
Dinding-dinding beton dan logam terus dilalui, ruangan-ruangan kosong tak berpenghuni— hanya terdapat barang-barang yang berantakan terus mereka lihat. Meskipun mereka berempat merasakan keanehan yang nyata seperti ini, tapi mereka terus berlari melanjutkan tujuan mereka hingga menemui sebuah tempat yang sangat besar.
Saat meninggalkan rekan mereka di belakang, mereka telah percaya kepada keputusan dari pemimpin mereka— Yuuki. Mempercayakan pertarungan yang dapat menghambat tujuan mereka kepadanya, itu adalah hal yang patut dihargai meskipun hal itu di luar dari rencana mereka.
Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk pergi lebih dulu agar mempersingkat waktu. Meskipun begitu, Astia berharap kalau sebuah rencana yang dilakukan oleh organisasi mereka belum berhasil.
“Dimana ini?” tanya Lilia
Setelah beberapa menit mereka berlari dan meninggalkan dari posisi Yuuki berada, langkah mereka terhentikan oleh tempat yang sangat besar, dipenuhi oleh tabung-tabung kaca yang terlihat seolah-olah bersinar dari dalamnya. Tabung kaca yang besar itu sangat banyak hingga tak terhitung oleh jangkauan mereka.
“Ini bahkan lebih besar daripada ruangan yang kita jumpai tadi.” Kata Annastasia yang mencoba memahami kondisi sekitar.
Topeng mata selalu mereka kenakan ketika menjalani tugas, oleh karena itu meskipun ada yang mencoba menguntit mereka ataupun ingin mengungkapkan identitas mereka, setidaknya wajah asli mereka tidak akan diketahui.
Jadi untuk memahami kondisi di sekitar mereka lebih jauh, Astia memutuskan sesuatu saat ini.
“Aku akan memeriksa sesuatu di sekitar sini, jadi kalian pertahankan posisi kalian di sini.”
“Astia? Apa yang kau bicarakan? Kita tidak boleh berpencar di saat yang seperti ini.” sanggah Lilia yang keheranan.
“Memang begitu seharusnya, tapi ada yang menjanggal pikiranku... tenang saja aku tidak akan jauh dari kalian—” lalu Astia mengambil protofon miliknya, “Tenang saja, kita akan tetap terhubung.”
“Baiklah...” jawab Annastasia, “Tapi aku akan mencoba ini.”
Annastasia mengambil protofon miliknya dan mencoba menggunakannya, lalu dia menyambungkan untuk menghubungi Astia.
“Tes... Astia, apa kau mendengar ini? Ganti.” ucap Annastasia melalui protofon.
“Ya, memang begitu cara penggunaannya.” Jawab Astia.
“Semoga tidak ada masalah nanti pada sambungannya.” tambah Annastasia.
Setelah memeriksa kualitas dan cara penggunaan pada alat komunikasi itu, Annastasia membiarkan Astia untuk pergi. Meskipun Lilia pada awalnya menolak keputusan itu, tapi saat ini dia akan memakluminya.
“Baiklah, aku pergi.” kata Astia sebelum dia benar-benar pergi, gadis lainnya menjawab itu dengan mengangguk.
Setelah melihat Astia pergi, Lilia membuka sebuah pertanyaan ketika dia melihat tabung-tabung kaca itu.
“Jadi, apa yang harus kita lakukan?” tanya Lilia.
“Ayo coba lihat-lihat tabung kaca itu... aku penasaran.” Kata Lilac.
Mereka bertiga sepakat untuk melakukan hal yang diajukan Lilac. Lalu mereka melangkahkan kakinya untuk melihat-lihat apa yang ada di balik tabung-tabung kaca tersebut.
Seperti yang Lilia duga saat ini. Tadinya dia merasa kalau yang ada di dalam tabung tersebut kosong meskipun ada air di dalamnya, dan terlihat masih berfungsi— tapi ketika dia melihatnya lebih dekat, ternyata benar-benar kosong.
“Tabung kaca sebanyak ini, kenapa semuanya kosong?” tanya Lilia.
