I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II

I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II
Chapter 18.3



Ketika mereka terkepung seperti itu, para petualang mengerahkan seluruh pasokan mana dan kekuatannya.


Bermulai dari garis depan, mereka semua mempunyai tugas utama yang tetap, yaitu menjaga pasukan medis mereka. Rencananya adalah pasukan medis diposisikan di tengah antara petualang yang melingkari mereka.


Oleh karena itu, Rose langung berubah ke mode tempurnya. Seluruh tubuhnya beraura merah serta mata birunya menjadi merah darah. Dengan kemampuan tersebut, dia langsung mengacak-acak pasukan musuh sendirian.


Bukan karena Rose ceroboh, tapi itu adalah karena kemampuan alaminya yang memaksa dia untuk bertindak secara agresif.


Dengan keberadaannya saja, Rose melesatkan diri ke kerumunan binatang iblis, hasilnya dengan aura Rose itu, keberadaan binatang iblis itu langsung menghilang. Dilanjutkan dengan tebasan dan kecepatannya yang melampaui kecepatan mereka semua, Rose melihat orang yang disekitarnya menjadi beku karena kecepatan murninya.


Bahkan tidak hanya itu, Rose dapat menghentikan dan menghabisi ratusan hingga ribuan binatang iblis itu dalam waktu— tidak ada. Rose tidak membutuhkan rentang waktu untuk membunuh musuhnya saat ini.


Itulah yang membuat terkejut para petualang lainnya. Bahkan sebelum mereka memberikan serangan kepada binatang iblis itu, Rose sudah menghabisi hampir keseluruhan binatang iblis.


“Semuanya serang! Rose sudah memberikan jalan kepada kita!” karena mengerti bahwa binatang iblis itu sebagian besar sudah musnah, Fay berteriak dan mengangkat pedangnya.


Fay memberikan tugas di garis depan kepada Rose, karena dialah yang paling berkualitas dalam pasukan ini. Sesuai rencana mereka, mereka tetap memprioritaskan pasukan medis, karena itu yang menjadi penyelamat mereka.


“Fay kami membutuhkanmu di sini!” teriak dari Visco.


Dengan cepat, Fay langsung melesat ke arah Visco berada. Ketika Visco sedang menahan serangan dari beberapa Wyvern, Fay langsung berteriak kepada Visco.


“Visco! Lempar aku setinggi-tingginya!”


“Baik!”


“Leticia, beri pertahanan yang lebih kuat pada Barriermu!” ketika Fay berlari menuju Visco, Fay juga mengintruksikan itu kepada Leticia.


“A-ah, ya!”


Fay juga merasakan bahwa Barrier yang menyelimuti dirinya semakin kuat. Setelah itu, Fay berlari secepat mungkin ke arah Visco. Visco yang sudah ancang-ancang, memberikan tumpuannya kepada Fay, kakinya menginjak tangan Visco lalu dia melemparnya sekuat mungkin.


Fay terlempar ke udara sejauh seratus meter. Di saat dia melihat para petualang sedang berusaha menghalau dan menyerang musuh, Fay menggunakan kekuatannya kembali.


Para Wyvern dan ular-ular raksasa itu tidak menyadari kebaraan Fay. Oleh karena itu...


“Erasure of Thunder!!”


Fay mengangkat pedangnya setinggi mungkin, keberadaannya di udara juga tertahan oleh gelombang elektromagnetik. Tidak hanya itu, guntur berkali-kali merusak barisan musuh yang terlampau banyak dan membuat ledakan-ledakan yang masif.


Regenerasi instan dari monster-monster itu juga menghilang beserta keberadaan mereka karena kemampuan Fay.


Kawah-kawah terkontruksi oleh ‘Erasure of Thunder’, itulah yang membuat kekuatan Fay begitu merusak secara massal.


Hasilnya para Wyvern yang menyulitkan Visco dan beberapa ular raksasa yang sangat gesit dan cepat, dapat teratasi dengan serangan masif milik Fay.


