I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II

I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II
Chapter 26.2



Pagi harinya, aku bersiap-siap menjalankan misi ini. Aku memakai pakaian petualangku. Untuk perlengkapan senjataku, aku hanya membawa dua belati yang kusimpan di balik pakaianku.


Lalu, aku keluar dari kamarku dan menemukan Annastasia dan Elma juga keluar dari kamarnya.


“Oh, master... kau sudah siap?” tanya Annastasia.


Aku melihatnya, dia memakai pakaian petualang yang mungkin biasa dia pakai sebelum dia bertemu denganku, begitu pula dengan Elma.


“Ya...” jawabku.


Seperti kebiasaan kami setiap pagi, kami semua tanpa terkecuali biasa melakukan sarapan bersama. Sepertinya pagi hari ini yang menyiapkan sarapannya adalah Lilia. Namun ketika Lilia telah menyuguhkan makanan di atas meja, dia menggigit sedikit rotinya lalu pergi ke kamarnya.


Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya, tapi kupikir dia sedang murung atau apapun itu... Seperti biasa, sarapan kami disertai keberisikan rutin dari para gadis, tapi aku cukup menikmati itu.


Salah satu penyebab ini semua adalah...


“Anna, aku yakin pasti tadi malam kau dimarahin sama Astia, ya?” tanya Lilac dengan senyum mengejek.


“Ugh, kenapa kau tahu itu?” Annastasia langsung tersedak, tapi dia kembali menanyakannya lagi.


“Tentu saja aku tahu itu! Aku kan selalu mengikuti master berada! Jadi kalau master bangun tidur, tentu saja aku akan mengikutinya! Itulah kenapa aku bisa mendengar pembicaraan kalian.”


Aku tidak percaya Lilac terang-terangan menyatakan itu meskipun di depan diriku.


“Ugh, da-dasar penguntit!” cemooh Annastasia.


Elma berusaha tidak ingin mengikuti pembicaraan itu, dan mengalihkan perhatiannya ke arah yang lain, tapi...


“Kau juga, Elma...” tunjuk Lilac kepada Elma, kemudian melanjutkan, “Aku tidak percaya padahal kau seangkuh itu, tapi bisa-bisanya memohon ampun pada Astia.”


“Sepertinya kau memang perlu diberikan pelajarannya ya...”


Ketika Lilac tertawa riang, Elma mengepalkan tangannya, aku yakin dia kesal atas provokasi dari Lilac. Yah, aku hanya mengalihkan pandanganku ke arah lain dan tidak mau terlibat oleh mereka.


Dan di saat itulah keributan kecil terjadi...


Aku sudah selesai dan mengelap mulutku dengan sapu tangan. Ketika aku berdiri, semuanya kembali tenang secara tiba-tiba.


“Baiklah aku selesai...” kata Elma.


“Aku juga...” tambah Annastasia.


Namun, sebelum itu aku ingin menanyakan sesuatu kepada Lilac.


“Lilac...”


“Ya master?!”


Uh dia semangat sekali...


“Ada apa dengan Lilia?” tanyaku yang cukup khawatir dengan kondisi Lilia.


Aku menanyakan itu karena Lilac itu satu regu dengan Lilia.


“Um ternyata master juga menyadarinya... Aku juga tidak tahu, mungkin dia hanya bosan saja. Tapi! Aku akan menyemangatinya nanti!”


“Baiklah, aku mengandalkanmu.”


Lilac menjawabku dengan senyuman yang cerah.


Aku memilih Lilia sebagai pemimpin para gadis karena pada awalnya aku berpikir dia yang dapat membangun suasana hangat untuk para gadis dan rasa percaya dirinya, tapi kalau dia seperti ini terus aku akan kerepotan.


Sepertinya Elma dan Annastasia sudah keluar dari penginapan ini, tapi sebelum aku keluar juga, aku sejenak melihat kondisi Lilia. Aku sekilas melihatnya di balik pintu kamar yang sedikit terbuka... Lilia sedang melihat ke arah luar jendela, sepertinya sedang melihat aktivitas penduduk di pagi hari.


Aku akan menyerahkan Lilac sementara aku pergi keluar dari penginapan ini...


Elma dan Annastasia juga sedang menunggu seseorang di luar, karena itu aku menanyakannya lebih dulu.


“Kalian menunggu siapa?” tanyaku.


“Siapa lagi, tentu saja master, bukan?” jawab Elma.


Eh...


“Ya, kami menunggu master. Karena rencana misi itu akan dilakukan malam, jadi hari ini kami tidak mempunyai rencana. Jadi kami akan mengikuti master karena masterlah yang mengambil alih komando kami.”


