
(Special Illustration For Yuuki Ryuuji, Amarilis, Elma, Lilac, Marrona.) (Sesuai urutan)
Astia memukul seseorang... itulah yang dikatakan oleh Lilia kepadaku. Meskipun kalau Astia benar seperti itu, apa yang dipikirannya sekarang?
Aku meninggalkan kamar Lilia dan pergi ke arah pintu keluar. Di depan pintu itu ada Astia yang masih dalam keadaan mengepalkan tinjunya, terlihat habis memukul seseorang. Aku menghampirinya dan memegang bahunya.
“Apa-apaan ini, Astia?”
Saat kupegang bahunya, tubuhnya keadaan bergetar dalam kemarahan, sepertinya Astia memiliki kebencian dengan orang yang dipukulnya saat ini. Namun saat aku melihat seseorang yang di balik Astia, aku mengenalnya— dia adalah Fay...
“Ternyata dia benar-benar datang.” gumamku.
“Lihatlah, Tuan Yuuki! Orang ini...! Dia tahu kediaman kita. Sekarang aku tahu, dia pasti masih mempunyai masalah dendam padamu Tuan Yuuki. Jadi aku akan mengusirnya.”
Perkataan Astia tentang Fay memiliki dendam padaku memang tidak salah, dan aku tahu Fay juga mempunyai kebencian kepada Astia juga tidak salah, tapi kesimpulan Astia tentang Fay akan menyerang kami itu sudah dipastikan salah.
“Bukan begitu, Astia.” Kataku, lalu aku melanjutkan, “Aku memang belum memberitahu tentang ini kepadamu, tapi aku mempersilahkan dia ke tempat ini.”
“Itu... baiklah kalau begitu, maaf telah mengganggu.” Astia menatapku sekilas khawatir, lalu dia membiarkan keputusanku.
Lalu Astia kembali masuk ke dalam, aku melihat Fay mengelap darah di mulutnya— sepertinya barusan dia sekilas menaikan sudut bibirnya, tapi aku akan membiarkan itu.
“Apa kau tidak akan membantu—”
“Aku tidak akan membantumu berdiri.” Aku langsung memotong kalimatnya.
Dia pikir aku akan masuk ke dalam jebakannya yang membuat aku simpati padanya, tentu saja mustahil.
“Padahal aku belum selesai ngomong.” katanya.
“Bukankah kau punya urusan denganku? Kalau begitu ayo masuk.”
Dia berdiri sendiri setelah merasakan sakit di wajahnya dan terlihat susah untuk berdiri. Meskipun sepertinya Astia memukulnya di bagian wajahnya, tapi rasa sakit itu menjalar ke bagian tubuh lainnya.
Kami berdua masuk dan Lilia yang menutup pintunya, lalu aku mempersilahkan dia duduk di sofa— sendirian. Aku duduk di sofa seberangnya dan berhadapan dengannya. Para gadis dan Astia berada di sekitar kami dan ingin mendengar apa yang akan kami bicarakan.
“Oh jadi seperti ini ya situasi kelompok ini... terasa menghangatkan. Apa kau tidak ingin—!!”
Sebuah pisau melesat dan menancap di meja tepat di depan Fay berbicara. Aku pikir itu adalah belati dari Lilia, tapi ternyata Astia lah yang melempar pisau itu. Astia terlihat kesal ketika Fay membawa topik pembicaraan ke arah yang tidak relevan.
Aku juga berpikir begitu.
Fay terdiam karena itu.
Lalu, Natasha membawakan kami berdua secangkir teh. Ini adalah jamuan formalitas kami ketika ada tamu.
Aku mengangkat cangkir tehku dan menyeruput tehnya...
“Jadi, kalau kau ke tempat ini, itu artinya kau memang sedang mencari seseorang?” tanyaku.
Atas dari beberapa faktor yang kuasumsikan, saat aku berduel melawannya, aku berspekulasi kalau Fay sedang mencari seseorang yang benar-benar dicarinya. Bahkan dia sampai terluap emosinya saat melawanku.
“Benar... hanya sekali ini saja aku ingin meminta bantuanmu.” Jawabnya.
“Baiklah kalau begitu. Jadi siapa yang kau cari?”
“Rose...”
