I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II

I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II
Chapter 19 : Kegilaan



Aku telah melihat seluruh keadaannya...


Seluruh pasukan dari para petualang telah musnah, menghilang dari dunia ini.


Ketika kami berada masih di pasukan medis, aku, Astia dan Elma memutuskan untuk langsung bergegas ke arah petualang yang masih tersisa. Pihak kerajaan juga sepertinya tidak menyangka pergerakanku ini, tapi prioritasku adalah korban yang masih bisa diselamatkan.


Hanya beberapa petualang yang selamat, bahkan bisa dihitung oleh jari. Ini yang menandakan betapa bahayanya penaklukan ini.


“Astia, Elma, saatnya maju.” Kataku.


Astia hanya mengangguk dan Elma mengatakan, “Baik master!” dengan semangat.


Gadis yang lain masih berada di posisinya masing-masing, yaitu menjaga pasukan medis kerajaan.


Di saat itulah kami melihat Ellena yang berlutut dan Gorou yang berada di dekatnya. Kami juga melihat seorang pria yang memakai jubah dan pedang panjangnya, berada di dekat seorang wanita pirang yang terluka parah.


Tanpa disadari oleh mereka, kami sudah berada di belakang mereka semua...


“Akhirnya kalian datang... Yuuki.”


Sepertinya Ellena telah menyadari kehadiranku.


“Maafkan kami, banyak masalah yang membuat kami terlambat.”


Secara teknis ini bukan salah siapapun, tapi karena kondisi alam yang memaksa kita semua mengalami kegagalan dalam rencana.


“Ellena! Kau tidak apa-apa?”


Kemudian Astia maju ke depan, menghampiri Ellena yang berlutut membelakangi kami.


“Hanya kami bertiga yang tidak memiliki luka yang fatal, tapi Rose...”


Begitu ya... aku langsung menoleh ke arah wanita berambut pirang yang terluka itu, yang sedang ditemani oleh pria berjubah itu. Aku yang sedang tidak mengkhawatirkan siapapun kecuali kondisi Ellena, menghampiri wanita itu.


“Biarkan aku melihatnya...” kataku.


“Eh?” sepertinya orang ini tidak menyadari keberadaanku dan gadis lainnya, tapi bukan itu keingintahuanku.


Aku langsung memeriksa seluruh denyut nadi wanita ini. Matanya terbuka tapi kosong, tidak ada cahaya sama sekali di dalam sana. Matanya juga membengkak karena sehabis menangis panjang, mungkin dia telah kehilangan sesuatu yang membuatnya seperti itu?


Lalu aku memeriksa bagian belakang kepalanya. Ternyata dia cukup memliki kerusakan yang parah— kurang lebih ada pendarahan yang ada di kepalanya.


Mentalnya sudah terpuruk ke jurang yang sangat dalam dan kondisi fisiknya sudah tidak memungkinkan dia bertarung untuk saat ini. Jadi aku memutuskan mengangkatnya dan membawa ke pasukan medis untuk mendapatkan pertolongan lebih lanjut.


“Baiklah...”


“Hey! Apa yang kau lakukan?!” pria ini berteriak.


Apa dia tidak sadar dengan mendiamkannya sama saja membiarkannya mati?


“Apa yang kulakukan? Lalu apa yang kau lakukan dari tadi? Bukankah semua yang kau lakukan itu tidak berguna? Aku akan membawanya ke pasukan medis.” Kataku.


Namun, pria ini tersentak akan sesuatu. Sepertinya dia menyadari tentang penampilan yang ada di diriku.


“Kau...?! Topeng itu... bukankah kau itu pemimpin dari gadis bertopeng itu?!” katanya.


Ternyata begitu, dia menganggap gadis-gadis lainnya yang dia temui dengan panggilan ‘gadis bertopeng’. Yah aku tidak terlalu masalah dengan itu, tapi sepertinya itu sudah menjadi reputasi yang buruk tentang kami.


