I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II

I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II
Chapter 25.3



Ternyata begitu yang diperbuat Laven...


Aku sudah menyadari keberadaannya sejak tembakan pertama, tapi aku belum menyadarinya sebelum itu. Laven melumpuhkan tembakan yang sama ketika dia melumpuhkan adikku hari itu...


Dia menembak petualang-petualang itu secara acak, aku tidak yakin bahwa yang dia tembak kebanyakan petualang-petualang yang tidak terlalu kuat. Aku tahu rencana ini licik dan sesuai dengan pergerakan Laven meskipun aku tidak terlalu menyukainya. Namun, karena itulah aku bisa mengerahkan kemampuanku tanpa petualang lainnya menyerangku secara membabi buta.


Aku melihat Laven kembali— dia mencemoohku dengan gestur tangannya, sepertinya dia kesal aku hanya memanfaatkan serangannya sementara aku tidak melakukan apapun. Baiklah, dia hanya berhenti sampai situ saja... Laven berbalik dan meninggalkan tempat ini.


Sekarang, tinggal tidak lebih dari dua puluh petualang yang tersisa. Aku akan menggunakan kesempatan ini untuk melumpuhkan mereka semua— sama seperti aku melumpuhkan pergerakan para gadis...


Sebelum itu— aku melihat seorang pria yang kubilang sangat tampan dengan warna mata biru menyala di bawah sinar bulan. Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi aku lupa dimana...


Pria itu masih terlihat muda, memakai jubah hitam panjang seperti pendekar pedang. Oh~ dia sangat cocok sebagai karakter utama laki-laki di dalam sebuah novel fantasi yang diperebutkan banyak gadis.


Tapi masalahnya aku lupa siapa dia...


“Rasakan ini!!”


Pria itu melesatkan pedang kayunya dan menebas seseorang bertubuh besar yang mengenai kepalanya. Orang bertubuh besar itu terlempar karena benturan dari pedang kayu yang mengenai wajahnya, namun belum sampai situ... Meskipun orang besar itu sudah pingsan, tapi pria tampan itu terus menyerangnya dengan amarah hingga orang besar itu sampai babak belur.


“Kupikir itu berlebihan...” gumamku.


Sepertinya aku harus menunggu lebih lama lagi...


Meskipun pergerakanku efisien dalam melumpuhkan musuh-musuhku, aku mengatasi mereka dengan santai tanpa motif untuk menghancurkan marah. Aku hanya tidak ingin membuang energiku ini pada hal yang sebenarnya aku tidak suka.


“Apa ini yang membuat Laven kagum tadi?” gumamku.


Sepertinya begitu...


Sebelum Laven meninggalkan tempat ini, dia sekilas melihat seseorang dan terlihat terpukau dengan pergerakannya. Aku pikir itu tidak harus dipikirkan tentang ekspresinya, tapi sepertinya ini yang akan membuat halangan terbesar untukku.


Sepertinya yang diekspresikan Laven kepadanya, pria tampan itu melumpuhkan lawan-lawannya dengan pergerakan yang sangat berkelas dari siapapun, bahkan lebih dari para gadis sekalipun.


Aku baru melihat petualang yang seperti itu— sebentar, bukannya aku pernah mengenalnya?


Kemudian... pria itu melancarkan serangan terakhir keada petualang lainnya yang menyerang padanya. Petualang lainnya sudah menaruh rasa bahaya kepada pria itu, tapi mereka semua sudah dikalahkan sebelum mereka mempunyai pergerakan yang mengesankan.


Dengan begitu, tersisa hanya diriku dan pria itu.


Apa aku harus serius menanggapi ancaman seperti ini? Tentu saja, kalau dia menghalangiku maka rencanaku dan sebuah jalan ini akan hancur berkeping-keping. Ini adalah jalan satu-satunya yang dapat memperlihatkan sebuah kesempatan untuk menyelamatkan Ellena...


