I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II

I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II
Chapter 6 : Pendatang Baru



Di dalam kota yang sangat besar, seorang gadis sedang mencari sesuatu selama berhari-hari.


Alasan dia datang ke kota ini karena perjalanannya hampir mencapai akhirnya. Itu bukan karena dia kehilangan tujuannya, tapi yang menjadi masalahnya adalah keuangannya saat ini sudah mencapai batasnya.


Masalah utamanya karena dia telah diusir dari desanya, itu karena masalah internal yang tak pernah diduganya selama ini. Dia yang tidak tahu ingin kemana, akhirnya berakhir di kota ini.


Ketika dia melihat pertarungan di sebuah arena yang menarungkan seorang petinggi besar dan seorang anak muda, dia meyakinkan dirinya sendiri kalau pertarungan itu berat sebelah.


Tapi yang tidak pernah gadis itu sangka bahwa kemenangan mutlak berada di anak muda itu. Sungguh tidak bisa dipercaya.


Kekaguman, kehebatan dan seluruh kata-kata pujian tertahan di dalam hatinya. Sungguh dia ingin menemui orang itu.


Ketika dia terusir dari desanya, dia tidak pernah mempunyai tujuan yang ingin digapainya. Tapi pada hari itu, tujuan baru telah dimiliki olehnya.


Ya benar, dia ingin sekali menemui orang itu. Semua karena hormat pada dirinya, kekagumannya, dan kata-kata yang tidak bisa tertahankan olehnya.


Tapi masalahnya dia tidak pernah melihat orang itu. Setidaknya dia ingin sekali melihatnya walaupun sebentar saja.


Setiap hari, rutinitas yang selama ini dia lakukan di kota ini adalah berkeliling kota. Tujuannya adalah... ya, mencari orang itu. Dia tidak peduli kalau tujuannya hanya mencari orang asing yang tidak ia kenal.


Dia ingin menemuinya, menjadi pengikutnya, dia sudah tidak peduli dengan apapun tentang dunia ini. Yang ia pedulikan adalah mencarinya.


Menjadi pengikutnya adalah hal yang paling membahagiakan untuk hidupnya. Dia rela merelakan apapun untuk menjadi pengikutnya. Benar, ini adalah tujuan barunya.


Setelah dia tidak menemukannya kemarin di seluruh penjuru kota, pada hari ini dia lebih bersemangat untuk mencarinya. Karena perasaannya mengatakan bahwa hari ini adalah hari keberuntungannya.


"Tuan Yuuki, apa yang sedang kau lihat?"


"Tidak, tidak ada."


Sangat mengejutkan! I-itu, itu dia!!


Hatinya bergejolak. Tidak disangka orang yang selama ini dia cari tepat di depannya.


Kesenangan menjalar ke seluruh tubuhnya, dia merinding ketika melihat orang itu. Setelah dia berpapasan dengannya, gadis itu langsung menyembunyikan diri. Dia tidak tahu kenapa dirinya seperti itu, seperti tubuhnya bereaksi berlebihan terhadap kejadian ini.


"Yang Mulia, mau sampai kapan kita di tempat ini? Sebenarnya kita akan kemana?"


"Ah begitu ya. Sudah lama aku tidak jalan-jalan seperti ini. Mumpung hari ini pekerjaanku tidak ada makanya aku ingin melihat kotaku."


Y-Yang Mulia?


Apa dia bersama raja dari negeri ini?!! Ah! Sungguh sangat mendebarkan! Hebatnya! Hebatnya panutanku!


"Tunggu, apa dia dari tadi sudah mengetahui penyamaranku? Apa dia sudah mengetahui aku mengikutinya? Tidak, itu tidak mungkin. Seharusnya persembunyianku ini sempurna."


Seharusnya begitu. Gadis itu memakai tudung untuk menyembunyikan jati dirinya, telinganya dan semuanya. Gadis yang sangat cantik karena rambutnya berwarna perak.


Tapi bukan itu yang menjadi masalahnya. Telinga runcingnya bisa membawa masalah untuknya. Benar! Dia adalah Elf.


Itulah rahasia terbesar yang dia punya saat ini. Kalau itu ketahuan oleh orang-orang mungkin dia akan membawa masalah yang tidak perlu.


Tujuannya saat ini adalah menjadi bawahan dari orang itu. Pertama-tama yang harus dia lakukan adalah membuntutinya.


Kemana mereka akan pergi?


