I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II

I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II
Chapter 7.4



Aku kembali berjalan-jalan di sekitar alun-alun, memikirkan apa yang harus kulakukan sekarang.


"Aku ingin membawa anak serigala itu pulang, tapi sepertinya tidak baik malam-malam aku ke istana kerajaan."


Anak serigala yang sudah aku dan Astia pungut di tengah hutan sedang dirawat di istana kerajaan. Ketika kami telah membuat pertolongan pertama, Astia meminta bantuan kepada Raja Azaka untuk membantu perawatan anak serigala itu, kata Astia kemarin.


Jadi sepertinya hari ini dia sudah sembuh, tapi aku mengurungkan niatku untuk ke sana. Besok pagi lebih baik.


Huh~ sepertinya kusudahi saja aktivitasku saat ini, karena aku lapar aku akan pulang.


Aku telah memutari tempat air mancur di alun-alun berkali-kali karena bingung apa yang harus dilakukan, aku terlihat seperti orang aneh, lalu aku memutuskan untuk pulang.


Keluar dari gerbang kota, memasuki hutan yang sangat gelap, berjalan beberapa menit dan menemukan rumah besar yang bersinar dari gelapnya hutan di sektar.


Ketika aku masuk, ada seorang gadis berambut hitam yang sangat kukenal ketika dia sedang menyesap teh sendirian. Astia sepertinya sedang menungguku. Ketika dia menyadari kehadiranku, dia segera menghampiriku seperti biasa.


"Tuan Yuuki apa kamu sudah menyelesaikan latihanmu?"


"Yah, kupikir seperti itu. Maaf aku sedikit telat. Ngomong-ngomong dimana yang lainnya?"


"Ah, saat mereka selesai makan malam, mereka langsung memasuki kamarnya."


"Mmm begitu ya."


Aku berjalan dan duduk di sofa aula sambil melihat ke sekeliling.


Aku melihat lampu-lampu yang menyala di setiap sudut ruangan dan lampu gantung yang besar dan cukup mewah tapi tua, menyala menerangi seluruh tempat. Tentu saja mereka semua menggunakan tenaga sihir.


"Sepertinya kamu sudah lebih terbiasa mengendalikan pencahayaan seluruh ruangan ya, Astia?"


"Ya sepertinya begitu. Ini semua berkat bantuanmu Tuan Yuuki." Kata Astia yang tersenyum


"Tidak juga. Aku juga merasakan hal yang sama sepertimu."


"Terima kasih. Oh iya aku akan membawakan teh untukmu."


"Tolong ya."


Setelah itu, Astia ke dapur lalu kembali beberapa saat dengan membawakan secangkir teh hangat untukku.


Aku meminumnya, kehangatan tehnya membuatku terasa hidup kembali. Astia masih berdiri dengan membawa nampan setelah memberikanku teh. Aku menepuk sofanya, mengisyaratkan Astia.


"Apa boleh?"


Aku hanya mengangguk tenang, karena itu Astia memberikan senyum kecil dan langsung duduk di sampingku.


....


Karena hanya ada keheningan diantara kami, aku yang akan membuka pembicaraan lebih dulu, tapi sepertinya Astia seperti sedang menikmati dunianya sendiri.


"Apa tugas-tugas para gadis berjalan dengan baik?"


"Ah iya..." Astia sudah tersadar, "Mereka telah melakukan pekerjaannya dengan baik, tidak ada masalah diantara semua itu. Hanya saja mereka terlalu berlebihan."


"Begitu, aku mengerti."


Aku mengerti kalau para gadis telah melakukan pekerjaannya dengan baik, yang mengatur dan membagi tugasnya adalah Astia, jadi menyerahkan padanya membuatku tenang. Tapi ketika membicarakan tentang pembicaraan para gadis, aku tidak mengerti.


"Apa kamu selama ini mengamati perkembangan mereka? Bagaimana menurutmu?" Tanyaku.


"Aa~ tentang itu ya... kupikir tidak ada yang khusus kecuali sifat mereka. Dalam hal pertarungan, setiap dari mereka memiliki kemampuan uniknya masing-masing dan terus diasah oleh mereka. Meskipun dalam hal kerja sama mereka buruk tapi kupikir mereka hanya salah dengan orang yang mereka lawan, kalau mereka melawan orang lain, kemungkinan besar regu Tomoe akan menakutkan."


