
Pada akhirnya Annastasia dan Elma yang memenangkan pertarungan itu, tapi dengan konsekuensi tempat yang mereka pijak mengalami kerusakan yang parah.
Inilah yang membuat Annastasia marah.
“Bo-bodoh! Kenapa kau malah merusak tempat ini? Kalau tumbuhan yang kita cari malah rusak bagaimana?” kesal Annastasia.
“Y-yah, aku tidak ada pilihan lain. Anggap saja itu adalah situasi darurat.” Jawab Elma dengan santai.
Mengabaikan hal itu, mereka berdua melihat ke arah Dhorothy. Di sana dia tergeletak tidak sadarkan diri di tanah, sepertinya dengan serangan Elma seperti itu membuatnya pingsan dan mendapatkan efek kejut yang berlebihan.
“Kau tidak membunuhnya, kan?” tanya Annastasia yang penasaran.
“Mana mungkin! Meskipun aku tidak bisa mengendalikan petirku, tapi aku sudah menurunkan efek mematikannya hingga tingkat yang terendah. Seharusnya itu tidak akan membunuh seseorang.”
Kemudian, mereka berdua melihat ke arah lain, dan mendapatkan pertarungan yang intens dari penglihatan mereka.
“Master memang benar-benar tidak membiarkan lawannya mengganggu kita.” kata Elma.
“Meskipun begitu, setelah amukan petirmu tetap bekerja, orang-orang berjubah itu tetap memiliki konsentrasi yang stabil dan tidak terpecah dari formasi. Aku pikir seharusnya master sedang kesulitan saat ini.” Annastasia juga berkata demikian.
Mereka berdua melihat ke sebuah pertarungan lain yang cukup jauh dari pandangan mereka. Mereka melihat pertarungan intens antara orang-orang berjuba yang menutup indentitas mereka melawan Yuuki sendirian. Meskipun Yuuki hanya memiliki dua belati yang dia gunakan, tapi pertarungan itu tetap seimbang.
“Aku tidak yakin deh.” ragu Elma ketika dia melanjutkan, “Sepertinya pergerakan orang-orang itu mulai berantakan ketika gadis yang kita kalahkan ini tumbang. Sepertinya mereka juga peduli terhadap rekannya.”
“Mungkin itu yang membuat mereka selalu terjebak dengan pergerakan master.” Tambah Annastasia.
Setelah itu, mereka berdua mendengar sebuah rintihan dari belakang mereka. Mereka berbalik dan melihat Dhorothy berusaha bangkit, perlahan pakaian yang sudah robek di segala sisi mulai memperbaiki diri. Pakaian itu terlihat beregenerasi.
“Tidak mungkin... seharusnya dia sudah lumpuh.” Elma terkejut ketika melihat Dhorothy kembali pulih.
“Dia memang tidak mengenal menyerah, apa itu juga insting binatangnya?” tanya Annastasia yang penasaran.
Setelah berdiri normal, Dhorothy tetap saja berada di posisi binatang buasnya. Dia tidak ingin menyerah meskipun rasa sakit berada di sekujur tubuhnya.
“Ternyata mangsaku ini lebih kuat daripada yang aku duga.” Kemudian dia tertawa terbahak-bahak dengan keras, “Hahahahaha!! Ini menarik! Aku akan terus mencabik-cabik kalian meskipun kalian memohon ampun. Baiklah, sekarang giliranku.”
Sekarang Dhorothy segera mengeluarkan pedang hitam panjangnya, dia tersenyum gembira— lalu, dia melesat dengan cara yang bar-bar dan amukan seperti binatang liar.
“Anna, mari kita ulangi ini sampai dia puas.” bisik Elma sebelum Dhorothy mencapai jarak serangnya.
“Kau tidak perlu bertanya untuk kedua kalinya padaku. Tentu saja kita akan bersama melakukannya, bukan?”
Mereka berdua tersenyum tipis. Annastasia dan Elma kembali membangkitkan semangat tempurnya sama seperti membuat sebuah gejolak semangat ketika penaklukan monster kelas bencana.
Setelah itu, Annastasia dan Elma juga melesat ke arah tujuan yang sama dengan teknik yang berbeda. Membuat manuver serangan untuk membuat Dhorothy kebingungan, dan pada akhirnya sebuah dentang pedang dan ledakan asap terjadi.
Pertarungan mereka kembali dimulai dengan kekuatan yang lebih intens.
