I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II

I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II
Chapter 30 : Faker



Puluhan belati melayang dan melesat di udara, membentuk sebuah proyektil manuver dengan kecepatan tinggi. Bahkan tidak hanya itu, Lilia mengatur belatinya sedemikian rupa sehingga belati-belati itu menyerang dari segala sisi, bahkan hingga titik buta musuhnya.


Teknik ini bahkan lebih efektif daripada ketika melawan monster kelas bencana tempo lalu.


Lilia membuat senyuman di wajah ketika serangannya dari titik buta tidak disadari oleh Sirius. Lalu dia melesatkan belati terakhir dari tangannya...


“...”


Sirius melebarkan kedua matanya ke arah Lilia. Dalam sekejap belati-belati itu musnah tanpa sisa— tidak ada penyebab apapun tapi lenyap begitu saja dari arah serangnya.


“Ap—!!”


Sebelum Lilia terkejut dan panik ingin berteriak, tapi tiba-tiba lehernya dicekik sangat kuat hingga dia tidak bisa bernapas. Tubuhnya terangkat hingga kakinya tidak bisa menyentuh lantai.


“Lilia!!” Annastasia ketakutan ketika melihat pemimpinnya tersiksa kesakitan seperti itu.


Ikatan talinya berakhir gagal entah apa yang terjadi, tapi dia melihat ada sebuah tanda bekas terbakar dari tali tambangnya itu— artinya Sirius memang sudah terlepas meskipun Annastasia tidak dapat bereaksi apa-apa.


“Ba-bagaimana mu-mungkin...?” kesulitan bernapas dan berbicara yang luar biasa yang dialami Lilia.


Annastasia berakhir mengeluarkan sebagian besar bomnya untuk menyerang Sirius dari belakang, lalu Lilac membuat serangan panah eksposif dari titik buta. Namun kedua serangan dari keduanya berakhir gagal karena penghalang transparan yang dimiliki oleh Sirius, meskipun dirinya tidak melakukan apapun selain mencekik Lilia.


“Lilia!” teriak Lilac.


Namun Lilia samar-samar ketika mendengar teriakan Lilac di dekatnya. Darah sudah dimuntahkan dari mulutnya karena efek samping penggunaan kemampuannya itu, tapi di sisi lain kesadarannya sudah mulai perlahan menghilang ketika dicekik seperti itu.


Bahkan sebanyak apapun Annastasia dan Lilac menyerang tidak akan membuat Sirius goyah.


Kemudian, Sirius membisikkan sesuatu dengan sangat pelan tapi Lilia dapat melihat kalimat itu dari gerakan bibirnya...


“Selamat tinggal.”


Cekikannya terlepas, tapi sebuah tusukan pedang melesat seketika ke arah dada Lilia.


Ketika Sirius menajamkan tatapannya di dalam tusukan pedangnya, tapi sebagai pribadi dirinya, untuk pertama kalinya dia terkejut ketika melihat tusukannya terdistorsi. Tusukannya tidak pernah mencapai tubuh Lilia, namun menyentuh sebuah penghalang yang hampir tidak terlihat menyelimuti tubuh Lilia.


Pada akhirnya membuat tusukan yang dipastikan tepat sasaran itu— melenceng.


Di sisi lain, Willson ketika melihat itu juga sangat terkejut, dia terbelalak ketika melihat sesuatu yang seharusnya familiar untuknya tapi hal itu dimiliki oleh orang lain juga.


“Bagaimana bisa?” Willson bertanya-tanya.


Detik berikutnya, seketika Willson merinding karena sesuatu. Lalu tiba-tiba sebuah pedang panjang tepat di lehernya.


“Ternyata begitu... sekarang kualitas dari kemampuanku juga memiliki peningkatan juga.”


Suara di belakangnya terdengar seperti gadis yang tenang, yang sedang menganalisis dan mengantisipasi kondisi sekitar lalu membuat eksekusi di dalam rencananya itu.


“Siapa kau?” tanya Willson.


“Kenapa orang-orang selalu menanyakan identitas orang yang dicurigainya? Tentu saja aku adalah musuhmu.” kata gadis itu.


Suara dari gadis itu terdengar sangat familiar seperti suara dari Sirius.


“Kalau kau bergerak sedikit saja, aku akan segera memenggal kepalamu.” tapi sedikit demi sedikit, suara dari gadis itu menunjukkan kemarahannya.


Lalu mereka yang sedang bertarung melawan Sirius menyadari kehadiran gadis itu.


“Astia! Akhirnya kau datang.” teriak Lilac ketika membantu Lilia berdiri yang sedang terbatuk parah.


Pada akhirnya ketika serangan Sirius gagal terhadap Lilia, Annastasia dan Lilac segera membantu Lilia menjauh dari jangkauan Sirius. Lalu ketika Astia datang dan mengancam Willson, pergerakan Sirius terhenti.


