
Elma dan Marrona menerjang dari belakang dan membuat tebasan besar di punggung pria besar yang membawa rantai tersebut.
Sebuah suara dentuman logam memekakkan telinga terdengar hingga mencapai ke arahku. Sepertinya serangan Elma dan Marrona gagal, pria besar itu melayangkan rantainya panjangnya— Elma dan Marrona menghindari dari serangan itu dan mengakibatkan serangannya meleset, tapi menghancurkan ruangan lain yang dilaluinya.
Namun, aku harus fokus pada posisiku saat ini.
Di posisiku, aku, Natasha, dan Amarilis— saat ini kami bertiga sedang menghadapi wanita yang menggunakan pedang panjang tersebut. Lalu, di posisi lainnya, Elma dan Marrona berhadapan melawan pria besar itu, dan juga menghalangi pergerakannya yang ingin mengejar gadis-gadis lainnya yang mendahului kami.
Gadis-gadis yang sudah pergi mendahului kami yaitu Astia, Lilia, Lilac, dan Annastasia. Mereka cukup terkoordinir ketika Amarilis membuat serangan pengalihan tadi. Karena kami tidak mempunyai cukup waktu lagi, harus ada di antara kami yang lebih dulu maju ke garis depan.
Mereka berempat berhasil maju dan tidak dihalangi oleh pria besar itu berkat bantuan dari Elma dan Marrona.
“Sepertinya kalian cukup bodoh.” Kata wanita itu, “Seharusnya kalian melawan kami dengan segenap kemampuan dan jumlah kalian. Tapi, apakah kalian yakin menang dengan mengurangi jumlah kalian?”
Ketika dia menanyakan hal itu, Natasha langsung menyerang dengan sangat frontal— pedangnya terangkat tinggi dan segera menebas ke arah lawannya. Hal itu dengan baik dihalau oleh wanita tersebut, pedang panjangnya dengan mulus mematahkan serangan kombo Natasha.
Ketika wanita tersebut terus terpojok dengan serangan beruntun Natasha, aku sudah berada di belakangnya tanpa diketahui.
“Apakah begitu?” tanyaku ketika membuat sebuah tusukan dengan belati ke lehernya.
Namun aku hanya menusuk udara yang kosong, dan segera Natasha menghentikan serangannya ketika melihatku di jarak serangnya.
“Dimana dia?” tanya Natasha yang kebingungan.
Ketika dia menanyakan keberadaan wanita itu, aku segera melesatkan belatiku ke arah Amarilis. Itu adalah jalur serang yang dapat dilihat oleh Amarilis sekalipun, tapi hanya titik buta bagi musuhnya.
“Ugh!” dia berdarah.
Ketika Amarilis mengetahui seranganku yang mengarah ke wajahnya, dia segera melihatnya dan akhirnya menghindari itu dengan mulus, namun belatiku langsung mengenai bagian leher dari wanita yang di belakang Amarilis.
Pada dasarnya, wanita itu sudah mempunyai niat untuk menawan Amarilis.
Wanita itu segera membuat jarak, tapi Amarilis reflek karena momen itu, lalu dia melesatkan anak panah ke arah belakangnya.
Ledakan terjadi, membuat serangan beruntun terhadap wanita itu. Hasilnya dia terlempar dan terseret di lantai. Darah membanjiri lantai yang berasal dari leher wanita tersebut— dia mencoba menutup keluarnya darah dengan tangannya...
Namun ajaibnya pendarahan itu berhenti, ketika tangannya tidak menutupi luka itu lagi, sayatan luka itu menghilang dengan sempurna.
Dia beregenerasi?
Ketika aku melihat momen ini, ini adalah untuk pertama kalinya aku melihat hal itu. Manusia dapat menyembuhkan dirinya sendiri dengan instan? Teknik macam apa lagi itu?
“Fufu— sepertinya aku yang telah meremehkanmu ya... Tidak kusangka kau dapat menyadari keberadaanku.” Kata wanita itu.
Dia tersenyum seolah-olah luka itu adalah hal yang biasa untuknya. Namun ketika membicarakan teknik penghilangan keberadaannya, tekniknya itu persis seperti milik Laven— jadi aku bisa menyadari itu secara langsung.