Di sisi lain kelompok Knight of Rebellion membuat serangan dorongan kepada musuh-musuhnya. Khususnya pada Frank sebagai pemimpin, dia membuat serangan manuver yang membuat binatang iblis dan ular raksasa itu tidak bisa mengatasi serangan tajam dari pasukan Frank.


Kemudian, Frank menebas dengan pedangnya ke tanah, akibatnya tanah-tanah bebatuan melonjak tinggi dalam sekejap. Musuh-musuh terpental oleh tanah berbatu yang menjulang tinggi, setelah itu pasukan dari Elderich yang mengatasi ketika binatang iblis dan ular raksasa itu terlempar.


Tidak hanya dalam pergerakan tersebut, Elderich menggunakan kedua pedangnya dalam menumpas musuhnya dengan kegesitan dan kelincahan yang luar biasa.


“Terima ini!” Elderich berteriak.


Dalam satu pergerakan dia dapat memenggal dua binatang iblis dengan mudah. Hanya butuh beberapa detik untuk menumpaskan ratusan binatang iblis.


Namun dia terjebak dalam pengulangan, yaitu ketika dia melawan ular raksasa yang memiliki regenerasi dan kecepatan yang super. Dia tidak bisa menegasi regenerasi ular raksasa itu yang seperti ‘monster’. Meskipun dengan kelincahannya dan kegesitannya, Elderich hanya mencabik-cabik ular itu dengan kemampuan dua pedangnya, namun itu berakhir sia-sia.


“Akan kutangani!”


Dari belakang, Elderich melihat Frank yang melompat tinggi, kemudian melemparkan pedang besarnya ke arah ular raksasa itu, tapi dia meleset.


Frank hanya tersenyum karena itu, detik berikutnya tanah tinggi menghancurkan seluruh tubuh dari ular raksasa itu. Tidak berhenti sampai situ, Frank berteriak dan mengintruksikan kepada petualang lain.


“Serang mereka tanpa menyisakan celah!”


Para anggota dari kelompok Knight of Rebellion, melepaskan sihir mereka menjadi satu dan menciptakan sebuah energi yang terkonsentrasi. Melesat tak kasat mata ke arah ular raksasa itu. Kemudian, ular itu secara dramatis tubuhnya menghilang seperti abu.


“Hah! Padahal kau sudah mengalami pertarungan dengan ular raksasa itu, tapi kau tidak belajar atas regenerasinya!”


“Cih! Itu bukan urursanmu!”


Meskipun mereka masih berperang seperti itu, Frank masih sempat membuat ejekan kepada Elderich.


Lalu monster lain menghampiri mereka dengan kecepatan yang tidak bisa dilihat mata. Monster berbentuk golem melesatkan akar-akar dan tumbuhan mereka ke arah Frank dan Elderich, dengan kecepatan puluhan kali lebih cepat daripada datangnya suara itu kepada mereka.


Namun mereka berdua telah beradaptasi dengan serangan cepat itu berkat perlawanan mereka terhadap ular raksasa. Frank menghindari tusukannya lalu memotong akar dan batangnya.


Elderich yang di belakang Frank juga beruntung berkat Frank yang sudah mengatasi serangan cepat itu.


Ketika mereka merasakan sebuah getaran yang terjadi, Frank dan Elderich terlambat serangan yang akan datang. Dari bawah tanah mereka, ratusan akar-akar yang menyerang mereka dari bawah. Frank dan Elderich segera menghindar, tapi mereka tidak bisa menghindar dari semuanya. Oleh karena itu Barrier yang menjaga mereka menjalankan perannya.


Barrier itu menihilkan serangan fisik dari akar-akar itu. Namun bukan berarti mereka berdua membiarkan serangan itu terus masuk kepada mereka. Ada sebuah serangan yang terlalu cepat dari monster golem itu yang membuat Barrier itu tidak dapat bereaksi terhadapnya dan tidak berguna dalam sekejap. Tapi, Barrier itu kembali memulihkan diri dalam sekejap juga.