"Melawan dengan orang yang salah? Itu terlalu berlebihan untukku."


"Itu benar, Tuan Yuuki selalu merubah dan selalu mempunyai banyak rencana saat melawan para gadis dalam sesi pelatihan. Itu sebabnya mereka harus memikirkan puluhan atau ratusan rencana sebelum mereka melawanmu."


Yah itu sedikit berlebihan tentang tanggapan Astia terhadapku. Aku hanya mengamati seluruh kemampuan para gadis dan membuat rencana yang paling efektif untuk melawan mereka.


"Aku anggap seperti itu. Aku hanya ingin para gadis dapat mengatasi situasi sesulit apapun meskipun musuhnya bukan aku. Jika mereka sudah terbiasa dengan itu, lawan terkuatpun akan diatasi dengan mudah."


Setelah mendengar perkataanku, Astia berpikir sesaat.


"Emm benar juga. Kalau para gadis dapat menjadi kuat dengan terus-menerus mengasah kemampuan mereka dan melawan Tuan Yuuki, kalau begitu aku ingin mengikuti sesi pelatihan itu juga."


"Hmm? Bukannya kamu sudah sangat sering bertarung bersamaku?"


"Tapi akhir-akhir ini, aku sangat jarang bertarung denganmu."


Terakhir kali Astia bertarung dengan ketika kami masih sering latih tanding saat aku masih baru bertemu Astia. Aku selalu mengajarkan dia tentang bela diri dan melawanku tiap saat, tapi ketika kami melakukan perjalanan ke manapun Astia selalu bertarung di sisiku.


"Begitu ya... Memang kamu selalu berlatih untuk bekerja sama denganku meskipun musuhnya adalah monster kelas menengah. Tapi akhir-akhir ini aku tidak pernah mengajakmu duel."


"Karena itu aku ingin!" Kata Astia yang bersemangat dengan mengeratkan tinjunya.


"Mungkin pergerakanku akan selalu diketahui olehmu."


"Kalau pergerakan Tuan Yuuki tidak bisa diprediksi, aku malah tambah semangat!"


Kemungkinan besar Astia dapat menyamai pergerakan dan kecepatanku, karena dia yang paling tahu tentang pertarunganku dari siapapun. Astia bahkan berpotensi menggagalkan rencanaku dan dapat mengalahkanku


"Huh~ mungkin aku akan memikirkannya."


"Uhuu!" Astia sedikit bersorak pada dirinya karena senang.


Lalu aku ke pertanyaan selanjutnya. Tapi sepertinya ini hanya memastikan doang sih.


"Ngomong-ngomong apa para gadis sedang merencanakan sesuatu padaku?"


"Uh!!" Itulah informasinya dari Astia, hampir menjatuhkan nampannya karena terkejut.


Aku mengintipnya sambil menyesap teh ketika dia sedang bingung mencari jawaban untukku.


"Yah, kalau kamu tidak mau jawab aku gapapa. Memberikan bocoran rencana para gadis tidak akan membuat pelatihannya menarik bagiku. Aku hanya ingin tahu apa yang akan mereka lakukan."


Aku bisa saja memikirkan beberapa prediksi tentang rencana para gadis seperti mereka akan meyerangku ketika lemah atau ketika aku berada di kamar mandi. Bahkan mereka bisa menyerangku ketika aku dalam perjalanan pulang. Tapi semua itu hanya pemikiran orang normal, aku tidak tahu apa yang mereka rencanakan. Jika begitu aku akan memikirkannya ketika di tengah serangan itu...


"Umm aku bukannya tidak ingin menjawab, tapi..." Kata Astia sambil memainkan jarinya ketika dia gelisah. Tapi aku tidak akan memaksanya kalau dia tidak bisa.


"Aku mengerti. Itu tentang pembicaraan para gadis kan? Kalau begitu aku tidak akan memaksamu. Aku juga tidak terlalu mengerti tentang pembicaraan para gadis."


"Uh? Bagaimana Tuan Yuuki tahu?"


"Hanya perasaan."


"Eh begitukah? Untuk orang yang tidak terbiasa dengan wanita, Tuan Yuuki hampir benar tentang itu."


"Kamu mengejekku?"