Hah, ke hutan? Apa yang akan mereka lakukan... Tidak, apa aku harus terus membuntutinya?


"Huh, sebaiknya jangan. Raja itu sepertinya sudah mengerti tentang kehadiranku. Selama aku tahu mereka menuju kemana, meskipun itu cukup rumit, tapi itu sudah cukup bagiku untuk mengetahui mereka... Aku akan menyelidikinya besok."


Gadis elf itu mengerti tentang situasinya. Dia tidak hanya berhati-hati, tapi dia juga cukup bersabar untuk menyukseskan rencananya.


Dia menahan diri untuk tidak mengikutinya lagi, lalu dia kembali... tidak, memang ada tempat untuknya kembali?


Keesokan harinya. Gadis itu melanjutkan rencananya. Setelah dia sarapan, gadis itu mendatangi hutan itu. Dia memasukinya hingga ke sebuah rumah yang sangat besar.


Gadis elf itu bersembunyi dari balik pohon. Dia mengendap-endap, berhati-hati agar tidak memasuki jebakan ataupun hal yang dapat mencurigakan.


"Rumah apa i-ini?"


Gadis elf itu berpikir, apa ini rumah dari calon tuannya? Sangat besar, sangat mengagumkan.


"Papan itu...!"


Di depan pintu masuk yang besar itu, ada papan tanda bertuliskan "Kami sedang membutuhkan seseorang." Itu berarti...


"Itu berarti...! dia sedang membutuhkan orang sepertiku?! Apa tidak masalah, apa tidak terlalu lancang aku mendapatkan pekerjaan itu? Dan itu adalah orang yang kudambakan...?!!"


Ekspresinya mungkin sedikit berlebihan, tapi itu adalah wujud dari kebahagiaan gadis elf. Apalagi orang yang ia kagumi sedang berada di dalam rumah itu.


Toktoktok.


Langkah kaki yang cukup cepat terdengar dari dalam mendekati sebuah pintu.


Seseorang akan datang, pikir si gadis elf.


Karena pendengarannya yang cukup tajam, gadis elf itu dengan cepat bersembunyi.


"Kan sudah kubilang Astia, aku hanya ingin memenuhi janjiku pada Ellena dan membeli alat bersih-bersih."


"Tentang itu biar aku saja. Tubuhmu belum sepenuhnya pulih! Kemarin saat bersih-bersih, kamu juga terlalu banyak bersin bukan?"


"Itu kan sudah kubilang juga kalau itu hal yang manusiawi."


"Tapi kan..."


"Maka dari itu merasakan matahari pagi lebih menyehatkan untukku, jadi tidak usah khawatir. Baiklah dah..."


"Tuan Yuuki!"


Orang  itu pergi dengan secepat yang ia bisa.


Tunggu, namanya Yuuki? Nama yang unik. Dialah yang akan menjadi masterku? Sempurna!


"Sebentar, kenapa aku harus bersembunyi tadi? Seharusnya tadi aku menyapa masterku untuk pertama kali, itu mungkin menjadi hal yang mendebarkan."


Setelah gadis elf mengatakan hal itu, dia menghela napasnya, dia dengan percaya diri keluar dari balik pohon, keluar ke jalan biasa menuju ke rumah itu.


Sudah tidak hal yang perlu dikhawatirkan lagi, pikirnya.


Pandangannya terfokus ke rumah itu sambil berjalan menghampirinya.


Ada gadis yang bernama Astia yang belum sepenuhnya menutup pintu itu. Jadi inilah kesempatannya untuk memperkenalkan diri. Gadis elf itu tidak tahu siapa Astia itu, mungkin dia adalah kenalan dari orang yang bernama Yuuki itu.


Astia kembali keluar sebelum menutup pintu lalu tanpa sadar menemui si gadis elf.


"Permisi nona, sepertinya kalian sedang membutuhkan seseorang untuk saya bantu. Jadi perkenankanlah saya..."


Si gadis elf berlutut dengan hormat pada Astia, dia menunjukkan jati dirinya sebenarnya, melepas tudungnya dan memperlihatkan wajah, rambut dan telinganya. Tapi...


"K-k... kalian..."


"Kalian?" Bingung si gadis elf.


Sempat dalam keterbingungan, si gadis elf langsung tersentak ketika dia menyadari kalau si gadis elf tidak hanya sendiri.


Kenapa aku tidak menyadarinya...?