Karena itu, aku akan memakai topeng mata itu kembali...


“Kau tidak perlu melakukan itu, aku sudah tahu wajahmu seperti apa dan aku sudah tahu identitasmu...” katanya ketika dia menyadari keberadaanku.


Huh, sepertinya dia juga mengenalku, tapi masalahnya aku lupa siapa namanya. Sepertinya sejak saat penaklukan monster kelas bencana itu, aku melupakan beberapa hal yang harus kuprioritaskan.


“Begitu... maaf saja, sepertinya aku sedikit lupa tentangmu. Jadi jangan terlalu memikirkan diriku.” Kataku.


Aku memasukkan kembali topeng mataku ke sakuku, sepertinya itu sudah tidak dibutuhkan kalau ada seseorang yang mengenalku.


“Sepertinya saat ‘raja’ itu menghidupkanmu kembali, efeknya juga sedikit menggerogoti ingatanmu. Baiklah kalau begitu, namaku Fay. Pasti kau mengingat namaku ini karena aku yang telah mengancammu di masa lalu.” Katanya.


Fay... Fay... sebentar, siapa Fay itu? Oh begitu, ternyata dia... Dia yang telah mencoba membujuk Astia dan membuatnya kesal, dia juga pernah meyodorkan sebuah pedang ke kepalaku ketika mengancamku.


Ketika aku mengingat itu, itu sedikit lucu karena saat itu wajahnya sangat babak belur karena dipukuli oleh Astia. Makanya aku sedikit tidak mengingatnya dengan wajah yang tampannya saat ini.


“Oh aku ingat... ternyata itu kau...” kataku, kemudian aku melanjutkan, “Bukankah kau seharusnya pemimpin dari kelomok Pedang Tujuh Lautan? Kenapa kau malah ingin masuk ke dalam kelompok itu?”


Sepertinya pertanyaanku salah. Tapi dalam kasus Violentina, dia ingin membentuk kembali pasukannya meskipun dia dalam keadaan terpuruk, tapi dala keadaan Fay aku tidak tahu kenapa ada rasa amarah yang ada di dalam dirinya. Aku merasakannya seperti itu.


“Kau tidak perlu tahu itu, seharusnya pertanyaan itu berlaku untukmu juga. Tapi— akhirnya aku memiliki kesempatan untuk menghajar dirimu!”


Dia langsung melesat tanpa membuatku menyadarinya, pedangnya ingin menebas ke arah wajahku seperti petualang lainnya yang dihajar olehnya.


Pergerakannya benar-benar tidak ada yang dipaksakan, selalu pada poin yang harus diserangnya. Karena itu, aku hanya bisa menahan serangan itu dengan pedangku juga.


Ini cukup berat ketika aku menahan serangannya, tapi tidak membuatku mundur sedikitpun.


Ternyata begitu, dia menyerang petualang lainnya termasuk diriku melalui amarahnya. Dia selalu membuat orang yang dilumpuhkannya dengan cara menyerangnya hingga lawannya tersiksa secara fisik.


Bahkan sekarang dia mempunyai dendam kepadaku? Bahkan aku tidak tahu apa yang membuatnya marah.


Namun itulah kesalahan pertamanya. Dia membuat kemarahannya sebagai energi untuk melawanku, dan itu yang juga membuat pertahanannya selalu terbuka. Aku yang sebagai lawannya tidak begitu.


Ketika seseorang marah, maka dia tidak akan memikirkan apa yang terjadi di sekitarnya, itulah yang terjadi pada diriku di masa lalu, dan itu buruk. Maka dari itu, aku jarang mencapai di titik amarah hingga membuatku lupa segalanya— itu karena aku tahu bahwa kesalahan itu akan membuat dampak buruk pada diriku sendiri.


“Kenapa kau begitu marah?” tanyaku ketika beradu pedang kayu dengan Fay, “Apa karena kau kesal melihatku dan membuatmu teringat bahwa kau pernah dihajar oleh rekan gadisku?”