Ini berbeda daripada ruangan yang mereka datangi sebelumnya. Meskipun di ruangan sebelumnya terdapat pemandangan yang mengerikan tentang isi dari tabung kaca tersebut, tapi Lilia dapat mengidentifikasi bahwa yang ada di tabung kaca tadi adalah homonculus yang gagal.
Setelah beberapa saat, mereka dikejutkan dengan sebuah getaran di kaki mereka, seolah-olah ada sesuatu yang bergerak.
“Apa ini?!” Annastasia mencoba menahan rasa paniknya.
Tapi setelah beberapa detik, getaran itu pun menghilang.
Lilia langsung mengambil protofonnya dan memanggil Astia...
“Astia, apa kau merasakan hal yang barusan? Ganti.”
Menyadari getaran tersebut, Astia mengangkat panggilan dari Lilia, “Ya, aku juga merasakannya. Aku tidak tahu apakah itu, tapi sepertinya ada sesuatu yang terjadi.”
Setelah itu panggilan untuk Astia tertutup, Lilia mencoba memahami apa yang terjadi.
“Aku harap itu bukan berasal dari arah master.” Kata Lilac.
“Sepertinya itu tidak mungkin. Kemungkinan ini hanyalah gempa bumi, tapi sejenak aku merasa pusing tadi.”
“Bukankah kalau ada gempa bumi memang akan menyebabkan tubuh kita kehilangan keseimbangan?”
Sepertinya jawaban dari Lilia cukup menjawab kebingungan dari Annastasia.
“Tapi, meski begitu... aku khawatir dengan master dan yang lainnya.”
Kekhawatiran Lilac cukup beralasan, mereka berempat telah meninggalkan masternya dan gadis lainnya bersama dengan musuh yang dirasa berbahaya. Itu adalah pangalihan yang cukup efektif tadi, tapi kalau mereka bertemu seorang musuh seperti tadi, mereka tidak akan membuat pengalihat yang seperti tadi lagi.
“Ooh? Apakah benar begitu? Bukankah kau hanya tidak ingin jauh-jauh dari master?” Annastasia yang memulai ini.
Sekarang Lilac mendekati Annastasia, dan mengatakan, “Fu— sepertinya mulut comberanmu itu sudah mulai mirip seperti Elma kan, Anna?”
“Ap—?”
“Huh, setelah terus menerus bersamanya dan menjalankan misi bersamanya— tentu saja kepribadian Elma akan menular kepadamu.”
Setelah mendapatkan serangan mental dari Lilac seperti itu, meskipun Annastasia yang lebih dulu memulainya, dia bergumam, “Cih! ini sebabnya aku ingin membuat penolakan kepada master!”
“Su-sudahlah kalian... kalian tidak perlu ribut di—”
Ketika Lilia ingin meleraikan perkelahian emosi di antara Lilac dan Annastasia, dia menyadari bahwa ada sebuah hawa keberadaan yang sangat kuat dan membuat nafasnya menyempit.
Tidak hanya Lilia yang menyadarinya, tapi Lilac yang pertama kali menyadarinya— dia langsung menembakkan sebuah anak panah yang melesat sangat cepat tanpa aba-aba.
Ledakan yang memekakkan telinga berasal dari serangan anak panah Lilac yang eksplosif— menghancurkan banyak tabung kaca yang berada jauh di depannya.
Mereka bertiga langsung mengubah ke mode siaganya. Menyadari ancaman yang dipastikan sangat kuat ini, dan hawa pembunuh yang mereka bertiga rasakan, berada tepat di dekat mereka.
Ada sebuah bayangan gelap yang berasal dari asap ledakan itu. Sepertinya serangan dari Lilac tidak dapat menyentuh mereka, padahal itu sudah tepat sasaran.
“Jangan-jangan musuh yang seperti tadi...” bisik Annastasia.
“Aku harap ini tidak lebih berbahaya.” ucap Lilia ketika bersiap dan memegang kedua belatinya.
Setelah asap itu menghilang, bayangan hitam tadi yang terlihat, sekarang wujud asli dari bayangan itu nampak di mata mereka bertiga— dan terkejut ketika melihatnya.
“Bukankah dia...?”
