
****
".... Itu akan menurunkan rasa kepercayaan dirimu."
Dalam detik ini jantung para gadis terhenti sesaat ketika melihat Yuuki mengatakan itu pada Astia. Para gadis yang bekerja di Mansion Tomoe hanya bisa melihat momen itu dari jauh dan bersyukur karena mereka bisa bekerja di tempat yang bisa menerima kelebihan dan kekurangan mereka.
Ketika mereka telah menyelesaikan pelatihan pagi ini, para gadis memasuki aula dan duduk di sofa aula. Ketika Yuuki pergi ke dapur untuk membuat teh, para gadis memulai pembicaraan hangat.
"Ngomong-ngomong bukankah master tadi keren banget?! Apalagi pas master mengeluarkan kalimat itu tadi. Itu membuatku deg-degan!" Gadis berambut hijau, Lilac dengan semangat mengatakan itu, tanpa peduli kalau suaranya bisa mencapai telinga Yuuki.
"Bener banget! Detak jantungku berhenti sejenak saat mendengar master mengeluarkan kata-kata itu." Kalimat Lilac disetujui oleh Gadis berambut biru, Amarilis.
Kemudian Amarilis melanjutkan dengan suara yang dibuat-buat sambil membuat gestur tubuh yang keren, "Tidak, itu tidak apa-apa Astia. Tapi lain kali jangan terlalu meminta maaf kalau kamu tidak salah, itu akan menurunkan rasa kepercayaan dirimu. Begitu, Fuhahaa! Baru pertama kali aku tersipu karena perkataan yang dilontarkan bukan untukku."
Namun, Gadis berambut hitam berdecak karena perkataaan Amarilis.
"Hah! Kalian tuh cuman melebih-lebihkannya saja. Palingan master hanya sok keren di depan gadis. Bukankah itu hal yang biasa bagi laki-laki?"
"Fu- kau itu hanya kesal karena master menyindirmu tadi, bukan? Bukannya introspeksi diri malah membuat dendam yang tak beralasan."
"Amarilis!! Kau menantangku yaa...!" Annastasia menggertakkan gigi, kesal sambil mengepalkan tangannya.
"Hey kalian hentikan! Apa kalian tahu sekarang aku sedang mengobati Astia?" Lilia berteriak. Setelah keributan mereda, dia melanjutkan mengobati Astia dengan obat oles.
Lilia memang berempati pada Astia, tapi sebenarnya di dalam hatinya dia mengatakan "Wuih, aku keren banget. Apa sebenarnya aku ahli dalam memimpin? Fufu"
"Yah melihat kalian seperti biasa membuatku lebih lega dan membuat rumah ini lebih ramai." Kata Astia yang masih dibantu oleh Lilia.
"Ada apa Astia? Apa perkataan master tadi masih membekas di hatimu?"
"Yah aku tidak bisa menghindari hal itu. Lagipula aku berterima kasih pada kalian karena membuat suasana yang bagus."
Ekspresi bingung terlukiskan di wajah para gadis, tapi hanya Lilia yang menanyakannya.
"Kenapa begitu Astia?"
"Itu karena akhir-akhir ini suasana hati Tuan Yuuki menjadi baik berkat kalian."
Mungkin Astia mengingat pembicaraan tadi malam, jadi dia ingin mengucapkan terima kasih setulusnya.
"Ah, mungkin apa karena pembicaraanmu dengan master tadi malam?" Elma mengatakan itu dengan santai sambil menyender, itu kejutan untuk gadis lain termasuk Astia.
"Eh, kenapa kau tahu itu Elma?" Natasha menanyakan itu.
"Tidak sengaja. Kemarin malam aku masih terbangun karena tidak bisa tidur, jadi aku berpikir untuk mengambil minum. Saat selesai, aku mendengar suara di aula, tapi karena mungkin aku akan tidak sopan, jadi aku kembali ke kamar."
Kemudian para gadis mengangguk karena mengerti hal itu.
"Begitu ya... hokinya... Ngomong-ngomong selain mulutmu yang kasar, ternyata kau punya pendirian ya?" Kata Natasha.
"Apa, kau meremehkanku?"
"Tidak, aku memujimu lho... Oh iya, apa kau gapapa Elma saat melihat duel tadi? Aku pikir pedang kayu itu mengenaimu."
"Bukan masalah besar. Pedangnya hampir mengenai kepalaku, tapi itu cukup mengejutkanku. Mungkin aku kekurangan jam tidur saja karena itu aku lengah."
Elma menjawabnya dengan santai dan bermalas-malasan. Sepertinya dia tidak punya energi untuk mengeluarkan sikap biasanya.
"Ah begitu ya. Syukurlah itu tidak membuatmu terluka..."
"Begitu ya..." Tiba-tiba suara dingin keluar dari belakang para gadis, dia membawa sebuah buku dan menyesap teh.
"Tuan Yuuki...?"
"""Master...?!""" Para gadis tesentak kaget ketika mereka baru menyadari Yuuki berada di antara mereka. Itu membuat gadis yang bermalas-malasan membenarkan postur tubuhnya.
