
“Nona Theressa!” gadis-gadis berjubah itu berteriak khawatir kepada Theressa, padahal posisi mereka juga tidak diuntungkan.
Saat ini Theressa berusaha untuk bangun, dia menyeka darahnya yang keluar dari mulutnya. Lalu dia menatap tajam kepadaku.
“Kenapa gerakanmu persis seperti Tuan Faith?"dia sesekali terbatuk, kemudian melanjutkan, "Padahal gerakan bela diri itu hanya kami yang mengetahui itu.” kata Theressa.
Sepertinya dia penasaran dengan teknik bela diriku, tapi siapa Tuan Faith itu? Apa itu adalah nama samaran dari pemimpin mereka?
“Kau tidak perlu tahu itu. Lagipula sepertinya salah satu rekanmu di sana tidak bisa mengalahkan kedua rekanku. Apa tekniknya memang sebar-bar itu?”
“Dia memang seperti itu...” jawabnya.
Annastasia dan Elma sepertinya membuat lawannya saat ini mengalami kelelahan karena luka-lukanya, sepertinya itu adalah luka dari akibat ledakan yang dihasilkan oleh Annastasia.
“Baiklah, kami akan pergi dari sini. Sebaiknya kau dan kelompokmu tidak perlu mengganggu kami.” Itulah saranku kepada Theressa.
Tapi Theressa menyangkalnya.
“Meskipun kami kalah di sini, tapi Tuan Faith tahu segalanya. Dia pasti sudah tahu akan kedatangan dan alasanmu ke tempat ini.”
Oke, aku akan menganggap perkataan dari Theressa itu terlalu ngelantur. Aku hanya menatapnya acuh tak acuh ketika dia mengatakan itu.
“Itulah kenapa dari awal kau sudah salah besar ke tempat ini...” kata Theressa, kemudian dia melanjutkan, “Kau tidak menyadari bahwa pergerakan kami hanya mengulur waktu untuk rekan kami yang lainnya datang.”
Theressa tersenyum ketika mengatakan itu. Lalu orang-orang berjubah lainnya datang entah dari mana, mereka semua datang melebihi jumlah jumlah awal mereka, dan terlihat bersembunyi di balik pepohonan.
Aku membuat asumsi bahwa yang datang ke tempat ini berjumlah lebih dari sepuluh.
“Ternyata begitu... kau mengalahkan musuh-musuhmu itu dengan kualitas dari setiap individu dan kesolidan dari pasukanmu ya.” Kataku ketika melihat keadaan sekitar.
“Sudah kubilang kau akan mati di sini.”
“Masih saja dengan pemikiran yang seperti itu...” tambahku.
(Ryuuji.)
Tiba-tiba sebuah suara datang dari kepalaku, ternyata Laven dari telepatinya.
(Kami sudah sampai dan kami sudah mengetahui posisimu.) tambah Laven.
Baiklah...
Setelah jawabanku pada Laven, aku akan mengulur waktu setidaknya lima detik sebelum dia melakukan pergerakan.
“Capella! Vega!” aku memanggil mereka berdua ketika mereka selesai berhadapan melawan Dhorothy.
“Baik master!” jawab mereka berdua.
Annastasia dan Elma telah berada di sisiku, tapi mereka masih berjaga-jaga dari musuh yang akan datang.
“Ternyata begitu, aku pikir kau rekan petualang mereka. Ternyata kau adalah pemimpin mereka.” Kata Theressa yang penasaran, sambil tertawa kecil ketika dia melanjutkan, “Pada akhirnya kau tidak ada pilihan lain selain mati bersama rekanmu, bukan? Yah itu sangat romantis sekali, kufufu~”
“Ternyata kaulah yang salah paham. Kami tidak akan mati di sini.”
“Kufufu~ Siapa yang tahu?” kemudian Theressa memberikan aba-aba kepada rekannya, “Serang mereka...”
Di saat itulah mereka semua melompat dan berusaha menyerang kami tanpa membuat kami tidak ada kesempatan untuk membuat celah untuk melarikan diri. Tapi...