Karena pernyataanku, dia semakin mengeraskan pegangan pedangnya dan membuat bobot pedangnya semakin berat kepadaku.


Sepertinya pancingan itu berhasil. Salah satu motif yang membuatnya marah adalah hal tersebut, tapi aku belum menemukan motif lain kenapa Fay marah.


Kemudian dia mundur ke belakan dan menarik pedangnya. Sepertinya Fay mengumpulkan sihir di pedangnya— sekarang terlihat, pedangnya terlihat memiliki aliran listrik, lalu dia melesatkan energi petirnya ke arahku.


Aku menancapkan pedangku ke tanah dan membuat dinding api yang mengelilingiku, meledakkan energi yang terdistorsi menjadi sebuah ledakan yang masif.


Sekumpulan asap menghalangi pandangan, secara tiba-tiba Fay masuk ke area jangkauanku dan mencoba melumpuhkanku. Ternyata dia memanfaatkan asap ini untuk menyerangku.


Dia pikir serangan fatal itu akan berlaku padaku untuk kedua kalinya?


Ketika dia muncul dalam pandanganku, aku langsung melompat ke belakang dan membuatnya menyerang angin. Tapi Fay tidak berhenti di situ saja. Dia langsung mengejarku dan berusaha menebas di arah wajahku. Itulah yang selalu dia lakukan.


Aku akan selalu menghindarinya, dan melompat menjauh darinya. Mungkin ada yang meneriakiku pengecut, seperti yang Fay lakukan.


Dia berhenti dan mengatakan, “Ternyata aku menyadarinya, pemimpin dari organisasi misterius itu sangatlah pengecut. Apa kekuatanmu saat itu hanya pemberian pahlawan pada waktu itu?”


Itulah perkataannya, tapi aku tidak memberikan reaksi lebih. Mungkin aku seperti orang yang pengecut setelah apa yang telah kuperbuat selama ini, tapi aku hanya ingin menilai seberapa tangguh para petualang yang berpartisipasi dalam perekrutan ini ketika menyerang.


Lalu dia menyebutkan pahlawan... sebenarnya siapa yang dia maksud tentang pahlawan itu? Astia? Mungkin dia mengiranya begitu, dan aku juga mengiranya begitu, tapi Astia sendiri tidak mengakui gelar tersebut.


“Omong kosong.”


Itulah perkataanku...


“Apa?!” ketika Fay kembali marah, dia melangkahkan kakinya tapi ledakan masif tidak terhindar— membuat Fay terpental ke sudut arena.


Sepertinya dengan ketahanan dirinya, itu tidak membuatnya terbunuh. Itu adalah salah satu kesalahan Fay, dia tidak bisa menyadari jebakanku yang telah kukubur di dalam tanah tanpa dia sadari. Itu arti dari amarahnya akan membuatnya melupakan segalanya.


Fay tersungkur dan mencoba berdiri, meskipun dia sedikit memuntahkan darah.


Penonton yang mennyertai kami menjadi senyap. Mungkin awalnya mereka sedang mengharapkan kemenangan Fay, tapi keadaan langsung berbalik. Itu adalah serangan kecil tapi berdampak besar bagi Fay.


“A-apa kau sedang menghinaku, hah?!” Fay mengusapkan darah dari mulutnya.


Mungkin aku sedikit terbawa emosi ketika Fay membawa nama Astia dalam pertarungan ini. Jelas ini tidak ada hubungannya pada Astia, tapi dia memanggilnya dengan seenaknya padahal Astia tidak terlibat dengan hal apapun.


“Maaf, aku hanya menilaimu sejak tadi, makanya saat ini kau memang pantas diremehkan.” Kataku.


Aku tidak perlu mengerahkan seluruh kemampuanku kepada Fay. Meskipun dia adalah salah satu petualang kelas tinggi dan terkenal, tapi kalau cara bertarungnya seperti itu, dia tidak akan pernah bisa mengalahkanku.