Frank dan Elderich beserta kelompok mereka terus menghindar dan menepis serangan itu, tapi seseorang dengan cepat menghentikan pergerakan musuh. Itu terjadi begitu saja tanpa ada yang menyadarinya.


Monster golem yang menyerang mereka dari jauh langsung lenyap begitu saja. Kemudian ada seseorang yang berdiri di tempat itu. Dia adalah Rose yang telah menggunakan kecepatannya dan kemampuannya untuk melenyapkan monster itu dalam sekejap, padahal monster golem itu memiliki besar yang hampir menyentuh 30 meter,


Dengan mata merah darahnya dan auranya yang sangat mendominasi area sekitar, sejenak melihat Frank dan Elderich, lalu Rose langsung menghilang dari tempat itu dan segera menghabisi musuh lainnya.


“Dia benar-benar sangat cepat...”


Seorang petualang lain yang dikenal kecepatannya dan keefesiensinya dalam membunuh, datang dari arah lain setelah dia menghabisi banyaknya binatang iblis. Dia adalah Vord.


“Kau benar...” Frank juga menyetujui itu.


“Yah aku terpaksa mengakui itu. Kecepatan kita dibanding dengannya adalah langit dan bumi perbedaannya. Sedikitpun saja, kita masih tidak bisa melihatnya.”


Perkataan Elderich juga dibarengi dengan anggukan mereka semua. Meskipun mereka berusaha tidak menerima itu, tapi pada faktanya itulah yang kenyataannya.


“Di sisi lain, dia benar-benar menikmati pertarungan ini.” Tambah Vord.


Setelah kalimat itu, mereka bertiga mendapatkan serangan dari arah lain, dengan musuh yang lebih banyak dan berbeda. Mereka memang harus menyatukan kekuatan mereka dalam menghabisi monster golem yang sebesar dan setangkas itu.


Dalam artian lain, petualang lainnya yang memilki tugas untuk memberi kesempatan pada petualang kelas tinggi untuk mengatasi ular raksasa dan monster golem itu, mereka juga menyerang ratusan binatang iblis itu dan menghambat pergerakan dari monster lain.


Karena mendapatkan informasi cepat dari pihak yang bertarung, Leticia membuat gelombang besar dengan pasukannya yang memberikan efek besar terhadap musuh-musuhnya.


Secara drastis, regenerasi monster-monster itu mengalami pelambatan. Itu terlalu dramatis dan intens.


“Kerja bagus Leticia!” Rose yang berada di garis depan menyempatkan diri untuk memuji Leticia, karena itu dia senang.


Di waktu yang bersamaan, seluruh petualang memukul mundur monster-monster tersebut. Satu demi satu mereka semua menghabisi dan melenyapkan ular raksasa dan monster golem itu. Para Wyvern juga cepat teratasi dengan kemampuan guntur dari Fay dan pasukan jarak jauh lainnya.


Itu semua berkat kemampuan Leticia yang mempengaruhi regenerasi instan setiap musuhnya menjadi sangat lambat.


Rose juga berpartisipasi sangat besar dalam mengurangi jumlah musuh yang terlampau banyak. Dengan kekuatan daya hancur dan kecepatannya itu membuat ancaman dari petualang lainnya terhalang.


Namun, suara itu kembali...


“Diriku sangat berterima kasih kepada kalian, wahai manusia...”


“....”


Seluruh petualang terkejut dengan suara itu kembali. Mereka pikir dengan menghancurkan dan melenyapkan monster-monster itu akan membuat suara itu resah dan hancur, tapi tidak.


“Kalian sudah memberikan kepada diriku sebuah pertunjukan yang menakjubkan. Kalian terus menari di hadapanku berdasarkan undangan permainanku. Karena itu diriku berterimakasih.”


“Siapa kau?!” dengan keberaniannya, Fay berteriak dan menanyakan identitas dari suara itu.


Tidak ada tanggapan lebih dari para petualang, mereka terus mencari asal dari suara itu.


“Kalau begitu mari kita ke permainan selanjutnya...”


