I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II

I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II
Chapter 22.2



“Bukankah ini...?”


Violentina melihat ke arah Mansion ini, begitu pula denganku. Di sana terpampang papan nama yang cukup besar, yang bertuliskan ‘Tomoe’s Cafe’.


Uh, itu sangat memalukan.


“Ya, ini hanya restoran biasa... Aku mengerti mungkin kau berpikir kenapa ada restoran di tempat terpencil ini, tapi kau tidak perlu khawatir, aku merekomendasikan tempat ini untukmu.”


“Begitu ya... kau benar. Sepertinya dengan pemandangan sekitar yang dikelilingi hutan, membuat sensasi ketenangan itu sendiri.”


Aku mengangguk. “Mari kita masuk.”


Kemudian kami memasuk tempat ini, yah bisa dibilang masuk ke dalam rumahku sendiri. Namun, untuk bagian aula ditempati dengan meja dan kursi yang dipergunakan untuk para pelanggan.


Aku sedang mencari tempat duduk yang tersisa, lalu menemukannya di sudut ruangan. Huh~ ternyata setelah dilihat-lihat kembali, meja kerja yang biasa kugunakan untuk membaca sesuatu, sepertinya sudah dipindahkan ke ruangan lain. Yah itu tidak masalah sih.


Aku pergi ke tempat duduk itu dan mempersilahkan Violentina duduk duluan. Sementara itu, aku...


“Tunggu sebentar di sini, aku akan mengambil sesuatu.” Kataku.


Setelah Violentina mengangguk, aku memberikan barang pesanan kepada Lilac. Setelah itu, aku mengambil sebuah barang yang biasa kusebut ‘kotak P3K’ atau semacamnya di tempat yang biasanya para gadis dapat menggunakan itu sesuka hati.


Lalu, aku kembali menemui Violentina...


“Apa itu?” tanya Violentina.


“Ini akan kugunakan nanti, sebelum itu...” kemudian aku memanggil salah satu pelayan, “Pelayan!”


“Ya, saya akan segera datang!” jawabnya.


Sepertinya aku juga mengenal suara itu, tapi yang harus kulakukan adalah membantu Violentina.


“Sebelumnya maaf...”


“Eh? Apa yang kau lakukan?”


Aku spontan memegang tangannya dan aku membuka kotak P3K milikku. Aku dapat melihat kulitnya yang membiru, sepertinya ini bekas tendangan dari orang yang bernama Randrezz itu. Aku berlutut ketika aku mencoba mengobatinya.


“Ini sebentar saja, maaf kalau sakit.”


“Huh...?”


Kemudian aku mencoba mengoleskan obat oles di kulit halusnya, dia sedikit kesakitan ketika aku mengoles obat dikulitnya, ya itu wajar dengan memar yang seperti itu.


“Mari kulihat juga kakimu...”


Dia perlahan menunjukkan kakinya dari roknya yang panjang. Aku juga dapat melihat memar-memar yang diperoleh dari benturan benda tumpul, sepertinya ini juga dari tendangan orang itu.


“Sepertinya kau bukan orang yang seperti kupikirkan ya...” katanya.


Aku mengabaikan itu, dan terus fokus mengobati luka yang diderita Violentina.


Ketika aku masih mengobati kakinya, kemudian pelayan datang. Sepertinya pelayan itu agak terlambat ketika merespon panggilanku.


“Mohon maaf karena menunggu! Emm apa ada yang bisa saya bantu?” namun ketika melihat apa yang sedang kulakukan, dia menegurku, “Um, permisi tuan, mohon maaf tapi sebaiknya anda tidak diperkenankan untuk mengobati orang di tempat ini. Jadi...”


Itulah yang dikatakannya. Sepertinya dia tidak menyadari tentang identitasku, jadi lebih baik aku akan mengikuti alur yang sedang dijalani.


“Oh, maafkan aku...” Kataku


Setelah aku bangun dan kembali ke tempat dudukku, disaat itulah dia menyadariku.


