I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II

I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II
Chapter 26.3



Setelah menerima Quest tersebut, kami bertiga pergi ke tempat yang sudah tertulis di secarik kertas. Sepertinya tempat obatnya berada di dalam hutan setelah aku melihat peta sekitar kekaisaran.


Tempatnya cukup jauh, mungkin membutuhkan 2 jam lebih untuk mencapai ke tempat itu dengan kuda. Ngomong-ngomong kami menumpang kepada sekelompok pedagang yang akan melewati jalur kami, itu karena tidak ada di antara para gadis yang bisa mengendarai kuda selain Astia.


Setelah beberapa lama perjalanan, akhirnya kami berada di hutan tersebut— nama hutan tersebut adalah Hutan Anozira. Hutan ini cukup lebat kalau dilihat dari sisi luar hutannya.


Aku harap ini tidak seperti hutan yang pernah kulewati sebelumnya, seperti di hutan dekat Pegunungan Yatze.


“Baiklah, ayo kita msauk.” kata Annastasia


Yang kami butuhkan adalah hanya mengambil tumbuhan itu yang berada di sekitar taman bunga, kami tidak tahu persis tumbuhannya seperti apa dan detail tempat tumbuhnya dimana, tapi seperti yang tercatat bahwa tumbuhan obat tersebut sangat mencolok.


Kami mulai berjalan tapi tiba-tiba ada sesuatu yang masuk ke dalam otakku, seperti sebuah suara.


“Tunggu sebentar.”


Karena itu, aku menghentikan mereka berdua.


“Ada apa master?” tanya Annastasia.


Aku tidak merespon Annastasia tapi aku merespon sebuah suara yang tersalurkan melewati kepalaku, apa ini? Ini seperti sebuah transimisi suara melewati pikiran...


(Halo Ryuuji...)


Siapa ini...? Tiba-tiba seseorang memanggilku serasa langsung masuk ke dalam otakku, tapi dia tidak berada di sekitarku.


Dia memanggilku dengan nuansa mengejek, tapi sepertinya aku mengenal suara ini.


“Siapa kau?” balasku.


“Master?” Annastasia dan Elma mulai bingung dengan sikapku, tapi yang mendengar suara itu hanyalah diriku.


Aku membuat aba-aba untuk menyuruh mereka tetap diam. Lalu mereka mengangguk sebagai jawabannya.


(Hahaha! Tenang saja Ryuuji. Ini aku Laven, bukankah kita sudah sepakat untuk kerja sama? Lalu kenapa kau pura-pura tidak mengenalku? Padahal suaraku bukankah sangat jelas dan sangat bisa diingat olehmu?)


Banya omong sekali dia.


“Ternyata kau, Laven. Baiklah, apa yang kau perlukan sekarang? Lalu, kenapa kau bisa masuk ke dalam kepalaku?” tanyaku.


Aku pikir komunikasi ini akan tetap berjalan meskipun aku hanya mengungkapkan isi pikiranku tanpa aku berbicara, tapi aku tetap berbicara untuk Annastasia dan Elma mengetahui situasiku.


(Tidak, aku tidak mempunyai hal khusus untuk diberitahukan.)


“Begitu, berarti kau tidak mempunyai informasi apapun dan kau hanya iseng? Huh~” aku hanya mengkonfirmasi pernyataannya dan menghela napas, lalu, “Kalau begitu, enyahlah dari kepalaku.”


Laven bahkan tidak menjelaskan kejanggalan yang sekarang kualami, ini pasti ulahnya, tapi dia malah tidak mempunyai hal apapun untuk diberitahukan kepadaku.


(Tidak! Tidak! Tunggu sebentar, aku tidak bermaksud begitu. Eh sebentar, meskipun kau mengatakan seperti itu, aku masih bebas berbicara denganmu melewati telepati ini tanpa bisa kau tolak.)