Aku menaruh kembali gelas cangkirku ke atas meja. Aku berpikir untuk kali ini memang mengejutkan, tapi aku sudah menerima banyak kejutan akhir-akhir ini, jadi aku masih bisa menerima ini dengan...
Tidak ini memang benar-benar mengejutkan. Bagaimana bisa salah satu petualang terkuat di dunia bisa diculik? Tidak, sebentar, Fay tidak mengatakan bahwa Rose benar-benar diculik tapi hanya menghilang.
“Aku pikir Rose benar-benar diculik oleh kelompok yang tidak diketahui.” Tambah Fay.
Baiklah... penambahan kalimat Fay yang tiba-tiba benar-benar membuatku puas untuk bisa terkejut...
“Aku tidak akan bertanya kenapa bisa-bisanya Rose bisa diculik, tapi bagaimana kau tahu kalau Rose benar-benar diculik?”
“Sebenarnya waktu itu...”
Fay menjelaskan semuanya padaku dan didengarkan oleh para gadis.
Dia menjelaskan bahwa ketika pasca penaklukan monster kelas bencana itu, tubuh Rose tiba-tiba menjadi sangat lemah dan dia harus beristirahat untuk beberapa lama karena kesehatannya mulai memburuk seperti itu.
Aku berpikir itu karena dia memiliki stres yang berat karena kehilangan temannya yang terbunuh pada penaklukan itu. Namun, berkat bantuan Ellena yang memanipulasi otaknya, kelemahan mental itu dapat dikendalikan dan akhirnya membantu kami pada penaklukan terakhir tersebut.
Tapi sayangnya ketika di waktu yang sama saat Ellena menghilang, efek manipulasi otak itu juga terhapus dari Rose, dan pada akhirnya itu yang membuat Rose jatuh sakit karena beban mental yang dia bawa.
Lalu, Fay yang terus menemani Rose sebagai rekan satu perjuangannya sedang sakit— pada suatu hari ketika Fay ingin menjenguk Rose, dia terkejut dengan keadaan rumah Rose yang sangat berantakan. Ketika Fay mencari Rose di kamarnya, dia tidak ada di sana, bahkan hingga Fay mencari ke seluruh kota— Rose tidak ditemukan.
Itu adalah ringkasannya, tapi...
“Saat aku kembali ke rumahnya untuk mencari jejak keberadaannya kembali— aku tidak menyangka, kalau isi rumahnya yang berantakan kembali ke tempat semula.”
“Itu...”
Mungkin Natasha juga menyadari keanehan ini.
“Ini seperti kasus hilangnya Ellena.” gumamku.
Mungkin jejak terakhir yang ditimbulkan oleh mereka berdua sedikit mirip, tapi satu-satunya yang menarik bagiku adalah, kasus mereka berdua seolah-olah jejak terakhirnya dihilangkan oleh seseorang.
Ini seperti yang pernah kudiskusikan dengan para gadis tempo hari.
Kemudian Fay mengutarakan kalimatnya kembali, “Lalu, aku menemukan ini di kamarnya...”
Fay memberiku sebuah kertas, aku mengambilnya dan melihat isi kertasnya. Di kertas ini tertulis...
“Harta berharga milik dunia yang telah menyelamatkan dunia dari ancaman besar. Salah satu dari mereka yang sombong telah mencurinya. Kami membawa mereka agar mereka membuka suara.”
Itulah isi dari kertas ini yang kubacakan agar gadis lainnya mengetahuinya. Hanya sebuah kalimat yang dituliskan dengan tinta yang berantakan. Kata-kata misterius ini membuatku berpikir satu hal kepada satu petunjuk.
“Itu yang membuktikan Rose diculik oleh sekelompok orang.” Kata Fay.
Memang secara implisit kalimat yang ada di kertas ini mengatakan hal yang demikian, tapi kalimat lainnya memiliki motif kenapa mereka menculik Rose.
“Kalau kuselidiki setiap katanya, maka akan mengartikan suatu benda atau barang penting yang telah menyelamatkan dunia. Salah satu dari mereka yang sombong itu adalah manusia. Jadi yang bisa kusimpulkan adalah harta berharga itu dengan kata lain...”
Ketika Fay ingin meneruskan kalimatnya, aku yang menjawabnya terlebih dahulu.