****
Ketika Elma dan Annastasia menyerang Dhorothy, ini adalah giliranku melawan delapan orang berjubah yang berada di depanku. Theressa menyilangkan tangannya seolah-olah tidak terusik dengan keberadaanku, sepertinya dia tetap menganggap lawannya berada di bawahnya.
Kepercayaan diri yang sungguh mengesankan.
“Kau terlalu percaya diri, melawan kami sendirian. Apa kau mempunyai kapabilitas untuk melawan kami sehingga kau memutuskan melawan kami sendirian?” tanya Theressa dengan tesenyum.
Sepertinya dia percaya diri dengan kemampuannya sehingga meremehkanku seperti itu. Lagipyla dia pernah bilang kalau mereka selalu melawan orang-orang yang mereka anggap lemah, secara implisit mereka tidak pernah kalah dalam pertarungan apapun. Untuk itu aku tidak menjawab pertanyaannya.
“Apa jangan-jangan kau hanya ingin memainkan pahlawan-pahlawanan sehingga membuat rekan-rekan gadismu melihat keren dirimu?” tanya Theressa kembali.
Tentu saja jawabannya tidak. Lagipula alasan macam apaan itu? Alasan seperti itu hanya akan membuatmu merasa paling kuat, sehingga membutakan pandanganmu terhadap ancaman yang ada di depan matamu.
“Masih tidak mau menjawab ya... Padahal aku khawatir terhadap rekan gadismu yang bisa terbunuh kapan saja. Aku tidak akan bertanggung jawab kalau rekanmu terbunuh tanpa sengaja.” Tambahnya.
“Begitu ya... ternyata kau tetap meremehkan kami, kau juga dengan entengnya membicarakan rekanku akan terbunuh. Apa kalian ini akan membunuh seseorang dengan mudah kalau ada seseorang yang menghalangi jalan kalian?” tanyaku
Pemikiran orang-orang ini benar-benar membuatku kesal. Dengan pernyataan implisit yang dilontarkan oleh Theressa, merekan secara definitif adalah kelompok yang kejam. Mereka tidak akan segan-segan membunuh seseorang atau sebuah kelompok yang menghalangi rencana mereka, meskipun rencana mereka baik sekalipun.
Meskipun aku jarang sekali marah, tapi aku ingin mereka semua merasakan kemarahanku. Itulah kenapa aku bertanya kembali.
“Sekarang aku tanya... Siapa pemimpin kalian yang mempunyai pemikiran yang kekanak-kanakan seperti itu?”
“Apa?” Theressa terkejut atas pertanyaan provokasiku.
Sekarang mereka terdiam. Lalu, detik selanjutnya gadis lain di antara mereka yang tersulut emosinya.
Dia menggertakkan giginya karena marah, namun dihentikan oleh Theressa dengan aba-abanya.
“Kau sudah menghina pemimpin kami, itu artinya kematianmu sudah berada di tangan kami.” Kata Theressa.
Sudah kuduga kalau Theressa bukanlah pemimpinnya.
“Itu yang semakin membuktikan kalai kalian terkerangkeng oleh pemikiran pemimpinmu itu.” Tambahku.
“Padahal aku sudah mempunyai niat untuk membebaskan kalian, tapi sepertinya kau mati di sini.”
Setelah perkataan dari Theressa gadis-gadis yang dibelakang Theressa langsung mengelilingiku dan membuatku seolah-olah tidak mempunyai jalan keluar.
Sepertinya mereka semua tersenyum, tangan mereka sudah gatal karena ingin membunuhku karena telah menghina pemimpin mereka.
Di saat itulah aku melihat Theressa tersenyum, dan sekilas menampilkan rambut panjangnya yang pirang.
“Rose?” gumamku.
Aku pikir Theressa adalah orang yang sama seperti Rose, tapi sepertinya tidak. Dari suaranya saja sudah jelas berbeda.
Tiba-tiba orang di belakangku menerjang diriku, tapi aku cukup menyadari itu. Aku menghindari tusukan pedagnya— tangannya kuhindari sehingga melewati di antara pinggang dan tanganku.
Karena kelengahan itu, aku dengan tenang menarik tangannya, mengunci pergerakannya dan membanting kepalanya.
“Maafkan aku, ini akan sakit.” Bisikku kepada gadis itu.
Kepalanya kubanting ke tanah, kemudian kupukul tengkuknya sehingga dia pingsan.