Dia melewatkan apa yang sebenarnya yang terjadi. Tapi si gadis elf tetap tenang meskipun di dalam dirinya sangat terkejut.


Ada tujuh orang termasuk dirinya yang ada di depan Astia sambil berlutut hormat. Itulah yang membuat Astia sangat terkejut.


"Kalian ingin be-bekerja di sini?" Astia terbata-bata.


"Ya, kami bertujuh ingin menawarkan diri masing-masing untuk bekerja di sini. Ini adalah rasa dari kebanggaan kami." Kata dari salah satu mereka.


Tidak ada sangkalan, tidak ada gurauan, tidak ada yang salah dari perkataanya. Perkataannya mewakili perasaan mereka semua.


Si gadis elf juga menyetujui hal itu. Meskipun dia tidak mengetahui mereka semua, tapi perasaannya tersalurkan kepada perkataan tadi dan itu membuatnya sedikit lega.


"Ehem, maafkan aku, baiklah silahkan masuk dulu. Aku akan menyajikan teh untuk kalian."


Mereka menyetujuinya dengan berterima kasih dalam hati mereka masing-masing, lalu mereka masuk ke dalam dan duduk di sofa yang sederhana.


Ketika Astia pergi untuk menyiapkan teh, mereka duduk dalam keheningan.


Sudah dalam dugaan, tidak ada satupun dari mereka yang saling mengenal. Mereka datang dalam keadaan tidak mengenal, bahkan saat tadi pun masing-masing dari mereka mengalami keterkejutan yang sama seperti si gadis elf.


"Umm apa kalian saling mengenal?"


Karena frustasi, gadis elf membuka pembicaraan.


Mereka saling memandang.


Dia adalah salah satu jenis manusia dengan keunikannya sendiri selain dari paras yang cantik. Dia adalah Demi-Human, si gadis bertelinga rubah dengan menyembunyikan ekornya dari balik jubahnya.


Tapi yang bisa dikatakan di dalam ruangan ini adalah mereka semuanya adalah seorang gadis, dengan garis ras yang berbeda-beda.


Ketika mereka saling memandang, mereka semua saling menggeleng kepala. Itu artinya tidak ada dari mereka yang saling mengenal. Gadis elf baru tahu tentang hal ini.


"Lalu, kenapa kau tadi menyebutkan 'kami' saat berbicara dengan Nona Astia, seolah kau tahu maksud dari diri kami semua?"


"Aku pikir itulah yang sedang kurasakan tadi. Aku sadar kedatangan kalian ke sini mempunyai perasaan yang sama denganku. Itu hanya menurutku."


Kembali tidak ada yang menyangkal perkataan dari gadis bertelinga rubah. Mereka hanya saling memerhatikan satu sama lain.


"Ahaha, itu berarti kalian semua ingin melayani tuan yang sama. Mungkin alasan kita semua juga disebabkan oleh penyebab yang sama. Sungguh, orang seperti kita dipertemukan dengan cara yang seperti ini, memang dunia itu sempit."


Perkataannya juga tidak disangkal, itu adalah kebenaran yang disampaikan secara blak-blakan.


Gadis yang mengatakan seperti cara bicara laki-laki itu adalah gadis dengan garis keturunan elf, yaitu half elf. Dia memang berbicara agak kasar tapi dia adalah gadis yang baik.


Kemudian gadis berambut hitam menaruh jarinya di dagunya, seperti gerakan orang dewasa.


"Oh begitukah? Tapi kupikir, untuk mendapatkan perhatian yang positif dari tuan kita nanti, kau harus menjaga sikapmu."


Uniknya dia adalah satu-satunya manusia murni di ruangan itu.


Dia adalah salah satu gadis di dalam ruangan ini yang memiliki potensi yang cukup besar untuk memikat mata lawan jenisnya, dengan bentuk wajah dan tubuh yang indah memang tidak diragukan lagi.


"Ah itu mah hanya akal-akalanmu saja, aku tidak terlalu setuju denganmu kok."


Namun seorang gadis lain berbicara. Seolah dia menghiraukan perkataan gadis berambut hitam.


Dia adalah gadis elf murni yang lain, berambut hijau gelap. Dia memang sering tidak jujur dengan perasaannya sendiri, tapi yang bisa dibanggakan dari dia adalah kecepatannya dalam mengerti keadaan.


"Hmm?"


