
Di sebuah tempat yang entah dimana— dengan pabrik yang besar seolah-olah seperti gunung, dinding logam dapat dilihat di setiap tempat, dan terdapat tabung-tabung kaca yang besar juga terdapat sesuatu di dalamnya. Di dalam tabung tersebut ada air yang terisi penuh dan dijaga oleh banyak orang yang di sekitarnya.
Orang-orang itu terlihat memakai peralatan yang canggih untuk zamannya, tapi masih belum diketahui oleh orang lain. Meskipun begitu, mereka hanya mengembangkan teknologi mereka untuk kepentingan mereka sendiri, mereka tidak ingin mengembangkan teknologi yang bisa memudahkan kepentingan manusia lainnya.
Oleh karena itu, pekerjaan dan organisasi mereka benar-benar tertutup.
Organisasi itu telah mengembangkan proyeknya selama 5 abad terakhir, dan cukup berhasil dalam kemajuannya. Namun di balik keberhasilannya, sudah terlalu banyak orang yang ditumbalkan untuk mereka sendiri— itupun hanya untuk satu proyek mereka.
Seorang pria bertubuh tinggi dan kekar, dengan memakai setelan putih, mendekat ke arah tabung kaca tersebut, Dia maju perlahan dan melihat sesuatu yang berada di dalam tabung tersebut.
“Oh Sirius~ hari ini pun kau terlihat sangat cantik.” kata pria tersebut yang melihat seseorang di dalam tabung kaca itu.
Tak disangka oleh orang lain, dia sedang berbicara dan menyapa orang yang ada di dalam tabung kaca itu, namun itu hanyalah pembicaraan yang sepihak. Pria itu tidak dijawab oleh seseorang yang disapanya, namun dia melihat keindahan di balik kaca tersebut.
Ada seorang gadis berambut hitam kebiruan, memeluk lututnya dalam keadaan tidak ada pakaian yang menutupi tubuhnya. Dengan mata dalam keadaan sedikit terbuka, dan warna mata hijau yang cantik tapi tidak memiliki cahaya yang dipantulkan, itu artinya gadis itu sedang tidak sadarkan diri.
Namun yang lebih menyedihkan adalah— gadis itu sedang terkurung di dalam sebuah tabung kaca yang berisi air yang menenggelami dirinya. Meskipun begitu, masih ada tanda-tanda kehidupan yang berada di dalam dirinya.
“Tunggulah sebentar lagi Sirius-ku, kita akan membantai iblis-iblis jahat itu dan menyelamatkan dunia.” Kata pria itu ketika menyentuh tabung kacanya.
Ketika dia sedang asik menikmati hubungan anehnya dengan seorang gadis yang dilihatnya, seseorang datang menemuinya.
“Maaf mengganggu waktu anda, Tuan Willson.”
“Ada apa?” tanya Willson, pria tinggi nan kekar tersebut.
“Dua tawanan yang kita tahan itu tidak memberikan informasi penting lainnya. Informasi lainnya, pasukan pengintai juga tidak menemukan Tombak pahlawan di areah Pegunungan Yatze. Sepertinya memang benar, kalau ada seseorang yang bertahan dari tragedi tersebut yang mengambilnya.”
“Begitu... ternyata dugaanku benar. Lagipula aku sudah menyebarkan ancaman untuk mereka. Jadi mereka tidak akan lepas dari genggamanku... orang-orang itu pasti akan menyelamatkan rekannya...”
“Betul, Tuan. Itulah kenapa kita menculik rekan mereka.”
Willson mengangguk, dia tahu hal itu akan terjadi dan menempatkan dirinya menjadi yang paling superior di antara mereka.
Itulah kenapa Willson telah berambisi untuk melanjutkan ambisi pendahulu-pendahulu sebelumnya, salah satu tujuannya untuk mengambil tombak pahlawan untuk menyempurnakan rencananya. Namun, tujuan utama organisasi tersebut adalah— membangkitkan pahlawan.
Setelah mendapatkan informasi berkala tersebut, Willson kembali menatap gadis yang ada di tabung kaca tersebut, dia kembali mengelusnya.
“Tunggu sebentar lagi, Sirius... aku janji kita pasti akan menyelamatkan dunia...”
****
Setelah selesai dalam persiapan seperti memakai pakaian misi dan bahan-bahan makanan dan sebagainya— kami semua berangkat menuju markas Laven yang berada di tengah hutan.
Sebelumnya aku sudah mempercayai Dusk kepada Natasha, karena dialah yang paling bisa dalam mengurusnya dalam jangka panjang dan teliti. Meskipun banyak tugas yang menumpuk untuknya, tapi dia mengatakan bahwa dia baik-baik saja untuk itu.
Yah selain itu, selama perjalanan kami menuju markas Laven, si Dusk ini selalu menempelkan dirinya dan bersantai di atas kepalaku. Meskipun aku sudah menurunkannya, tapi dia tetap saja menaiki tubuhku kembali dan berakhir di kepalaku. Meskipun berat dan terkadang menghalangi pandanganku, tapi aku tidak terlalu mempermasalahkannya, malahan gadis lainnya terlihat senyum-senyum ketika melihatku.