“Astia?” sebuah nama yang mendeskripsikan seseorang yang sedang Lilia lihat saat ini.
“Tidak, sepertinya itu adalah orang lain.” Namun disadarkan oleh Annastasia.
Meskipun hampir tidak perbedaan dari bentuk tubuh, wajah atau porsi tubuhnya, tapi ada sebuah perbedaan yang mencolok yaitu panjang rambutnya dan pakaian yang dikenakannya.
Panjang dari rambut seseorang yang sangat mirip dengan Astia tersebut, hampir mencapai kaki. Pakaiannya cukup rapih dengan proporsi yang cukup berbeda daripada pakaian umum lainnya, tapi ekspresi wajahnya terlihat kosong dan disertai warna pucat kulitnya.
“Selamat datang di tempatku, wahai gadis-gadis cantik dari negeri asing. Perkenalkan namaku Willson, bos dari perusahaan ini. Sepertinya kalian sedang berekreasi ke laboratorium milik kami, ya? Tapi sayang sekali, sesuatu yang ingin kalian lihat sudah tidak ada di dunia ini.”
Perkenalan yang cukup eksentrik dengan postur tubuh sedikit membungkuk, yang dilakukan oleh Willson. Namun sebagai reaksi dari orang yang meihatnya, Lilia, Annastasia, dan Lilac cukup terhina atas hal tersebut.
“Tidak ada di dunia ini? Apa itu artinya mereka semua sudah mati?” tanya Lilia yang ingin memastikan.
“Ah, maafkan aku, sepertinya aku salah ngomong. Sebenarnya mereka semua hanyalah sebuah alat pengorbanan untuk Sirius tercintaku ini.” Ucap Willson dengan nada meremehkannya ketika dia mengelus dagu gadis yang disampingnya itu.
Yang Lilia maksud adalah homonculus yang seharusnya ditemukan berada di dala sebuah tabung kaca, tapi pria yang bernama Willson itu telah mengorbankannya untuk seseorang yang bernama ‘Sirius’ itu. Meskipun Lilia tidak mengerti mekanisme sebenarnya, tapi yang dia tahu bahwa itu sangat menyakitkan.
“Bagaimana bisa kau melakukan hal yang terlarang seperti itu?”
“Uh, terlarang? Fuhahahaha!!” Wilson tertawa terbahak-bahak karena pernyataan Lilia, “Tentu saja hal yang terlarang itu bisa dapat disingkirkan lebih dahulu, karena hal itu dapat digantikan dengan kebangkitan pahlawan— bukankah itu adalah pertukaran yang sangat menguntungkan?”
“Meskipun begitu, sepertinya motifmu itu sudah dari awal tidak benar. Membangkitkan pahlawan? Untuk apa? Perdamaian dunia? Atau untuk kepentingan egomu sendiri? Omong kosong.”
“Hey hey, gadis cantik, janganlah membuat kalimat yang menyakitkan seperti itu. Cobalah lihat Sirius-ku yang tercinta ini, sangat indah dan cantik bukan?” lalu Willson memegang dagu gadis itu dan menjilat pipinya.
Tidak perlu berlama-lama, Lilia langsung melesat, membuat terobosan dan ingin membunuh Willson itu dengan belatinya sendiri. Lilia membuat sayatan pisau dengan amarah yang luar biasa.
“Beraninya kau!!”
Tangan Lilia langsung bergetar sebelum belatinya mencapai ke tubuh Willson. Dia tidak menyadari bahwa serangannya dihalangi oleh gadis yang sangat mirip dengan Astia itu— yang bernama Sirius.
“As— tidak, kau...?”
Belati Lilia ditangkis oleh pedang yang terangkat oleh Sirius, terlihat tenang dan seolah tidak memiliki gangguan sama sekali meskipun diserang oleh kecepatan penuh Lilia.
Setelah satu detik mereka berdua bertatapan, Lilia menyadari bahwa kemiripan itu hampir sempurna atau bisa dikatakan memang sempurna. Lilia langsung melompat ke belakang untuk membuat jarak.
“Aku hampir berpikir kalau dia benar-benar Astia.” gumam Lilia.
“Tenanglah Lilia, aku juga berpikir begitu, tapi...”