“Telepati ya... huh begitu. Jadi, apa kau ingin memberitahuku tentang kenapa kau bisa masuk ke dalam kepalaku?”


(Bukankah itu bisa dijelakan kapanpun? Kalau begitu, apa yang kau lakukan saat ini?)


Ternyata Laven mengabaikan pertanyaanku, tapi yasudahlah, kami juga harus mengejar waktu sebelum misi penyusupan itu. Lagipula kenapa Laven menanyakan hal yang tidak penting saat ini, atau dia hanya ingin pamer kemampuannya sekarang?


“Ayo...” kataku kepada mereka berdua untuk melanjutkan perjalanan.


Mereka berdua berjalan meskipun sangat penasaran dengan siapa aku berbicara, tapi cepat atau lambat mereka juga akan bertemu dengan Laven.


(Hey~ Ryuuji~ Apa yang kau lakukan saat ini?) tanya Laven.


Ternyata dia terus berisik kalau aku tidak memberikan jawaban.


“Aku hanya sedang menjalankan Quest bersama rekanku. Sekarang aku tebak, apa kau sedang bermalas-malasan saat ini?” tanyaku.


Itu pasti, aku bisa membayangkan Laven hanya akan tidur-tiduran di sebuah sofa sambil memakan cemilan sembari menghubungiku. Aku tidak perlu membuktikan apapun, lagipula kalau Laven sedang bekerja, dia pasti akan memberikan sebuah informasi dan tidak akan menghubungiku saat ini.


(Ugh!)


Ternyata dia terkejut, sudah dibuktikan atas reaksinya itu.


(Ahaha~ tidak perlu memastikan aku seperti itu, Ryuuji... Lagipula seorang pembunuh bayaran juga butuh istirahat.)


“Iya iya.” Jawabku sedatar mungkin.


(Nah sekarang, Quest apa yang kau dapat dan dimana kau sekarang?)


“Kenapa aku harus memberitahumu? Huh, baiklah. Sekarang aku sedang mencari sebuah tumbuhan untuk obat di Hutan Anozira” jawabku.


Setelah jawabanku, Laven hening sejenak. Beberapa detik kemudian, aku tidak tahu masalahnya tapi dia berteriak padaku.


(BODOH!!)


“Kau pikir aku tidak sakit kepala saat kau berteriak?”


(Bodoh! Kenapa kau malah ke hutan berbahaya itu?!)


“Ada apa? Hutan ini berbahaya?”


Memang pernah disinggung bahwa hutan ini memiliki bahaya, namun aku tidak akan berpikir bahayanya akan sama dengan hutan yang pernah kulalui bersama Natasha, jadi aku tetap menyetujui Quest ini.


Aku terhenti, membuat Annastasia dan Elma juga berhenti. Kami berhenti setelah kami sudah melihat taman bunga di dalam jarak pandang kami.


Karena itulah, aku langsung memakai topeng mataku. Annastasia dan Elma juga mengikutiku.


(Kenapa kau tidak tahu itu?! Seharusnya kalau kau petualang, kau pasti mengetahui kalau hutan itu sudah dilarang untuk dimasuki oleh seluruh petualang, bahkan setiap orang yang ada di kota ini sudah tahu bahwa hutan itu terlarang!)


“Apa itu artinya para bangsawan juga mengetahui ini?”


(Benar! Bahkan sejak setahun yang lalu, seluruh Quest yang berkaitan dengan hutan itu telah ditutup. Semua orang mengetahuinya!)


“Tunggu sebentar, meskipun kau bilang begitu, kau tidak menyebutkan apa bahayanya. Aku hanya berpikir kemungkinan hutan ini berbahaya karena ada monster yang ganas dan berbahaya.”


Lalu itu terjadi maka kami bertiga akan cukup untuk mengatasinya. Meskipun pemikiranku itu cukup meremehkan.


(Bukan hanya itu! Bahkan di sana ada sebuah organisasi berbahaya yang bermarkas di sana.)