Akhirnya kami telah sampai di markas Laven, aku melihat Laven yang sedang menyilangkan tangannya dan terlihat cemberut.
“Kalian terlambat.” kata Laven.
“Maaf, ada gangguan tadi.” kataku ketika melirik ke arah Fay.
“Baiklah... lalu siapa dia?” tanya Laven yang menunjuk Fay.
“Dialah pengganggunya.” Jawabku.
“Oh hey! Apa yang kau—”
Sebelum Fay meneriakiku, aku dapat mendengar Astia menggertakkan giginya di belakangku.
“Huh~ baiklah, masuklah.” Laven menghela napas dan kemudian masuk ke dalam rumah.
Kami mengikutinya, dan sampai ke tempat dimana ada sebuah meja besar dan terdapat sebuah peta yang dihamparkan di atas meja tersebut. Sepertinya aku belum mengenal lokasi yang tergambarkan di peta tersebut.
“Sebelum aku memulainya. Aku tekankan pada satu hal...” Laven menatap kami semua, “Kita akan berangkat ke Kerajaan Heiliges hari ini juga.”
Setelah mengatakan hal itu, Laven sedang melihat kami beberapa detik dan mengambil kesimpulan.
“Apa kalian menolaknya?” tanya Laven.
“Tidak juga, lagipula kami juga sudah siap.” Jawabku.
Laven cukup terkejut dengan pernyataanku, tapi dia kembali menenangkan dirinya dengan menghela napas.
“Huh~ seperti yang diharapkan. Baiklah! Sekarang kita akan merencanakan rencana kita untuk kita di Kerajaan Heiliges nanti.”
Kemudian, Laven mengambil pion dari bidak catur dan ditempatkan di peta itu.
“Kemungkinan besar Organisasi Blaue Nacht itu berada di tempat ini, dikelilingi oleh pegunungan dan lembah yang curam, itulah yang dikatakan Razor. Jadi kita akan membagi regu kita masing-masing untuk menembus hingga pertahanan dasar mereka.”
“Baiklah, untuk regunya, aku dengan rekan-rekanku. Jadi kau juga dengan bawahanmu?” tanyaku.
“Yang paling efektif memang begitu, tapi aku sedikit tertarik dengan kemampuan intelejensi beberapa di antara rekan-rekanmu.”
“Kalau begitu, aku tetap dengan kelompokku seutuhnya. Jadi pembagian tugasnya, aku ingin kau, Laven, pergi mengintai dan carilah keberadaan Ellena— dan juga Rose.”
“Baiklah kalau begitu...” jawab Laven, “Tunggu— siapa Rose itu?”
Dengan begitu, ketika Laven yang akan mencari dan membebaskan Ellena dan Rose, aku dan gadis lainnya yang akan bertugas untuk mengawasi organisasi Blaue Nacht dengan sudut pandang yang berbeda.
“Lalu apa tugas kalian?” tanya Laven.
“Tunggu sebentar, aku meralat rencanaku... Bagaimana begini saja...” kataku ketika mengambil pion lain dan menaruhnya di atas peta, “Aku lupa pada satu hal. Laven, kelompokmu yang akan menemukan jebakan-jebakan mereka, lalu pancing mereka keluar dari markas mereka. Sisanya kami yang akan menangani itu.”
“Dengan kata lain, kami yang akan membuka jalan untuk kalian? Bukankah itu terlalu membuat beban besar untuk kelompokmu?”
“Memang benar, tapi kami memiliki jumlah lebih daripada kelompokmu, Laven. Di sisi lain, aku curiga kalau organisasi itu sudah mentargetkan kami sejak awal. Jadi kaulah yang akan mengantisipasi kejanggalan itu.” Kataku ketika menunjuk tepat di depan wajah Laven.
“Ternyata kau cukup membuatku kesal juga ya... seharusnya kau tidak punya hak untuk berbicara seperti itu padaku tapi... baiklah, aku menerimanya.” Jawab Laven.
Setelah dia mengatakan itu, aku menoleh ke arah Fay dan bertanya kepadanya.
“Jadi, apa yang akan kau lakukan?” tanyaku.
Setelah itu, dia mengambil satu pion untuk dirinya dan menempatkan pion itu berseberangan dengan pion kami semua.
“Aku akan pergi di titik ini...” katanya.
“Bukankah itu...?” bahkan Laven bertanya-tanya mengenai hal tersebut.
Pasalnya pion yang ditaruh oleh Fay adalah tempat yang berkebalikan dari kami semua, dia pergi ke tempat yang paling jauh dari satu-satunya jalan keluar. Itu artinya dia akan pergi ke tempat yang jauh dari jangkauan kami, dan itu berbahaya untuknya.
“Bukankah itu terlalu beresiko?” tanyaku.
