K-kau! Kau legenda pembunuh bayaran itu?! Apa yang kau inginkan! A-apa kau ingin membunuhku?”


Razor sangat ketakutan ketika menyadari situasinya, matanya melotot seolah hampir keluar dari kelopak matanya— aku pikir ini sangat mengejutkannya.


“Kalau kau memberi kami informasi, aku akan mengurungkan niatku untuk membunuhmu.” Kata Laven yang duduk santai di depannya.


“A-apa yang kau inginkan?” tanya Razor yang panik.


Ketika Laven menyilangkan kakinya ketika dia duduk, dia bertanya dengan serius terhadap Razor.


“Apa kau tahu tentang Organisasi ‘Blaue Nacht’?”


Razor langsung berkeringat deras, wajahnya memerah dan memunculkan urat di kepalanya.


“Ke-kenapa kau!! Kenapa kau tahu nama itu?!” teriak Razor, dia bereaksi berlebihan ketika Laven menyebutkan itu, “Dari mana kau mengetahui itu?!”


Sekarang Razor sudah tidak bisa menenangkan diri. Sihir terus dikeluarkan secara masif oleh Razor, tapi langsung diserap oleh tali pengikat itu— meskipun begitu, Razor tidak peduli lagi dengan keterbatasan Sihirnya kali ini, dia hanya ingin mengamuk.


“Itu dari rumor...” bisik dari Laven, “Nah sekarang kau diam.” Laven langsung menjentikkan jarinya lagi, dan membuat Razor pingsan seketika.


Setelah itu, Laven menghadap ke arahku.


“Sepertinya kau mempunyai pertanyaan, Ryuuji... bukankah begitu?” tanya Laven kepadaku.


Sepertinya dia menebak isi kepalaku dengan mulus.


“Baiklah, sekarang organisasi apa yang kau sebutkan tadi? Apa mereka memiliki hubungannya dengan rencana kita?” tanyaku.


“Aku akan menjelaskannya... tadi pagi aku menyuruh Roger dan Bravo untuk menyelidiki tentang rumor Organisasi itu. Lalu mereka menemukan nama Razor di sebuah catatan yang memiliki hubungan dengan Organisasi Blaue Nacht— sepertinya Razor ini adalah salah satu anggota organisasi mereka.”


“Apa mereka adalah organisasi yang sama dengan orang yang kulawan tadi pagi?”


Karena aku tidak tahu nama organisasi yang kulawan tadi pagi, makanya aku mencoba menghubungkannya.


“Tentu saja berbeda. Namun, sederhananya Blaue Nacht ini... memiliki hubungan dengan insiden monster kelas bencana. Itulah yang kudapatkan hingga saat ini.”


“Tapi, sayangnya aku dan rekanku tidak menemukan informasi tentang keberadaan mereka.” Tambah Laven, kemudian melanjutkan, “Baiklah aku akan kembali menginterogasi dirinya.”


Setelah itu Laven berpaling dariku, dan menghadap Razor kembali. Dia menjentikkan kembali jarinya dan membuat Razor bangun.


“Ugh! Uh...” Razor terkejut ketika dia bangun dan itu membuatnya tersengal-sengal.


Kemudian Laven memberikan kalimatnya, “Kalau kau masih ingin hidup, jawab pertanyaanku... Blaue Nacht, apa mereka mempunyai hubungan dengan insiden kelas bencana?”


Ketika Laven bertanya, sepertinya Razor berada di dalam efek hipnotis tertentu yang dilakukan oleh Laven. Itu terlihat dari gerak matanya dan pernapasannya yang berubah secara drastis.


“Ya.” Jawab Razor.


“Apa itu?”


Namun jawaban Razor cukup membingungkan.


“Sejak ratusan yang lalu, ketika insiden monster kelas bencana itu berakhir dan berhasil diatasi oleh pahlawan. Organisasi Blaue Nacht berusaha untuk membangkitkan pahlawan yang telah menghilang, mereka menggunakan sisa-sisa energi sihir pahlawan yang tersebar di segala penjuru Pegunungan Yatze.”


“Tunggu sebentar...” langsung dihentikan oleh Laven sendiri, sepertinya dia juga menyadari keanehan itu.


Yang menjadi masalahnya adalah kenapa tiba-tiba mengubah topiknya menjadi ratusan tahun yang lalu? Bukankah insiden monster bencana itu baru saja sebulan yang lalu?


“Ryuuji...” Laven menatapku, “Bukankah insiden monster kelas bencana itu sebulan yang lalu?”


“Benar, tapi sepertinya dia mempunyai informasi tentang insiden lima atau enam abad yang lalu. Jadi kita mungkin mendapatkan petunjuk dari situ.” Kataku.