“!!”


Sebenarnya aku tidak tahu kenapa dia semarah itu padaku. Mungkin ada motif lain yang belum kuketahui kenapa dia datang ke negeri ini.


Tiba-tiba Fay berada di belakangku, dia dengan cepat mengganti gaya serangnya lalu mencoba menyerang tengkukku.


Tentu saja aku lebih cepat menyadarinya... Aku hanya menundukkan kepalaku ke bawah dan membiarkan pedangnya menebas angin kembali. Lalu aku menebas ke arah leher Fay tapi dia menangkis itu dengan mulus.


Sekarang kami setara...


Fay dapat menyerangku dengan segala gaya bertarungnya dan pengalamannya, sedangkan aku menggunakan kecerdasanku dalam menaruh bom-bom di dalam tanah dan menggunakan tipuan kelengahanku.


Tapi masalah dari Fay, dia melakukan itu dengan amarah.


“Kenapa kau selalu menghindar, hah? Apa kau tidak mempunyai serangan selain kemampuan licikmu itu?” teriak Fay.


Tentu saja aku mempunyai banyak hal untuk melumpuhkannya, tapi aku akan menggali terus motif sebenarnya dari Fay.


Aku mendiamkannya berulang kali ketika dia berteriak mencemoohku, aku hanya terus melakukan tangkisan seperti biasa, atau hindaran yang cukup mulus.


“Cih!” sepertinya Fay kesal, dia mundur ke belakang.


“Kenapa? Kau kesal?” tanyaku.


Kemudian Fay menarik kembali pedangnya ke belakang, pedangnya terus dialiri oleh listrik yang masif.


Hey, bukankah ini akan buruk?


Aku melihat ke belakangku, ternyata masih banyak orang yang menonton kami. Aku sepertinya pernah merasakan serangan tersebut, tapi kalau Fay benar-benar melakukannya, dia akan membunuh banyak orang di belakangku, kalau aku menghindar.


“Fay, kalau kau serius dengan itu, kau berlebihan.” Kataku.


“Berisik!!” teriaknya, aku pikir dia benar-benar marah.


Huh~ sepertinya aku harus benar-benar menghalau serangannya secara langsung, kalau tidak, Fau benar-benar akan membunuh orang dengan serangan itu. Karena itu aku menarik pedangku ke belakang.


Energi merah menyelimuti pedangku, ini sangat terkonsentrasi yang terbuat dari elemen api milikku. Tapi—


Ketika aku menurunkan bagian tubuhku dan membuat posisi kuda-kuda, pedangku terbakar dan meleleh seperti cairan panas yang terbakar.


“Eh?”


Sial, ini buruk. Ternyata aku lupa, keluaran energi yang dihasilkan harus setara dengan kualitas alat yang mengeluarkannya. Namun pedangku hanyalah pedang kayu, tentu saja ini akan terbakar.


Bagaimana dengan Fay?


“Fay! Kalau kau melakukannya, seranganmu bisa melukaimu sendiri!” kataku


Tentu saja perkataanku tidak akan diterima olehnya. Ketika orang sedang marah, dia tidak akan menerima apapun itu selain provokasi untuknya.


Kemudian Fay melancarkan energi pelenyap itu...


“Erasure of Thunder!!”


Serangan petirnya sangat cepat. Sudah kuduga itu adalah serangan yang sama ketika melenyapkan Wyvern tanpa sisa.


Aku langsung memaksimalkan kecepatanku dalam mengambil pedang kayu yang tergeletak di dekatku, dengan sekejap aku melapisinya dengan energi ‘Inferno Beam’. Lalu aku menebas distorsi dari serangan Fay menggunakan pedangku ini.


Boom!!


Ledakan akibat distorsi menghempaskanku, tapi berkat penghalang dari Astia yang selalu aktif, aku tidak mempunyai luka, tapi napasku tidak beraturan. Pedang yang kupungut juga hancur dalam sekejap.