“Kami juga menunggu rekan kami datang...”
Ketika kalimatku keluar, ekspresi Theressa langsung berubah, tapi dia tidak bisa menghentikan pasukannya untuk berhenti menyerang.
Lalu beberapa orang dari pihak mereka jatuh tidak sadarkan diri, seolah seperti ada yang menyerang mereka dari jauh. Satu, dua, tiga, dan lebih dari lima orang dilumpuhkan di waktu yang sama.
“Kenapa...?” Theressa terkejut sekaligus heran.
Kemudian rekan-rekannya menyadari itu, “Buat penghalang dari serangan luar!”
Itu terjadi begitu cepat, sebuah Barrier besar mengelilingi area tempur kami, dan ini tidak bisa membuat kami bertiga keluar dari sini atau mendapatkan bantuan dari luar.
“Sepertinya kau kalah cepat!” teriak Theressa ketika menyerangku dengan pedang panjangnya.
Aku menahan itu dengan kedua belati itu.
“Sepertinya kau benar.” Aku menjawab reaksi Theressa dengan helaan napas.
Seperti yang kukatakan, kami juga menunggu rekan kami datang, dan itu adalah rencanaku sejak awal.
“Phoebus... Catasthrophe!!”
Sebuah teriakan yang familiar kudengar. Detik berikutnya jutaan ledakan menghantam Barrier besar ini dan mengikisnya perlahan.
“Master... serangan ini...?” tanya Annastasia yang penasaran.
“Ya, kau benar. Sesuai dugaanmu, ini adalah serangannya.”
Setelah Barrier ini hancur sepenuhnya, hujan panah eksplosif itu dihentikan, dan seseorang berpakaian hitam militer, dengan sebuah telinga rubah di atas kepalanya— menyerang anggota rekan Theressa.
“Tidak mungkin...” Theressa terbelalak ketika Barrier dan satu persatu rekannya dikalahkan dalam kemampuan berpedang.
Dalam perang kecerdasan, tidak ada satupun dari anggota Theressa atau Theressa sendiri yang dapat mengalahkannya. Dia benar-benar jenius dalam kemampuan berpedang dan dalam mengambil keputusan.
Dan pada akhirnya, dia datang menerobos anggota pasukan Theressa hingga mencapai ke tempatku.
“Kami datang sesuai panggilanmu, master.”
Dia masih mengunuskan pedangnya ketika mengawasi daerah sekitar.
“Natasha! Kau datang...?!” Annastasia yang pertama kali memanggilnya.
“Ya, aku bersama Amarilis datang sesuai arahan dari master. Aku bersyukur karena tepat waktu.”
Itulah perkataan dari Natasha. Annastasia dan Elma sungguh senang dengan kehadiran mereka yang menyelamatkan kami dari situasi ini, begitu pula denganku.
“Kerja bagus.”
Natasha mengangguk sebagai jawaban dari pujianku.
(Ini yang kau harapkan, Ryuuji?)
Sepertinya Laven masih terhubung denganku, dan sepertinya dia yang melumpuhkan beberapa orang itu secara tiba-tiba. Dia melakukannya dengan Sniper jarak jauhnya.
“Ya, aku berhutang padamu.” Jawabku.
Itu karena aku mengirimkan Laven sebuah kata kunci yaitu “Tomoe Garden” untuk mengirimkan sebuah pesan kepada para gadis yang ada di penginapan, dengan sebuah kata kunci itulah yang membuat mereka akan menyadari bahwa hanya kamilah yang mengetahui nama tersebut.
Untung saja yang menerima pesan itu adalah Natasha, kemungkinan besar ketika dia mendapatkan pesan tersebut, Natasha akan membuat banyak pertanyaan kepada Laven. Itulah yang membuat mereka berdua datang ke tempat ini.
