
(Special illustration for Yuuki Ryuuji, Astia, Natasha)
Sebuah hari yang cukup cerah hari yang menjelang siang. Di tanah lapang seluas mata memandang, ditambah rumput-rumput tipis dan pohon rindang yang menyejukkan mata. Namun, pemandangan itu ternoda seketika dengan keberadaan pasukan berarmor dan berkuda.
Pasukan kerajaan Fioresd yang berjumlah sepuluh ribu itu memakai perlengkapan lengkap dengan atribut tempur yang juga berkualitas. Pasukan mereka terdiri dari tujuh ribu pasukan infantri dan dua ribu pasukan artileri, sisa pasukan mereka adalah berbagai macam regu yang salah satunya adalah regu medis.
Meskipun begitu...
“Wahh~ aku tidak percaya kau dibelikan senjata itu oleh master, Elma!”
Seorang gadis berambut hijau mengatakan itu dengan kagum.
“Fufu— tentu saja! Aku telah melakukan banyak hal sebelumnya dari pertarungan itu. Karena itu aku berusaha memanfaatkan benda ini dengan baik!”
Gadis berambut putih, Elma, mengatakan itu dengan kebanggaannya yang luar biasa dan juga disertai cara bicaranya yang khas seperti laki-laki.
Ketika mendengar sebuah percakapan ini, antara gadis berambut hijau, Amarilis dan Elma, maka kami semua sudah berkumpul di satu tempat yang sama. Lalu, dengan adanya pasukan kerajaan ini, maka tugas kami sebagai pasukan khusus serta pasukan yang bertugas menjaga regu medis telah resmi diberlakukan.
“Huh~” aku menghela napas.
Setelah aku melakukan pertarungan yang intens waktu lalu melawan seorang Dark Knight bersama Elma, aku akan mencoba merilekskan tubuhku dan mendengar suara gadis-gadis ini seperti biasa.
Ini lebih mengarah pada pengobatan mental untuk diriku sendiri.
Aku juga melihat Astia yang menatap kosong pemandangan itu. Sementara aku merasakan kalau Astia sedang memikirkan sesuatu, aku duduk di atas rumput yang kering. Lalu aku melihat ke belakangku ketika gadis lainnya sedang mengobrol satu sama lain dengan senang.
Namun, aku tidak melihat kesenangan itu di wajah Astia.
Karena aku berada di dekatnya, aku yang menanyakannya...
“Ada masalah apa Astia?”
“Eh, Tuan Yuuki?” Astia terkejut, aku rasa dia benar-benar sedang melamun, “Sebenarnya tidak ada masalah untukku, tapi... Sebenarnya aku membuat satu masalah tadi...”
“Masalah?”
Aku tidak percaya kalau Astia sendiri membuat suatu masalah. Biasanya dia tidak seperti ini.
“Ya, khususnya ini adalah masalah untuk kita. Awalnya ketika kami telah menghabisi monster-monster itu, kami dijebak oleh para petualang lain. Mereka memeras kami dan melecehkan keseriusan kami, karena itu aku tidak bisa mengendalikan emosiku dan pada akhirnya aku membuka topengku dan mencekik salah satu petualang yang terkenal.” Kata Astia
Ini informasi yang baru untukku. Seharusnya dengan menyerang satu orang petualang tidak akan membuatmu diburu, tapi kali ini kasusnya adalah petualang kelas atas dan banyak saksi mata yang terlibat. Mungkin pada umumnya ini gawat, tapi menurutku itu tidak perlu dihiraukan.
“Tenang saja, Astia. Yang telah kamu lakukan setimpal dengan apa yang mereka lakukan pada kalian. Kalau mereka mengancammu di kemudian hari, aku akan langsung membantumu.”
Lagipula, para petualang itu tidak bisa apa-apa ketika menghadapi pasukan yang sudah diresmikan oleh kerajaan. Meskipun mereka tidak tahu, tapi biarlah saja semuanya terjadi.
“Bukan itu masalahnya.” Tambah Astia, “Masalahnya identitas kita sudah sangat dicurigai oleh pihak lain. Padahal prinsip kita adalah bekerja di balik layar. Kalau aku sendiri yang mengungkapkan identitasku, itu sama saja aku telah berkhianat.”
Ternyata itu yang dikhawatirkan Astia. Untuk memecahkan hal itu, aku ingin menanyakan satu hal.
“Apa kamu mengenal dengan petualang itu?”
“Y-ya, dia adalah pemimpin dari kelompok Pedang Tujuh Lautan serta pemimpin pasukan di titik timur, namanya Fay.” Kata Astia.
Ternyata dia orangnya. Aku sudah menduga dia adalah orang yang sama dengan orang yang menguping pembicaraan kami kemarin malam. Ternyata semua dugaanku benar.
Sejak Astia memberitahuku tentang seorang petualang yang mencurigai dirinya, dia memberitahuku ada seseorang yang berpotensi menyebabkan identitas kami sebenarnya terbongkar. Pada waktu itu Astia memberitahuku bahwa Fay adalah orangnya. Sejak saat itu aku mencurigainya.
Namun, nasi telah menjadi bubur.
Wajah Astia telah diketahui, kelompok ini telah dicap asing dan mencurigakan oleh para petualang. Namun, alasan itu tidak akan membuatku marah kepada Astia. Jalan yang harus ditempuh adalah memperbaiki itu atau mengambil pelajaran dari pengalaman itu.