“Tombak pahlawan... dan orang yang mencurinya adalah diantara dari kita, yaitu korban selamat dari penaklukan monster itu.”
Meskipun kalimat yang ada di kertas ini terlihat membingungkan untuk orang yang tidak mengerti permasalahannya, tapi sebagai korban yang selamat dari penaklukan itu, ini sangat mudah dicerna.
“Ternyata begitu... ternyata selama ini motif utama mereka benar-benar ingin mereplika diriku.” kata Astia yang tiba-tiba.
Tapi kalau semua ini semua berhubungan maka akan menjadi masuk akal. Organisasi Blaue Nacht yang ingin membangkitkan pahlawan seperti pahlawan di masa lalu, dengan begitu mereka tidak akan lepas dari senjata utama pahlawan tersebut. Pada akhirnya kelompok itu juga mencari senjata yang telah menyegel Hydra yang telah kami kalahkan.
Ini artinya Fay dan diriku sedang mencari kelompok misterius yang sama.
“Blaue Nacht... itulah kelompok misterius yang kau cari.” Kataku.
“Bukankah itu...? Kenapa kau tahu kelompok itulah yang menculik Rose?” tanya Fay.
“Itu karena aku sedang menyelidiki mereka. Mereka juga yang telah menculik rekanku, Ellena.”
“Ellena? Bukankah dia adiknya si Frank itu?”
Frank? Siapa dia? Ah, sepertinya aku ingat. Dia adalah adalah orang yang saa ketika aku membantunya bersama Elma di titik timur laut. Jadi dia juga korban dari pelenyapan itu ya... ternyata setelah kupikir-pikir Ellena cukup terkenal di antara para petualang.
“Huh~ jadi kenapa kelompok itu membutuhkan senjata pahlawan? Apa yang mereka butuhkan dari senjata itu?” tanya Fay.
“Aku tidak tahu.” Jawabku.
Untuk saat ini aku tidak bisa menjawab jawaban yang pasti untuk permasalahan itu.
“Mungkin mereka juga menyadari bahwa monster bencana itu telah dikalahkan. Oleh karena itu mereka mencari-cari senjata pahlawan di gua itu, tapi mereka tidak menemukannya. Huh~” Fay menghela napas, kemudian dia menoleh ke arah Astia, “Padahal senjata itu sudah kembali ke pemilik aslinya.”
Fay juga telah menduga tentang identitas asli Astia, dia sepertinya mengetahui itu ketika pertarungan Astia dengan monster Hydra tersebut. Yah aku tidak menyangkalnya.
Sebagai balasannya, Astia membalasnya dengan tatapan jijik kepada Fay.
“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Astia yang sedikit kesal,
Fay membuat gerakan yang santai, “Yah~ setelah melihat kehidupan sehari-hari dari seorang pahlawan, dan mendapatkan pukulan darinya... aku benar-benar terhormat mendapatkan itu. Setidaknya aku ingin mendapatkan kembali pukulan dari pahlawan yang cantik.”
“Ternyata selain perbuatanmu yang sangat tidak sopan, kau juga sangat menjijikan ya?” kata Astia yang menatap tajam ke arah Fay.
“Uwogh! Tatapan tajam itu!!”
“Mesum sekali.” Tambah Astia ketika aku menyesap tehku
Ya, benar, aku mengakui itu. Dia sangat mesum dalam hal ini.
Bahkan gadis selain Astia membuat tatapan yang sama terhadap Fay, yang membuat Fay tampak menjijikan di mata mereka.
“Astia, dimana senjatamu sekarang?” tanyaku.
“Oh, sekarang pedangku masih di kamar.” Jawabnya.
“Maksudku tombakmu itu...”
Astia cukup salah paham, tapi dia cukup mengerti dengan maksudku. Sekarang Astia mengangkat tangannya ke depan, lalu listrik hitam tiba-tiba menyelimuti tangannya— dan saat itu juga, dalam sekejap dia memegang sebuah senjata di tangannya.
Sebuah tombak panjang yang ramping dan kokoh, sepanjang lebih dari dua meter dan berwarna merah kegelapan— yang berada di tangan Astia sekarang. Aku tidak tahu kenapa dia tiba-tiba bisa mengeluarkan itu dengan instan... bukankah biasanya tombak itu disenderkan di sebuah tempat?