“Itu rumor bukan?” tanyaku .


Informasi yang diberikan Laven tidak mempunyai bukti apapun dan sekilas seperti hanya kabar burung.


(Meskipun markas mereka berada di sana hanyalah rumor, tapi organisasinya adalah fakta! Mereka bahkan lebih ditakuti daripada pembunuh sepertiku.)


Aku memanggil Annastasia dan Elma untuk berjaga-jaga dari hal buruk yang akan terjadi, mereka mengangguk sebagai jawabannya.


Kami terus menuju ke taman bunga itu, dan seperti yang disaksikan— taman bunga ini bisa dibilang sangat indah. Dengan berbagai macam bunga dan warna, membuat Annastasia dan Elma terpukau.


Pada akhirnya mereka mencari tumbuhan itu di sekitar taman bunganya.


(Hey, Ryuuji... kau tidak mendengar peringatanku kan?)


“Aku dengar...” jawabku.


(Lalu kenapa kau masih di tempat itu? Cepat pergi dari tempat itu sebelum mereka menyadarimu!!)


Setelah mendapat peringatan itu, Annastasia dan Laven tiba-tiba melompat mundur ke dekatku, khususnya Elma, dia sudah melepaskan penutup sabit raksasanya. Annastasia sudah di tahap waspada dengan serangan yang akan datang, dan melakukan kuda-kudanya seperti biasa.


“Master, sepertinya ada yang mengawasi kita.” kata Laven.


“Iya, master. Saat kami mencari tumbuhan itu, penghalang Astia terus bereaksi seolah ada yang menyerang kami tak kasat mata.” tambah Annastasia.


Bahkan Annastasia sudah berkata seperti itu. Lalu, bukankah penghalang Astia tidak akan muncul sebelum ada yang menyerang, tapi kenapa malah bereaksi dengan serangan tak kasat mata? Apa itu...


Tiba-tiba aku merasakan bahaya di sampingku, secara naluri aku mengeluarkan belatiku dan menangkis sebuah serangan. Itu benar-benar terelak, tapi aku tidak melihat sebuah bentuk serangannya.


“Apa ini?”


Aku melihat sesuatu yang berbentuk sangat kecil, sepertinya ini adalah senjatanya. Bentuk serangannya sangat kecil, bahkan lebih kecil daripada kuku jari kelingkingku. Ini terlihat seperti sebuah kerikil yang sangat kecil.


Pantas saja mereka berdua tidak menyadarinya.


“Hati-hati, master. Sepertinya musuh kita telah melenyapkan hawa keberadaannya.” kata Annastasia.


Aku tahu itu. Rasa ingin membunuh mereka atau ancaman dari keberadaan mereka tidak dapat kurasakan sama sekali, bahkan melebihi Laven dalam melakukan eksekusi membunuh.


Kondisinya bukan mereka tidak terlihat secara kasat mata, tapi mereka seperti unit pasukan pembunuh seperti Laven dalam jumlah banyak— jelas mereka jenius dalam menyatu dengan alam sekitarnya.


Ini seperti aku menghadapi Marrona dalam jumlah yang banyak.


“Laven, apa kau punya informasi tentang mereka?”


Sepertinya Laven masih terhubung olehku, jadi aku menanyakannya.


(Ternyata kau sudah terjebak oleh mereka ya? Huh~)


“Benar sekali.”


Aku tidak yakin, tapi sepertinya jalur keluar kami juga sudah ditutup oleh mereka.


(Baiklah, tapi aku tidak tahu pasti karena aku tidak bertarung melawan mereka secara langsung. Namun yang pasti, mereka tidak lebih dari sepuluh orang. Tentu saja pemimpin mereka yang paling kuat.)


“Lalu, kenapa mereka membuat ancaman yang semenakutkan itu sehingga hutan ini menjadi terlarang untuk orang luar? Memang apa motif mereka?” tanyaku.


