I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II

I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II
Chapter 6.4



****


Di sebuah Ibukota Kerajaan Fioresd, yaitu Florend. Astia dan Lilia sedang membeli bahan-bahan yang telah ditulis oleh Yuuki dalam secarik kertas


Tampaknya Astia sudah sangat akrab dengan suasana ibukota, tidak seperti kota atau desa lain, di sini memang menghangatkan hatinya. Meski kejahatan dan kriminalitas jarang terjadi, tapi sebagai perempuan dia tetap menjaga dirinya dengan baik. Bukan berarti kota ini tidak aman, malahan ia menganggapnya ini adalah tempat teraman dan ternyaman yang pernah ditinggalinya.


Lilia yang juga pernah merasakan suasana dari kota ini berpikiran sama dengan Astia, meskipun dia sering bermalam di hutan. Ketika ia melihat ras lain seperti demi-human, dia merasa lega meski ada perbedaan yang mencolok menurutnya dalam hal kesetaraan. Yah itu tidak membuatnya lengah membiarkan identitasnya diperlihatkan begitu saja.


"Ah Nona Astia, kau sedang jalan-jalan ya? Ah ya kami masih memiliki daging dan ikan yang masih segar!"


Ketika penjual aneka daging memanggil Astia, Astia menoleh dan memberikan senyuman hangat.


"Ah ya benar juga ya paman, kukira aku terlambat karena sudah kesiangan. Baiklah aku memesan dengan porsi seperti biasanya ya."


"Siap!"


Ketika penjual daging sedang menyiapkan pesanannya, mereka mengobrol hal sederhana.


"Ngomong-ngomong temanmu ini pemalu ya, dari tadi dia diam saja dan menutupi wajahnya, aku jadi penasaran. Oh iya bagaimana kabar pacarmu, tadi pagi dia datang ke sini dan membeli beberapa daging, dan sekarang dia dimana? Biasanya dia bersamamu."


'Pacar' itulah yang digumamkan Lilia yang tidak didengar oleh siapapun.


"Ah paman, kan sudah kubilang aku tidak memiliki hubungan seperti itu. Tuan Yuuki sedang beristirahat di rumah dan bermalas-malasan seperti biasa."


"Ah begitukah? Maaf ini pesananmu."


"Terima kasih. Oh iya aku ingin tanya, apa keadaan kota ini baik-baik saja, atau apa paman mendengar rumor yang tidak mengenakkan telinga?"


Penjual daging sedang mengingat-ingat sesuatu, tapi dilihat dari reaksinya sepertinya tidak ada yang mencurigakan.


"Aku tidak tahu seperti apa yang nona Astia maksudkan, tapi aku tidak tahu hal itu. Kota ini juga sepertinya baik seperti biasa."


Seperti dugaan Astia, kalau penjual daging berkata seperti itu, maka informasi tentang misi pembasmian monster tingkat bencana tidak terdengar sampai kepada warga biasa. Itu kemungkinan para bawahan raja sudah bertindak untuk mencegah hal ini terjadi.


"Begitu ya. Baiklah terima kasih. Oh iya sepertinya pesananku kebanyakan."


"Tentang itu tenang saja, itu bonus dariku."


"Ooh itu sangat membantu. Terima kasih kembali paman!"


"Ya sama-sama."


Astia dan Lilia pergi dari tempat penjual daging, lalu ke tempat lainnya. Mereka membeli bahan-bahan lainnya seperti bahan pelengkap dan sebagainya. Sebagai gantinya Astia kembali mendapatkan bonus karena dia sepertinya cukup akrab dengan penjual lainnya.


"Astia, sepertinya kau cukup populer ya. Mereka semua seolah-olah dapat mengenalmu hanya karena kau membeli barang dari toko mereka."


Astia hanya tersenyum tipis karena ocehan Lilia.


"Ahaha itu tidak benar. Kalau gadis cantik sepertimu melakukan hal seperti melakukan pembicaraan sederhana dengan tersenyum, mereka pasti akan melakukan hal yang sama."


"Apa itu juga bentuk dari penyamaranmu?"


"Mana mungkin, aku melakukan itu dengan senang hati."


"Oke sekarang aku mengerti tentang sifatmu. Sekarang kita akan kemana lagi, bukannya setelah membeli bahan makanan kita akan langsung pulang?"


"Benar juga ya, tapi..." Astia mengambil kembali kertas yang diberikan Yuuki, dan melihatnya. "Tapi ada hal yang harus kukerjakan, kalau kau mau puluang, silahkan duluan."


Lilia penasaran dengan itu, tapi dia tetap memutuskan untuk bersama Astia.


"Tidak, aku lebih tertarik bersamamu."


Meskipun Astia tidak dapat melihat ekspresi Lilia saat ini, tapi saat ini dia sedang tersenyum.