"Sudah sudah. Kedepannya kita akan selalu bekerja sama untuk memenuhi tanggung jawab kita, maka dari itu kita harus terhubung satu sama lain. Bagaimana kita awali ini dengan perkenalan diri kita masing-masing? Kita semua belum sepenuhnya mengenal, bukan?"


"...."


Gadis elf berambut biru langit menyarankan hal itu, dia adalah gadis elf dengan sifat keadilan yang menonjol. Tidak ada yang tahu kenapa dia memutuskan ke tempat ini selain alasan yang tadi. Tapi dia adalah gadis yang ceria. Dia juga adalah gadis elf yang terakhir.


Adapun gadis Demi-Human yang terakhir hanya mengangguk malu.


Ketujuh gadis mengangguk bersamaan, mereka memutuskan untuk memperkenalkan diri. Untuk memanggil satu sama lain memang lebih nyaman untuk memanggil nama.


"Baiklah aku dulu!" Kata si gadis berambut biru.


Dia berdiri, membusungkan dadanya dengan bangga sambil menaruh tangannya di dadanya.


"Perkenalkan, namaku Amarilis. Kalau kalian menanyakan tentang warna rambutku ini, ini memang asli kok, jadi kalian tidak usah iri ya. Tentang keahlianku... emm sepertinya terlalu banyak sehingga aku tidak bisa menghitungnya ehe."


Gadis berambut biru langit bernama Amarilis memang mempunyai rasa keadilan yang tinggi, tapi kepribadiannya itu terlalu nyentrik. Mungkin ini menjadi perkenalan yang sedikit buruk.


"Cih, tidak ada yang peduli tentang itu. Apa-apaan itu?"


Akhirnya yang menunjukan kekesalannya adalah gadis half elf.


"Baiklah sekarang aku."


Gadis berambut hitam berdiri dengan gerakan yang indah dan anggun.


"Namaku Annastasia, mungkin akulah yang paling berbeda dari kalian semua. Tapi mulai sekarang mohon kerja samanya ya."


Setelah Annastasia duduk, gadis berlinga rubah berdiri dengan gerakan yang tegas dan terhormat.


"Perkenalkan namaku Natasha. Akan kupersembahkan jiwa dan ragaku untuk masterku nanti. Tapi untuk melancarkannya aku membutuhkan bantuan kalian. Jadi mohon bantuannya dari sekarang."


Gadis berambut perak melihat Natasha dengan perasaan campur aduk. Natasha mungkin memiliki jiwa kepempinan yang kuat sejak dia datang ke sini, tapi perkataannya sedikit berlebihan.


Yang lain mereaksikannya hanya dengan mengangguk dengan sederhana. Sepertinya beberapa dari mereka ada yang menyetujuinya.


"Baiklah sekarang aku, namaku Lilac. Aku berasal dari kerajaan yang sangat jauh, tapi ketika aku melihat 'dia', aku memutuskan perjalananku terhenti dan ingin melayaninya."


Inilah seharusnya yang diharapkan dari perkenalan normal. Gadis elf berambut hijau yang bernama Lilac dengan bangga mengatakan itu. Tidak ada kebohongan darinya, dia hanya ingin mengatakannya dengan segenap hatinya.


"Ah begitu ya, sepertinya aku juga. Oke namaku Elma, tidak ada yang terlalu spesial dariku. Itu saja." Kata dari gadis half yang cara bicaranya seperti laki-laki.


Setelah Elma, sepertinya gadis elf berambut perak berpikir kalau ini adalah gilirannya. Dia berdiri memperagakan posturnya seperti yang dilakukan oleh Amarilis dan Natasha.


"Perkenalkan! Namaku Lilia, aku akan mendedikasikan sisa hidupku untuk Tuan Yuuki. Jika kalian datang ke sini hanya ingin bergurau ataupun ada yang datang ke sini memiliki niat buruk, aku akan menyingkirkan kalian."


Perkataan Lilia jelas terdengar kasar dan provokatif, itu hanyalah perasaan jujur darinya, sehingga ke enam gadis lainnya terkejut tanpa terkecuali.


Apakah mereka marah atau merasa kehadiran dari mereka mengancam? Tidak, itu semua tidak benar. Tapi reaksi mereka adalah...


"Eh Lilia, kau tahu dari mana nama itu? Kau benar-benar tahu nama master?! Wahh! Itu sangat mengagumkan."


"Eh?"


"Itu benar, kau hebat dapat mengetahui nama yang akan menjadi tuan kita. Pengetahuan itu patut diapresiasi."


