
Jauh di tempat yang keramaian tidak akan pernah muncul, tempat yang akhir-akhir ini dikuasai oleh monster tingkat tinggi. Dulunya tempat itu tidak seberbahaya sekarang, hanya tempat untuk para petualang memburu monster-monster lemah kemudian dijual di toko penukaran. Tapi sekarang, sejak rumor tentang monster kelas bencana tempat ini menjadi area yang terlarang oleh para petualang.
Di tempat yang belum tersentuh oleh manusia, dikelilingi oleh padang rumput yang sangat luas, di situlah tempat yang paling berbahaya di dunia. Ada seseorang di sana, memiliki tinggi setinggi orang dewasa, rambut acak-acakan, ada kantung mata yang menghitam di matanya, dan bertubuh kurus, tapi dia manusia atau bukan itu masih misteri. Dan untuk apa orang itu berdiri di atas tanah yang paling berbahaya?
"Hey, apa kau mendengarku?"
Orang kurus itu memanggil, tapi hanyalah sebuah bongkahan kristal raksasa yang tertancap tombak panjang di depannya. Bila ada seseorang yang melihatnya, dia hanya akan mengira orang kurus itu sudah tidak waras.
"Apa itu kau Varvatos?" Tapi mengejutkannya kristal itu menjawab dengan suara menggema.
"Benar, aku sudah kembali. Orang-orang itu sedang mengumpulkan pasukan untuk menghancurkanmu dari kebangkitanmu."
"Hoo? Ternyata prediksimu selalu benar, setelah mereka mengetahui kalau orang-orang mereka menghilang, mereka akan mengetahui tentang diriku dan legendaku."
Varvatos tidak terlalu senang setelah dipuji seperti itu, tapi dia menunjukkan keheranan.
"Tapi seharusnya tidak secepat ini, bahkan terlalu cepat untuk mereka mengetahui tentangmu. Setidaknya butuh waktu 6 bulan untuk mengetahui legendamu serta kebangkitanmu, tapi 1 bulan itu terlalu cepat!"
"Apa itu artinya ada seseorang di balik semua ini?"
"Sepertinya begitu, tapi aku tidak menemukan orang itu di Florend. Tidak ada informasi tentang orang itu bahkan di papan quest."
Umumnya pengajuan quest kepada pihak guild petualang untuk nama pengajunya mendapatkan hak privasi, jadi tidak ada yang mengetahui nama pengaju kecuali si pengaju sendiri yang mengizinkannya.
"Kalau begitu, bagaimana dengan penglihatan masa depanmu? Seharusnya kau mengetahui tentang orang itu." Tanya Varvatos.
"Semakin hari mulutmu semakin lancang. Daripada itu, bukankah tempo hari sudah kubilang kalau seluruh kemampuanku sudah disegel oleh tombak sialan ini? Hanya manaku yang bisa kusebarkan ke sembarang tempat."
"Berkali-kali aku meratapi nasibmu, bisa-bisanya kau kalah dengan pahlawan itu setelah kau menyerap ribuan manusia, huh... Mari kita kesampingkan itu, setidaknya sejenius apapun orang itu tetap saja dia tidak ada pilihan lain untuk melakukan hal itu."
"Selain mulutmu yang busuk, otakmu itu hebat juga."
"Tidak juga, mereka tetap tidak dalam posisi yang menguntungkan. Dalam satu tahun kau akan bangkit dengan sendirinya atau ketika mereka datang ke tempat ini kau akan langsung menyerap Mana mereka untuk membuat dirimu bangkit. Dari segi manapun hanya masalah waktu untuk menunggumu bangkit, tidak ada keuntungan untuk para manusia itu."
Varvatos hanya memberikan kata-kata percaya diri di depan batu kristal itu. Tidak ada keraguan di mata mengantuknya.
"Inilah yang kuharapkan dari penyihir naga, tapi kekuatan penyerapanku tidak secepat dulu. Mungkin efektivitasnya hanya 30%. Aku akan cukup kesulitan ketika berhadapan dengan para manusia itu."
"Aku sudah mengantisipasi hal itu. Selain mosnter-monster yang telah kau berikan tambahan kekuatan dan dibawah perintahmu, aku juga sudah menyiapkan beberapa rencana untuk itu...."
Wajah Varvatos menyusut seperti ada yang dikhawatirkannya, bahkan batu kristal itu yang tidak dapat melihatpun dapat menyadari perubahan ekspresi wajah Varvatos.
"Ada apa?"
"Tidak, tidak ada. Kau tidak usah khawatir. Yang harus kau pikirkan sekarang adalah menghadapi para manusia itu sebelum aku datang."
"Hah? Memangnya kau mau kemana lagi?"