Sepertinya serangan Fay benar-benar berhasil.


Ketika aku terseret dan berlutut, Fay dengan lesatannya berada di arah sampingku persis. Matanya terlihat kebencian dan amarah yang luar biasa, dia menebaskan pedangnya secara buas ke arahku.


“Sekelompok nyamuk tidak akan pernah membunuh seekor singa!” teriak Fay.


Aku tidak memiliki apapun lagi, aku hanya mencoba menahan pedangnya dengan tangan kiriku.


Sebuah penghalang transparan bereaksi, pedang kayu telah patah dari genggamannya.


“Apa?” sebagai jawabannya, reaksi Fay benar-benar terkejut.


Begitu, ternyata penghalang Astia tetap bereaksi.


Aku memanfaatkan celah ini, dan celah ini sangat besar.


Ketika Fay masih terkejut pedangnya patah, aku langsung mendekat ke arahnya, dan mengatakan...


“Tapi, salah satu nyamuk pasti akan melumpuhkan singa itu.” Bisikku.


Aku meninju perutnya sekuat tenaga, darah langsung termuntahkan dari mulut Fay. Fay terhempas ke kejauhan dan terseret di atas tanah, dan berguling-guling tidak berdaya.


Ketika dia mencoba berdiri, dia tidak bisa. Aku telah menyerang titik lemah dari manusia, dan itu yang akan membuat tenaga atau energi dari Fay langsung tidak tersisa.


“Ugh...”


Setelah pertarungan tersebut, aku menyadari satu hal. Kalau aku menyamakan kondisi Fay dengan kondisiku di masa lalu, mungkin akan ada petunjuk di sana.


Aku mendekat ke arahnya.


“Apa kau sedang mencari seseorang yang menghilang?” tanyaku.


Fay tidak bisa menjawab, dia terus merintih kesakitan.


“Baiklah, kalau kau ingin bertemu dengan orang itu, temui aku di—” tambahku ketika aku menyebutkan sebuah tempat yang sudah kuputuskan.


Tanpa banyak waktu yang perlu dibuang, aku langsung memukulnya, dan itu membuat Fay pingsan.


Setelah ini semua, telah ditentukan aku... pemenangnya...


Di sisi lain Fay yang telah melumpuhkan petualang-petualang kuat, dan di sisi lain akulah yang melumpuhkan Fay. Dengan penilaian itulah, seharusnya aku yang seharusnya menjadi pemenangnya.


Ketika aku ingin meninggalkan arena ini, seseorang turun dari bangku penonton, sepertinya dia adalah pemimpin dari kelompok Divergent ini...


Lalu dia mengatakan sebuah hal, “Sebenarnya banyak orang yang tidak mengharapkan kemenangan yang seperti ini, tapi... selamat! Kau akan dihargai dengan diterimanya kau di kelompokku. Mungkin ada satu syarat untuk melengkapi itu, tapi kau pasti sudah mendengar informasi itu dari orang lain...”


Kemudian dia menyebutkan sebuah tempat untuk melancarkan persyaratan itu... kupikir itu hanyalah tempat yang biasa.


Tentu saja, persyaratan itu cukup tidak masuk akal. Itu karena syaratnya adalah mengajak dua orang gadis untuk membuat kencan buta di dalam kelompoknya.


Yah aku bisa memikirkan hal yang buruk di dalamnya, tapi aku tidak memiliki alasan untuk menangkap motif buruk itu. Jadi aku akan turuti saja...


“Itu saja...” tambahnya.


Ketika orang itu kembali ke tempatnya, perekrutan ini telah selesai. Sekarang aku hanya mencari dua gadis tersebut yang mau melancarkan rencana itu... orang itu tentu saja Annastasia dan Elma.


Dan kemudian penyusupan terus berlanjut.


つづく