“Eh?! Master?!” dia terkejut ketika melihatku.


Ternyata Lilia... dia sedang memakai baju pelayannya yang mempunyai kesan imut. Oke singkirkan itu, sebaiknya aku akan memesan sesuatu untuk Violentina.


Namun sebelum aku memesan sesuatu, Violentina memotong.


“Eh, bukankah kau salah satu gadis bertopeng itu?” tanyanya kepada Lilia.


“Eh?! Aku... aku—”


Lilia terlihat kesulitan untuk menjawab pertanyaan Violentina. Padahal Violentina juga sudah tahu tentang identitas kami, jadi tidak perlu dipikirkan lebih jauh.


“Tenanglah Lilia, dia hanya mengujimu. Pada dasarnya dia juga sudah tahu tentang ‘pemimpin’ gadis bertopeng itu juga.”


“Ternyata begitu...” kata Violentina, “Ternyata aku sudah berada di markas kalian.”


Violentina terlihat pandangannya menginterogasi aku dan Lilia, tapi aku tidak terpengaruh atas dominasi itu. Jadi Lilia mungkin waspada, tapi pada faktanya Violentina hanya menguji kami.


“Huh~ ternyata benar, aku telah salah berpikir kalau kalian adalah kelompok yang berbahaya.”


“Kau tidak perlu memikirkan identitas kami... selain itu...” aku menoleh ke arah Lilia, “Lilia, berikan sesuatu kepadanya.”


“Baik! Mas— Tuan!”


Setelah hampir salah menyebutku dengan master, Lilia pergi untuk memberikan hidangan kepada kami.


“Huh~ maafkan aku, kau sudah menyelamatkanku dua kali, tapi aku malah membalasmu dengan ketidaksopananku.” Katanya.


Dua kali? Oh mungkin dia menganggapku telah menyelamatkannya waktu penaklukan itu dan saat tadi. Padahal itu hanya kebetulan.


“Kau juga meminta maaf dua kali. Seharusnya itu sudah impas, jadi kau tidak perlu memikirkan hal itu lagi.”


Kemdian Violentina menghela napas. Aku melihatnya, rambutnya benar-benar bergelombang dan hampir terlihat seperti api berada di rambutnya. Terlihat keren dan memiliki simbol keberanian.


Kemudian dia juga melihat-lihat tubuhku, seperti sedang memeriksa luka yang dideritaku ketika penaklukan itu, tapi tenang saja, aku sudah hampir pulih sepenuhnya.


“Oke, jadi apa yang akan kau lakukan selanjutnya?” tanyanya.


“Seharusnya aku yang bertanya padamu.” Kataku, kemudian aku melanjutkan, “Sekarang apa yang akan kau lakukan ke depannya? Bukankah kau sekarang sudah tidak memiliki anggota lagi? Dan aku tidak bisa melihatmu akan bisa bertualang untuk saat ini.”


Lalu Violentina menghela napas, “Huh~ ternyata kau menyadarinya. Untuk sementara waktu, aku akan fokus pada kesembuhanku dulu. Jadi setelah semuanya terselesaikan, sepertinya aku akan memulainya dari awal.”


Aku mengerti. Saat ini Violentina tidak bisa bekerja atau bertualang karena kondisinya tidak memungkinkan untuk melakukan itu. Setelah semua rekannya menjadi korban dari penaklukan monster kelas bencana, kemungkinan dia ingin membuat anggotanya kembali.


Namun popularitasnya bisa mengalami kenaikan atau keturunan tergantung bagaimana orang-orang memandang Violentina. Pemikiranku bahwa popularitas Violentina akan turun drastis karena kejadian tadi, dan menunjukkan kelemahannya. Salah satu alasan kenapa orang-orang ingin masuk ke dalam kelompoknya adalah karisma dan harga diri Violentina yang tinggi.