“Sepertinya perkataan dari Astia memang benar kalau akan ada orang yang sangat mirip dengannya.”
Setelah menyadari keanehan itu, seharusnya mereka bertiga memutuskan untuk melarikan diri dari tempat itu untuk menghindar dari pertarungan, tapi...
“Bukankah kemapuan berpedang Sirius-ku sangat berkompeten?” kata Willson.
Lilia menggertakkan giginya ketika mendengar itu, tapi sekarang mereka benar-benar harus pergi dari tempat itu. Ada sebuah perbedaan besar tentang segi kekuatan mereka.
“Kalian pikir kalian bisa kabur? Tunggu sebentar, karena kalian sudah masuk ke tempat ini bukankah ada harga tiket masuk yang harus dibayar?”
“Apa yang kau bicarakan?”
“Kalau begitu, jadilah kelinci percobaan pertama kami.” Kemudian, Willson memanggilnya, “Sirius, habisi mereka.”
Tidak ada yang bisa bereaksi atas pergerakannya. Setelah mendapatkan perintah itu, dia langsung melesat dengan kecepatan yang di luar jangkauan mereka bertiga.
Lilia sedikit paling depan di antara mereka bertiga, itulah yang membuat dia diincar lebih dulu. Namun, Lilia sangat terlambat dalam bereaksi.
“Sial! Aku akan mati?!”
Dia melihat tatapan tajam dari Sirius, memegang pedang rampingnya dan segera menebas secara diagonal.
BOOM!!
Lilia terlempar ke kejauhan hingga ratusan meter, menabrak puluhan tabung kaca dan memecahkannya.
“Lilia!” Annastasia berteriak panik melihat Lilia terlempar ke kejauhan.
Namun serangannya tidak berhenti sampai situ.
“Anna! Awas!” teriak Lilac yang sudah menarik busurnya.
Annastasia secara langsung melihat tatapan dari Sirius, sangat mirip dengan Astia, tapi penuh dengan rasa ingin membunuh. Seketika Annastasia dilanda dalam ketakutan.
Hanya beberapa jengkal sebelum pedang Sirius mencapai leher Annastasia, tapi Annastasia melemparkan suatu benda sebelum Sirius melakukan sesuatu.
Annastasia langsung mengalihkan pandangannya, dan ledakan cahaya menusuk mata Sirius yang terbuka lebar. Untuk kali ini, tanpa sebuah kesengajaan mereka telah membuka ruang untuk membuat serangan.
Tanpa banyak berpikir, Lilac melesatkan anak panah yang terbiaskan oleh cahaya, meledak tepat pada sasaran dan menimbulkan debu asap yang tebal. Lilac berpikir bahwa serangan masifnya itu berhasil, tapi yang dia lihat di detik berikutnya adalah hal yang lain.
Sebuah penghalang tipis dan transparan menyelimuti Sirius.
“Mana mungkin dia juga bisa!” kata Lilac yang panik, Sirius menatapnya dan menerjang ke arahnya, “Tidak mungkin...”
Tatapan tajam sudah mengarah ke arah Lilac, Sirius sudah melakukan pergerakan untuk mencapai Lilac, tapi...
Di balik asap itu, Annastasia menarik sebuah tali tambang, “Tentu saja tidak ada yang bisa menghindar dari ini, meskipun orang yang sepertimu!”
Sekejap kedua kaki Sirius terikat dan terlilit oleh tali, Sirius terjatuh dan kepalanya membentu lantai. Tapi dia tidak mengalami luka sedikit pun. Meskipun begitu, ini adalah kesempatan untuk salah satu di antara mereka untuk membuat serangan.
“Sekarang, Lilia!” teriak Annastasia.
“Hilangkan semua halangan, balikkan seluruh realitas!”
Lilia berlari, datang dengan puluhan belati yang melayang diudara— melesat seperti anak panah yang dilesatkan, dengan kecepatan tinggi, merobek udara dan belatinya menyerang dari segala sisi.
Meskipun kondisi Lilia cukup memprihatinkan— darah keluar dari kepalanya, tapi dia tetap mengeluarkan seluruh kemampuannya.
つづく