Itulah jawaban dari mereka berdua, tapi masalahnya aku juga tidak mempunyai rencana untuk hari ini. Aku sudah menyelesaikan rencana pertama tempo hari, jadi sebagai gantinya aku akan menghabiskan waktu untuk jalan-jalan di kota ini.


Lalu...


“Apa jangan-jangan master juga tidak mempunyai rencana?” tanya Annastasia.


Sepertinya mereka menyadariku karena aku diam sejenak.


“Jujur saja, memang begitu adanya.” Jawabku.


“Eehh...” ekspresi mereka seolah tidak percaya bahwa aku tidak memiliki rencana apapun.


“Huh~” aku menghela napas, “Baiklah, karena aku tidak merencanakan apapun, aku akan menemani perjalanan kalian kemanapun untuk hari ini.”


“Eh, benarkah?!” tanya Annastasia dengan semangat.


“Kenapa kau malah senang, Anna?” Elma juga penasaran dengan itu.


Aku membalasnya dengan mengangguk. Mungkin karena mereka juga tidak mempunyai rencana, mereka kemungkinan akan mengambil Quest dari Guild Petualang seperti biasa.


“Kalau begitu, ikuti kami!” kata Annastasia yang masih semangat.


Baiklah, mereka berdua yang akan memimpin. Aku akan berjalan di belakang mereka sambil melihat keadaan kota. Ngomong-ngomong banyak orang yang terlihat mengarahkan tatapannya kepada Annastasia dan Elma, dan itu sebabnya aku malah terlihat seperti pesuruh dari kedua gadis ini, padahal aku pemimpin mereka.


Sepertinya mereka sudah terbiasa menghadapi kasus yang seperti ini.


Sementara itu kami telah berada di Guild Petualang.


Aku cukup menjaga jarak dari Annastasia dan Elma agar tidak membuat perhatian berlebih pada mereka. Yah meskipun begitu, saat ini mereka berdua masih menjadi titik perhatian banyak orang, mungkin karena kecantikannya yang membuat itu terjadi.


Setelah menunggu cukup lama, mereka berdua kembali dan menemuiku.


“Master~” panggil Annastasia.


Aku yang sedang menyilangkan tanganku dan menutup mataku, tiba-tiba dipanggil olehnya sambil memegang bahuku. Padahal aku sedang mengawasi sekitar dan berusaha mencari seseorang yang mungkin memata-matai kami.


“Jadi, apa yang kalian ambil hari ini?” tanyaku.


“Ini master...”


Annastasia memberikan sebuah kertas Quest itu kepadaku, lalu aku membacanya.


Quest ini berisikan dengan sebuah tugas dari salah seorang bangsawan— yang meminta pertolongan petualang untuk menyelamatkan anaknya dari sakit parah, dan orang tua bangsawan ini meminta untuk mencarikan sebuah tumbuhan yang bisa menyembuhkan sakit yang diderita anaknya ini.


Untuk kesulitan Questnya... Apa! Kesulitannya di tingkat A?!


“Kau yakin dengan ini?” tanyaku, “Memangnya kelas petualang kalian di tingkat apa?”


Setelah pertanyaanku, mereka berdua mengeluarkan pelat petualangnya. Aku cukup terkejut ketika melihat kelas petualang mereka juga berada di tingkat A.


“Bagaimana bisa...?”


Padahal kelas petualangku sendiri yaitu di tingkat ‘E’, tapi sebagai pemimpin mereka... mereka melampauiku?


“Y-yah, itu karena misi yang kami terima kemarin...” kata Annastasia, kemudian melanjutkan, “Karena misi itu dan kami menemukan artefak kunonya, kami mendapatkan promosi. Pada akhirnya kami mendapat promosi hingga dua tingkat.”


“Itu artinya sebelumnya kalian memiliki kelas petualang C?” tanyaku.


“Benar.” Kemudian dijawab oleh Annastasia kembali.


Aku kembali memeriksa detail-detail penting yang ada di kertas ini sembari bertanya, “Lalu, apa alasan kalian mengambil Quest ini?”


“Kami tidak mempunyai alasan... kami hanya mengambilnya secara acak karena ingin mencoba sebuah Quest setelah kami dipromosikan.”


Aku tidak menyangka mendapatkan jawaban itu dari Annastasia. Aku pikir mereka berdua mendapatkan promosi kelas petualang itu karena hanya sebuah kebetulan.


Itulah yang membuat Elma kesal selanjutnya.


“Padahal sudah kubilangin dia kalau seharusnya dipikir-pikir lebih dulu. Tapi ini orang selalu saja!”


Karena kekesalan Elma, aku hanya menghela napas. Yah, kalau begitu caranya aku tidak bisa berbuat apa-apa tentang keputusannya. Meskipun aku ingin mengkritisi dalam pengambilan keputusan mereka, tapi aku tidak terlalu mempermasalahkan hal ini.