“Baiklah...” jawab Laven


Sepertinya Astia juga tertarik dengan ini, itu karena dia adalah...


Lalu Laven melanjutkan interogasinya dan menjentikkan jarinya.


“Apa yang kau ketahui tentang Organisasi Blaue Nacht?” tanya Laven.


“Selama lima abad berlangsung, generasi demi generasi, kami terus mengembangkan dan berusaha untuk membangkitkan pahlawan yang telah menghilang. Kami terus mengembangkan setiap kekuatan dan membuat karakteristik tubuhnya semirip mungkin seperti yang telah tercatat oleh kami tentang pahlawan itu.”


“Itu artinya mereka membuat tiruan dari seorang pahlawan. Apa tujuan mereka sehingga terobsesi seperti itu terhadap pahlawan?” Astia masuk ke dalam pembicaraan dan mengatakan itu.


Sepertinya dia memang benar-benar tertarik.


“Mereka— kami telah mengembangkan proyek itu hingga hampir di tahap sempurna dan menggunakan wadah dari tubuh homonculus. Tujuan kami adalah... menghancurkan setiap iblis yang ada di dunia ini.” Itulah jawaban terakhir dari Razor.


“Tidak bisa dipercaya...” Laven tidak bisa melakukan hal lain selain menghela napas.


“Sepertinya aku mengerti tetang motifnya.” Kataku, ketika aku melanjutkan, “Mereka akan menggunakan ‘tiruan’ pahlawan dan menjadikannya boneka untuk menghabisi setiap ancaman yaitu iblis. Ketika mereka telah menghabisi seluruh iblis yang ada di dunia ini— aku punya sebuah asumsi bahwa mereka akan menguasai dunia.”


Ancaman terbesar bagi dunia ini adalah para iblis. Kalau mereka dihancurkan hingga ke akarnya, maka tidak ada halangan lain bagi Blaue Nacht untuk menguasai dunia.


Kemudian Lilac memanggilku ketika dia masih kugendong di punggungku.


“Master, lalu apa hubungannya rencana mereka dengan penculikan Ellena?”


“Sayangnya aku tidak mengetahui itu.” Jawabku.


Ini sangat menegangkan. Di sisi lain kami ingin mendapatkan petunjuk melalui informasi tentang Blaue Nacht, tapi tanpa sengaja kami mendapatkan rencana yang lebih besar dari mereka.


Di sisi lainnya itu sangat buruk. Kalau organisasi itu berhasil ‘membangkitkannya’, aku dan rekan gadisku pun tahu seberapa besarnya kekuatan pahlawan.


Lalu Laven mengembalikan konsentrasinya. Dia kembali menginterogasi Razor...


“Razor... Organisasi Blaue Nacht, sekarang dimana mereka?” tanya Laven yang serius. Tapi...


Namun Razor terlihat memberontak, dia langsung mencoba menggigit lidahnya sendiri.


“Berhenti.” Laven langsung menjentikkan jarinya, itu membuat Razor menghentikan serangan bunuh dirinya.


“Sepertinya dia tidak ingin mengungkapkan hal itu...” kataku.


“Atau ada dari pengaruh lain yang membuat Razor dilarang untuk mengatakan informasi itu.” Tambah Laven.


Laven kembali menjentikkan jarinya, sepertinya dia memberikan pengaruh yang lebih besar kepada hipnotisnya. Itu yang membuat ketahanan diri Razor tergerus.


“Razor, sekarang aku tanya sekali lagi. Organisasi Blaue Nacht, dimana mereka?”


Razor membuka suaranya dengan mulut yang bergetar.


“U-Ugh! He... Ili... Ges.”


“Heili...Heiliges. Ya! Kerajaan Heiliges.” Sepertinya Laven dapat mengenali kalimat yang terbata-bata itu.


“Baiklah aku akan mengingat itu di kepalaku.” kataku kepadanya, “Saat ini harus kembali ke penginapan kami. Pertemuan ini akan diadakan kembali esok hari, jadi kita akan menentukan rencananya besok.”


“Dimengerti.” Jawab Laven.


“Baiklah... kalau begitu ayo.”


Aku mengajak Astia dan gadis lainnya yang mengikutiku sejak awal tadi. Aku masih menggendong Lilac di punggungku— lalu Lilia kembali digendong oleh Astia di punggungnya, sepertinya dia masih dalam keadaan pingsan.


“Oh iya Laven. Bagaimana aku mengatasi rekanku yang terkena efek keracunan dan petrifikasi?” tanyaku.


“Oh tenang saja, efek kejut dan beristirahat dengan tenang akan menyembuhkannya.”


“Baiklah, terimakasih.”


Dengan begitu kami pulang sebelum esok hari menanti kami di hari yang merumitkan.


つづく