Aku berspekulasi bahwa kalau memang mereka memiliki markas di sini dan membuat ancaman kepada orang luar maka mereka akan bebas melakukan apapun di dalam hutan ini. Lalu spekulasi keduanya adalah, mereka mempunyai sesuatu yang mereka jaga dari orang luar. Jadi, kalau kita kaitkan, maka akan memunculkan sebuah gagasan bahwa organisasi itu mempunyai markas di sekitar sini dan sedang menjaga sesuatu sehingga tidak diperbolehkan orang luar untuk ikut campur.


(Aku tidak tahu, tapi sepertinya mereka memang menjaga markas mereka dari orang luar.)


Aku tidak tahu apakah mereka sudah mengetahui identitas kami atau tidak, tapi kami bertiga sudah memakai topeng mata itu sebelum ada yang menyerang Annastasia dan Elma.


“Apa mereka ingin menjaga tumbuhan yang bernama Elisium itu?” tanyaku secara tiba-tiba.


(Itu!) Sepertinya Laven terjejut setelah mendengar pernyataanku.


Namun, aku menyadari ada seseorang yang menuju ke arah kami dengan kecepatan tinggi.


“Master!” Elma berteriak, ketika seseorang menyerangku.


Aku mengindarinya ketika dia telah membuat serangan yang sangat merusak dan membuat asap yang menghalangi pandangan.


Huh, itu bahaya sekali. Tanahnya mendapatkan lubang dan terkoyak hancur.


Aku melompat jauh dan lebih dekat ke arah taman bunga, Annastasia dan Elma juga mengikutiku.


“Bukankah itu barbar sekali?” cemooh Elma.


"Bukankah itu cocok sekali denganmu?" tambah Annastasia yang menyindir Elma.


Setelah debu asap itu menghilang, seseorang terlihat di sana. Pergerakannya seperti binatang liar dan terlihat seperti seseorang yang memakai jubah menutupi wajahnya, dia memakai pakaian dan perlengkapan serba hitam.


“Laven, kau masih berada di sana? Tetaplah tersambung dalam komunikasi ini.” Kataku.


(Ya, tentu saja! Aku juga sudah bersiap-siap menuju ke sana!)


“Itu tidak perlu.” Kataku.


(Hahh?! Kau gila! Kau bisa mati melawan mereka!)


“Tenang saja. Sebagai gantinya, kau kirim pesan ini ke sebuah penginapan. Kau masuk ke penginapan itu dan beritahu pesan itu kepada seseorang yang ada di sana.”


Aku mempunyai rencana, tapi aku akan mengulur waktu setidaknya setengah jam agar rencana itu berjalan. Kemudian aku beritahu lokasi penginapan itu, dan pesan yang akan kusampaikan...


(Baiklah, aku akan bergegas menyampaikannya. Aku akan menghubungimu beberapa saat lagi.)


Setelah Laven menerima itu, mungkin dia sudah bergegas ke tempat yang kusuruh, nah sekarang bagaimana caranya aku menghadapi mereka.


Lagipula, kalau Laven ke sini dia akan membutuhkan waktu setidaknya satu jam, dan itu tidak akan sempat ketika aku melawan dengan jumlah yang sebanyak ini


Lalu...


“Oh~ Ternyata kau cukup gesit juga ya menghindari cakaranku?” kata orang yang menyerangku.


Itu adalah suara gadis dan aku tidak mengenal dia siapa. Dia seolah kembali berdiri dari posisi binatangnya— aku tidak bisa melihat wajahnya karena jubahnya, tapi aku bisa melihat ekornya yang besar nan lebat.


Apa dia Demi-Human?


Sebentar, cakaran? Dia melakukan sebuah cakaran dan mengancurkan tanah bebatuannya?


Huh, baiklah. Aku menenangkan pikiranku... Nah, sekarang bagaimana caranya aku menghadapi orang-orang ini?


つづく


Jangan lupa like, komen, dan klik favorit ya!