"Sejak kapan?" Annastasia menanyakan itu.
"Tenang saja, aku baru saja di sini. Kalian tidak perlu khawatir kalau aku menguping pembicaraan kalian."
"Tidak, bukan begitu... Master tidak perlu repot-repot sampai ke sini, seharusnya kami yang pergi ke meja master." Dengan hormat Natasha mengatakan itu.
Kemudian Yuuki berjalan menuju meja kantornya kemudian duduk ketika mengatakan, "Tidak, aku hanya ingin memeriksa kondisi Astia, dan aku juga ingin mengetahui kalau Elma baik-baik saja atau tidak setelah mengenai pedang kayu itu. Ternyata tidak ada luka di tubuhnya, jadi syukurlah."
Tapi Elma entah kenapa ketika namanya disebut dan ada yang mengkhawatirkannya, wajahnya memerah sambil melihat ke arah Yuuki pergi.
K-kenapa dia mengkhawatirkanku?
Elma hanya bisa mengatakan hal itu di hatinya, tidak bisa dia keluarkan seperti omongan kasarnya.
Kemudian setelah pengobatan Astia selesai, para gadis berdiri dan menuju meja kantor Yuuki dengan berbaris rapih. Yuuki yang sedang membaca buku menyadari itu.
"Ada apa?"
"Uh, emm kami regu Tomoe bersedia menjalani misi yang master berikan hari ini." Sebagai pemimpin para gadis, Lilia memberanikan diri untuk memberikan formalitas yang seharusnya dia lakukan, meskipun agak gugup.
"Begitu ya..." Yuuki menanggapi acuh tak acuh ketika dia melanjutkan, "Padahal kalian masih punya banyak waktu buat santai-santai."
"Eh benarkah?" Lilia menanggapi itu dengan ekspresi puas. Tapi di sampingnya, Natasha menyenggolnya untuk menyadarkannya.
"Maaf..." Lilia meminta maaf karena kecerobohannya, tapi Yuuki tidak mempermasalahkannya.
"Baiklah... Tunggu sampai aku menyelesaikan buku ini sebentar... Kalian bisa kembali ke sofa sampai aku selesai."
Tapi Natasha memberikan reaksi penolakan.
"Tidak master, kami akan menunggu di sini sampai master selesai."
Yuuki menatap para gadis untuk melihat reaksi mereka. Karena tidak ada yang masalah dengan itu jadi dia menyetujuinya, meskipun Yuuki sedikit terganggu ketika ada memerhatikannya saat terfokus pada sesuatu.
"Oke kalau begitu."
Pada akhirnya para gadis hanya terfokus pada Yuuki ketika Yuuki terfokus pada bukunya sambil menyesap tehnya. Disinari oleh cahaya matahari, lembar demi lembar telah dia baca dan para gadis terpesona olehnya.
Sampai beberapa kemudian...
"Um.. maaf menyela, sebenarnya buku apa yang master baca sekarang?" Annastasia yang berbicara, mungkin karena dia juga tertarik dengan buku jadi dia memberanikan diri meskipun dia masih sebal.
"Bukan buku yang ribet untuk dibaca kok, hanya sebuah novel." Yuuki menjawab sambil membaca.
"Eh benarkah? Novel macam apa itu?"
"Hey Anna, bukannya kau sudah mengganggu master?"
Lilia menegurnya tapi dia tidak peduli dengan itu dan tetap tertarik dengan jawaban masternya.
"Tidak apa. Aku tidak terlalu mengerti tentang novel ini, mungkin ini novel romansa. Tapi karena banyak yang bilang kalau novel ini bagus dan populer makanya aku tertarik untuk membacanya."
"Wah enaknya..." Anna terlihat bersemangat, tapi karena sebuah novel harganya mahal jadi dia diam-diam mengirikannya.
Memang pada umumnya di dunia ini harga sebuah buku yang diperjualbelikan itu mahal, apalagi ketika proses pembuatannya. Untuk memperbanyak bukunya biasanya mereka para penjual harus melakukannya dengan cara manual, dan itu menyulitkan. Karena itu adalah hal yang wajar jika persedian dan teknologi yang minim akan mempertinggi harga sebuah barang.
"Emm kalau kau mau... aku bisa meminjamkannya untukmu." Tanpa Annastasia duga, Yuuki mengatakan itu.
"Eh, apa boleh?"
"Tentu, kalau kau menyelesaikan tugas hari ini."
"Yuhuuuu!!!" Annastasia mengangkat satu kakinya dan melepaskan tangannya keatas, menunjukkan betapa senangnya dia.
"Sepertinya kau sudah sudah lebih baik dengan master." Lilia membisikan itu pada Annastasia.
"Hah mana mungkin, ini hanya pengecualian."
Beberapa saat kemudian Yuuki menutup bukunya dan menghabiskan tehnya.
"Baiklah kalau begitu kita akan membahas rencana kita untuk tugas hari ini."
"""Dimengerti!""" Serentak para gadis.
つづく
Jangan lupa like, komen dan klik favoritnya ya!