Listrik hitam itu cukup berbahaya ketika keluar dari tangannya ketika Astia masih berada di dalam ruangan. Jadi kapan-kapan aku akan memberitahunya.
“Baiklah, aku sudah melihatnya. Simpan itu kembali.” Kataku.
“Baiklah.” Jawabnya.
Setelah menjawab itu, tombaknya langsung menghilang.
Astia mengangguk ketika menjawabku. Namun itu bukanlah menjadi titik pandanganku ketika Astia mengeluarkan senjatanya, tapi pandanganku tadi mengarah ke arah Fay.
Aku ingin mengetahui apakah Fay memiliki motif tersembunyi yang tidak diungkapkan sebelumnya atau tidak. Saat aku menatap matanya, aku hanya melihat dia sekilas terkejut ketika melihat Astia melakukan itu, dan tidak ada hal lain lagi setelahnya.
Sepertinya dari tatapan itu, aku tidak melihat nafsu tersembunyi dari Fay. Jadi untuk saat ini mungkin aku akan membantunya.
Ngomong-ngomong bagaimana caranya Astia melakukan itu?
“Baiklah, setelah informasi yang telah kuungkapkan padamu, apa yang akan kau lakukan?” tanyaku kepada Fay.
“Tentu saja aku akan mencari Rose! Dengan begitulah...” kemudian dia berdiri menatapku, “Izinkan aku masuk ke dalam kelompokmu—”
“““DITOLAK!”””
Dengan serentak, para gadis termasuk Astia menjawab proposal Fay terhadapku. Huh aku benar-benar dapat menyangka hal ini— ini seperti ketika ada pelamar pekerjaan yang ingin melamar sebagai pelayan restoran di restoran kami, mereka dengan pasti akan langsung ditolak di muka.
Fay duduk kembali dan sampai tidak bisa bereaksi atas perkataan para gadis. Mungkin ini adalah serangan mental terhadap Fay.
“Tidak mungkin— bagaimana bisa ada orang yang berkualitas seperti diriku ditolak.” Keluhnya.
“Karena kau terlalu sombong.”
Yah meskipun aku tahu motif lain dari dirinya, tapi setidaknya kami bisa saling menguntungkan satu sama lain.
“Sekarang kau telah mendengar jawaban mayoritas, jadi seharusnya kau enyahlah dari sini...” kataku, tapi aku membuat pernyataan lain, “Tapi kita bisa membuat relasi yang menguntungkan dari kedua belah pihak.”
“Itu artinya...?”
“Masa aku harus menjelaskan itu juga padamu?”
Sudah pada dasarnya para gadis akan menolak kalau seseorang akan akan mengajukan proposal untuk masuk ke dalam kelompok mereka, tapi kalau sekadar untuk bekerja sama, mereka akan menerimanya.
“Kalau begitu, Fay... apa kau menerima ini?” aku berdiri dan mengulurkan tanganku kepadanya agar mendapatkan satu persetujuan untuk rencana ini.
Fay berdiri dan membalas jabat tanganku, “Tentu saja kita bisa bekerja sama!”
Kemudian Astia masuk ke dalam pembicaraan dan memotong kesenangan Fay atas kesepakatan ini.
“Nah sekarang kau lepaskan tangan kotormu itu dari tangan Tuan Yuuki!” kata Astia.
Atau tidak...
“Ooh!! Seorang Nona Pahlawan telah menceramahiku! Aku sungguh terhormat karena itu.” Fay seketika langsung berlutut dan menaruh tangan kanannya di dadanya.
“Menjijikan sekali.” Balas Astia.
Gadis lainnya memberikan anggukan sebagai persetujuan yang sama seperti Astia.
“Baiklah, kalian semua! Karena kita sudah berkumpul, mari kita bersiap-siap dan pergi ke markas Laven.” kataku kepada para gadis.
““Yo!!”” teriak serentak dari para gadis.
Setelah semuanya siap, kami pergi ke markas Laven berada, dan mempersiapkan semua persiapan untuk pergi ke Kerajaan Heiliges.
つづく
Jangan lupa like, komen, dan klik favorit ya! kalau ada Typo mohon dikoreksi, terimakasih!