
Sepertinya aku akan menghilangkan tekanan ini. Aku memutuskan untuk kembali ke kamar Astia.
Aku masih melihat para gadis berusaha menenangkan Astia, mereka menyadari kehadiranku.
"Master?"
Mungkin Natasha bingung kenapa aku kembali ke sini, jadi...
"Natasha, dan kalian semua... kembalilah ke kamar kalian, aku akan menggantikan kalian. Sepertinya kalian tidak mempunyai kesempatan tidur akhir-akhir ini, jadi aku saja yang menemani Astia."
Mereka mempunyai tugas yang sibuk pada keesokan harinya, jadi kalau mereka kekurangan istirahat, itu akan buruk untuk kesehatan fisik mereka. Jadi aku yang berinisiatif untuk ini.
"Baiklah master..."
Satu persatu dari mereka keluar dari kamar Astia dengan ekspresi pasrah.
Setelah mereka semua keluar, aku mendekat ke arah Astia dan duduk di kursi di samping tempat tidurnya. Astia sepertinya ingin berteriak ketika tangannya terlepas dari tangan Annastasia, maka dari itu aku langsung menggenggam tangan Astia.
"Tenanglah Astia... Aku ada di sini."
Aku bisa melihat rasa cemas di wajah Astia yang sedang tertidur. Air matanya juga terus mengalir dari matanya.
Sepertinya dia sedang mimpi buruk tentang diriku. Dari awal, Astia terus mengigau dan memanggil namaku... Natasha juga mengatakan ini hampir setiap hari. Jadi aku tidak tahu pasti tentang apa yang dikhawatirkannya.
Setelah Astia mulai sedikit tenang, aku sedikit mengantuk.
Wajahnya yang tenang seolah tidak mengkhawatirkan apapun— itulah yang kulihat saat ini. Setelah aku menyadarinya lebih dekat, aku menyadari bahwa...
Astia benar-benar cantik.
Dalam perspektif lain, gadis cantik yang sedang tertidur sepertinya, membuat ketenangan dan perlahan menghapus tekanan yang kuterima.
Di beberapa saat, wajahnya menampilkan ekspresi cemas dan sedih ketika Astia masih tertidur. Aku yang masih menggenggam tangannya dapat merasakan kesedihan yang mendalam yang dirasakan Astia.
Huh~ Sejak kapan terakhir kali aku melihat ekspresi Astia yang seperti ini?
Aku hanya bisa berpikir ketika menggenggamnya. Perlahan aku menutup mataku karena rasa kantuk, lalu aku tertidur dengan berharap Astia akan lebih tenang ketika aku bangun...
Beberapa jam telah dilewati...
"Tuan Yuuki?"
Seseorang memanggilku... aku menyadarinya, karena itu aku membuka mataku. Tanganku masih menggenggam tangan Astia, tapi sekarang Astia sudah terbangun.
"Tuan Yuuki...? Apa yang kamu lakukan di sini?" Astia kembali menanyakan itu.
"Ternyata kamu sudah bangun..."
Aku dapat melihat wajahnya... matanya membengkak dan matanya masih memerah. Dia terlihat habis menangis sepanjang malam.
"Aku telah mendengar semuanya, Astia... Aku harap kamu menceritakan semuanya tentang apa yang terjadi padamu."
Air matanya terjatuh, dan Astia mencoba tersenyum, "Ternyata kamu sudah mengetahui itu dari para gadis... maafkan aku atas keegoisanku, Tuan Yuuki."
"Itu tidak apa-apa... yang harus diprioritaskan saat ini adalah kesembuhanmu, Astia."
Aku tahu senyuman itu palsu, tapi dia ingin menunjukkan senyuman palsu itu kepadaku untuk membuatku tidak mengkhawatirkan kondisi Astia. Pada akhirnya aku tidak bisa mengetahui kondisi Astia dari pandanganku sendiri.
Kemudian Astia menjelaskannya...
"Sebenarnya... baru saja aku telah bermimpi. Di tempat yang tidak kuketahui, semuanya berwarna putih tertutup salju. Singkat ceritanya aku diperlihatkan oleh kematianmu secara detail, Tuan Yuuki. Yang lebih buruknya, itu terlihat sangat nyata... mimpi buruk tentang kematianmu terus menyerang kesadaranku."
Pada dasarnya itu hanya tentang tekanan buruk kepada Astia atas kematian yang pernah kualami. Dengan pengalaman buruk yang seperti itu akan membuat trauma sehingga terkadang dapat merasuk ke dalam mimpi mereka.
"Tentang itu, bukankah itu hanya mimpi?" tanyaku.
"Itu benar, tapi..." kemudian Astia melanjutkan dengan suara yang pelan, "Sebenarnya, masalah ini dimula dari senjata itu... sebenarnya tombak panjang itu memanglah milikku."
Itu terlalu mengejutkan, oke aku akan membuat asumsi bahwa perkataan Astia memang benar. Kalau perkataan Astia benar, maka pahlawan yang telah menyegel monster Hydra 500 tahun yang lalu adalah Astia? Apakah memang Astia pahlawannya?
"Apa maksudnya?" tanyaku.
"Sederhananya saat aku menceritakan mimpi itu tadi, pada dasarnya itu bukanlah mimpi, tapi ingatanku yang berasal dari dunia lain. Makanya aku mengatakan itu adalah kenyataan."
