
“Cih! Mengganggu sekali.” Sekali lagi Astia mendecakkan lidahnya karena berhadapan dengan Sirius.
Dia tidak hanya selalu dibatasi pergerakannya oleh Sirius, tapi kemampuan dalam bersenjata dan menyerangnya selalu ditiru olehnya. Meskipun Astia menduga bahwa kemampuan Sirius belum mencapai kekuatan penuhnya tapi untuk saat ini Astia cukup kerepotan, padahal Astia sudah memakai tombak asli miliknya sendiri.
Setelah beberapa ratus kali mereka beradu senjata, dan Sirius menggunakan pengganti pedangnya, sekarang Astia menyadari bahwa kemampuan Astia saat ini tidak sekuat ketika dia bertarung melawan monster kelas bencana secara duel. Perbandingannya adalah langit dan bumi, tapi sekarang Astia berusaha menyamai kecepatan Sirius dengan pengalamannya saat ini.
Ada beberapa faktor yang membuat Astia tidak bisa menggunakan kekuatan ‘pahlawan’nya, salah satunya adalah dia menyadari bahwa ada ingatan yang terhapus dari dirinya. Ingatan yang terhapus itu adalah ingatan sementara yang dihasilkan oleh ingatan lain dari berbagai masa dan sejarah yang bercampur pada ingatannya saat ini.
Oleh karena itu dalam beberapa momen, Astia terbayang-bayang oleh kematian Yuuki yang sangat menyakitkan. Itu adalah mimpi sekaligus memori yang tidak bisa dihapus oleh Asia, dan yang membuat ingatan itu bercampur sehingga membuat Astia kebingungan.
Sekarang Astia akan mencoba untuk melakukan beberapa hal. Pertama dia akan menghentikan peredaran tubuh Sirius dan mencoba merusaknya.
Setelah tebasan tombak terakhir dan Sirius berhasil menangkisnya, Astia mundur dan membuat cengkeraman di udara untuk memanipulasi cairan tubuh Sirius dari jauh.
Seketika Sirius melesat ke arah Astia tanpa membuatnya memiliki ruang.
“A-apa?!” sekali lagi Astia terkejut dengan kecepatan Sirius.
Bukan hanya itu, ketika dia ingin merusak bagian dalam dari Sirius, ada sebuah penolakan yang membuat Astia tidak bisa memanipulasinya. Astia menyadari kalau itu berasal dari penghalang transparan yang juga dimiliki oleh Sirius.
Pedang Sirius melayang ke arah leher Astia, tapi segera ditahan oleh tombak panjangnya. Karena keuntungan dari senjata yang lebih panjang, Astia dapat menyerang balik dan membuat Sirius mundur beberapa langkah.
Sekarang giliran Astia yang melesat lebih dulu ketika dia membuat puluhan proyektil bor air yang menembaki Sirius. Sirius segera menghindari itu dengan cermat, tapi saat ini Astia akan menggunakan kesempatan itu untuk membuat serangan dadakan terhadapnya.
Tombaknya segera dia lempar ke arah Sirius, lesatan yang seperti itu bahkan jutaan kali lebih cepat daripada rambatan suara, namun sayangnya Sirius hanya berpindah dengan instan untuk menghindari serangan itu. Walaupun begitu, ketika tombaknya meleset, Astia bergerak cepat dan sudah berada di belakang Sirius tanpa Sirius ketahui— memegang kembali tombaknya dan membuat serangan dadakan.
“Sekarang kena kau...” gumam Astia.
Sirius sedikit melirik— dalam sekejap gumpalan air muncul, lalu berubah menjadi es yang menyerang segala sisi dari tubuh Astia.
“Ap—?!”
Tusukan tombak Astia tidak mengenai apapun, tapi gumpalan es raksasa itu membuat Astia terlempar ke kejauhan
“Sepertinya saat ini kekuatanmu tidak sama saat di puncak kejayaanmu ya, pahlawan?” kata Willson yang memprovokasi Astia.
Astia berusaha bangkit dari kejatuhannya, dia segera menyeka sedikit darah yang keluar dari mulutnya. Karena pernyataan dari Willson Astia menggertakkan giginya
“Aku bukan pahlawan...” ucap Astia yang menggenggam keras tombaknya dan mencoba berdiri dengan itu.