Meskipun dia mengatakan hal apapun terhadap diriku, aku tetap tidak peduli dengannya dan membawa wanita yang bernama Rose ini ke pasukan kerajaan.


“Berhenti kau!!”


Huh~ sepertiya dia telah mengancamku dengan sebuah pedang tepat di belakang kepalaku. Mau sampai kapan dia berlagak seperti seorang pahlawan seperti itu?


“Berani-beraninya kau menyentuh Rose dengan tangan kotormu itu! Orang asing sepertimu membuat kami—!!”


Itu terjadi begitu cepat tanpa sepengetahuanku.


Kalimat dari pria itu terpotong oleh tendangan dari seorang gadis, tidak hanya sampai itu. Tendangannya mengarah ke pelipis pria itu, dan akibatnya pria itu terhuyung-huyung.


“Kau lagi?! Ugh!!”


Pria itu mencoba menghindar dari tendangan gadis itu tapi tidak bisa ditepis olehnya. Ketika dia mengangkat pedangnya setinggi mungkin dan mencoba menebas gadis itu, gadis itu menghindarinya dan menendang gagang pedang itu dengan kuat. Hasilnya pedang itu terlempar, dan pemukulan sepihak terus berlanjut.


Dia tidak bisa mengelak dari kemampuan bela diri gadis itu dan terus dipukuli olehnya.


Gadis itu meninju bagian terlemah perutnya, ketika dia kesakitan, pukulan terakhir ke arah atas yang membuat pria itu terlempar dan jatuh ke tanah.


“Kau sudah menghinanya di depanku tadi... sekarang kau mencoba menghunuskan pedangmu kepadanya? Apa kau benar-benar ingin mati lebih cepat?!”


Ketika pria itu terbaring, dia terus dipukuli oleh gadis itu di bagian wajahnya. Wajah tampan dari pria itu telah babak telur.


Aku cukup terkejut, tapi sepertinya aku harus menghentikannya...


“Hentikan Astia! Kamu bisa membuat pria itu terbunuh.” kataku.


Darah menetes di kepalan tangan Astia, sepertinya dia benar-benar marah dan serius ingin membunuhnya.


Tapi setelah peringatanku, Astia menghentikan tinjunya...


Apa ini orang yang telah disebutkan Astia sebelumnya? Itu berarti dia benar-benar petualang kelas atas yang bernama Fay.


“Dia benar-benar tidak bisa termaafkan Tuan Yuuki... Dia ini yang terus memprovokasi semua orang untuk menyudutkan kita. Bahkan orang ini sudah mengarahkan pedangnya kepadamu... Apa orang ini bisa dimaafkan?”


Tatapan Astia masih berada pada pria yang bernama Fay itu, kebencian terlihat di matanya. Astia juga masih mengepalkan tangannya dan bersiap meninju wajah Fay kalau Fay membuat kalimat provokasi.


“Kalau begitu Astia...” kataku, kemudian aku melanjutkan, “Apa kamu adalah Astia yang aku kenal?”


Kalau Astia membuat satu pukulan ke wajah Fay, kemungkinan besar Fay benar-benar akan terbunuh. Oleh karena itu aku harus memaksa Astia untuk menghentikan ini.


Setelah perkataanku, Astia tersadar, dia melepaskan kepalan tangannya dan kemudian beranjak dari Fay.


“Maafkan aku Tuan Yuuki, aku tidak bisa mengendalikan diriku di saat ada orang yang menghinamu.”


“Huh~ baiklah.” aku menghela napas, lalu, “Bawa korban yang tersisa kepada pasukan medis. Kita harus tetap dalam rencana posisi kita...”


“Dimengerti!”


Sepertinya untuk kedua kalinya aku melihat kemarahan Astia tepat di depanku. Bahkan seorang Elma yang melihat kejadian itu, terlihat ketakutan. Yah, ini memang sisi yang paling menakutkan dari Astia. Jadi tidak perlu diganggu saat dia marah.


