I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II

I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II
Chapter 14.3



Setelah berjalan berjalan beberapa saat di tengah kota, aku melihat keadaan di sekitar kota tampak sepi. Mungkin para petualang sudah dalam perjalanan menuju Pegunungan Yatze. Yah itu adalah hal yang wajar.


Udara dingin yang masih menusuk kulit masih terasa di sekitar, aku juga bisa melihat Elma yang sedikit menggigil. Untuk pakaian yang dapat menyerap keringat, tapi memiliki kelemahan di bagian suhu yang rendah.


“Umm master, sebenarnya apa yang ingin master katakan padaku?” tanya Elma, “Sebelumnya— kenapa master mengetahui kalau aku tidak terlalu ahli dengan pertarungan tangan kosong?”


“Tentu saja bukan? Kembali ke perkataan yang pertama kali aku katakan pada kalian— aku akan mengenal kalian melalui pertarungan.”


Yah pada kenyataan memang begitu. Aku selalu mengamati apa yang dicoba oleh gadis-gadis lain termasuk Elma meskipun aku membuat topeng seolah tidak tahu apa-apa.


“Hmm begitu ya... kau memang pengamat dan pemikir yang jenius. Oh iya apa yang ingin master berikan padaku?” kata Elma.


Sebelumnya Elma menggunakan cara bicara khasnya padaku, dan itu sangat kunantikan namun kami sudah berada di depan yang kutuju.


“Kita sampai...”


“Toko senjata?”


“Ya, ayo masuklah...”


Lalu kami masuk ke toko senjata yang dulu pernah kukunjungi. Lalu aku pemilik toko yang bersandar di meja konter sambil mengusap jari-jarinya, di saat itulah dia menyadari kedatangan kami.


“Selamat da— Oh kau! Sudah beberapa lama kau tidak berkunjung?”


Pemilik toko yang dulu aku dan Astia kunjungi terlihat senang melihat kedatanganku, mungkin dia merasa aku telah kembali dengan selamat dari perjalanan yang jauh.


“Mungkin beberapa hari. Aku tidak mengingatnya.” Kataku acuh tak acuh.


“Meskipun hanya beberapa hari, itu sudah terasa seolah sangat lama. Ngomong-ngomong dimana teman gadismu yang selama ini di dekatmu?”


Paman pemilik toko ini mungkin menanyakan kondisi Astia.


“Ah, dia ada di rumah.” Jawabku ketika aku sedang melihat barang-barang yang ada di tempat itu.


“Eh, kau sudah menikah dengannya?!!” si pemilik toko terkejut dan kaget, seolah itu bukanlah hal yang normal.


Mungkin ada yang salah dari perkataanku.


“Tidak, maksudku dia di penginapan.” Aku membenarkan jawabanku..


Dari reaksinya mungkin aku bisa menginterpretasikan kalau seorang lawan jenis tinggal di atap yang sama maka mereka telah menikah di dunia ini. Mungkin begitu


“Hoo? Apa jangan-jangan kau sedang bermain dengan wanita lain saat ini di saat kau meninggalkan gadis lamamu sendirian? Kalau kau membantah, lalu siapa gadis ini?”


Aku mengacuhkan pertanyaan yang tidak memiliki dasar itu, aku juga masih melihat barang-barang yang ada di sini. Lalu aku kemudian menatap Elma...


Aku melihat Elma seperti tidak ada masalah atas pernyataan pemilik toko ini, mungkin Elma sudah mengetahui situasi yang terjadi atau dia memang memahami situasi diriku.


Setelah melihat Elma tidak terganggu, aku berjalan mendekat ke arah pemilik toko.


“Coba perlihatkan semua senjata berkualitas yang kau miliki.”


“Memangnya kau punya uang sebanyak itu?” dia menatapku sejenak, dan kemudian ada sedikit perubahan ekspresi padanya, lalu mengatakan, “Oh sepertinya akhir-akhir ini mendapatkan pemasukan yang banyak ya. Aku tahu itu.”


Aku tahu itu bukan jawaban jujurnya, tapi tidak perlu dipermasalahkan. Lalu pemilik toko itu mengeluarkan barang-barang terbaiknya dan menampilkan semuanya kepada kami.


Kemudian aku bertanya pada Elma.


“Elma, pilihlah senjata yang kau rasa cocok untukmu.”


“Eh, untukku?!” Elma terkejut, aku tidak tahu apa yang diherankannya.


Bukankah tujuan aku dan dia ke sini sudah diketahui oleh Elma sendiri?


Padahal tujuanku ke tempat ini adalah niatku pada Elma untuk memberikannya sesuatu untuknya.


“Ya, bukankah ini yang juga kau inginkan untuk mengatasi kelemahanmu? Aku tidak tahu senjata apa yang kau kuasai, tapi aku merasa kalau kau pernah memiliki senjata tapi kau kehilangan itu saat di perjalananmu ketika mengembara, lalu kita bertemu dengan keadaanmu yang tidak mempunyai apa-apa. Apa aku salah?”