“Oh? Apa aku pikir aku salah? Ternyata begitu, aku akan mencoba menduga bahwa kau memang bukan pahlawan, tapi kemungkinan hanyalah keturunannya yang mirip dengannya.”
Julukan itu membuat Astia kesal tapi ketika Astia diduga bahwa keturunan dari pahlawan membuatnya lebih kesal...
“Kalau begitu, itu artinya kau memanglah pencuri senjata berharga pahlawan itu. Oleh karena itu kami memang sejak awal untuk merebut itu kembali dari pencuri sepertimu.” tambah Willson.
Sekarang Astia melihat tombak yang dipegangnya itu. Sekarang ekspresinya berubah menjadi murung dan sedih.
“Ada banyak kenangan yang berharga yang kuterima dari senjata ini...” kata Astia, lalu dia melanjutkannya, “Kenangan bahagia, ataupun yang menyakitkan terus kuterima sejak pertama kali menyentuhnya. Sekarang kau telah menghinanya, melecehkan senjata ini, dan mengatakan bahwa ini bukan milikku. Ada banyak kesalahpahaman yang kau terima, tapi yah, meskipun kau berhasil merebut senjata ini dariku, kau dan peniru itu tidak akan pernah bisa menggunakannya.”
“Huh! Itu hanyalah omong kosong yang dibuat oleh dirimu sendiri, bukan?” kata Willson.
Astia sedikit tersenyum atas perkataan Willson, “Kalau begitu, kenapa kau dan peniru itu rebut saja senjata ini dariku? Kalau bisa.”
“Siri—!” ketika Willson ingin memanggil Sirius, tapi ada sebuah keanehan yang ada di tubuhnya. Dia merasakan di dalam tubuhnya sangat kesakitan seakan hancur.
Darah mulai berkeluaran dari matanya, hidungnya, mulutnya hingga telinganya. Willson memuntahkan banyak darah yang membuat rasa sakitnya semakin nyata.
“Ap— Apa yang kau lakukan?” tanya Willson.
“Tidak ada. Tapi sepertinya tadi kau tidak menyadari ada serangan kecilku yang melukai tubuhmu, lalu aku sadar bahwa lukamu itu menutup kembali. Jadi dengan serangan itu aku berpikir, kenapa tidak aku rusak saja bagian dari dalam tubuhnya?” jawab Astia yang santai.
“Sialan kau!!” tubuh Willson melemah, dia berlutut di atas lantai sambil memuntahkan banyak darah.
“Sepertinya memang benar kalau kau tidak bisa dibunuh hanya dengan memotong tubuhmu saja. Tentu saja kau mempunyai regenerasi tingkat tinggi juga bukan untuk meminimalisir rasa sakit itu juga?” tambah Astia.
Willson menggertakkan giginya, “Sial— Sirius, bunuh pahlawan palsu itu!”
Sirius melesat dengan kecepatan tinggi ke arah Astia dan mengarahkan pedangnya tepat di dada Astia.
“Kalau begitu, sekarang saatnya untuk mengakhiri ini.”
Sebelum pedang itu mengenai Astia, sebuah ledakan mengenai tangan Sirius dan membuat pedangnya terlempar ke arah lain. Serangan dari Lilac berhasil membuat satu kesalahan dari Sirius, sekarang dia tidak mempunyai apa-apa lagi selain kedua tangannya.
Dalam momen ini Astia membisikkan sesuatu untuk Sirius.
“Aku tahu kau sangat tersiksa karena dikendalikan olehnya, bukan? Aku sangat mengerti itu... kau dijadikan boneka olehnya untuk menuruti keinginan busuknya. Jadi untuk saat ini tenanglah, kau akan terlepas dari belenggu yang mengikatmu itu.”
Setelah Sirius menyentuh bagian dari tombak Astia, kesadarannya mulai menghilang. Dia jatuh dari pelukan Astia, lalu Astia membaringkannya di lantai.
“Ba-bagaimana kau... Sirius! Bangunlah! Aku memerintahkanmu untuk membunuh pahlawan palsu itu! Sirius!” sebanyak apapun Willson untuk membangunkan Sirius, dia tidak akan bisa.
Tubuh Willson sekarang sudah sangat melemah, dia sudah tidak mempunai ruang untuk bergerak. Bahkan regenerasi miliknya tidak memiliki efek apapun untuk mengatasi kerusakan dari dalam tubuhnya.
“Bagaimana bisa kau mengetahui itu?” tanya Willson.