Astia hanya sedikit tersenyum ketika menanggapi panggilan Lilac, sekarang dia akan fokus untuk membuat Willson menyerah.


“Sekarang kau menyerahlah. Aku tidak ingin mengotorkan tanganku hanya untuk membuatmu sadar letak dari kesalahanmu.”


“Apakah begitu—”


Willson dengan sengaja memprovokasi dengan gerakannya yang mengancam. Dalam sekejap kepala utuh melayang di udara, lalu jatuh di lantai dengan darah yang membanjiri sekitarnya.


“Sudah kubilang, bukan?” Astia mengayunkan pedangnya lalu pedang terciprat ke lantai disertai tubuh Willson yang tumbang.


Astia belum akan menyarungkan pedangnya kembali, tapi dia menatap Sirius dan berjalan ke arahnya.


“Baiklah, sekarang mari kita tangani peniru ini...” gumam Astia.


Namun sebelum itu...


“Ternyata begitu, aku tidak pernah menyangka bahwa kau sendiri yang datang... pahlawan.”


Astia menghentikan langkah kakinya, lalu dia menoleh ke belakang. Astia terkejut ketika melihat Willson masih berdiri terguh tanpa ada bekas luka sedikit pun. Padahal saat tadi Astia sudah memenggal kepalanya, dan itu sudah terkonfirmasi dari reaksi dari gadis-gadis lainnya ketika melihat momen itu.


Namun Astia tidak berpikir bahwa ini adalah ilusi, mungkin ada sesuatu yang lain di balik semuanya. Astia tidak terlalu mengerti tentang hal itu, tapi Astia masih bertanya-tanya kenapa idenitasnya diketahui?


“Kalau aku yang dulu mungkin aku sudah tergila-gila padamu karena kemunculanmu yang tiba-tiba di hari ini... tapi sekarang aku sudah mempunyai Sirius.” Tambah Willson.


Setelah kalimat Willson terhenti, dalam sekejap bayangan hitam dari titik buta menyerang Astia. Itu adalah kecepatan yang bahkan untuk Astia sendiri akan kesulitan.


“Mirip sekali.” gumam Astia ketika melihat musuh yang sedang berhadapan dengannya.


Tebasan horizontal dan vertikal terdapat pada laju serang yang dilesatkan oleh Astia. Ketika Astia berusaha membuat incaran terhadap leher Sirius tapi Sirius juga dapat menangkis serangan itu, seolah-olah dapat membaca pergerakan Astia seperti kecerdasan buatan.


Namun seperti sebaliknya, pergerakan Sirus juga dapat terbaca oleh Astia dengan gerakannya yang instan seolah Sirius sedang menari ketika melakukan serangan. Dalam hal ini Astia seperti melawan dirinya sendiri— di sebuah cermin yang tidak memiliki pembeda sama sekali selain faktor yang sangat berkebalikan.


“Konyol sekali...” gumam Astia, dia langsung mengaliri pedangnya dengan arus air yang berputar mengelilingi pedangnya dengan kecepatan super.


Astia dapat memotong pedang Sirius layaknya kertas, tapi dia tidak memilih itu. Astia menggunakan kecepatan maksimalnya ketika dia pergi ke arah titik buta Sirius. Sirius segera menyadari pergerakan Astia di dalam kecepatan itu, tapi itu adalah ilusi yang tercipta dari sebuah kecepatan berpindah tempat.


Hasilnya Astia kembali di posisi semula ketika Sirius sedang membalikkan tubuhnya ke arah yang sebaliknya. Ini adalah kesempatan untuk Astia melancarkan serangannya.


Astia segera menebasnya walaupun Sirius ingin menangkis serangan itu dengan pedang miliknya, tapi pedang panjangnya segera terpotong seperti kertas, dan berhasil menghindari area defensif milik Sirius, tapi...


Pedang Astia juga lenyap seketika selain gagang pedangnya. Itu terjadi tanpa Astia dapat menyadarinya.


“?!”


Astia cukup terkejut dalam hal ini, dia segera ditendang ke belakang oleh Sirius, tapi Astia cukup memblokirnya dengan kedua tangannya saja. Namun bukan hal itu permasalahannya... kalau Sirius adalah peniru maka seharusnya Sirius hanya memiliki kemampuan yang hanya dimiliki oleh Astia juga, tapi Astia tidak mengetahui kalau memang Sirius mempunyai kemampuan pelenyap seperti itu.


“Apa-apaan itu?” tanya Astia yang mundur ke belakang.


Lalu gadis-gadis lainnya pergi ke arah Astia untuk berkumpul. Di sisi lain mereka bertiga selain Astia sudah melihat momen yang seperti itu.