Perkataan dari suara membuat petualang bertanya-tanya dan semakin waspada. Lalu ‘suara’ itu melanjutkan kalimatnya.


“Sebelum itu, diriku akan mengeliminasi satu pengganggu. Ini akan membuat permainannya lebih adil.”


Setelah kalimatnya berakhir, sebuah momen terjadi secara tiba-tiba.


“Ugh...!!!” itu adalah suara Leticia.


Rose bereaksi terhadap suara itu. Kemudian seluruh petualang lain melihat ke arah Leticia.


Leticia juga tidak sadar, tapi dia melihat di tubuhnya ada sebuah pedang transparan yang menembus dadanya dari belakang.


“Uh?”


Darah keluar dari mulutnya dan dari dadanya. Seseorang yang tidak kasat mata berada tepat di belakang Leticia dan menusuknya secara tiba-tiba, kemudian mencabutnya dan menghilang begitu saja.


“Leticia!!!” Rose yang pertama kali bereaksi dan melesat ke tempat Leticia.


Dia panik dengan keadaan Leticia, segera menghampiri dan menahan tubuhnya ketika Leticia jatuh tidak berdaya.


Darah terus menyembur dari dadanya, mulutnya juga dibanjiri oleh darah. Leticia yang tidak sadar akan hal itu, menanyakannya kepada Rose.


“Tidak, tidak, tidak!! Leticia... ini tidak mungkin, ini tidak mungkin!”


Atas ekspresi Rose, Leticia bingung terhadapnya.


“Ada apa Rose? Apa yang terjadi...? Kenapa kau sesedih itu?” Leticia masih tidak menyadari bahwa dirinya telah tertusuk.


Air mata Rose terus mengalir dan menangis di hadapan Leticia.


“Ini tidak mungkin terjadi... padahal aku sudah berjanji untuk melindungimu...” Frustasi Rose membuat Leticia menyadarinya.


Leticia sadar mulutnya terus mengeluarkan darah dan di area dada serta pakaiannya juga terus bersimbah darah.


“Ah~ begitu ya... ternyata ini yang membuatmu khawatir...”


Sekarang Rose hanya berfokus pada Leticia dan melupakan apa yang terjadi di luar sana.


“Ke-kenapa kau begitu tenang Leticia...? Padahal hidupmu—”


Leticia mengangkat tangannya yang lemah ke pipi Rose, lalu dia mengatakannya dengan lembut, “Aku juga tidak tahu, tapi aku merasa tenang saat melihatmu sedekat ini, padahal kita sering tidak akur.”


Dia terbatuk sekali dan mengeluarkan darah yang lebih banyak. Rose menjadi lebih panik karena itu.


Tapi Leticia tetap berbicara, “Hah~ akhirnya aku bisa menatapmu sedekat ini dan melihat ekspresi jujurmu. Aku sudah menanti itu sejak bertahun-tahun.”


Air mata Rose terus mengalir dan dia memaksakan sebuah senyuman ketika dia menangis.


“Karena itu aku mohon... aku mohon padamu Letica... jangan mati secepat ini. Ini kesalahanku yang terbesar, aku tidak pernah mengungkapkan perasaan jujurku padamu.”


“Aku tidak akan mati Rose... karena itu aku akan selalu bersamamu di hatimu.”


“Tapi kau tidak akan pernah ada!”


Dengan sebuah ikatan pertemanan sejak mereka kecil, Leticia terus mengungkapkan perasaannya yang dipendam selama ini.


“Aku bangga padamu Rose, kau selalu berusaha untuk mengalahkanku di setiap segi. Bahkan hingga dirimu yang sekarang, kau selalu berada di atas diriku.”


“Tidak, itu tidak benar... sebenarnya aku yang terus mengingkuti jejakmu. Ini semua karena dirimu yang membuatku menempuh keberhasilan ini.”


“Fu~ itu memang kebiasaanmu sejak kecil, aku memang senang di saat sifatmu yang ceria saat dulu. Tapi yah, sifatmu yang sekarang tidak buruk juga.”