“Baiklah... aku hanya bisa mendukungmu. Tempat ini juga akan selalu terbuka untukmu kapanpun itu. Jadi dengan kondisimu sekarang, sepertinya tempat ini akan lebih cocok untukmu.” Kataku.


Perkataanku berlandaskan dari perkataan Violentina yang mengatakan bahwa tempat ini lebih tenang daripada yang ada di kota. Jadi sepertinya itu lebih baik untuk kesembuhannya.


“Terimakasih, aku banyak tertolong karenamu.”


Setelah itu, hidangan datang yang diantarkan oleh Lilia. Oke, ini aromanya enak, dan terlihat enak masakannya. Kemungkinan besar ini adalah masakan dari Lilac.


Jadi aku bisa membayangkan Violentina juga dapat menyukai tempat ini. Dan itu terjadi tepat di depanku.


“Hmm, sepertinya tempat yang kau rekomendasikan ini tidak terlalu buruk juga ya.”


Meskipun aku sudah berulang kali merasakan masakan dari para gadis, tapi untuk kali ini aku dapat merasakan kemajuan yang pesat dari mereka dalam waktu satu bulan. Mereka memang patut diapresiasi.


“Terimakasih.” Kataku.


Mungkin bisa dibilang aku adalah pemiliki dari restoran ini, jadi ketika aku mendengar pernyataan dari pelangganku, aku senang.


Setelah beberapa saat, kami selesai menghabiskan hidangan kami.


“Tenang saja, semuanya aku yang bayar.” Kataku.


“Eh? Tidak, aku benar-benar merepotkanmu, jadi...”


Namun aku langsung memotong.


“Tidak perlu, lagipula aku yang memintamu ke sini. Jadi aku yang bertanggung jawab atas pembayarannya.”


“Terimakasih, aku pasti akan membalas perbuatan baikmu selama ini.” Tambahnya.


Yah padahal dia seharusnya tidak perlu memikirkan sampai sejauh itu. Aku juga bisa dibilang baru bangkit dari kematian...? Oleh karena itu aku akan menggunakan kesempatanku ini untuk mengenal dunia lebih luas.


“Baiklah, aku akan pulang.” Violentina bangun menggunakan alat bantu jalannya.


“Kalau begitu aku akan mengantarmu.”


Namun itu langsung ditolak olehnya, “Tidak, aku tidak bisa merepotkanmu lebih jauh lagi. Kau tidak perlu khawatir, aku akan menghindari orang-orang yang bermasalah itu. Jadi terimakasih untuk kari ini.”


“Baiklah...”


Violentina kemudian pergi dengan alat bantunya, sepertinya dia memang masih kesakitan karena tendangan orang-orang itu. Aku harap dia baik-baik saja.


Jadi, sekarang apa yang harus aku lakukan?


Baiklah, sepertinya memang tugasku hari ini adalah untuk membantu Lilac di bagian memasak. Karena itu, aku pergi ke dapur dan bertemu dengan Lilac kembali.


Pada akhirnya kami menyelesaikan pekerjaan kami hingga matahari terbenam. Itu adalah batas buka restoran ini.


Ternyata selama yang dilakukan oleh para gadis, waktu operasional restoran ini hingga matahari terbenam atau lebih terlambat daripada itu. Jadi setelah melakukan itu semua kami semua benar-benar kelelahan.


Pada dasarnya, kami bersembilan akan dibentuk dan dibagi menjadi dua Shift. Waktu pergantian Shiftnya tepat pada di saat matahari berada di atas kepala.


Huh~ aku lelah. Setelah bekerja beberapa jam tanpa henti, aku langsung pergi ke kamarku. Ternyata pekerjaan Lilac yang sebagai koki atau juru masak itu terlalu melelahkan. Kita harus menggerakkan tangan kita dan kemampuan memasak kita tanpa henti.


Aku tidak tahu siapa koki lainnya, tapi dia benar-benar bekerja keras.