Oke, aku sedikit tidak mengerti itu, tapi dalam penjelasan Astia, maka akan membuka seluruh kemungkinan yang ada. Kalau Astia mengatakan mimpi itu adalah ingatan Astia yang disalurkan dari dunia lain, maka kenyataan tentang diriku telah mati adalah fakta yang menyertainya.
"Baiklah, aku akan mencoba memahami itu. Lalu, sudah berapa banyak mimpi yang kamu lalui?"
"Di saat pertama kali aku menyentuh tombak itu... aku tidak bisa mengingatnya, kemungkinan itu tidak bisa terhitung dan ingatan itu langsung terhapus begitu saja. Jadi hanya berdasarkan mimpi itu yang bisa kuingat, aku pikir sejak sebulan aku terus bermimpi buruk seperti itu."
Itu artinya sudah sekitar tiga puluh mimpi buruk yang telah dilalui oleh Astia. Dengan kata lain tiga puluh kenyataan yang ada di dunia lain telah diingat oleh Astia.
"Apa itu tentang kematianku?"
Sebenarnya aku tidak ingin menanyakan hal itu kepada Astia agar tidak membuat dirinya sedih, tapi untuk mengetahui ini adalah penglihatan masa depan atau tidak, maka aku harus mengetahui hal itu.
"Benar..." air mata langsung jatuh ketika dia menjawab itu, "Tapi itu bukanlah hal yang akan terjadi di masa depan. Ini seperti... maaf aku tidak bisa menjelaskannya."
"Tidak apa-apa, aku mengerti."
Informasi telah terkonfirmasi. Itu bukan hal yang akan terjadi di masa depan, tapi sebuah kejadian yang berasal dari dunia lain. Aku tidak tahu apakah itu sudah terjadi atau akan terjadi, tapi untuk mengerti hal itu— sangat menyulitkan.
"Dunia paralel ya..." gumamku.
Kalau itu memang benar dunia paralel, maka akan ada kemungkinan yang tidak terbatas yang akan terjadi.
Apa ini ada hubungannya tentang sebutanku tentang keberadaan yang 'rusak' yang terus dipanggil oleh monster kelas bencana itu.
"Astia, jadi benar 500 tahun lalu, orang yang disebut 'pahlawan' yang menyegel Hydra itu— adalah dirimu?"
Pertanayaanku berdasarkan apa yang telah kudengar ketika Astia bertarung dengan Hydra itu dengan perubahan transformasinya.
"Bisa dibilang benar, tapi aku tidak mengingat alasan kenapa bertarung atau alasan kenapa aku sudah hidup pada 500 tahun yang lalu itu. Tapi yang bisa kupastikan adalah, aku yang pada waktu itu bukanlah aku yang sekarang."
Baiklah, untuk saat ini aku akan menyingkirkan pemikiran itu untuk sementara. Yang harus kuprioritaskan saat ini adalah kesembuhan mental untuk Astia terlebih dahulu.
"Baiklah, untuk saat ini dengarkan aku, Astia... Ingatanmu yang berasal dari dunia lain tidak akan berlaku untukku di sini. Jadi kamu tidak perlu khawatir aku akan meninggalkanmu. Meskipun aku pernah melanggar janji itu, tapi saat ini aku masih terikat oleh janji itu— bahwa aku akan selalu bersamamu."
Aku akan menaruh usahaku untuk bertahan hidup sampai ke titik darah penghabisan. Jadi, aku akan berusaha keras untuk bertahan hidup meskipun takdir kematian selalu menungguku.
"Aku sangat senang, Tuan Yuuki..." Astia mengusap air matanya dan bernapas lega, "Akhirnya aku bisa melepas kekhawatiran itu bersamamu."
Kemudian tangan Astia yang lain memegang tanganku, dia menatapku dengan senyum cerahnya...
"Aku sangat menyayangimu, Tuan Yuuki..."
Dia tersenyum manis, sepertinya tekanan berat yang ditanggung Astia perlahan menghilang satu persatu.
Kemudian aku berdiri, dan bersiap untuk melakukan pekerjaan.
"Baiklah, kita harus mempersiapkan apa yang telah kita rencanakan."
"Dimengerti, Tuan Yuuki!" Semangatnya kembali, dan matanya kembali menunjukkan tekadnya.
Aku mengangguk dan keluar dari kamar Astia, tapi ketika aku membuka pintu, gadis-gadis lain berkumpul dan melakukan sesuatu yang menjadi kebiasaan mereka.
"Kalian tidak perlu menguping seperti itu, seharusnya kalian masuk saja tadi." Kataku.
"Yah, master jangan menatap kami seperti itu..." kata Lilia, "Kami hanya tidak ingin mengganggu pembicaraan kalian berdua saja."
Aku hanya menghela napas dan kembali ke kamarku. Aku bisa mendengar para gadis tertawa membelakangiku, lalu mereka masuk ke dalam kamar Astia ketika mereka masih memakai pakaian tidur.
Tentang keberadaan ingatan Astia itu, pernyataannya serta kematianku yang telah berulang kembali... Aku hanya bisa berharap semoga misteri dan masalah yang ada di dunia ini dapat terpecahkan.
つづく