“Sirius, itu kan namanya?” kata Astia, lalu dia melanjutkan, “Tentu saja itu terlihat mesikpun aku tidak melihatnya secara langsung. Meskipun Sirius adalah manusia buatan, tapi dia tetaplah manusia, yang terlahir tanpa mengetahui apapun. Meski aku menduga bahwa dia mempunyai perasaan, tapi perasaan itu dikekang oleh dirimu yang sengaja mendoktrin dirinya dan pada akhirnya kau mengendalikan sepenuhnya.”
“Cih... aku tidak akan melupakan ini. Sekarang kemenangan berada di pihak kalian, tapi setidaknya kalian tidak akan bisa kabur dari tempat ini.”
Setelah kalimat itu berakhir, Willson tersenyum, dan tiba-tiba dia menghilang begitu saja.
Astia cukup terkejut ketika menyaksikan itu, tapi sekarang dia menghela napas panjang. Tombaknya ikut menghilang dan kembali tersimpan di dalam tubuhnya. Lalu ketiga gadis lainnya menghampiri posisi Astia dan Sirius berada.
“Aku tidak percaya dia meninggalkan kita begitu saja.” Kata Annastasia.
“Yah dia tidak mempunyai pilihan lain ketika senjata utamanya telah berhasil kulumpuhkan.” Jawab Astia.
Setelah beberapa saat mereka mengobrol, ada sebuah teriakan dari arah lain dinding.
“SONICALLY AIR!!”
Hancurlah dinding tersebut dan meruntuhkan sedikit bagian bangunannya. Perputaran tornado tersebut segera menyusut dan terlihat ada beberapa orang yang keluar dari lubang besar tersebut.
“Tuan Yuuki?”
Yuuki dan gadis lainnya akhirnya datang dari arah tersebut. Mereka juga menyadari keberadaan kelompok Astia dan menghampirinya.
“Maaf kami terlambat. Setelah aku mendapatkan informasi darimu tentang tanahnya bergetar, aku menyelidikinya. Setelah beberapa informasi yang kudapat, ternyata setiap ruangan yang ada di tempat ini selalu bergerak.” Kata Yuuki.
“Jadi kamu banyak memutar jalan?” tanya Astia.
“Seharusnya begitu, tempat ini juga hampir seperti labirin. Aku takut kalau menelusuri seluruh ruangan untuk mencapai ruangan ini, itu akan memakan waktu lebih lama. Jadi aku menerobos dinding dengan kekuatan Natasha, tapi tenang saja... kami tidak meruntuhkan pilar-pilar yang menopang bangunan ini.”
“Ternyata begitu... itu sebabnya orang itu mengatakan kalau kita tidak akan keluar dari tempat ini.” Gumam Astia.
Lalu Yuuki melihat seseorang yang terbaring di dekan Astia.
“Astia bukankah ini...?”
“Ya, Tuan Yuuki... ini adalah manusia yang mereka buat yang berusaha untuk mereplika pahlawan di masa lalu.”
“Bukankah ini sangat mirip denganmu, Astia?” tanya Natasha yang ingin mengetahui hal itu.
“Memang begitu.” Jawab Astia dengan senyuman.
Yang harus mereka lakukan selanjutnya adalah menunggu informasi dari pihak Laven. Seharusnya dalam beberapa menit mereka akan mengumumkan suatu hal, namun hingga saat ini tidak ada informasi yang pihak Yuuki terima.
Oleh karena itu, setelah mengamankan satu prioritas yang saat ini telah mereka jalani. Mereka akan melanjutkan perjalanannya untuk mencari pihak Laven dan dua orang yang mereka cari yaitu Ellena dan Rose.
Namun sebelum itu...
“Jadi, apa yang harus kita lakukan dengan wanita ini?” tanya Elma.
Dia menunjuk ke arah gadis yang sedang terbaring, Sirius.
“Dia mungkin mengetahui tentang berbagai informasi yang ada di tempat ini, jadi kita akan membawanya bukan?” konfirmasi Astia ketika dia menatap Yuuki.
“Baiklah kalau begitu.” Akhirnya mereka mendapatkan persetujuan dari Yuuki.
Kemudian Yuuki mengangkatnya dan menggendongnya di belakang punggungnya. Lalu mereka semua melanjutkan perjalanannya ke tahap berikutnya.
つづく
Jangan lupa like, komen, dan klik favorit ya! Terimakasih