Lalu, gadis lainnya datang menghampiri kami. Dengan warna rambut biru langit dan telinga yang runcing— membuatnya seperti rekan dari Theressa, tapi dia bukan berada di pihak Theressa melainkan adalah rekan kami.
Dia adalah Amarilis.
“Ternyata kalian berdua datang.”
Atas dari perkataan Elma, wajar saja mereka berdua yang datang. Itu karena mereka berada di dalam satu regu yang kubentuk.
“Apa yang harus kulakukan dengan wanita ini, master?” tanya Amarilis, dia menodongkan busurnya dari arah belakang Theressa.
Aku heran, padahal mereka berdua memiliki jenis ras yang sama, tapi sepertinya Amarilis tidak mempunyai kepentingan di titik itu.
“Kau... kau juga Elf, bukan? Kenapa kau malah memihaknya?” Theressa juga menyadari itu dan menanyai Amarilis.
Amarilis terlihat acuh tak acuh.
“Rasku tidak menjadi alasan aku berpihak kepada siapa. Kau tidak perlu bertanya hal yang kosong seperti itu.”
“Kau...!” Theressa menajamkan matanya ketika dia melirik ke arah Amarilis.
“Ayo...” ajakku untuk pergi dari sini.
“Baik, master.” Jawab Amarilis.
Ketika aku mengajak mereka semua, sebuah rintihan terdengar dari jauh di belakangku. Sepertinya itu adalah Dhorothy.
“Hah!!” Dhorothy melesat dan menerjang ke arah diriku, dengan amukannya yang intens, menjadikannya lebih kuat dari sebelumnya.
“Master!” Annastasia memperingati diriku dari belakang ketika dia tidak bisa menjangkau Dhorothy.
Ketika aku ingin mengeluarkan belatiku, Theressa membuat pergerakan yang mencolok. Dia menendang kaki Amarilis ketika pandanganku teralihkan darinya.
Theressa sedikit menaikkan sudut bibirnya, seolah mengatakan ini adalah kesempatan.
Namun, Natasha sudah bersiaga, “Master, biar kutangani dia.”
Natasha menghilang dari hadapanku, dia langsung pergi ke belakangku untuk menghalau serangan dari Dhorothy.
Ini adalah pertempuran satu detik pertama, kalau kami gagal di detik selanjutnya maka kami akan kalah. Setelah berhasil menjatuhkan Amarilis, Theressa segera menebasku dengan pedang panjangnya— ini lebih cepat daripada yang kuduga.
Aku akan segera menangkisnya dengan belati pertamaku dan melumpuhkannya dengan gagang belatiku yang lain. Aku ingin melakukan itu, tapi...
“Ugh!”
Pedang Theressa terlepas darinya, kemudian dia terjatuh tidak sadarkan diri.
“Nona Theressa!!” rekan-rekannya panik dengan kondisi Theressa saat ini.
Aku menganalisis apa yang membuat Theressa seperti itu. Aku melihat ke arah depanku, ternyata jauh di sana ada sebuah peluru yang ditembakkan ke arah Theressa.
Dia adalah penembak jitu dari Laven.
“Ternyata begitu...”
“Rubah sialan!!” sebuah teriakan dari Dhorothy terdengar, dan detik berikutnya sebuah ledakan ekspolsif membuat Dhorothy terlempar.
Aku tidak tahu persis apa yang dilakukan Natasha karena itu adalah titik butaku, tapi sepertinya Natasha, Annastasia dan Elma bekerja sama untuk menghalau serangan Dhorothy ke arahku.
“Baiklah, ayo kita pergi dari sini...”
Lalu...
“Aku harap kau tidak melupakan kami...” Theressa berusaha bangun dengan rintihannya, tapi tembakan jitu Laven telah melumpuhkannya, “Tuan Faith pasti akan terus mengejarmu.”
Aku melirik sejenak, tapi aku tidak mempunyai urusan lagi dengan dia. Aku tidak peduli dan hanya mengacuhkannya.