"Hehe bercanda."


Untuk orang yang sudah lama bersamaku seperti Astia, aku sedikit demi sedikit lebih mengerti tentang apa yang dipikirkan oleh wanita atau apa yang tidak boleh disinggung dari wanita. Tapi tetap saja ketika regu Tomoe sedang merencanakan sesuatu terhadapku, aku tidak mempunyai petunjuk.


Setelah ceria beberapa saat, perlahan-lahan Astia mereda dan menjatuhkan pandangannya ke bawah.


"Aku memikirkan tentang perkataan Natasha saat pagi tadi..."


"Kenapa memangnya?"


"Saat itu aku berpikir kalau perkataan Natasha memang benar. Tuan Yuuki telah mempersiapkan semuanya untuk para gadis. Kamu bahkan tidak terlalu peduli tentang latar belakang mereka dan menerima mereka begitu saja seolah kamu mempercayai mereka.


Astia sadar tentang hal itu, aku bahkan tidak terlalu menyadari tentang perbuatanku saat itu. Aku memang bertanya-tanya kenapa aku membiarkan gadis-gadis asing masuk ke rumah ini dan aku langsung menerima lamaran pekerjaan mereka tanpa pikir panjang.


"Aku juga memikirkannya, tapi kamu secara tidak langsung merekomendasikan mereka kepadaku." Kataku.


"Ah itu..."


"Tidak perlu dikhawatirkan tentang itu. Selama mereka masih berada dalam pengawasanku, aku tidak akan membiarkan para gadis berbuat macam-macam."


"Bukan itu maksudku."


Nada bicara Astia menjadi khawatir, aku tidak mengerti apa yang dipikirkannya, bukankah Astia sedang mengkhawatirkan kalau para gadis suatu saat akan melakukan pengkhianatan?


Kemudian Astia melanjutkan, "Aku tidak mengkhawatirkan sikap para gadis kepadamu, tapi aku merasa Tuan Yuuki terlalu mempercayai mereka."


"Itu hanya perasaanmu."


"Aku juga merasa kalau Tuan Yuuki tidak akan melakukan hal ini. Mengingat tentang masa lalu Tuan Yuuki, aku merasa melakukan hal itu dengan mudah seperti bukan dirimu yang biasanya... Ah! Maafkan aku..." Ketika Astia berbicara, tapi karena suaranya agak meninggi dia langsung meminta maaf.


"Tidak apa-apa. Jadi itu yang mmbuatmu khawatir?"


"Ya..."


"Kalau begitu tidak ada pilihan lain... Sebenarnya aku punya alasan untuk itu."


"Ya... Um sebenarnya aku ingin lebih mempercayai mereka, lebih tepatnya kepada wanita. Aku selalu terjebak dengan pikiranku sendiri. Ketika aku berhadapan dengan mereka, di pikiranku selalu ada bisikan-bisikan orang tentang keburukanku khususnya wanita. Mereka selalu membicarakan keburukanku dibelakangku, tapi aku tahu itu hanya halusinasiku." Kataku tanpa memberikan ekspresi apapun.


"Aku pikir itu keadaan trauma yang cukup buruk. Tapi kalau Tuan Yuuki ingin menghadapinya, itu adalah kemajuan yang sangat bagus. Aku sangat senang!"


Syukurlah kalau begitu. Sangat menakutkan berhadapan dengan tatapan para gadis, aku bahkan selalu memikirkan hal yang tidak berguna ketika para gadis menatapku.


"Sekarang apa kamu sudah puas dengan jawabanku?"


"Ya... tapi aku akan selalu mengkhawatirkan perbuatan para gadis kepadamu."


"Seharusnya kamu sudah melihat ekspresi para gadis ketika berpelukan tadi pagi, kan? Apa wajah mereka terlihat berbohong?"


"Eh, bukan itu maksudku. Ah tidak, lupakan saja."


"Kenapa tiba-tiba?"


Aku penasaran dengan maksudnya, apa aku salah menangkap perkataannya? Tidak, aku tidak perlu terlalu memikirkannya.


Meskipun aku sudah mengatakan itu pada Astia dan terlihat senang, tapi masih ada sesuatu mengganjal yang terlihat di matanya. Aku ingin menanyakan itu, tapi aku mengurungkan niatku.