Mengharapkan kalau asisten dari masternya bisa semanis ini, wajar Lilia menganggap Astia adalah wanita yang pantas berada di sisi Yuuki. Tapi harga dirinya tidak selemah itu, dia mengharapkan hal yang sama, diakui dan dihargai adalah tujuan yang layak digapai baginya.


Membayangkan di masa depan kalau dia akan menjadi ajudan terpercaya setara dengan Astia, bagi Lilia itu adalah hal yang sangat mendebarkan.


"Lilia, apa yang sedang kau pikirkan?"


"Tidak, tidak ada. Maaf aku melamun."


"Ini tempatnya."


"Apa ini?"


Setelah melewati banyak pertokoan, mereka sampai di sebuah toko yang cukup besar, dibalut dengan kaca yang cukup ramai mengelilingi tempat itu. Boneka anyaman manekin berjejer dengan menampilkan busana yang indah yang diperuntukkan untuk menarik pembeli.


Suasana tempat itu juga cukup ramai, itu membuat mereka berdua cukup ragu memasuki tempat itu, karena ini adalah toko yang menampung lautan pakaian yang tersusun rapih. Tentu saja orang-orang, khususnya para wanita pasti tertarik dengan ini.


Tapi bagi Astia, tempat ini adalah tempat yang tidak baik, pemborosan uang pasti akan terjadi. Karena keadaan ekonomi yang dialami mereka, sungguh neraka duniawi terlihat di matanya.


"Aku sebenarnya tidak ingin ke tempat ini. Ngomong-ngomong ini adalah toko yang menjual berbagai pakaian, dari pakaian resmi hingga pakaian petualang dijual di tempat ini."


"Lalu kenapa kau tidak terlihat baik dengan tempat ini?"


Lilia mengira kalau Astia memucat dalam sekejap, dia seperti tidak menakuti tempat yang dipandangnya tapi Astia terlihat tidak nyaman.


"Apa ekspresiku sejelas itu ya?"


"Tidak juga." Lilia berbohong.


"Alasannya memang sederhana, barang-barang yang ada di sini cukup mahal. Kalau kau membeli satu atau dua pasang baju, itu bisa mencukupi kehidupanmu selama sebulan."


Sekarang Lilia merasakan hal yang sama dengan Astia.


"Itu berbahaya."


"Benar kan! Memang produk-produk mereka itu sangat menggiurkan, tapi kalau membeli barang yang tidak sesuai kebutuhan, itu cukup tidak menguntungkan."


Lilia baru pertama kali melihat hal ini. Dunia manusia memang menyeramkan, tapi ketika mereka melihat barang-barang yang dibuat oleh manusia, itu lebih menakutkan lagi.


"Lalu buat apa kita ke sini, bukankah ke tempat yang seperti ini adalah hal yang menakutkan?"


Astia penasaran dengan maksud Lilia, tapi sepertinya dia salah paham.


"Buat apa katamu? Ya tentu saja beli seragam untuk kalian."


"Eeh! Kau yakin? Pertama-tama aku sangat berterima kasih tapi... Ehh untuk kami bertujuh? Apa keuangan kita sebesar itu ya?"


Lilia terkejut beberapa kali, tapi dia juga salah paham beberapa kali, Astia hanya menutup mulut dan tertawa dibaliknya.


"Mana mungkin keadaan kita seperti itu, kalau kita mempunyai uang sebanyak itu, bukankah lebih baik untuk membeli hal menyenangkan lainnya?"


"Lalu dari mana asalnya?"


"Ini tuh emm, karena kesepakatan yang diajukan olehku pada raja, jadi keuangan kami tidak bobrok untuk sementara."


"Jadi itulah kebenarannya? Uwahh hebatnya. Asisten master memang hebat!"


"Tidak perlu berlebihan memujiku kok, aku saat itu hanya mengatakan hal yang tidak ingin Tuan Yuuki katakan. Baiklah ayo masuk."


"Aku sedikit ragu tentang itu."


Kemudian mereka berdua masuk ke toko, mereka sebentar melihat pakaian yang ada di sana, seperti dugaannya, mereka hanya bisa mengatakan "Mahal!" seperti tercekik sesuatu. Tapi bukan itu tujuan sebenarnya, Astia pergi ke pelayan toko dan mengatakan kalau ia ingin memesan seragam.


Astia diantar ke meja resepsionis, pelayan itu meminta Astia untuk menunggu dan memberikan sebuah kertas yang berisi beberapa opsi.


"Apa ini?" Kata Lilia dengan penasaran.


"Aku juga baru pertama kali melakukan ini, aku tidak yakin tapi aku rasa kita harus menulis tentang berapa pakaian yang dibutuhkan, ukuran, bahannya, dan juga modelnya seperti apa. Apakah begitu?"


"Oke." Astia mulai menulis.