Rose yang menangis, terus menolak kebenaran itu.


“Itu tidak benar, Leticia. Aku hanya membuat sifat ini hanya untuk menarik perhatianmu. Aku hanya merasa kesepian di saat teman masa kecilku tidak memerhatikanku.”


“Huh~ begitu ya... ternyata kita juga berada pada kesalahpahaman yang sama.”


Mereka berdua memang ingin saling tarik-menarik satu sama lain dan memberi perhatian kepada masing-masing mereka. Meskipun mereka ingin menyapa satu sama lain dan beteman akrab seperti dulu, tapi karena satu hal yang sangat sederhana, membuat mereka salah paham dan akhirnya niat mereka berdua tidak berhasil.


Padahal tujuan mereka adalah hanya untuk berteman kembali seperti yang dialami masa kecil mereka.


“Tapi sifat dinginmu itu benar-benar berhasil menarik perhatianku.” Tambah Leticia.


“Begitukah? Aku sangat senang mendengarnya...”


“Huh~ akhirnya keinginanku selama ini tercapai... aku bisa mengobrol denganmu dengan perasaan yang tulus. Aku senang di saat kamu mengkhawatirkanku... aku senang saat aku bertemu denganmu dan kamu menanggapiku...aku juga senang saat segala tujuanmu yang mulia tercapai... bahkan saat ini juga, kamu memberikan perasaanmu yang tulus kepadaku.”


Tubuh Leticia semakin melemah dan mendingin.


“Karena itu aku mohon padamu... Leticia... Aku ingin berbicara denganmu lebih banyak, dan aku ingin bersamamu lebih lama...” kata Rose.


“Maaf Rose... aku tidak bisa memenuhi permintaanmu... aku juga minta maaf karena tidak bisa memenuhi harapanmu. Padahal aku ingin memiliki hubungan pertemanan itu kembali, tapi...”


Leticia kembali batuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya, tapi dia berusaha menjaga percakapan itu.


“Tapi... aku harap dirimu mempunyai lebih banyak teman yang lebih baik daripada diriku...” tambah Leticia.


“Tidak ada yang lebih baik darimu...”


“Aku akan tertawa kalau aku bisa... tapi berjuanglah...”


“Aku tidak bisa berjuang kalau kau tidak ada...” kata Rose.


Leticia hanya bisa tersenyum. Menemukan temannya yang semanis ini dan selucu ini hanya membuat dirinya menjadi orang yang paling bahagia. Namun dia menyayangkan karena tidak bisa melihat kelanjutan hidup dari teman tersayangnya.


Tangan Leticia terus mengusap air mata yang terjatuh dari mata Rose. Dia juga terus tersenyum dengan keadaannya itu.


“Aku sangat senang telah mengenalmu Rose...”


Perlahan-lahan, tubuhnya semakin melemah.


“Tidak Leticia, aku mohon padamu...” Air mata Rose tidak bisa berhenti.


Dengan mata yang menatap Rose dan memberikan senyuman ramah kepada Rose, Leticia mengatakan dengan sangat lemah...


“Akhirnya tujuanku selama ini tercapai, bertarung bersamamu dan saling melindungi... Pada akhirnya... aku... bahagia dengan... ketulusan hatimu... Ro—se...”


Tangannya yang memegang Rose perlahan jatuh ke tanah. Tubuhnya sudah sangat dingin dan tidak ada lagi selain kondisi itu... hanya senyuman hangat yang masih tersisa di wajah Leticia.


“Akhirnya kau terus memanggil namaku, Leticia... maafkan aku telah membuat kebohongan besar untukmu dan membuatmu seperti ini.”


Rose yang melihat wajah Leticia yang cantik dan memegangi tubuhnya yang dingin. Kemudian dia memeluknya dengan hangat, membisikkan sesuatu padanya...


“Aku hanya ingin berteman padamu, Leticia.”


つづく


Semoga chapter ini menyentuh hati kalian...


Terimakasih atas perjuanganmu Leticia, jasamu akan terus dikenang selamanya...