Di setiap hal ketika itu ada hubungannya denganku, Astia selalu menampilkan wajah seperti itu, seperti ada rasa bersalah atas ketidakberdayaannya. Aku mungkin mengerti tentang hal itu atau bisa jadi hanya kesalahpahaman.


"Tuan Yuuki..."


"Hmm?"


"Akhir-akhir ini kamu bekerja sendiri ya?" Detik ini aku terlalu kaget dengan perkataan Astia, "Aku pikir kamu terlalu memaksakan dirimu."


"Bagaimana kamu tahu itu?"


Astia memiringkan kepalanya karena bingung. Ekspresinya mengatakan seolah dia mengetahui jawabannya dengan jelas.


"Bukankah itu sudah jelas? Terlambatnya Tuan Yuuki pulang ke rumah bukanlah hal yang tidak disengaja. Dengan situasi kerajaan yang terancam oleh monster kelas bencana, aku merasa kamu tadi sedang mencari informasi tentang itu."


"Aku tidak bisa membantah itu."


Padahal aku sudah menutupi itu dari para gadis dan Astia, karena ini hanya seperti jalan-jalan biasa bagiku.


"Aku tidak yakin hanya itu yang ingin kamu katakan." Tambahku.


"Ya, karena Tuan Yuuki pernah mengajarkan hal itu, Aku yakin, sebelum hari penaklukannya, besok kamu akan menelusuri daerah Pegunungan Yatze. Mengenali medan peperangan seperti sebuah taman bermain adalah hal yang kamu ajarkan padaku."


Aku tidak bisa memprediksi Astia bahkan sampai sejauh ini, kehebatannya sudah sangat berkembang sejak pertama kali aku bertemu dengannya.


"Itu mengagumkan."


"... Ini bukan sesuatu yang harus kamu puji untukku." Astia menggelengkan kepalanya, "Aku memang tidak sepintar Natasha, yang dapat menganalisa apapun dalam hitungan detik. Tapi aku yang paling mengerti tentangmu, karena aku selalu memperhatikanmu."


Itulah alasannya kenapa rencana dan pergerakanku selalu diketahui oleh Astia, itu sisi menakutkannya. Memerhatikan waktu ketika aku keluar dan pulang dan tidak melewatkan satu detik pun. Karena Astia sudah menyadari aku akan merencanakan hal itu, kemarin dia menunggu untuk aku melakukan recananya tapi tidak kulakukan. Akhirnya malam inilah karena telat setengah jam, rencanaku diketahui olehnya. Itu artinya semua rencana untuk besok juga telah diketahui oleh Astia. Itu semua hanya karena dia memerhatikanku?


"Kenapa kamu berbuat sejauh itu...?"


"Kenapa tidak? Orang yang selalu bekerja keras untukku, menyelamatkanku dengan menghancurkan tubuhmu sendiri, menjalankan kesusahan itu sendirian, tidak mengandalkan bantuan para gadis. Belum lagi aku belum membalas semua kebaikanmu, dan malah membiarkanmu melakukan semua itu sendirian." Nada suara dan matanya hampir menangis. "Bagaimana caranya aku menghadapi kalau aku kehilanganmu lagi... Aku tidak bisa... Aku tidak ingin kehilangan keluargaku yang paling kusayangi lagi."


Aku tidak bisa menjawab kegelisahan Astia. Aku hanya bisa menatap dari sebelahnya ketika dia menutup matanya dengan tangan, menahan air matanya keluar. Ratusan hingga ribuan perhitungan yang aku pikirkan tidak dapat mengetahui perasaan Astia saat ini. Hubunganku dengan Astia lebih dalam daripada yang aku perkirakan, hanya membuatku bingung. Mengapa Astia memiliki perasaan yang begitu dalam kepadaku? Bukankah aku sudah melakukan hal yang kejam seperti memberikan mantra budak di dalam tubuhnya?


Bahkan kecerdasanku tidak dapat menerima informasi sesulit itu.


"Aku hanya bisa membebani orang yang paling kusayangi..."


"......"


Aku ragu sesaat. Kesimpulanku tidak berlangsung lama, karena dia yang membuatku menemukan harapan. Pertama, aku harus menghilangkan kesalahpahaman ini.