Astia juga sudah diberi prosedur yang diperlukan oleh Yuuki, jadi dia tidak mengalami kesulitan tentang penulisannya. Tapi ada beberapa hal yang dia rasa harus Astia diskusikan dengan para gadis, jadi dia kesulitan dengan itu.


"Kenapa kau berhenti menulis Astia?"


"Aku bingung dengan ukurannya pakaiannya."


"Bukankah proporsi tubuh para gadis hampir semuanya sama? Jadi tulis saja sama dengan ukuran tubuhmu."


Astia mungkin dapat mengurus hal itu, tapi ada hal lain yang menjanggalnya.


"Aku mengerti tentang saranmu. Seperti tentang ukuran bagian perut Annastasia yang langsing, bagian panggul para gadis, dan bagian khusus yang dimiliki Natasha dan Marrona, semua itu aku bisa memperkirakannya. Tapi..."


Sebelum pergi ke kota, Astia telah melakukan beberapa pengamatan kecil kepada para gadis dengan sekali lihat, dia memang terlihat cerdas dalam hal itu. Tapi ketika membicarakan bagian tubuh lainnya dia tidak bisa asal tulis.


"Bagian daerah dada maksudmu?"


"Iya. Aku tidak ingin para gadis lainnya merasa sesak di daerah dada atau daerah tertentu merasa longgar ketika mereka memakainya." Astia hanya mengangguk lembut.


"Ah begitu ya... Kalau begitu tenang saja, serahkan padaku!"


"Apa kau yakin Lilia?"


Lilia hanya tersenyum tipis "Tenang saja, aku selalu mengawasi para gadis, bukankah itu juga termasuk tugas dari pemimpin para gadis?"


"Uwah itu mengagumkan." Astia sedikit terkejut dengan ketekunan Lilia. Setidaknya dia dapat menyerahkan ini padanya.


"Yosh!" Lilia menekan ujung pena tintanya, menunjukan kalau dia selesai dalam menulisnya. Kemudian dia memberikannya pada Astia.


"Apa kau yakin dengan ini Lilia?"


"Tentu saja."


"Heh." Astia menaikan sudut bibirnya, dan tertawa sedikit.


Sebelumnya Astia bertanya dengan ragu, tapi ketika sudah dikonfirmasi oleh Lilia, Astia menampilkan senyuman kemenangan. Dia sudah menyadari angka-angka yang tertulis di lembar kertas itu. Meskipun ada angka yang hampir menyentuh dengan miliknya, tapi saat ini Astia merasakan kalau tidak ada yang bisa mengalahkannya.


"Apa yang kau tertawakan?"


"Ah, tidak ada." Sedikit cermat dalam menyembunyikan reaksinya, tapi itu terlalu mencurigakan.


"Aku sedikit melihat tentang ukuranmu, tapi aku tidak terlalu yakin. Apa itu tentang da—"


"AH!" Dengan cepat Astia langsung membungkam mulut Lilia, dia tahu kata-kata selanjutnya akan menjadi masalah yang rumit, hanya ada kecemburuan.


Astia memberikan lembar kertasnya, pelayan toko memeriksanya. Kemudian dia mengatakan kalau ini pesanan dengan model yang cukup unik, Astia hanya mengangguk... Setelah melakukan pembayaran singkat, mereka berdua pergi dari tempat itu.


****


Sore hari, di sebuah tempat yang cukup nyaman sambil menatap air mancur kota ditemani angin lembut, Astia dan Lilia sedang memakan roti gandum dengan santai.


"Astia, apa kau sering duduk di tempat ini?"


"Iya, rasanya nyaman bukan?"


"Pantas saja aku sedikit mengantuk."


Setelah menyelesaikan tugas mereka, Astia dan Lilia beristirahat dengan membeli cemilan sebelum mereka pulang. Mereka membuat kesan kalau suasana ini adalah termasuk keindahan dunia.


"Astia, kau tahu kan kalau aku diusir dari desaku?" Tiba-tiba Lilia membuat suara suram.


"Iya, tapi kenapa tiba-tiba?"


Lilia pernah menyinggung topik ini ketika bersama para gadis, Astia juga mendengarnya. Tapi tentang detailnya dia tidak pernah mengungkapkannya, karena pada saat itu mereka hampir mempunyai nasib yang sama.


"Waktu itu orang tuaku menginggal karena perbuatan manusia, karena itu aku harus mencukupi kehidupanku dengan kekuatanku seorang diri. Kemudian aku dikirim ke sebuah pelatihan besar bangsa elf, awalnya pelatihan itu cukup berjalan lancar tapi ketika aku menghadiri sebuah tes yang cukup sulit, aku gagal."


"...."


"Kupikir kegagalan itu adalah hal yang biasa, tapi itu tidak diterima oleh rasku sendiri. Artinya dalam pelatihan itu, hanya aku yang gagal.


