I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II

I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II
Chapter 13.2



Inilah yang menyebabkan nyawa kehidupan mereka benar-benar sedang di ujung tanduk.


Cara agar mereka dapat menyerang kedua mahluk itu adalah dengan berpencar ke segala arah, tapi dengan adanya halangan yaitu serangan beruntun dari batang-batang dan akar-akar pepohonan yang mematikan, membuat mereka kesusahan. Di sisi lain mereka juga membutuhkan Barrier dari Leticia.


Namun kelemahan dari Barrier Leticia yang lain adalah, dia hanya bisa memaksimalkan pertahanannya pada suatu kelompok. Jadi kalau setiap individu petualang berpencar, maka Leticia tidak mungkin mengendalikan setiap Barriernya pada setiap orang. Kemungkinan bisa, tapi kualitas dari pertahanannya akan berkurang.


Jalan lainnya adalah membabat habis pepohonan itu sembari mengatasi serangan yang akan dilontarkan oleh monster yang berbentuk golem dan Wyvern itu.


Namun itu terlalu beresiko.


“Seseorang yang memiliki pengalaman melawan Wyvern dipersilahkan berpencar! Sisanya ikuti aku untuk melawan monster golem itu!”


Rose berteriak ketika Leticia mengangguk di sampingnya.


Mungkin hanya beberapa orang yang akan berpencar tidak terlalu mempengaruhi kualitas dari kemampuan pasif dari Barrier Leticia.


Maka dari itu, itu adalah jalan terbaik untuk melawan dari dua musuh sekaligus.


Beberapa orang membuat jarak dengan kelompok inti, banyak di antaranya adalah petualang penyerang jarak jauh dan petualang yang ahli dalam memanah.


“Kalau begitu mari kita mulai...” gumam Leticia.


Ketika mereka berlari sekuat tenaga meraih dan berusaha menggapai monster itu agar bisa menyerangnya, serangan dari akar pohon yang sulit dilihat oleh mata semakin menumpuk. Namun, Barrier dari Leticia menihilkannya.


Sebuah getaran kecil berasal dari tanah, Rose dapat menyadari itu.


“Semuanya menghindar!!”


Dengan cepat tanggap petualang lainnya menghindar ke sisi lainnya. Di saat yang sama akar lebat membeludak keluar dari tanah. Itu sebabnya mareka semua tercerai-berai.


Akar dan batang pohon menyerang dari segala sisi. Mereka akhirnya kesulitan untuk menjangkau monster golem itu.


Tapi ada seseorang yang mengatasi segala serangan itu dan pergi menuju monster itu.


“Rose, jangan sendirian! Kemampuanku tidak bisa menjangkau dirimu!”


Ketika Leticia mengatasi serangan akar itu dengan sihirnya dan dibantu dengan pertahanan Barrier miliknya, Rose pergi dengan sendirinya tanpa memedulikan keselamatannya.


“Itu tidak perlu...” kata Rose ketika pandangannya terus pada monster itu, “Aku merasa monster inilah yang mengendalikan hutan ini!”


“Cih!”


Leticia hanya bisa berdecak karena tidak bisa mengejar Rose. Saat ini dia benar-benar disibukkan dengan hal yang lain, Leticia juga tidak bisa meninggalkan jauh-jauh bawahannya dan rekan dari kelompok Rose.


Karena itulah Leticia hanya bisa mengandalkan dan mempercayakan semua itu kepada Rose, meskipun dia mengkhawatirkannya.


Di sisi lain Rose membuat asumsi bahwa monster golem itulah yang mengendalikan hutan, karena itu dia mengejarnya dan mencoba menghancurkannya.


Semakin menjauh, Barrier dari Leticia semakin merapuh dan tidak mengatasi tumpukan serangan dari akar-akar pohon. Dengan itu Rose harus menepis atau menghindari serangannya.


“Kau pikir kau bisa menghindar dariku?”


Perlahan tubuh Rose menampilkan aura kemerahan, dan keberadaan auranya membuat akar-akar itu menjadi abu.


Mata birunya berubah drastis menjadi merah darah, dia tersenyum ketika menghunuskan pedangnya.