Namun pengganggu tetaplah pengganggu, mereka tetap harus disingkirkan.
Belati utamaku hanya tersisa satu untuk menjadi alat serang, tapi aku masih mempunyai Natasha untuk menjadi partnerku, dan Amarilis untuk serangan jarak jauh.
Amarilis pergi ke arahku untuk berkumpul bersama Natasha. Meskipun kalau dalam serangan dan pergerakan yang sama, aku dapat mengatasi wanita itu sendirian, tapi aku akan mementingkan kerja sama dalam berkoordinasi.
“Kalau begitu, ini saatnya kita bertindak sebelum wanita itu lebih serius.” Kataku.
““Dimengerti master!”” jawab mereka berdua.
Sekarang, aku akan memiliki dua tugas yaitu di dalam posisi penyerang dan di dalam posisi melindungin Amarilis dari serangan mendadak. Amarilis akan menjalankan tugasnya, dan Natasha akan menjadi penyerang utama ketika aku akan membuat strategi serang.
Dan, dimulai...
Pergerakanku dan Natasha langsung menyebar di dua sisi yang berbeda. Di saat yang sama Amarilis membuat lesatan energi cahaya yang membuat ledakan area, tapi dengan mudahnya dipotong oleh pedang panjangnya. Tentu saja itu hanyalah pengalihan...
Sekarang Natasha membuat tebasan tebasan pertama, lalu meleset— ketika wanita itu ingin menyerang Natasha, aku segera menghalaunya dengan lesatan belatiku ke arahnya, dan ditambah tendanganku yang melayang di udara dalam kombo selanjutnya.
Ini cukup berjalan dengan lancar meskipun belatiku juga ditangkis oleh pedang panjangnya. Masalah utamanya di sini adalah pedangnya sangat mengganggu ketika aku harus mendekat ke arahnya. Aku tidak bisa semudah itu masuk ke dalam seranganku lagi, karena jarak serangku sudah sangat diperpendek karena aku tidak mempunyai pedang sepertinya.
Di sisi lain, wanita itu dapat menebas kami berdua dengan mudah karena keefesienanya dalam menggunakan pedangnya yang panjang.
Kalau begitu, yang paling efektif untuk menyerangnya dalam jarak dekat adalah...
Aku dan Natasha bersepakat untuk mundur sementara. Di saat yang sama Amarilis membuat serangan masifnya kembali dan membuat perputaran udara yang intens. Itu dapat membunuh orang hingga menjadi ‘lenyap’ seutuhnya, tapi ketika ledakan itu menimbulkan asap dan debu asap yang menghalangi pandangan menghilang— di saat itu juga, aku dapat melihat tubuh dari wanita itu masih baik-baik saja.
“Tidak mungkin...” gumam Amarilis.
“Seharusnya serangamu itu juga dapat mengenainya, atau setidaknya melukainya, tapi dia terlihat sengaja tidak menepis serangan itu... bukankah itu...?”
Yang dikatakan Natasha memang benar. Ketika Natasha dan Amarilis membuat serangan yang sangat telak, seharusnya wanita itu menghindar atau setidaknya menghalau serangan dengan tekniknya sendiri, namun kali ini dia membiarkannya serangan itu masuk ke dalam tubuhnya. Namun anehnya dia tidak terluka.
Ini adalah pisau kecil yang kusimpan untuk memotong sesuatu, tapi kali ini aku melemparnya ke arah wanita itu. Dia tidak menangkis itu, tapi membiarkan pisau itu terdistorsi karena sesuatu. Ketika kami melihat apa yang sebenarnya terjadi, kami melihat sebuah kemampuan yang sangat familiar bagi kami.
Karena itulah Amarilis dan Natasha sangat terkejut.
“Bukankah itu penghalang transparan milik Astia?”
“Itu adalah kemampuan yang selalu Astia gunakan, tapi bagaimana kemampuan itu juga ada padanya?”
Sebuah kebingungan yang sama menyertai mereka berdua. Mereka melihat sebuah kemampuan yang hanya Astia yang bisa dalam menggunakannya. Dalam taraf tertentu, banyak petualang yang mempunyai kemampuan yang mirip seperti itu, tapi tidak seefektif seperti yang Astia miliki.