"Astia..." Aku memanggilnya, "Aku tidak menganggapmu beban."


"... Eh?"


"Sebaliknya, aku bersyukur karena keberadaanmu di sini. Akhirnya aku bisa mengisi kekosongan hatiku karena kalian semua."


Astia mengangkat kedua alisnya.


"Benarkah?"


"Ya. Aku terlalu berhati-hati pada keputusanku. Aku hanya tidak ingin kehilangan kalian seperti aku kehilangan adikku."


Ini hanya bisa disebut dengan penyesalan. Tapi aku menganggap mereka semua berharga, aku tidak ingin lagi kehilangan orang yang berharga bagiku. Mungkin aku terlalu naif untuk ini. Namun aku harus mengambil langkah ke depan. Ada saatnya ketika keinginan untuk menjaga mereka yang berharga akan membuatmu menjadi lebih kuat.


"Mengawasi dan mendengarkan rencana para petualang kelas atas besok – itulah rencananya."


"—Eh?" Mata Astia terbuka lebar.


"Apa aku boleh meminta bantuanmu? Aku membutuhkanmu."


Aku hanya bisa mengandalkan kecerdasannya serta hubungannya padaku. Agar regu Tomoe dapat maju ke tahap yang lebih baik, dibutuhkan tekad yang kuat seperti Astia.


"Tentu saja! Karena aku adalah asistenmu."


"Bagus."


Yah, padahal posisi asisten hanyalah alasan untuk meyakinkan hubunganku dengan Astia kepada para gadis, padahal aku juga tidak tahu menyebut hubungan kami seperti apa.


"Aku akan memberikan detailnya besok di depan para gadis."


"Baiklah."


Sebelum Astia menyelesaikan kalimatnya, dia tersenyum lembut.


"Tuan Yuuki..."


Astia bertanya dengan gugup sambil memainkan jarinya.


"Hmm?"


"Sebelumnya kamu telah menjanjikan hadiah kepadaku kalau aku menyelesaikan misi darimu tempo hari... Emm apa aku boleh mendapatkannya sekarang?"


"Ah itu ya..."


"Ada apa? Apa aku gagal menyelesaikan misinya?"


"Tidak, bukan begitu. Kamu cukup mengatasinya."


Masalahnya aku belum mempersiapkan apapun, bodohnya sampai lupa hal seperti itu, tapi akan mengatasi ini.


"Maaf Astia aku belum mempersiapkan apapun, tapi sebagai gantinya apapun permintaanmu aku akan turuti sekarang."


Mungkin dia juga menduga kalau aku belum mempersiapkan apapun.


"A-apapun? Ka-kalau begitu aku minta satu hal."


Semoga dia tidak memintaku berbuat aneh. Kemudian Astia mengatakan permintaanya.


"Tolong berdirilah Tuan Yuuki dan tutup matamu..."


"Baiklah."


Aku masih penasaran. Karena penglihatanku tertutup, indraku yang lain akan lebih sensitif.


"Emm, kemudian rentangkan tanganmu, Tuan Yuuki." Nada bicaranya yang gugup membuatku penasaran apa yang ingin Astia lakukan.


"Begini?"


Tidak ada jawaban darinya.


Tiba-tiba sebuah pelukan datang kepadaku. Pelukan erat yang tidak membiarkanku terkejut karenanya. Aku hanya bisa bertanya-tanya di kepalaku dan tidak menolaknya. Astia memelukku sambil berbicara pelan.


"Tuan Yuuki, aku tidak berharap kamu mengerti tentang perasaanku padamu... tapi aku hanya ingin memintamu agar tidak memaksakan dirimu, dan percayalah kepada kami semua." Dengan suaranya yang tenang tanpa ada kegelisahan, Astia memberikan kata-kata yang kuat "—Aku akan dengan senang hati menerima tugas apapun itu, jika itu demimu dan kemajuan tim ini."


"Baiklah aku akan selalu mengingat hal itu."


Kemudian dia melepaskanku


"Terima kasih." Kata Astia dengan tersenyum manis padaku.


Terkadang berbicara dengan orang yang mengerti dengan dirimu akan membuat perasaan aneh timbul. Apa itu? Aku tidak tahu, tapi itu sangat hangat dan melegakan.


つづく


Jangan lupa like, komen, dan klik favorit ya!