Karena merasakan perubahan berbahaya, akhirnya monster itu menunjukkan reaksinya. Akar dan tanaman yang merambat pada tubuhnya menyerang langsung ke arah Rose secara membabi buta.


Sebagai balasannya Rose hanya tersenyum.


“Hah! Apa kau masih berpikir serangan yang sama dapat menyentuhku?”


Di saat yang bersamaan, seluruh serangan monster golem itu menjadi abu sebelum mencapai tubuh Rose. Itu semua karena aura merah dari kemampuan Rose.


“Sekarang giliranku~”


Rose menebarkan senyum percaya diri kemudian menebas seluruh anggota bagian tubuh dari monster itu tanpa memerlukan hitungan waktu.


Dia melesat secara horizontal dan vertikal, seolah dia melakuan itu secara bersamaan. Kecepatan itu sudah diluar pemahaman manusia, tapi untuk saat ini Rose sangat cepat.


“AHAHAHAHAHAHA!!” Rose tertawa sangat keras dan seolah mengejek monster itu, “Mau sampai kapan kau tidak bisa melihat pergerakanku. Mau secepat apapun serangan mu itu, tidak ada artinya di hadapanku!”


Monster golem itu benar-benar tidak bisa bereaksi terhadap kecepatan Rose, terus menebas-nebas tanpa henti seolah Rose sedang bermain-main dengan puas. Dia benar-benar menikmati itu.


Ketika kecepatan serangan monster golem itu jauh lebih cepat dari suara, sehingga para petualang lain bahkan kelas atas sekalipun sangat sulit bereaksi terhadap itu, sedangkan perbedaan kecepatan serangan Rose dibanding itu adalah langit dan bumi perbedaannya.


Rose melihat monster itu membeku di tempat padahal monster golem itu sedang berusaha menyamai kecepatan Rose. Inilah penyebab kenapa Rose hanya bisa tertawa dan bermain-main dengannya.


Salah satu pemimpin dari petualang yang terkuat dan petualang kelas S yang sudah tidak bisa diragukan lagi kecepatannya. Karena itu Rose menjadi salah satu kandidat petualang yang terkuat di dunia dengan kecepatannya.


Namun setelah beberapa menit, di saat itulah Rose menemukan kejanggalan.


“Kenapa setelah kuserang berkali-kali, dia tidak tumbang?” dia bergumam.


Ketika Rose menggunakan keahliannya yaitu kecepatannya, dia pasti melihat musuhnya langsung membeku karena terjebak perbedaan kecepatan gerak. Namun setelah diteliti lebih lanjut oleh Rose, dia tidak menemukan luka yang fatal dari monster golem itu.


Akhirnya dia sekali menebas beberapa kali sampai dia menemukan jawabannya.


“Di-dia memulihkan diri?”


Tebasan yang Rose berikan, langsung menutup seketika di saat dia berkedip. Terlalu cepat untuk dikatakan dalam kemampuan beregenerasi.


Namun di saat Rose terkejut seperti itu, dia tetap tersenyum. Rose seolah ditantang untuk mengatasi tantangan dari monster itu, yaitu menegasi kemampuan regenerasi tingginya.


“Sepertinya aku harus mengeluarkan teknik yang tidak pernah kukeluarkan... baiklah...”


Rose memasang kuda-kuda dan merendahkan posisi bagian bawah tubuhnya. Dia menarik pedangnya dengan tangan kanannya ke belakang, kemudian tangan kirinya disejajarkan dengan pedangnya.


Mata merahnya dan senyumannya yang menjadi menakutkan berusaha menarik kembali emosi semangatnya. Rose benar-benar tertarik dengan itu.


“Mari menari dan lantunkan suara kematian.”


Setelah suara itu, seluruh dunia menjadi beku seolah waktu dunia telah terhenti. Hanya kecepatan murni yang diberikan, tanpa emosi berlebihan.


Pedangnya berubah menjadi beraura merah gelap seperti mimpi buruk yang dialami setiap orang. Memberikan efek dominasi dan rasa takut pada musuhnya, namun tetap saja musuhnya tidak akan bereaksi atas kecepatan Rose saat ini.


Meluncur dengan garis lurus, menembus dan membuat lubang besar di tubuh monster golem yang diselimuti oleh tanaman merambat itu. Dengan makhluk sebesar puluhan meter, perlahan menjadi abu dan menghilang seolah makhluk itu tidak pernah ada.