Kalau dia adalah pria, kemungkinan aku sudah mematahkan lengannya. Namun aku cukup berbaik hati untuk perempuan.
Setelah kubuka tudung kepalanya... ternyata dia adalah Elf.
Setelah serangan pertama mereka gagal, mereka seolah frustasi dan terkejut dengan apa yang kulakukan. Nah, sekarang tiggal tujuh orang yang tersisa, apa yang akan mereka lakukan selanjutnya?
Perkataan itulah yang membuat gadis berjubah lainnya dengan serentak menyerangku. Mereka sungguh gesit dan berpengalaman, bahkan pertahanan dan bela diri mereka cukup melampaui kualitas Tomoe Garden.
Namun aku masih mengantisipasinya.
Oleh karena itu, aku membuat hindaran dan membuat serangan tingkat lanjut. Salah satu mereka menyerangku dengan pisau hitam dan yang lainnya menyerangku dengan pedang. Ketika aku melihat tebasan mereka, aku menendang pergelangan tangan mereka dengan kaki kananku, lalu kaki kiriku menendang tubuh mereka hingga terlempar.
Itu masih di tingkat paling dasar yang kukuasai, di dalam momen tertentu, aku menggunakan gagang belatiku untuk melumpuhkan otot-otot mereka, lalu disertai dengan empat tendangan di udara.
Meskipun individu dari mereka sangat kuat, tapi dalam kerja sama dalam membentuk kombo yang mematikan— mereka sangat jauh lebih lemah daripada Tomoe Garden.
Mereka terus bangun meskipun aku telah melumpuhkan satu persatu dari mereka. Sepertinya ada bagian dari pakaian mereka yang dapat meminimalisir kakuatan pukulanku.
Sementara itu, Theressa masih mengawasiku dari luar pertarungan. Sepertinya dia ingin mencatat informasi tentang seluruh pergerakan dan teknikku di dalam otaknya.
“Mau sampai kapan kau tidak akan menyerangku?” tanyaku kepada Theressa ketika aku masih menangkal serangan dari gadis-gadis berjubah.
Setelah beberapa saat kutunggu hingga rekan-rekannya tidak memiliki keberhasilan, Theressa tidak menjawab dan hanya tersenyum.
“Baiklah... kalau begitu, sekarang giliranku menyerang.” Gumamku.
Aku menangkap dua tangan dari dua orang yang menyerangku, lalu kutarik mereka secara paksa dan sengaja membuat mereka saling menabrakkan diri. Itulah yang menjadi halanganku yang terakhir.
Aku langsung berlari ke arah Theressa, melayangkan tendanganku yang berputar. Itu terasa aku mengenai kepalanya.
Sepertinya tidak, tangan kirinya menahan tendanganku dengan tenang. Sebuah senyuman tergambarkan dari balik tudungnya. Ternyata dia cukup kuat.
Tiba-tiba dari tangan lainnya, sebuah pedang hitam sudah muncul dan sangat siap untuk menebasku. Kaki yang kuangkat untuk menyerangnya juga ditahan oleh tangan kirinya. Ternyata begitu, sepertinya aku masuk ke dala jebakannya.
“Sepertinya hidupmu berakhir di sini.” Kata Theressa dengan tersenyum sebelum pedangnya mencapai tubuhku.
Jalan satu-satunya seseorang untuk menahan serangan itu dengan kaki yang terkunci adalah— mengorbankan tangan sendiri untuk menahan tebasan yang langsung ke wajah, tapi itu adalah konsekuensinya.
Namun itu tidak berlaku untukku.
Aku juga mempunyai belati yang ku arahkan padanya, itu yang membuat dia terpaksa untuk mengarahkan pedangnya ke belatiku untuk menangkis pergerakanku.
Setelah pergerakan itulah, kami mundur sejenak karena tidak ada yang terluka.
Namun ini belum berakhir, karena giliran aku yang menyerang maka aku akan terus menyerang tanpa henti.
Setelah mencapai puluhan hingga ratusan pukulan dan tidak ada yang menyerempet ke tubuh kami berdua, aku menyadari bahwa gerakan itu...
Bukankah gerakan bela diri ini hanya ada di duniaku?
Pantas saja dia selalu bisa memprediksi seranganku datang dan membuat serangan balasan. Ternyata begitu...
Sepertinya aku akan beralih ke teknik bela diri yang lain. Itu karena Theressa sudah tahu teknikku.