“Sepertinya itu memang kemampuan miliknya, kemampuan Lilia tadi pun juga ikut dilenyapkan olehnya.” Kata Annastasia.


“Ternyata begitu...” lalu Astia berlutut dan melihat kondisi Lilia, “Maaf aku terlambat, aku tidak menyangka musuh benar-benar datang dalam waktu dekat.”


“Tidak, itu tidak apa-apa, ini memang kesalahanku karena ceroboh dalam membuat rencana...” sesekali Lilia terbatuk lemah karena hal yang terjadi tadi.


Setelah mengonfirmasi hal tersebut, Astia menatap ke arah Sirius dan Willson. Mereka berdua tidak membuat pergerakan atau perintah langsung dari Willson kepada Sirius seperti tadi.


Meskipun begitu di sisi lain, protofon Astia bergetar dan mengeluarkan suara orang lain...


“Astia, kamu dimana? Ganti.” Itu adalah sambungan dari Yuuki.


“Bukankah aku sudah memberikan penunjuk jalan untuk Tuan Yuuki?” tanya Astia yang keheranan.


Dalam pernyataan tersebut, seperti Astia menduga bahwa Yuuki telah berhasil mengatasi halangan yang mereka hadapi sebelumnya.


“Memang benar, tapi tanda penunjukmu terputus, dan kami berakhir di sebuah jalan buntu. Aku khawatir yang memasang penunjuk ini bukanlah dirimu. Ganti.”


Kalau memang yang memberikan petunjuk yang sengaja salah itu adalah orang lain, maka mereka telah pergi ke tempat yang tidak diketahui.


“Bukankah Tuan Yuuki dapat melihat jejak serangan anak panah milik Lilac sebelum di sebuah persimpangan?” tanya Astia.


“Kami sudah mengkonfirmasi hal itu, tapi...”


“Kalau begitu petunjukku dan Tuan Yuuki tidak ada yang salah.”


“Hmm, baiklah aku akan memulai semuanya dari awal dan mencari masalahnya.” Ucap Yuuki


Namun sebelum Yuuki menutup sambungannya, ada satu hal yang hampir dilupakan oleh Astia.


“Tuan Yuuki... saat kami baru saja datang ke tempat yang sekarang kami masuki, ada sebuah getaran hebat yang terjadi di sekitar sini.” Kata Astia.


“Baiklah. Itu adalah informasi yang bagus.”


Mereka berdua menutup sambungannya dan fokus pada perhatiannya masing-masing.


Untuk saat ini Astia akan fokus pada Sirius yang terlihat akan menyerang. Astia berdiri dan membelakangi gadis lainnya.


“Sekarang aku yang akan mengambi alih dalam pertarungan kalian.” Kata Astia kepada mereka bertiga.


Setelah kalimat tersebut, dia tidak ada pilihan lain selain mengeluarkan senjata yang tersimpan di dalam tubuhnya. Astia mengangkat tangannya ke depan, listrik hitam mulai menjalar, menyelimuti tangannya. Dalam sekejap sebuah tombak merah kegelapan yang kokoh digenggam oleh Astia sendiri.


“Tidak mungkin, itu...!!” Willson sangat terkejut ketika melihat sebuah senjata yang digenggam oleh Astia saat ini.


Meskipun begitu, pada kenyataannya Astia sangat membenci hal ini. Ini seolah-olah Astia dapat melakukan apa saja hanya dengan kekuatan yang kuat yang bahkan Astia tidak memberikan kerja keras dalam hal itu. Dia hanya ingin meningkatkan kekuatan yang ada di dalam dirinya saja, bukan dari sesuatu yang lain meskipun itu juga kekuatan dirinya.


Namun pada akhirnya Astia akan menggunakan salah satu senjata dari implementasi dari kekuatan ‘pahlawan’ itu untuk mempertahankan diri dan rekannya. Dia tidak ada pilihan lain selain menggunakan senjata itu.


Seketika posisi kuda-kuda Astia berubah, tapi tidak ada perubahan hal lainnya seperti di masa lalu. Dia mempertahankan penampilan aslinya pada saat ini.


“Sirius! Bunuh pahlawan palsu itu!” teriak Willson kepada Sirius.


“Kenapa ucapannya tiba-tiba menolak kenyataan?” gumam Astia.


Ketika kalimat Willson berakhir, Sirius melesat dengan kecepatan yang tidak dilihat oleh gadis lainnya selain Astia sendiri. Kekuatan dan kecepatan yang hampir menyamai kemampuan pahlawan yang sesungguhnya.


“Aku tidak ingin mengungkapkannya, tapi... peniru tetaplah peniru.” Tambah Astia ketika dia membalas pergerakan Sirius.


つづく


Jangan lupa like, komen, dan klik favorit ya. Kalau ada typo mohon diperbaiki ya, terimakasih!