Kemudian aku membuka kenop pintu kamarku, seperti biasa aku melihat papan nama yang tergantung di pintu kamarku. Bertulisan dengan tulisan ‘master’ dan disertai bentuk hati yang mengelilinginya.


Sampai saat ini aku tidak tahu siapa yang membuatnya.


“Huh~”


Aku masuk ke kamarku, dan mendapati para gadis sedang berkumpul di kamarku.


Ada acara apa ini? Kenapa mereka semua sedang di kamarku?


“Master! Selamat atas kehidupanmu kembali!!” teriak Lilac.


Oke, itu terlalu aneh. Perkataannya bahkan tidak pernah dikatakan oleh siapapun di dunia ini atau pernah dikatakan dalam sejarah. Tapi bagaimana bisa dia menemukan kalimat seperti itu?


“Lilac, aku tidak yakin deh kalimat itu benar.”


Ternyata Amarilis yang disampingnya juga menyadari itu.


Kemudian aku melewati mereka semua dan duduk di tempat biasa aku duduk, yaitu di meja kerjaku.


“Um, kalau begitu... Akhirnya kau hidup kembali master!!” tambah Lilac.


Namun itu masih tetap saja aneh, Amarilis juga tetap mengira itu aneh, “Hmm, sepertinya sudah terlalu terlambat deh untuk mengatakan itu...”


“Jadi bagaimana caranya untuk merayakan atas kembalinya master?” tanya Lilac.


“Yah itu...”


Meskipun begitu, Amarilis tidak bisa menjawab pertanyaan dari Lilac. Namun Natasha yang mengambil alih itu dan maju ke hadapanku.


“Syukurlah master. Akhirnya kami masih mempunyai kesempatan kedua untuk bersamamu. Jadi kami akan memulai dari awal—”


Setelah itu, Natasha dan diikuti oleh gadis lainnya, berlutut di depanku.


“Perkenankanlah kami untuk kembali mengabdi padamu. Kami semua akan mendedikasikan hidup kami untukmu.”


Itulah yang dikatakan oleh Natasha, gadis lainnya juga mengangguk. Meskipun aku tidak terbiasa dengan ini, tapi salah satu mereka memotong dan membuat candaan yang ringan.


“Bukankah ini cuman formalitas saja?” dia adalah Lilia.


Saat itu juga mereka semua kembali berdiri.


“Yah benar juga sih. Lagipula kalian tidak ada yang bisa mengeluarkan ekspresi kalian yang sebenarnya kepada master di depan Astia, bukan?” tanya Annastasia.


“Eh?” Astia juga bingung namanya tiba-tiba disebut.


Ngomong-ngomong Astia juga berada di sini. Dia sekarang sedang membereskan tumpukan buku yang berserakan, sepertinya itu adalah ulah para gadis yang membuat berantakan buku-buku itu.


“Kalau itu terjadi, kalian semua pasti akan langsung memeluk master tanpa disadari olehnya.” Kata Elma sambil mengangkat tangannya dengan angkuh.


“Heh! Itu tidak akan berlaku untukku.” Kata Annastasia.


Baiklah, formalitas tadi terlihat seperti yang pernah kulihat ketika pertama kali aku bertemu dengan mereka semua. Mereka menunjukkan rasa hormat mereka dengan berlutut seperti itu.


Namun untuk hari ini, mereka sepertinya sudah tidak terbiasa dengan formalitas yang menggelikan seperti itu. Itu karena kami semua sudah lebih terbuka satu sama lain dan tidak ada kekakuan dalam menjalankan hubungan.


“Baiklah... karena kalian semua sudah berada di sini, ada yang harus kita diskusikan untuk rencana kita kedepannya.” Kataku ketika menatap para gadis.


“Dimengerti, master!”


Dengan begitu, diskusi kami setelah perubahan yang diterima olehku dan kami semua setelah kematian diriku, dimulai...


つづく


Jangan lupa like, komen, dan klik favorit ya! Kalau ada typ mohon dikoreksi ya!.Dan terima kasih