Beberapa saat kemudian, pasukan kerajaan datang, tapi kami langsung bergegas ke barisan belakang untuk membawa seseorang yang membutuhkan perawatan medis.


Kami berusaha menghindari pertanyaan yang berlebih dari Raja Azaka, jadi kami tidak langsung berinteraksi dengan barisan depan. Hanya Raja Azaka yang menemui Ellena dan Gorou.


Lalu, sebagai ganti dari kesalahannya, aku menyuruh Astia untuk mengantarkan Fay ke pasukan medis, wajahnya sudah tidak karuan. Meskipun Astia sangat membenci Fay tapi dia tetap menerima perintahku dan menemaninya untuk sementara.


Dalam beberapa saat, Astia kembali ke posisinya...


“Sudah selesai?” tanyaku.


“Ya, aku hanya tidak perlu berurusan dengannya ataupun melihat wajahnya.”


Kalau begitu...


Lebih dari sepuluh ribu pasukan telah berkumpul. Pasukan kerajaan juga telah menerima informasi dari Ellena yang mengatakan tentang kejadian dan peristiwa sebelumnya. Ini yang juga menunjukkan kenapa sebagian besar petualang telah menghilang...


Semua itu adalah karena monster kelas bencana itu.


Lebih tepatnya, ada sebuah kristal besar yang bercahaya di sana. Kata Ellena dalam beberapa saat, kristal itu mengeluarkan suara yang mendominasi. Terakhir kali kristal itu bersuara adalah ketika kristal itu mengatakan kata-kata kalau dia akan bangkit.


Oleh karena itu, seluruh pasukan telah siap dengan kemungkinan buruk yang akan terjadi.


Langkah terbaik yang harus dilakukan pasukan kerajaan adalah... melakukan penyerangan sebelum monster itu bangkit. Dan itu benar saja...


Sebuah terompet bergaung di tempat yang sangat besar ini. Kemudian, pasukan garis depan berteriak sekeras mungkin dan maju ke arah tujuannya sebenarnya.


****


“Wooohh!!”


Pasukan infantri telah bergerak, maju menuju krital yang berada di dalam pandangannya tersebut. Mereka semua membentuk manuver yang akan mengatasi serangan musuh dari arah lain.


Ketika mereka semua menyerang, ribuan binatang iblis datang dari sisi jalan kristal itu.


“Tidak perlu takut! Terus maju!” teriak Raja Azaka yang menunggangi kudanya.


“Wooohh!!!”


Peperangan terjadi, antara monster dan pasukan kerajaan. Petualng-petualang yang tertinggal juga turut ikut membantu, termasuk petualang yang berasal dari Angel Queen.


Tiba-tiba pasukan depang mengeluarkan tameng besarnya dan menghalau serangan binatang iblis itu. Pertahanan itu tidak dapat tertembus meskipun dengan kecepatan dan keagresifan musuh yang begitu brutal.


Kemudian, hujan panah dilancarkan oleh pasukan artilerti. Itu bukan hujan panah biasa, tapi di setiap anak panah ada sihir yang dapat membakar sesuatu sampai habis...


Binatang iblis itu terkoyak dan menggeliat kesakitan, oleh karena itu...


“Saatnya serang mereka!” kesatria kerajaan dari kerajaan berteriak.


Di balik tameng-tameng itu, kesatria berpedang melancarkan serangannya. Mereka semua menebas kepala binatang iblis itu dengan rapih dan mulus. Setiap pedang mereka dilapisi oleh sihir yang mematikan, sehingga kemampuan regenerasi dari binatang iblis itu akan terhentikan meskipun mereka tidak menebasnya di bagian kepala.


Mereka semua memang sangat terkoordinasi dengan baik. Pertahanan dan serangan mereka selalu dalam tempo yang sama, dan tidak ada celah sedikitpun.