Namun kemampuan itu juga berada pada orang asing yang tidak kami kenali.
“Kalian tahu? Kemampuan ini sangat berguna untuk menghalau segala jenis serangan fisik atau serangan sihir apapun. Jadi kalian tidak perlu repot-repot untuk menembus penghalang ini, itu karena mustahil kalian dapat menembusnya.”
“Dari mana kau mendapatkan kemampuan itu?” tanyaku.
“Dari mana katamu? Tentu saja ini adalah hasil dari kerja kerasku sendiri!” jawab wanita itu.
“Tentu saja itu bohong, bukan? Hanya ada satu orang yang bisa melakukan itu, itu sangat spesifik dan unik. Jadi aku yakin kau mendapatkan pemberian itu dari orang lain.”
Bahkan orang yang terkenal dalam penguasaan penghalang atau Barrier di petualang adalah Leticia, itu adalah salah satu orang petualang yang kudengar di masa lalu dapat mengoptimalkan sebuah penghalang kokoh hingga ke banyak orang. Namun petualang itu telah gugur di medang pertempuran.
Bahkan orang yang sekompeten dia tidak akan pernah menyamai kualitas penghalang seperti milik Astia, jadi menemukan orang yang mempunyai kualitas yang sama akan sangat sulit.
Kupikir itu adalah bakat tertentu yang tidak dimiliki oleh orang lain selain Astia. Jadi kesimpulanku bahwa wanita itu telah diberikan sesuatu oleh seseorang sehingga mempunyai kemampuan itu.
“Siapa yang tahu? Dugaanmu itu juga tidak bisa dibuktikan!”
Dia menerjang ke arahku di saat dia berteriak. Gerakannya saat ini sangat cepat bahkan tidak bisa direaksi oleh siapapun kecuali diriku.
“Master!” Natasha berteriak karena terlambat bereaksi kalau aku akan diserang.
Aku sudah mengantisipasi hal ini. Jadi hal satu-satunya hal yang bisa kulakukan ketika aku tidak mempunyai senjata kecuali hanya kedua tanganku adalah...
Aku sedikit menaikkan sudut mulutku ketika dia telah mencapai diriku, “Bagaimana kalau kau merasakannya juga?”
Sebuah distorsi membuat pedangnya bergetar ketika pedangnya mencapai ke arah tubuhku. Ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa menebasku— karena kelengahan itu, aku segera menarik tangannya, membuatnya jatuh, dan mengunci gerak tubuhnya hingga tidak bisa bergerak.
Dari atas kepala hingga ujung kaki, dia telah berada di lantai yang dingin. Tangan dan kakinya sudah tidak bisa digerakkan karena kukunci pergerakan tubuhnya. Ini yang membuatnya kalah karena sebuah kelengahan yang benar-benar konyol.
“Ba-bagaimana bisa k-kau?” tanya wanita ini dengan suram.
“Kau hanya masuk ke dalam jebakanku. Apa kau dan kalian tidak menyadari kalau kalian semua hanyalah peniru dari rekanku?” kataku.
Aku juga dapat melihat Elma dan Marrona mengalami kesulitan yang sama ketika berhadapan dengan pria besar itu yang juga memiliki kemampuan yang sama persis seperti milik Astia.
“Apa?!”
“Sekarang kau tidak perlu berbicara lagi.”
Aku langsung memukul tengkuknya dengan keras, dan dalam sekejap membuatnya tidak sadar.
Satu kesimpulanku adalah, sepertinya mereka benar-benar menggunakan Mana pahlawan yang tersebar luas di masa lalu, lalu mereka menggunakan itu hingga mereplika kekuatan pahlawan yang aslinya, sehingga salah satu percobaan mereka kepada orang-orang ini. Ternyata mereka berhasil.
Tapi, ketika satu masalah berhasil kami atasi. Aku akan membantu Elma dan Marrona untuk mengalahkan lawannya. Kalau kami berhasil melumpuhkannya, kami semua akan bergegas untuk menyusul Astia dan gadis-gadis lainnya.
つづく
Jangan lupa like, komen, dan klik favorit ya!. Kalau ada typo mohonn dikoreksi, terimakasih!