Kami semua pergi dari tempat itu dan mencapai ke luar hutan. Aku melihat ada kereta kuda dengan dua kuda yang menariknya, lalu di kereta itu ada Laven yang menunggu kami— dia sedang mengelus bulu serigala peliharaan kami, Dusk.
“Aku pikir kau tidak akan ke sini.” Kataku.
“Kalau aku tidak bersama mereka, bagaimana mereka caranya sampai ke tempat ini tepat waktu? Lagipula tidak ada satupun di antara rekanmu yang bisa mengendarai kuda.” Jawab Laven acuh tak acuh.
Benar juga. Sepertinya Laven yang mengantar Natasha dan Amarilis ke tempat ini dengan keahliannya dalam mengendarai kuda. Aku pikir Astia ada di rumah tapi ternyata tidak, jadi aku tidak kepikiran kalau Laven akan ikut.
“Begitu... terima kasih.” Kataku.
Lalu Annastasia bertanya kepadaku.
“Master, jadi ini yang kau maksud dengan rekanmu di negara ini?”
“Ya, begitulah.”
Aku tidak tahu apa yang dipikirannya, tapi ekspresinya rumit sekali.
“Huh~ pada akhirnya kita tidak mendapatkan tumbuhan itu...” keluh Elma.
“Apa maksudmu ini?”
Lalu, Natasha menunjukkan dari balik tubuhnya, sepertinya dia menyembunyikan itu dari Elma. Sebuah tumbuhan dengan kucup bunga yang berwarna-warni.
“Ini...?!”
“Ya, Elma. Saat Amarilis menghancurkan Barrier mereka, aku berusaha mencari tumbuhan yang bernama Elisium ini.” Jawab Natasha.
Sepertinya Natasha telah mencari tumbuhan itu ketika fokus gadis-gadis berjubah itu sedang teralihkan oleh serangan Amarilis. Yah itu memang kesempatannya sih.
“Tapi, bagaimana caranya kau mengetahui karakteristiknya?” tanya Elma.
Padahal Natasha juga tidak mengetahui hal itu. Kemungkinan itu dari...
“Dari gadis pirang yang duduk di sana itu.” Natasha menunjuk ke arah Laven.
Oh itu artinya sejak awal Laven memang mengetahui karakteristik tumbuhan itu, karena dari awal aku memberitahu Laven bahwa aku sedang mencari Tumbuhan Elisium.
“Oh...”
“Kerja bagus, Natasha.” aku memujinya karena berhasil menemukan tumbuhan itu.
“Oh, apakah hadiahnya aku bisa mendapatkan pelukan?” tanya Natasha yang cukup semangat.
“Tidak perlu.” Aku langsung spontan menjawabnya.
Meskipun Natasha adalah gadis yang paling cerdas di antara para gadis, tapi dia mempunyai keterikatan perasaan romantis terhadapku. Yah itu tidak perlu dipikirkan.
“Ugh!”
“Kalau begitu ayo.”
Sepertinya Elma dan gadis lainnya tidak memiliki urusan kepada Laven. Oleh karena itu kami semua menaiki kereta kudanya. Setelah beberapa lama perjalanan, Natasha, Amarilis, bersama Dusk berpisah dengan kami di tengah perjalanan. Kemungkinan mereka akan melanjutkan pekerjaannya.
Mereka melambai ke arahku dengan senyuman, yang menjawabnya adalah Annastasia dengan lambaian tangannya.
Sekarang aku ingin menanyakan satu hal kepada Laven.
“Laven, kau tidak membunuh gadis-gadis berjubah itu tadi, kan?”
Laven sekarang yang masih mengendarai kudanya, menoleh ke arahku.
“Tidak, aku hanya melumpuhkan tubuh mereka sementara. Meskipun aku ingin membunuh mereka, kau pasti akan melarang keras itu, bukan?”
“Bagus kalau begitu.”
Sekarang, tujuan kami adalah kembali ke rumah bangsawan itu. Banyak hal yang terjadi, tapi kami harus mendapatkan bayaran kami meskipun banyak kejanggalan.
つづく