“Terus maju!!”


Wyvern dan segala monster lainnya telah muncuk di area tersebut. Tulang belulang yang membentuk kerangka manusia telah hidup, menggunakan salah satu tulangnya untuk menyerang kesatria kerajaan. Namun, kesatria kerajaan terlalu kuat dalam menumpas musuh dalam jarak dekat.


Para skeleton itu hancur menjadi tulang seutuhnya dan tidak bisa meregenerasi karena pedang khusus dari kesatria. Hal yang sama juga berlaku pada Wyvern. Hujan anak panah terus dilesatkan dengan sihir khusus. Alhasil Wyvern itu tidak bisa mengelak dan dihujani oleh anak panah, dan mereka tidak bisa beregenerasi karena tubuh mereka terus terbakar.


“Terus maju! Jangan sampai membuat monster itu bangkit! Arahkan semua fokus kalian pada kristal itu!”


Namun ada satu yang membuat kesulitan.


“Ular raksasa itu datang!!”


Tanahnya bergetar, lalu ular raksasa itu keluar dari tanah dan menghamburkan sebagian dari sebuah pasukan tertentu.


“Tetap berada dalam posisi, kita dapat menyerahkan itu pada pasukan kavaleri!”


Pasukan berkuda keluar dari jalur kanan dan kiri, menyebar ke segala arah, lalu menyempit ke barisan ujung tombak. Kesatria berkuda itu melemparkan sebuah tombak khusus kepada ular raksasa itu. Ketika ular raksasa itu mencoba menghamburkan pasukan bertameng, tombak-tombak menembus seluruh tubuh dari ular itu.


Ular itu bergetar dan menggeliat karena sebuah aliran listrik bertekanan tinggi. Kemudain pasukan berpedang menebas ular itu dan hasilnya regenerasi ular itu menghilang karena getaran aliran listrik yang intens.


Tebasan-tebasan terus terjadi dan tubuh dari ular itu terhenti lalu berubah menjadi potongan yang terkecil. Bahkan tidak hanya sampai situ, anak panah dilontarkan dan membuat seluruh tubuh ular raksasa itu menjadi abu dimakan api.


“Sepertinya kita tidak sempat...” gumam Raja Azaka.


Jenderal Raja yang berada di sampingnya hanya bisa heran. Namun, itu bukanlah suatu alasan yang dibuat-buat. Itu karena Raja Azaka telah merasakannya...


Yaitu suara itu kembali...


“Terima kasih atas penantiannya... akan kupersembahkan kebangkitanku yang agung, wahai manusia rendahan!”


Tanah bergetar seolah ada gempa bumi yang besar. Kristal yang menjadi fokus para kesatria, perlahan-lahat retak dan akhirnya hancur.


“Akhirnya aku telah terbebaskan dari segel tombak sialan itu...” tambahnya.


Karena antisipasi dari hal yang buruk terjadi, Raja Azaka langsung memberikan perintah kepada pasukannya.


“Semuanya bentuk ke posisi bertahan dan bergegas untuk mundur!”


Mungkin para kesatria bertanya-tanya tentang perintah Raja Azaka, padahal kristal itu sudah di depan mata. Meskipun begitu, mereka tetap mengikuti perintah.


Namun itu terlambat.


Sebuah gelombang kejut yang memekakkan telinga, cepat dan meledak dari arah kristal itu...


Boom!!


Bereaksi terhadap itu, Raja Azaka langsung membuat Barrier dengan kemampuannya. Barrier itu mengelilingi seluruh pasukan garis depan.


“Apa?”


Barrier itu pecah karena gelombang kejut tersebut. Gelombang itu juga membuat ratusan orang langsung menjadi abu dala sekejap.


“Semuanya cepat!!” teriak salah satu jenderal perang Raja Azaka.