Astia menyadari penolakan dalam hatinya, jadinya dia mengungkapkannya.


"Kenapa? Bukannya kau bisa membuat protes keberatan tentang sistem itu?"


Lilia menatap ke air mancur dengan lemah sambil mengatakan, "Aku bukan orang yang sekuat itu. Ketika kau gagal maka tidak ada dana bantuan yang akan disalurkan padamu lagi, itulah yang mereka katakan padaku."


Lilia mendapatkan pelatihan itu karena dia harus menjadi kuat dan mendapatkan uang darinya melalui jalur khusus yang diberikan, tapi dengan syarat kegagalan dalam pelatihan tidak dapat diterima.


Padahal Lilia sudah berusaha keras untuk melewatinya, tapi dibalik semua itu ada beberapa orang dari rasnya yang berbuat kecurangan, hasilnya Lilia mendapatkan kegagalan dalam tes. Di setiap ras, orang seperti itu pasti ada.


"Aku sudah sekuat tenaga untuk membela diri, tapi tidak ada yang mempercayaiku. Apa inilah arti dari orang lemah akan menjadi sasaran empuk dari orang licik?"


"Aku tidak terlalu yakin, tapi aku yakin kalau kau itu tidak lemah."


Lilia mengerti kalau Astia ingin menyemangatinya.


"Hanya untuk saat ini aku begitu. Tapi ketika aku kembali ke desaku, mereka tidak membutuhkanku karena aku adalah aib dari ras mereka. 'Menyia-nyiakan pelatihan besar itu adalah sebuah rasa tidak bersyukur atas kesempatan yang telah diberikan' Kata mereka."


"...."


"Aku tidak ingin membebani mereka lagi dengan memutuskan pergi. Mereka juga tidak menginginkanku berada di desanya karena mereka menganggapku aib. Membungkuk dan memberikan senyuman adalah hal yang harus kulakukan sebagai rasa terima kasihku atas dukungan mereka, meski aku tidak ingin mereka tahu betapa hancurnya diriku."


Mengingat memori menyakitkan itu Lilia hanya bisa meneteskan air mata. Melihat kuburan orang tuanya di depan matanya, mengurus kehidupannya seorang diri tanpa ada yang membantu, mendapatkan perlakuan curang dari bangsa serasnya sendiri, dan diusir dari kampung halamannya sendiri— Membalas perlakuan dari orang menjijikan kepada dirinya dengan sebuah senyuman ramah— bukankah itu sudah keterlaluan?


"Tapi aku berterima kasih dengan mereka..." Lilia mengusap air matanya, "Karena mereka, aku bisa melakukan perjalanan panjang, mendapatkan pengalaman yang berharga, dan akhirnya bertemu kalian semua."


"Itulah yang membuatmu mengatakan mendedikasikan hidupmu untuk Tuan Yuuki?"


"Betul sekali! Kalau aku tidak bertemu master di arena itu... entah aku akan pergi kemana, tanpa tujuan apapun."


Astia menyadari tentang perkataan Lilia barusan, mereka, para gadis tidak asal melamar pekerjaan kepada Yuuki hanya karena sebuah kebetulan atau hanya karena iseng. Pertemuan mereka telah direncanakan. Di waktu yang sama, di tempat yang sama, dan dalam situasi yang sama, para gadis termasuk Astia mengagumi orang yang sama. Hanya masalah waktu untuk mempertemukan mereka.


Astia menyebut ini dengan – takdir.


"Aku sangat senang bersamamu hari ini dan menceritakan tentang masa lalumu, tapi kenapa harus aku?"


"Hmm, bukankah sudah jelas?" Kata Lilia yang masih basah matanya, "Kau adalah teman pertamaku!"


Disebut dengan 'teman pertama' Astia merasa dirinya spesial, dia sangat emosional dan senang karena itu. Hanya menahan air matanya agar tidak jatuh, Astia memeluk Lilia tanpa disadari, sehingga tudung yang menutupi kepala Lilia terlepas.


"Eh Astia, kau tidak apa-apa?" Tapi saat ini Lilia membiarkan itu.


"Biarkan aku seperti ini. A-aku sangat bersyukur Tuan Yuuki menerima kalian. Aku akan menjaga perasaan ini baik-baik, jadi mohon kerja samanya ya..."


"Oh oke oke, aku paham, jadi lepaskan."


"Ah maaf."


"Baiklah ayo kita pulang. Aku yakin para gadis sedang membuat rencana yang tidak kita ketahui untuk master."


"Benar juga, ayo."


Keduanya pulang dengan perasaaan senang, keadaan langit yang menguning juga membuat mereka nyaman dengan angin sejuk yang berhembus.


つづく


Jangan lupa like, komen, dan klik favoritnya ya!