“Tidak, tidak terlalu.” Katanya saat dia memalingkan wajahnya yang memerah ketika dia memilih senjata.


Elma segera mengeliminasi senjata berkualitas dengan sekali pandang, mungkin dia merasa banyak ketidakcocokan antara senjata yang ada di sini dengan dirinya. Mungkin senjata yang dia gunakan dulu tidak dijual di tempat persenjataan umum.


“Apa kau tidak menemukan yang kau inginkan?” tanyaku.


“Tidak, aku menemukan satu kandidat yang sangat kusuka. Tapi di sisi lain aku ingin lebih lama dengan master.”


“Bukankah kau akan terus bersamaku nanti?”


“Oh! Benar juga.”


Elma sengaja menutupinya. Apa yang sedang di pikirannya? Intinya aku tidak mengerti tetang hal itu.


Kemudian Elma mengambil sebuah senjata yang berbentu sabit besar dan terlihat menakutkan. Sabit itu cukup besar hingga melampaui tinggi Elma bahkan diriku, tapi Elma memegangnya seolah seperti permainan anak-anak.


“Aku pilih ini!”


“Baiklah.”


Dia terlihat semangat ketika memegang senjata itu. Kalau begitu tinggal pembayarannya saja.


“Baiklah paman, kami ambil itu.”


“Kau yakin dengan itu? Bukankah orang yang memakai senjata itu sudah sangat langka di zaman ini?”


“Memangnya kenapa?” tanyaku.


Kemudian pemilik toko menjelaskan alasannya.


“Seharusnya orang yang dapat menggunakan senjata yang besar dan berat itu hanya pejuang atau petualang kelas S saja, tapi bagaimana dia bisa mengendalikan itu dengan mudah?”


Kami berdua melihat Elma yang sedang mengayunkan dan memutar sabit itu seperti mainan anak-anak. Namun, setelah yang dikatakan si pemilik toko, mungkin aku berpikir kalau kemampuan bersenjata Elma sangat berbakat.


Elma juga tidak terlihat mendengarkan kami, dan terus mencoba fokus pada senjata barunya.


“Hey bocah pedang...” pemilik toko ini lagi-lagi memanggil sebutan aneh itu, “Siapa sebenarnya gadis itu?” tanyanya.


“Dia hanya rekanku.”


Aku tidak perlu banyak bicara di sini. Aku hanya menyelesaikan pembayarannya dan pergi ke tempat selanjutnya.


Elma menyarungkan senjatanya dengan kain putih sehingga menutupi seluruhnya, kemudian menatapku.


“Master, sebelumnya aku sangat berterimakasih padamu. Seperti yang kukatakan sebelumnya, sepertinya aku tidak bisa membalas perbuatan baikmu di masa depan. Apalagi master membelinya dengan uang pribadi master sendiri.”


“Tidak perlu dipikirkan, aku hanya membuat rasa puas pada diriku saja karena bisa membuat dirimu akhirnya terlepas dari kegelisahan. Aku pikir ini adalah keegoisan diriku.”


Ketika kami masih dalam posisi percakapan, aku melihat Elma tersenyum.


“Fufu, aku pikir kalimat itu adalah salah satu dari kebaikan master yang master tidak sadari. Buktinya saat ini dadaku sedang berdetak dengan cepat.” Katanya ketika dia tersenyum dan pipinya semerah apel.


Yah untuk itu aku tidak memiliki komentar apapun.


Lalu Elma menambahkan hal lain, “Ngomong-ngomong kita akan kemana lagi?”


“Kita akan menemui seseorang.”


Setelah diberi petunjuk oleh Ellena, aku bisa menemui seseorang yang pernah berjasa padaku di saat pertama kali aku datang ke dunia ini.


Aku pergi ke sebuah penginapan yang cukup sederhana dan tidak sebesar penginapanku dulu. Lalu aku ke tempat penginapannya dan mengetuk pintunya.


Tok Tok


Hanya sebuah dua ketukan, ada sebuah suara datang.


“Masuklah.”


Ini adalah kamar dari penginapan yang ditinggali oleh Brauns.


Kemudian aku memasuki ruangannya yang tidak terlalu besar, hanya berkesan sebuah ruangan yang cukup normal dan klasik. Peralatan armor dan medis dapat tercium dari ruangan ini, namun ini tidak mengganggu.


Di sana aku dapat menemui seseorang yang bernama Brauns yang sedang terbaring di atas tempat tidur dan terlihat tidak bisa bangun dari tempat tidurnya.


“Maaf mengganggumu di saat yang seperti ini. Mungkin kau melupakan aku, tapi aku akan memperkenalkan diri kembali... Namaku Yuuki—”


“Tidak perlu seformal itu, aku masih mengenal dan mengingatmu dengan jelas. Setidaknya Ellena dan Gorou sering menceritakan tentang dirimu kepadaku di saat mereka menjengukku.”


