
Kemudian, Natasha memegang dagunya untuk berpikir sejenak.
"Oh iya master, ngomong-ngomong bagaimana cara master menyadarkanku saat aku tidak sadar? Dan juga kenapa master tidak bisa mendengar suara-suara itu?"
"Yah, aku hanya menampar-nampar pipimu, dan hal lain juga." Ya tidak mungkin kalau aku mengatakan yang sebenarnya, lagipula... "Aku juga tidak mengerti kenapa aku tidak bisa mendengar suara-suara itu. Apa itu terdengar langsung ke otak?"
"Benar, aku bisa menahannya sampai saat ini berkatmu master. Kalau ini terjadi pada orang lain, mungkin dia akan gila."
"Aku tidak berbuat apa-apa...Yah mungkin aku punya sebuah pemikiran..." Kataku.
"Hmm?"
Aku juga tidak yakin ini benar atau hanya imajinasiku. Mungkin yang menyerang Natasha adalah mahluk astral.
"Apa kau tahu sebuah legenda yang mengatakan mahluk astral itu tercipta dari sebuah ketakutan seseorang?"
"Apa aku benar-benar diserang oleh mahluk astral?"
"Aku tidak tahu... Karena itulah suara-suara itu tidak masuk ke dalam pikiranku, karena aku menyangkal keberadaan mereka sejak awal."
Semenjak aku semakin bertambah umur dan memiliki banyak pengalaman serta pengetahuan, aku semakin menyangkal keberadaan gaib yang akan menyerangmu dan akal sehatmu. Aku memang tidak percaya mereka, selama itu bisa dijelaskan dengan akal sehat dan logika, aku akan terus menyangkal mereka meskipun mayoritas orang benar-benar mengatakan itu benar-benar keberadaan gaib.
"Ini salahku... Aku benar-benar menciptakan mereka. Itu sebabnya mereka hanya mengincarku karena aku sudah dikontrol oleh mereka." Natasha mulai menyalahkan dirinya sendiri.
Aku juga memikirkan apa yang dikatakan Natasha.
"Aku bisa pastikan itu bukan salahmu. Tapi tentang perkataanmu, itu mempunyai dua kemungkinan yaitu benar atau salah. Yang kupikirkan memang benar ada yang melakukan ini di balik ini semua."
"Itu..."
Sebelum Natasha melanjutkan perkataannya, sebuah suara terdengar.
(Apakah kalian berpikir ini sudah selesai?)
Apa ini, suaranya langsung masuk ke dalam ke otakku, tidak— salah! Suaranya berasal jauh dari dalam seluruh tanah sehingga itu seolah masuk ke dalam kepalaku.
Natasha melihat perubahan ekspresiku, "Apa master juga mendengarnya?"
"Ya, benar."
Setelah jawabanku, Natasha berhenti bergerak, tapi kesadarannya masih ada. Dia seperti mencoba fokus pada sesuatu.
"SIALAN KAU!!" Tiba-tiba Natasha berteriak dan marah. Aku tidak tahu apa yang benar-benar terjadi.
"Ada apa?" Tanyaku.
"Mereka— Suara itu terus menerus mengatakan kalau master akan mati..." Natasha menggigit bibir, dia marah sekaligus sedih karena itu.
Aku menggaruk kepalaku, "Tidak usah dipikirkan, itu hanya sebuah provokasi..."
"Aku tahu, tapi tetap saja..."
Natasha ingin melanjutkan perkataannya tapi sebuah getaran terjadi.
"Tanahnya bergertar...?!"
Natasha dalam kebingungan, tapi apakah ini gempa bumi atau bukan, tentu saja bukan. Seharusnya kalau ini gempa bumi, Natasha akan menyadarinya lebih awal.
Getaran itu membuat retakan di segala tempat. Kami menjauh dari itu, tapi...
"Apa itu?"
Lebih tepatnya, apa-apaan itu!
Sebuah mahluk raksasa keluar dari dalam tanah, tubuhnya menggeliat dengan banyak tanaman-tanaman merambat di seluruh tubuhnya. Kemudian dengan dramatis tubuhnya membentuk sebuah bentuk menyerupai golem
Jelas itu berbahaya, tingginya hampir mencapai 30 meter dan memiliki seluruh tanaman merambat padanya.
"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Natasha.
"Ya jelas lari lah!"
Kami kabur dari monster itu, menuju ke arah sungai yang tadi kita lewati berada.
(Apa kalian pikir bisa lari dariku?)