“Apa wajah gadis lainnya diketahui?”
“Tidak ada selain diriku sendiri.” Jawabnya.
Ini terbukti kalau topeng mata yang kurekomendasikan kepada para gadis ternyata efektif. Namun apa boleh buat, Astia sudah terluap emosinya dan membuka topengnya, itupun masih masuk akal dengan kondisi mental Astia yang seperti itu.
“Baiklah...” kataku, “Sekarang kamu jangan salahkan dirimu, dan lupakan hal itu. Yang harus kita lakukan adalah membuat ulang koordinasi lagi untuk menjaga pasukan belakang.”
“Baiklah... aku pikir itu akan menjadi masalah yang besar dan dimarahi olehmu, ternyata tidak.” Katanya ketika mengusap matanya, lalu tersenyum padaku.
“Huh~ malahan aku yang terlalu memanjakanmu.”
Di sisi lain, gadis bertelinga rubah datang kepadaku, Natasha sepertinya membawakan sesuatu informasi kepadaku.
“Master, Yang Mulia membawakan pesan kepada kita dari garis depan.”
“Apa itu?”
Pada awalnya aku yang meminta Natasha untuk menjadi perantara pesan antara diriku dan Raja Azaka. Pada awalnya aku juga terkejut ketika mendengar Raja Azaka mengikuti penaklukan ini. Sekarang aku berpikir kalau Raja Azaka adalah tipe seorang raja yang ikut berpartisipasi di dalam medan perang. Dan itu adalah tindakan yang cukup berani.
Kemudian Natasha menjelaskannya, dan itu singkat, “Sebaiknya pasukan kita diharapkan untuk membaurkan diri dengan regu yang ada di barisan belakang. Dengan itu mereka akan mengenal kita lebih baik.”
“Baiklah, itu yang juga telah kupikirkan.”
Pasukan kami bernama ‘Tomoe’ yang berjumlah sembilan orang termasuk diriku. Yah meskipun hanya aku sendiri yang laki-laki, tapi aku yang menjadi koordinator dan mengambil alih komando terhadap pasukan ini.
“Panggil gadis lainnya juga.” Tambahku.
“Siap, master.”
Ketika semuanya telah berkumpul, diskusi ini dimulai.
“Sekarang kita semua akan menghadapi rintangan akhir kita yaitu menaklukan monster bencana itu. Untuk berjalannya penaklukan ini, yang harus kita lakukan sebagai pasukan khusus adalah menjaga pasukan barisan belakang. Di antaranya pasukan medis dan pasukan perbekalan.”
Yah meskipun aku yang mengajukan posisi ini kepada Raja Azaka pada awalnya. Aku hanya tidak ingin menanggung tanggung jawab yang besar, karena itu aku tidak mau di garis depan.
“Karena terdiri sekitar dua ratus orang yang harus kita jaga, aku akan membagi kalian lagi ke dalam beberapa kelompok. Tentu saja di setiap bagian pasti ada pasukan kerajaan yang akan membantu kalian.”
Karena tidak ada yang bingung oleh pernyataanku, aku akan membagi mereka di setiap pos yang akan mereka jaga.
“Yang pertama adalah Natasha dengan Annastasia, lalu Lilia dengan Lilac, Marrona dengan Amarilis, yang terakhir adalah Elma...”
“Eh?”
Mungkin Elma bingung kenapa hanya dirinya yang namanya disebutkan sendirian. Tapi aku telah membagi ini untuk pasukan medis yang lebih besar.
“Elma... Kau akan bersama denganku dan Astia.”
Gadis lainnya cukup terkejut ketika mendengar hal itu.
“Yes!” Elma mengepalkan tangannya, hanya dia yang senang ketika dia memegang sabit besarnya.
“Hanya karena beruntung untuk kedua kalinya membuatmu sombong, Cih!”
Yah, Lilia menunjukkan ekspresi keiriannya. Padahal semua tugas yang dihadapinya saat ini juga penting.
“Baiklah, terakhir yang akan kutekankan adalah... kalian harus mencoba sebaik mungkin untuk berbaur dan membantu regu medis di posisi kalian. Dengan begitu tidak akan ada kesalahpahaman yang terjadi.”
“““Dimengerti master!!””” semuanya serentak mengatakan itu.
Ketika diskusi kami selesai, sebuah suara terompet terdengar ke seluruh penjuru. Itu adalah tanda untuk penaklukannya akan dimulai.
Setelah itu seluruh pasukan bergerak dengan koordinasi masing-masing yang juga baik.
“Baiklah, kalau tidak ada pertanyaan. Mari kita ke posisi masing masing.”
Kemudian kami juga bergerak mengikuti pasukan yang berada di depan kita bersama pasukan baris belakang.
Sekarang aku bersama Astia dan Elma. Gadis lainnya juga tidak terlampau jauh jaraknya di antara kami. Aku bahkan bisa melihat Natasha dan Annastasia dari arah sini, dan itu dekat. Keenam gadis lainnya juga dapat kulihat, sehingga jarak diantara kami tidak terlalu signifikan, sehingga ketika salah satu di antara kami membutuhkan bantuan, kami bisa mendeteksi itu.
Inilah waktunya, menghadapi mimpi buruk yang menjadi sumber masalah untuk kehidupan manusia.
Penyerangan terhadap monster bencana— dimulai.
つづく
Kalau ada typo mohon dikoreksi ya, dan jangan lupa like komen dan klik favorit ya! Terimakasih!