“Memang benar.” Jawab Fay, “Tapi kalau mereka benar-benar mengetahui akan kedatangan kita, itu artinya bagian depan dari pintu masuknya akan memiliki banyak jebakan, dan kalian yang akan mengatasi itu. Sedangkan aku akan menuju ke tempat di mana mereka tidak akan berpikir kalau akan ada penyusup di bagian sana. Karena bagiku resiko yang tinggi juga akan memiliki keuntungan yang tinggi juga.”
Itulah kata Fay. Aku juga berpikir demikian, tapi aku akan memiliki cara yang lebih aman karena ada banyak orang di kelompokku yang belum mengetahui medan yang ada di sana, aku pun begitu. Jadi aku akan menjalankan strategi dalam berkelompok yang memiliki peluang besar untuk memiliki jalan keluar juga.
Namun, kalau Fay berhasil menempati posisi tersebut dan mengatasi orang-orang yang ada di sana, maka Fay akan dengan cepat memborbardir pasukan mereka tanpa mereka membuat mobilisasi pasukan yang cepat.
Itu pun kalau organisasi mereka memiliki basis militer. Maka akan menjadi keahlian Fay untuk mengatasi hal itu. Itulah kenapa dia sampai memiliki status petualang kelas S.
“Baiklah, setelah semua rencananya terorganisir, kita akan pergi saat ini juga. Bagaimana dengan kalian? Apa ada pertanyaan?” tanya Laven.
Lalu Astia maju, melangkahkan kakinya...
“Lalu bagaimana dengan komunikasinya?” tanya Astia.
Kalau ingin mengerjakan sebuah rencana dengan matang, maka akan dibutuhkan komunikasi yang kuat juga. Berhubung kelompokku, kelompok Laven, dan Fay akan bekerja secara terpisah, maka akan dibutuhkan komunikasi tersebut.
“Bravo, berikan itu kepadanya.” Kata Laven kepada bawahannya.
Laven menjawab pertanyaan Astia dengan sebuah kotak kardus yang dibawakan oleh Bravo. Lalu, aku membuka kotak kardus itu, dan melihat ada sebuah alat komunikasi yang kukenal dalam jumlah yang banyak.
“Bukankah ini...?”
“Aku tidak memberikan namanya. Setelah kejadian aktivitas sihir di kota ini yang tidak beraturan bulan lalu, tadi malam aku menyiapkan semua itu kalau kejadian itu terulang kembali.” ucap Laven.
Menyelesaikan semuanya dalam semalam? Itu benar-benar gila. Bahkan seharusnya di dunia ini, teknologi seperti ini belum ada. Ini yang biasa disebut di duniaku sebagai ‘Protofon’ atau alat komunikasi jarak jauh yang menggunakan gelombang radio. Tapi, ini benar-benar bisa terhindari dari anti sihir sekalipun.
“Aku tidak percaya kau bisa membuat ini dalam semalam... ngomong-ngomong kau yang memikirkan konsep dari alat komunikasi ini?” tanyaku
“Kalau itu, masih rahasia.”
Baiklah, aku tidak akan mengganggu keresahan itu, tapi ini sangat berguna.
“Nah, sekarang kalian tidak mempunyai pertanyaan lagi, kan?” tanya Laven.
“Tunggu sebentar, aku masih punya satu hal yang harus diberitahukan.”
“Apa itu, Astia?”
Kemudian Astia mengatakan keresahannya.
“Aku akan mengatakan ini kepada kalian semua... kalau kalian melihat seseorang yang terlihat persis dengan diriku, aku bisa memastikan bahwa yang kalian lihat bukan aku.”
“Ternyata begitu. Aku mengerti.” Sepertinya Laven mengerti tentang maksud Astia.
“Dan juga, saat bertemu dengannya, kalian tidak boleh berhadapan langsung dengannya. Lebih baik kalian melarikan diri sebelum dia menyadari kalian” Tambah Astia.
Kekhawatiran Astia ini berdasarkan setelah semua asumsi dan fakta yang telah terkumpulkan, lalu diinterpretasikan hingga mendapatkan sebuah kesimpulan. Kesimpulan Astia bahwa ketika ada orang yang benar-benar mirip dengannya, itu artinya bukanlah Astia tapi replika Astia yang benar-benar sudah bangkit. Itu yang dikatakan oleh Astia pribadi, aku mengerti itu, jadi karena organisasi itu berusaha membangkitkan pahlawan melalui Mana pahlawan yang tersebar di masa lalu, maka meskipun itu adalah replika tapi kekuatannya kemungkinan akan sekuat seperti pahlawan yang aslinya.
Jadi untuk mengantisipasi dari ancaman yang lebih besar dari para iblis, kami semua harus menghentikan rencana Blaue Nacht.
Mereka semua mengangguk kecuali Fay, tapi dengan ini rencana kami selesai sampai sini.
“Kalau sudah tidak ada lagi yang ditanyakan. Mari kita berangkat.”
Setelah rapat diskusinya selesai, kereta kuda telah dipersiapkan— dan akhirnya kami pergi ke Kerajaan Heiliges.
つづく
Jangan lupa like, komen, dan klik favorit ya! dan kalau ada typo mohon dikoreksi