Aku hanya bisa menghela napas secara internal sebelum aku memperkenalkan gadis yang ada di sampingku.


“Baguslah kalau begitu. Aku perkenalkan, di sampingku ini adalah rekanku, bernama Elma. Kalau kau membutuhkan bantuan pada diriku, kau bisa mengatakannya pada gadis ini.”


Di saat itu juga Elma membungkukkan tubuhnya untuk memberi hormat pada Brauns. Sebagai tanggapannya, Brauns mengangguk pelan.


“Kau sangat beruntung Yuuki mendapatkan gadis secantik ini di sisimu, dia juga terlihat ramah dan kompeten. Duduklah.”


“Ya aku tahu itu.”


Kemudian aku mendekat ke arah Brauns dan duduk di dekat tempat tidurnya.


“Bagaimana kabarmu? Apa kondisi kakimu sudah membaik?”


“Yah tentu saja ini membaik!” di balik semangatnya aku bisa melihat tatapan yang putus asa, “Tapi sepertinya aku lebih membutuhkan banyak waktu untuk berbaring di tempat tidur ini.”


Itu artinya serangan yang diluncurkan oleh Wyvern kelas tinggi pada waktu itu membuat luka yang sangat fatal pada anggota tubuh Brauns, khususnya pada kakinya.


“Bagitu ya... sepertinya kau tidak bisa melihat kami membawakan kemenangan pada hari ini.” aku berusaha untuk menghibur dirinya.


“Tentang saja. Aku pasti bisa mendengar sorakan kemenangan kalian sejauh apapun kalian.”


“Apa kau juga mengatakan ini pada Ellena dan Gorou?”


“Tentu saja bukan? Mereka pasti mendapatkan kemenangan itu meskipun aku tidak bisa bersama dengan mereka lagi.”


Di sisi lain Brauns juga menyemangati kami, padahal saat ini dia mengalami luka yang sangat sulit disembuhkan bahkan sulit untuk Ellena sekalipun.


Aku juga bisa membayangkan ekspresi Ellena dan Gorou di saat meninggalkan Brauns sendirian di sini. Mereka berdua hanya bisa menatap sedih dan terus mencoba untuk menyelamatkan Brauns.


“Ya itu pasti. Kami pasti akan membawa berita gembira untukmu di saat kami pulang nanti.” kataku.


“Aku akan menunggunya. Mungkin di saat mendengar kemenangan kalian, aku akan sehat kembali seperti sedia kala.”


Aku hanya mengangguk tenang.


Ini adalah saat di mana kita harus membohongi kita sendiri dan menggunakan keegoisan hati kita sendiri untuk menutupi segala perasaan.


Meskipun keselamatan untuk hidup sangatlah kecil, tapi kita berusaha untuk membohongi itu untuk menutupi rasa sakit. Inilah yang dirasakan Brauns saat ini. Dia juga dapat mengetahui kalau penaklukan yang akan kujalani beberapa saat lagi, akan memberikan dampak yang besar untuk hidup dan mati para petualang.


“Karena itu aku telah bertanggung jawab untuk memberikan keselamatan rekan-rekanmu, Brauns. Karena pada dasarnya, aku adalah pemimpin pengganti mereka.”


Di saat itulah Brauns menjatuhkan pandangannya...


“Padahal aku yang lebih tua di sini, tapi aku merasa dirimu memberikan secercah harapan untukku dan membuat diriku ingin merasa bangkit.”


“Kalau itu yang kau rasakan, aku merasa kedatanganku di sini tidak sia-sia dan aku berterima kasih.”


Dari sebuah kebohongan dari perasaan itu, akan menimbulkan sebuah kejujuran yang tulus pada diriku dan itu ingin membuatku belajar lebih banyak hal lagi tentang kehidupan ini.


“Aku juga sangat berterima kasih padamu, Yuuki— atas kedatanganmu ke sini dan memperlihatkan wanita cantik di depanku sekarang. Rasanya aku semakin bersemangat sembuh untuk melihat perkembangan indah yang ada di dunia ini.”


Di sampingku Elma tersenyum atas pernyataan Braun. Dia juga menyadari kalau Brauns adalah orang uang benar-benar baik.


“Aku akan menunggu itu terjadi...”


Setelah itu aku bangun dari duduk.


“Kalau begitu, kami berangkat.”


“Aku tidak mempunyai apapun untukmu, jadi aku hanya bisa berdoa untuk kemenangan kalian.”


“Ya.”


Hanya Elma yang mewakiliku untuk tersenyum pada Brauns, dan di saat itulah kami berangkat titik timur laut penyerangan.


Dan semuanya dimulai...


つづく


Jangan lupa like, komen, dan klik favorit ya!