“Huh~ Akhirnya selesai...”


Rose hanya bisa menghela napas tanpa membuat dirinya berkeringat sedikitpun.


Ketika Rose menyarungkan kembali pedangnya, dia kembali merasakan sesuatu yang janggal.


“Kenapa hening sekali?”


Dia tidak mendengar suara apapun termasuk suara angin yang berhembus. Bahkan ketika pertarungan dirinya dan Leticia yang cukup jauh jaraknya, seharusnya dia masih bisa mendengar keributan kecil di sana.


Kalau kelompok Leticia dan pasukan Rosevel sudah mengatasi pohon hidup dan Wyvern itu, seharusnya mereka sudah mengejar Rose.


“Eh?”


Tiba-tiba, sekejap mata dunia berubah total menjadi kekosongan, sangat gelap sehingga Rose tidak bisa melihat anggota tubuhnya sendiri.


Rose langsung panik, dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Perubahan yang sangat cepat, apa ada sesuatu yang di luar pemahaman manusia?


Beberapa detik kemudian, Rose merasakan rasa sakit yang luar biasa dari punggungnya dan menembus dadanya.


“Kuh!!”


Sebuah benda tumpul menembus tubuhnya, menusuk di tengah kegelapan yang total.


Detik berikutnya serangan berikutnya terjadi, beberapa benda tumpul kembali menembus seluruh tubuhnya hingga terkoyak menjadi gumpalan daging yang dicincang oleh benda tumpul.


Namun kesadaran Rose masih tetap ada.


“Huh?”


Itu terjadi begitu cepat, sekarang dia meraba tubuhnya. Dia merasakan tubuhnya tidak terjadi apapun yang menyakitinya. Tidak ada tusukan benda tumpul di seluruh tubuh, dan tidak ada bekas luka yang didapatkannya.


Apa yang sebenarnya terjadi?


Di saat dia membingungkan hal itu, dirinya kembali merasakan rasa sakit yang luar biasa di seluruh tubuhnya. Tubuhnya kembali ditusuk oleh benda tumpul dari segala arah sampai menghancurkan seluruh tubuhnya tanpa sisa.


Kemudian tubuhnya kembali utuh, Rose sangat tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Semuanya terus berulang-ulang. Rasa sakit yang dideritanya tadi masih terasa ketika tubuhnya kembali pulih.


Lalu serangan itu kembali dan kejadian itu terus berlangsung hingga waktu yang tidak pernah Rose pikirkan. Keseluruhannya membuat mental psikologis Rose menjadi rusak.


Rasa sakit yang tidak berhenti, kegelapan total yang membuat pergerakannya tersegel, ditambah dia tidak bisa menggunakan kemampuannya.


Rose masih bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi. Penyiksaan Rose terus berulang-ulang tanpa henti dan tanpa batas waktu.


Sampai ketika seseorang berteriak.


“SONICALLY AIR!!!”


Kesadarannya perlahan pulih, dunia yang sangat gelap dan kosong kembali ke alam yang semestinya. Rose sekarang menyadari bahwa tubuhnya tersungkur di atas tanah ketika dia masih menghunuskan pedang.


Tidak hanya itu. Rose kehabisan udara, napasnya sangat tidak beraturan hingga seluruh tubuhnya sangat berkeringat karena tekanan mental yang telah dihadapi. Seolah menghadapi kematian tanpa batas, wajahnya memucat seperti orang mati.


Sampai saat ini dia tidak mengerti apa yang terjadi.


“Kau sudah sadar?”


Seseorang mengatakan itu di sebelahnya. Rose menatapnya tapi dia tidak mengenal dirinya.


Seseorang itu mengenakan pakaian serba hitam yang cukup rapih tapi pakaian itu terlihat asing. Dia memakai topeng sehingga hanya bagian bawah wajahnya yang terlihat. Dengan rambut hijau yang bergelombang dan telinga runcing yang terlihat, sepertinya dia adalah Elf.


“Siapa kau?” tanya Rose yang penasaran.


Gadis Elf berambut hijau yang sedang memegang busurnya, terlihat mengawasi Rose yang masih di tanah.