Semua gadis kecuali Elma dan gadis berambut coklat berdiri dan menghampiri Lilia dengan perasaan senang. Lilia tidak mengerti kenapa ini terjadi. Bukankah itu wajar mengetahui nama yang akan menjadi tuan mereka sebelum mereka bekerja di tempat itu?


"Benarkah? Bukankah itu wajar ya... tapi terima kasih."


"Kau memang sepatutnya dipuji... ah maaf aku terlalu bersemangat. Maafkan aku."


Lalu Mereka kembali ke tempat duduknya. Setelah mereka semua memperkenalkan dirinya, berarti tersisa gadis berambut coklat.


"Maaf, sekarang giliranmu." Kata Annastasia


"Ah ya... umm namaku...Marrona... umm."


Marrona memiliki rambut coklat yang sedikit berantakan. Wajahnya tampak malu-malu, dia masih cukup muda, dia memainkan jari-jarinya ketika dia sedang gugup. Matanya tampak sedikit basah seperti menangis.


"Marrona ya, nama yang unik ya."


"Marrona kah... hey Marrona, kau itu orangnya memang pendiam ya? Atau kau memang memiliki topeng seperti itu untuk menipu kami?


"Eh, Itu... itu tidak be—"


Telinga anjing Marrona melayu, dia memang sudah sering mendapatkan perkataan seperti itu, tapi ketika dia mendengar perkataan itu dari calon rekannya, itu membuatnya sakit hati.


"Elma! Kau sudah kelewatan. Kalau menduganya seperti itu, itu berarti kau menduga kami semua melakukan hal itu! Dengan sikapmu yang seperti itu, seharusnya kau yang tidak pantas di sini."


"Maaf saja ya Natasha, aku tidak seperti yang kau pikirkan. Aku tidak ingin membuat keributan denganmu. Aku hanya mengungkapkan apa yang sedang kupikirkan, itu saja."


"Itu saja katamu? Kalau kau tidak menjaga mulutmu bagaimana kau akan berhadapan dengan Tuan Yuuki? Minta maaflah!"


"Iya iya... Maafkan aku Marrona."


"Ah tidak, kau tidak perlu minta maaf. Itu memang kesalahanku karena selalu tidak merespon pada hal yang penting."


"Untung saja Marrona memaafkanmu."


Setelah itu, Astia datang sambil membawa teh yang akan disajikan. Dia telah mengganti pakaiannya ke pakaian yang selalu ia kenakan pada saat bertualang.


"Ada apa ini? Ah maaf, aku sedikit lama. Aku harus mengganti pakaianku. Dan aku minta maaf karena tidak ada yang menarik dari rumah ini karena kami baru pindah ke sini kemarin."


"Ah tidak tidak, itu tidak masalah Nona Astia. Seharusnya Nona Astia tidak perlu khawatir dengan kami." Kata Lilia.


"Begitu ya. Baiklah, sepertinya kau sudah mengetahui namaku. Untuk yang belum mengenalku, namaku Astia. Panggil saja aku dengan namaku, umm dipanggil seperti nona aku agak tidak terlalu terbiasa."


"Baiklah. Um Astia, apa sudah mengenal Tuan Yuuki sejak lama?" Tanya Amarilis.


"Aku juga tidak yakin tentang seberapa lama, aku bertemu dengan Tuan Yuuki sekitar satu bulan yang lalu, meskipun menurutku itu adalah waktu yang sebentar tapi kami sudah mengalami perjalanan yang sangat panjang."


"Wah itu keren sekali."


"Oh iya, ngomong-ngomong kenapa kalian ingin bekerja di sini...? Ah pertanyaanku salah. Apa kalian yakin ingin bekerja di sini? Huh~ pada akhirnya aku tidak terlalu mengerti tentang keputusan Tuan Yuuki."


Astia hanya menjatuhkan pandangannya karena pasrah. Dia tidak menyangka akan mendapatkan orang-orang yang akan bekerja bersamanya dalam waktu singkat. Bahkan mungkin Yuuki juga tidak menyangka hal ini.


"Tentu saja kami yakin. Aku cukup setuju dengan perkataan Lilia tadi, mendedikasikan hidup untuk orang yang akan menjadi master kami itu benar-benar menarik."


Perkataan Elma membuat Astia terdiam.


—Mendedikasikan hidup katamu...?!


つづく