Suara itu kembali masuk ke kepalaku. Natasha juga pasti mendengarnya.
Setelah suara itu, Aku mendengar sebuah retakan di belakangku. Monster itu memegang sebuah pohon, dia tarik dan melemparkannya ke arah kami.
"Kau gila?!" Natasha panik
Aku tidak melihatnya lagi, tapi pohon-pohon berjatuhan di depan kami, menghalangi jalan dengan tumpukan pohon. Itu berbahaya sekali.
"Mengganggu sekali."
Kami memutari tumpukan pohon itu dan terus fokus berlari. Natasha melihat ke belakang untuk memastikan.
"Monster itu... menghilang?"
"Jangan leng—!!"
Tiba-tiba tepat di bawahku, monster itu keluar. Kami terpental ke udara sampai aku bisa melihat hutan lebat dibawahku. Natasha juga berada di udara, tapi bedanya dia dalam keadaan yang lebih siap dan memegang pedangnya.
"SONICALLY AIR!!"
Udara berputar dengan tenkanan yang kuat, melibas pohon-pohon yang dilalui oleh anginnya. Tekanannya terlalu kuat hingga membuat sebuah tornado, dan efeknya juga membuat Natasha terbang lebih menjauh ke langit saat aku sudah melakukan pendaratan.
Jauh di atas sana, Natasha masih melayang di udara, mungkin dia tidak menyangkanya hingga sampai seperti itu. Aku harus melakukan penyelamatan, kalau tidak Natasha akan terluka parah.
"Natasha!" Aku berteriak memanggilnya tapi sepertinya dia tidak mendengarku.
Monster itu...
Tubuhnya kembali pulih setelah diserang oleh serangan Natasha. Gila saja!! Bagaimana pemulihannya bisa secepat itu?!
"Cih!"
Aku ingin berusaha menangkap Natasha. Posisinya saat ini sedang jatuh dengan kepala di bawah, itu artinya dia tidak sadarkan diri...?
Menggunakan kecepatanku, pohon demi pohon kunaiki untuk menggapai Natasha. Tapi, sesuatu terjadi...
(Satu pengganggu sudah diatasi, hanya tersisa manusia lemah.)
Di saat itu juga akar-akar besar keluar dari tanah, menjulang tinggi ke langit... Menuju ke arah Natasha.
Dengan kecepatan maksimalku, aku mempercepat langkahku... Melompat dari atas batang pohon, berhasil menggapai Natasha dan menggendongnya tanpa hitungan detik.
Begitulah, hanya dengan berpikir, aku bisa menggunakan kemampuan pasifku. Huh~ kupikir kebetulan, ternyata usaha kerasku di dunia ini tidak sia-sia.
Aku mendarat dengan sempurna. Melihat Natasha yang pingsan, aku taruh dia bersender di pohon. Pada akirnya aku mengatasi ini sendirian dan tidak ada bantuan...
(Meskipun diriku gagal menghabisinya, tapi dia sudah dalam dunia mimpi yang tak berakhir. Dia tidak akan bangun dalam mimpi abadi itu. )
Ternyata dia semua penyebab semua ini...
(Kenapa, kau frustasi? Kukukuku!! Manusia lemah dan aneh... Aku tidak tahu kenapa kau tidak terpengaruh dalam ilusiku, tapi itu tetap tidak akan terhindar dari takdir kematianmu.)
"Perbuatanmu juga yang selama ini membuat Natasha seperti itu..." Gumamku.
Aku menghunus perlahan pedangku. Hanya pergerakan mulus tanpa amarah. Suara itu kembali muncul.
(Fwahahaha! Daripada kabur, kau malah ingin melawanku?!! Sadari posisimu MANUSIA!)
Akar-akar keluar dari dalam tanah, menyerangku dengan kecepatan super.
Aku masih diam, memegang pedangku dengan kokoh tanpa bergerak sama sekali. Baiklah, mari ulangi momen saat itu.
Aku pernah menyegel sebuah kemampuan yang bernama 'Petapa Agung'. Kemampuan itu memang berguna, tapi aku lebih memilih menggunakan kemampuan berpikirku sendiri dan aku tidak menyesal karena itu.
Dragon Fist juga salah satu kemampuanku yang lain, tapi itu lebih berguna untuk melawan manusia, tapi yang dihadapanku ini adalah monster yang ukurannnya melebihi pohon-pohon tinggi.