“Kau tidak perlu tahu identitas kami. Setidaknya kami telah melepaskan dirimu dari efek ilusi dan mimpi abadi dari monster yang berbentuk golem itu.”


Karena perkataan gadis Elf itu, Rose melihat ke arah lain. Dia menemukan gadis bertelinga rubah menghunuskan pedangnya di saat pedangnya masih mengeluarkan energi angin yang tersisa.


Rose masih banyak pertanyaan tetang hal aneh yang terjadi, tapi dia mengkhawtirkan satu hal.


“Rekanku...!”


Tapi gadis Elf itu memotongnya.


“Tenang saja. Meskipun mereka juga terkena efek dari kemampuan monster itu seperti dirimu, mereka semua selamat.”


“Lalu, bagaimana dengan Wyvernnya?” tanya Rose.


Namun gadis Elf itu hanya menghela napas.


“Huh~ ternyata itu yang kalian lihat...”


Rose tidak mengerti dengan perkataan gadis elf itu. Di saat yang berikutnya si gadis Elf mengatakan hal yang membingungkan Rose.


“Singkatnya mereka semua itu adalah ilusi. Sejak kalian memasuki hutan ini, efek ilusi dan manipulasi pikiran telah merasuk ke diri kalian. Jadi Wyvern yang kau sebutkan dan segala jenis serangan yang ada di hutan ini adalah ilusi yang dibuat oleh monster itu untuk memecah belah koordinasi kalian.”


Ini benar-benar pemahaman baru yang didapatkan Rose, dia tidak pernah menemukan peristiwa dan kekuatan yang sekuat ini.


“Lalu bagaimana dengan diriku? Seharusnya aku sudah mengejarnya dan menyerangnya.” tanya Rose.


“Mungkin ada beberapa keberuntungan yang hanya kau miliki, kau memang menyerang monster itu secara langsung dengan kemampuanmu. Namun di tengah seranganmu, monster itu menguatkan efektivitas ilusinya.”


“Huh, itu artinya teknik andalanku tidak pernah menyerangnya...?” Rose menggumamkan hal itu.


“Tidak perlu kecewa. Mungkin dalam kasus lain kau sangat diunggulkan, tapi yang dibutuhkan saat ini adalah serangan area yang bisa menghapus keberadaan monster itu tanpa memedulikan regenerasi tingginya. Itulah yang menjadi keunggulan rekanku saat ini.”


Gadis Elf itu melihat rekannya yang menyarungkan pedangnya dan menghampiri tempat Rose dan gadis elf berada.


Di sisi lain mungkin Rose bisa menghancurkan dan membuat kemenangan pada dirinya, tapi dia tidak pernah menyangka kalau dia telah dimanipulasi pikirannya sehingga teknik andalannya tadi tidak pernah terjadi.


“Bagaimana dengannya? Apa kasusnya seperti petualang lainnya?” kata gadis bertelinga rubah yang menutupi wajahnya juga dengan topeng.


“Sepertinya begitu.” Kata si gadis Elf.


Kemudian gadis bertelinga rubah itu menatap Rose, “Kalau begitu kami berdua sudah tidak mempunyai urusan lagi di sini. Sampai jumpa.”


“Tunggu—”


Tapi mereka berdua langsung pergi tanpa memedulikan Rose yang masih mempunyai banyak pertanyaan.


Rose tidak ada pilihan lain selain mengatur kembali koordinasi bawahannya dan memberitahu seluruh yang dia ketahui pada Leticia.


Rose menyarungkan pedangnya dan berdiri teguh meskipun kondisi mentalnya sedikit terganggu, tapi dia tidak punya waktu untuk itu.


Dengan angin yang berhembus ke arah timur, itu menunjukkan dirinya harus menuju ke titik berikutnya dan membantu kelompok petualang di titik lain. Itulah yang menjadi tugasnya dari awal.


Namun Rose masih bertanya-tanya tentang kedua orang misterius itu. Mereka seolah mengetahui apa yang terjadi di hutan ini. Karena itu Rose penasaran dengan identitas mereka.


Dengan itu, penaklukan terus berlanjut.


つづく


Jangan lupa like, komen, dan klik favorit untuk membuat Author semangat terus ya!