Sekarang aku mengubah kuda-kudaku, mengganti seluruh tumpuan dan pijakanku. Setelah itu aku melesat dengan dua buah belati yang kulesatkan juga. Teknik lemparan senjata ini kutiru dari teknik yang Lilia miliki.
Pertama, kalau dia menangkis kedua belatiku, maka aku akan berhasil mencapai di titik butanya sehingga pandangannya teralihkan. Ini sama dengan kasusnya ketika aku melawan Laven.
Kedua, Kalau dia menghindar dari belatiku, aku hanya mempercepat tubuhku hingga Theressa tidak bisa bereaksi. Dan itu mudah untukku.
Sekarang pilihan mana yang akan Theressa pilih?
“Sepertinya kau membuat suatu rencana ya...” katanya.
Theressa menggenggam pedangnya dengan kedua tangannya, dengan itu sebuah energi besar tercipta berwarna biru terang. Energi yang menyelimuti pedangnya itu sangat besar sehingga membuat lesatan belatiku goyah dan terhempas.
Namun aku langsung mengambil kedua belatiku kembali, dan akhirnya kugagalkan sendiri rencanaku.
“Sekarang bagaimana kau mengatasi ini...?” tambah Theressa ketika pedangnya yang dipegangnya segera menebas ke arahku dengan energi raksasanya.
Aku segera melapisi kedua belatiku dengan energi trasnformasi Inferno Beam. Karena aku tidak memiliki cukup waktu untuk menghindar karena serangan tiba-tiba itu, aku hanya cukup menahannya dengan kedua belatiku yang sudah kulapisi.
Namun, karena satu hal. Seluruh kekuatan dan energi yang ada di sini tergagalkan.
“Vega!” aku mendengar Annastasia berteriak yang terdengar di arah belakangku.
Tiba-tiba penghalang Astia bereaksi atas sesuatu hal yang mengenai diriku, tapi itu bukan serangan dari musuh.
Guntur yang bercabang menyelimuti sekitar dan membuat kerusakan yang ada di area ini. Ini cukup masif dan membubarkan koordinasi lawanku saat ini. Karena kecepatan guntur dari kekuatan Elma ini melebihi kecepatan kekuatan Theressa, Theressa berhasil terserang oleh kemampuan Elma tanpa Theressa sadari.
Sekarang Theressa lengah, sepertinya guntur Elma mengenai pedang Theressa sehingga membuatnya terlepas darinya. Itulah yang membuatku melesat ke arahnya.
Nah sekarang adalah waktuku untuk melumpuhkannya...
Tanganku sudah hampir mencapai wajahnya, saatnya aku tinggal membenturkan wajahnya ke tanah, setelah itu kami akan melarikan diri dari tempat ini.
Tapi, tanganku ditangkap oleh tangannya, sepertinya dia menyadari kecepatanku, kemudian lengan bajunya berubah menjadi sesuatu yang tajam, dan dia menyerangku dengan itu.
Tentu saja aku menghindarinya, tusukannya itu hampir mengenai wajahk, tapi aku juga menangkap tangannya dengan tangan kiriku. Ternyata begitu... sekarang dia ingin menahanku ketika aku menyadari ada seseorang yang ingin menyerangku dari belakang. Sekarang dia mengarahkan pedangnya ke arah punggungku ketika aku tidak menghadap padanya.
Ketika Theressa tersenyum padaku ketika dia mengunci pergerakanku, aku menjawab senyuman kemenangan itu dengan sebuah kalimat.
“Aku harap kau lebih bisa menjaga rekanmu.”
Pedangnya sudah hampir mencapai tubuhku, tapi di detik yang sama sebuah ledakan terdengar.
“Ugh!”
Gadis berjubah yang menyerangku dari belakang terhempas ke kejauhan karena sebuah bom yang kusebar di dalam tanah ketika mereka tidak menyadarinya.
Sekarang, tatapan Theressa langsung berubah seketika— ekspresi rumit dideritanya.
Aku langsung membalikkan keadaan. Sekarang akulah yang mengunci tangannya dan pergerakkannya, lalu kaki kananku melayang ke arah kepalanya tanpa bisa dia hindari.
“!!”
Theressa tersungkur di tanah setelah terkena tendanganku, seluruh penutup kepalanya terbuka dan menampilkan seluruh wajahnya dan rambut pirang panjangnya.
Kupikir dia sangat mirip dengan Rose, tapi aku juga melihat telinganya yang runcing. Apa jangan-jangan dia juga Elf?
つづく