Raja Azaka juga kembali membuat pertahanan Barrier kedua agar gelombang kejut itu tidak meluas dan memakan korban lebih banyak.


Namun, Raja Azaka dapat melihat segala kemungkinan itu. Sebuah gelombang kejut kedua meledak dan menyebar ke segala sisi. Raja Azaka langsung membuat puluhan Barrier untuk melindungi pasukan, dan akhirnya gelombang kejut itu terhentikan ketika telah menembus sekitar lima Barrier.


Bahkan satu saja tidak cukup.


Bukan itu masalahnya...


“Itu...”


Getaran hebat terjadi... sebuah kristal itu telah hancur, tapi sebuah kaki raksasa yang berbentuk naga keluar di balik itu. Kaki lainnya juga keluar disertai seluruh tubuhnya yang sudah nampak oleh mata.


“I-itu...!!”


Para kesatria berteriak tanpa sebab, dan di antara lainnya berlutut, memuntahkan isi perutnya. Mereka semua telah melihat sebuah keberadaan yang membuat mereka gila.


“Tidak! Tidak! Tidak! Tidak!!”


Sebagian besar kesatria berteriak tanpa sebab dan ketakutan seolah mimpi buruk berada di depan mereka. Itu adalah akibat dari keberadaan monster itu.


Dengan tubuh yang sangat besar hingga menyamai sebuah gunung yang besar, bahkan manusia-manusia yang ada di tempat itu terlihat seperti semut yang bergerombol baginya. Seperti yang dirumorkan, dia memiliki kepala naga hingga tujuh rupa yang berbeda dan sangat menakutkan.


Itulah, Ultimate Hydra—


Raja Azaka langsung membuat Barrier yang lebih kuat untuk mengatasi rasa dominasi yang kuat atas Hydra itu. Kemampuan macam apa yang membuat seseorang gila hanya dengan keberadaannya saja? Oleh karena itu Raja Azaka membutuhkan lebih banyak Barrier yang terkonsentrasi menjadi satu.


Ini mudah saja bagi Raja Azaka, tapi sebagian pasukannya telah menjadi gila.


“Kalian semua terlalu kecil dan lemah, manusia... meskipun ini bukan wujud terkuatku, tapi kualitas kalian sangat disayangkan... Kalau begitu aku akan mencoba satu hal...”


Kaki naga dari Hydra terangkat, lalu diturunkan kembali. Itu adalah hal biasa tapi efeknya membuat gempa bumi yang dahsyat. Tanah bebatuan yang keras terbelah. Banyak pasukan kerajaan yang terperosok ke dalam celah besar itu.


Namun tidak bisa disangka kalau tanah itu menutup dengan cepat.


“Alamnya juga beregenerasi?” kata seorang petualang.


“Sekarang aku sudah terbebas dan bisa lebih bebas dalam bersuara. Aku telah menyerap seluruh informasi, jiwa, dan hidup kalian, itulah yang membuatku bangkit dan mengorbankan ratusan manusia dari sebagian kalian...”


Seluruh pasukan masih dalam mental yang sangat buruk, itu membuat mereka tidak dapat mendengar perkataan Hydra itu.


“Oleh karena itu... untuk membuatku bangkit lebih sempurna. Aku akan menyerap seluruh dari bagian kalian... Lenyaplah!” tambahnya.


Karena mimpi buruk telah menyerang para petualang sebelumnya, Raja Azaka tidak ingin membuat kejadiannya terulang kembali. Oleh karena itu, dia membuat Barrier berbeda dalam jumlah yang lebih banyak.


“Immunity of Force Field!”


Barrier hijau daun langsung menyelimuti seluruh pasukan.


Tabrakan elemen supranatural dan Barrier tersebut. Efek penghilangan tersebut tidak kasat mata, tapi ketika efeknya berbenturan dengan Barrier, itu sangat intens dan membuat getaran terjadi terhadap Barrier itu.


つづく