"Ada yang harus kulakukan. Mungkin dia adalah ancaman terbesar kita. Kau tidak usah khawatir kepadaku, kau fokus saja tentang pennyerangan para manusia itu."
"Cih! Kau itu hanya ingin merepotkanku saja! Ngomong-ngomong tentang rencanamu waktu itu tentang batu obsidian, kenapa kau mengatakan itu kepada mereka? Begitukah kau ingin menjualku pada mereka?! Keindahan kulitku ingin kau kotori dengan tangan mereka?"
Suara dari batu kristal itu membesar, meneriaki Varvatos karena tindakannya tidak diduga batu kristal itu.
"Tenanglah, kau tidak perlu semarah itu. Aku tahu kau terlalu mendewakan kulitmu itu, pada dasarnya kau itu ras naga tapi kalau aku tidak menipu mereka dengan itu maka mereka tidak akan datang ke tempat ini, dan kebangkitanmu hanya akan menjadi mimpi anak kecil."
"Cih! Kau tidak perlu menyerangku dengan fakta murahan itu!"
Sepertinya batu kristal itu sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hanya kenyataan pahit yang mengelilingi dirinya.
Sambil memikirkan sesuatu, Varvatos melihat tombak panjang yang menancap ke dalam batu kristal itu.
Menilai dari suara batu kristal itu dia terlihat marah ketika dia mengingat memori pahit lamanya.
"Hah?! Kalau aku bisa mencabutnya aku sudah mencabutnya sejak lama."
"Begitu? Baiklah akan kucoba cabut tombak itu darimu."
Varvatos memiliki kekuatan fisik super tapi itu masih belum tentu dapat mencabut tombak itu yang sudah berusia ratusan tahun. Varvatos mencoba mencabutnya tapi batu kristal itu terlihat enggan.
"Heh? Apa kau bilang? Ja-jangan!"
Meskipun batu kristal sudah mencoba menolaknya tapi Varvatos tidak peduli dengan itu.
"U-ugh!! Kuh!!" Batu kristal itu berteriak kesakitan.
"Kau mengagetkanku! Kenapa kau?!"
"Sudah kubilang jangan! Setiap orang yang ingin mencabut tombak ini energi kehidupanku akan terhisap ke dalam tombak ini."
Setelah mendengar penjelasannya, Varvatos cukup terkejut.
"Benarkah? Senjata macam apa ini? Meskipun usiaku hampir tidak bisa kuingat tapi aku belum pernah mengetahui tentang senjata ini."
"Sepertinya hanya seseorang yang bisa mencabut tombak ini."
"Siapa itu?"
"Pemiliknya itu sendiri..."
"Ahh pahlawan itu ya... Setelah dia mengalahkanmu aku tidak pernah mendengar kabarnya lagi."
Batu kristal kembali ke mode suramnya ketika mengingat kenangan itu.
"Rrggh! Mengingat dia hanya membuatku kepanasan! Sebenarnya dia dapat membunuhku dengan mudah."
"Dirimu?"
"Ya. Aku merasa tombak ini dan dia dapat membunuhku dengan mudah kalau si bangsat itu mau, tapi aku tidak mengerti kenapa dia hanya ingin menyegelku saja."
"Aku pikir pada saat itu kau hanya terlalu arogan karena telah menyerap ribuan manusia sehingga kau buta terhadap musuhmu. Jadi kau lengah karena itu. Nah makanya pahlawan itu hanya ingin bermain-main denganu saja." Kata Varvatos.
"Kau sekarang yang meremehkanku! Huh, tapi jujur saja pahlawan itu sangat kuat, tapi tentang tujuan dia menyegelku aku tidak tahu."
Kemudian Varvatos teringat sesuatu.
"Meskipun kau abadi? Mungkin saja karena kau abadi jadi dia hanya bisa menyegelmu karena kau terlalu kuat."
"Kenapa sikapmu berubah sekarang. Yang penting aku tidak ingin kejadian itu terulang kembali dan lakukanlah tugasmu!" Kata batu kristal kepada Varvatos
"Iya-iya aku mengerti. Kalau begitu aku akan kembali ketika diserang." Kata Varvatos ketika dia akan pergi dari tempat itu.
"Jangan membuatku menunggu!"
Ketika batu kristal itu berbicara, Varvatos sudah meninggalkan tempat itu. Batu kristal itu hanya berdiam, tidak bisa melakukan apa-apa, menunggu kedatangan invasi para manusia yang telah dibicarakan Varvatos kepadanya.
Hanya bermodalkan monster monster tingkat tinggi, tapi itu sudah cukup. Ketika para manusia mencapai daerahnya, batu kristal hanya menyerap seluruh kekuatan manusia. Maka akhir dari umat manusia sudah di depan mata.
つづく
Jangan lupa, like, komen dan klik favorit ya!