Tersisa kemampuan elemen apiku dan hal lain yang cukup berefek pada monster ini. Kemampuanku bisa dihitung oleh jari, tapi selama aku menggunakan pikiranku dengan jernih, aku akan terus mengulur waktu.
Kembali ke momen ini. Akar-akar itu menyerang ke arahku dengan cepat.
Di saat itulah, aku mengangkat pedangku... Dengan instan pedangku berkobar api yang membara...
Tebasan-tebasan kulancarkan dengan tenang, menebas seluruh akar-akar itu dengan mudah tanpa memberikan kesempatan akarnya melewatiku.
"Aku selalu melihat posisiku berada... Manusia lemah? Memang benar... Tapi apa kau berhak meremehkannya?"
Setelah perkataanku, akar-akar besar keluar dari tanah menyerangku, membuat kondisi permukaan tanahnya rusak parah.
Aku meniru kuda-kuda Natasha. Menarik pedangku dan membuat serangan besar...
"INFER—"
Saat aku ingin berteriak, tepat di bawahku sebuah akar besar mecoba melukaiku.
"Cih!"
Aku menghindar dengan gerakan minimal, tapi triknya itu mengganggu.
Kemudian akar itu keluar, mengarah ke arah Natasha. Tentu saja aku tidak melupakannya... Kecepatanku meraih Natasha dengan mudah meskipun akar-akar itu tetap mengganggu.
Nah sekarang, aku tidak bisa menyerang. Kedua tanganku sedang penuh karena menggendong Natasha, dan akar-akar ini menyerangku tanpa henti.
Hanya menghindar, melompat ke sana kemari dalam waktu yang cukup melelahkan.
(Kenapa tidak kau biarkan saja Demi-Human itu... Bukankah itu mengganggumu, manusia?)
Suara itu muncul ketika serangannya tetap berlangsung intens. Tempat ini sudah rusak tak terkendali gara-gara monster itu.
"Huh, kenapa kau pikir ini menggangguku? Aku bisa melakukan ini di sini sampai malam!"
(Ho~ Bagaimana dengan ini...)
Serangannya berhenti ketika angin berhembus...
Aku mendengar suara derakan di sekitarku. Pohon, kayu, ranting membuat suara itu di sekelilingku.
"Jangan-jangan!!"
Dugaanku benar. Seluruh bagian dari hutan ini bergerak, menyerangku dengan membabi-buta... Monster itu menyerang menggunakan seluruh bagian dari hutan ini.
Hanya butuh satu detik untuk monster itu menghabisiku, menyerang dari segala arah.
Sebelum itu terjadi...
"Huh~"
Sepertinya aku biarkan saja hutan ini...
Aku melebarkan mataku. Kobaran api meledak mengeliliku tanpa kontrol. Konsepnya seperti kemampuanku tadi saat aku membakar serbuk bunga, tapi saat ini aku tidak peduli dengan keadaan sekitar.
Aku membakar semuanya tanpa sisa, membiarkan kemampuan apiku mengamuk sesukanya. Meskipun aku masih menggendong Natasha, apiku terus membakar materi-materi dalam radius ratusan meter. Hanya tempatku berpijak yang tidak kubakar.
Baiklah, oksigen sudah menipis di sini. Aku segera menghentikan kemampuanku.
Karena seluruh api yang di sini adalah milikku jadi kebakaran tidak menyebar lebih luas lagi. Hanya ada hutan yang menjadi gosong dan habis di sini.
"M-master?"
Natasha bangun, kembali terkejut.
"Untungnya kau bangun." Kataku.
"Ke-kenapa... Apa master menangkapku jatuh? Tidak, apa kita kembali ke hutan bekas kebarakan tadi?"
"Sepertinya pikiranmu masih kacau... Tidak, kita masih di tempat yang sama. Ada sesuatu karena ini semua terjadi, dan selama itu terjadi kau tidak sadar."
"Hee! Sudah berapa lama aku tidak sadar?" Tanya Natasha yang menekan ekspresi terkejutnya.
"Yah mungkin sekitar satu jam..."
"Selama itu?" Sepertinya wajahnya menampilan rasa bersalah dan malu, tapi dia tetap menahannya.
"Ya..."
Aku menurunkanya dari gendonganku karena Natasha sudah bangun.
Sepertinya saat monster itu terbakar oleh kemampuanku, pengaruhnya dalam ilusi akan menghilang, itulah sebabnya Natasha bangun dari pingsan.
つづく
Jangan lupa like, komen, dan klik favorit ya untuk membuat author semangat terus!