Aku mengembalikan kertas ini kepada Annastasia, dan dia menerimanya.


“Uh, master? Master tidak menolak keputusan ini?” tanya Annastasia.


Ketika Annastasia memalingkan wajahnya karena malu, Elma menyenggolnya di sampingnya.


“Baiklah, ayo master. Sepertinya kita harus pergi ke kediaman bangsawan itu terlebih dahulu.” Kata Elma.


Lalu Elma menarik tangan Annastasia karena dia merasa Annastasia sedang memikirkan sesuatu yang tidak penting. Aku juga mengikuti mereka berdua dari belakang.


Aku sedikit mengejar mereka sebelum sampai ke tempat tujuan.


“Ngomong-ngomong, apa kalian sudah menguasai kode itu?”


“Eh, master?!” Annastasia terkejut dengan kehadiranku yang tiba-tiba dari belakang


“Ah, itu... Aku sudah mempelajarinya sebelum berangkat, tapi sepertinya aku belum menguasai sepenuhnya.” Jawab Elma dengan ragu-ragu.


“Sepertinya aku juga.” Tambah Annastasia.


“Baiklah. Sekarang bagaimana dengan CodeName itu?”


“Fufu—”


Aku tidak mengerti kenapa Annastasia tertawa seperti itu.


“Pekenalkanlah diriku ini dengan ‘CodeName’ [Capella], gadis cantik yang berambisi menaklukan master suatu hari nanti!”


Pernyataan Annastasia membuat Elma menunjukkan tatapan sinisnya kepada Annastasia. Lagipula kenapa dia membuat ambisi yang seperti itu kepadaku?


“Kalau kau membuat pernyataan itu, itu malah membuatnya tidak keren, tahu...” kata Elma.


“Kau hanya iri bukan karena tidak menemukan nama yang bagus sepertiku?”


“Bagaimana denganmu, Elma?” tanyaku.


“Aku tidak mempunyai nama yang cocok dan bagus, tapi panggil saja aku Vega... ‘CodeName’ [Vega].”


“Hmm begitu... [Vega]— bintang biru di malam musim panas ya... kupikir itu sangat indah. Kau tidak perlu khawatir tentang itu, Elma. Aku yakin kau tidak percaya diri dengan nama itu, tapi yakinlah itu adalah nama yang indah.”


Sebelum aku mendapatkan reaksi dari Elma, aku kembali mundur dan menjaga jarak dari mereka berdua ketika sudah ada beberapa orang yang memperhatikan kami.


“Elma, hey Elma sadarlah!” kemudian Annastasia menoleh ke arahku, “Master! Bertanggungjawablah membuat Elma memerah seperti ini.”


Yah aku tidak perlu menanggapi keluhannya, itu karena aku tidak ingin menarik perhatian orang lain lagi.


Setelah beberapa saat, kami sampai di sebuah kediaman bangsawan tersebut. Kami berada di penggiran kota dan menemukan sebuah Mansion yang cukup besar.


“Ini tempatnya?” tanya Elma.


“Sepertinya begitu.” Jawab Annastasia.


Aku melihatnya— mansion putih yang cukup besar dengan halaman yang sangat luas, kemudian Annastasia mengetuk pintu itu. Beberapa saat dari ketukannya, seseorang keluar.


“Permisi, kami telah menerima Quest di Guild petualang, apa ini benar tempatnya?” kata Annastasia ketika dia menunjukkan kertas Questnya kepada orang itu.


Yang kulihat dari orang yang menerima kertas itu dari Annastasia, perawakannya sudah cukup tua dengan janggut dan kumis yang sudah memutih. Mungkin dia adalah sesepuh dari rumah ini.


“Ya, kalian benar. Masuklah...”


Pria tua tersebut mempersilahkan kami masuk, dan memperlihatkan interior mansionnya yang cukup megah.


Annastasia dan Elma duduk di sofa ruang tamu dan disuguhkan teh untuk kami bertiga dari pelayan mereka.


“Ini tehnya tuan.” Kata pelayan itu.


Aku menerimanya dari pelayan itu karena aku berdiri dan tidak duduk bersama mereka berdua. Aku memilih berdiri di belakan Annastasia dan Elma karena aku memilih posisi penyamaranku, itu artinya aku tidak menjadi pemimpin ‘Tomoe Garden’ untuk saat ini.


“Mohon tunggu sebentar...” kata pria tua itu.


Beberapa saat kemudian, pria yang jauh lebih muda datang dan duduk berhadapan dengan kami. Dia terlihat pria yang berusia tiga puluh tahunan.


“Oh kalian ya petualang yang akan menerima Quest itu...” kata pria itu.


“Benar tuan, kami menerima Quest tentang putri anda mengalami sakit parah. Itulah yang membuat kami ke sini.” Itulah kata Annastasia.


Itulah yang dikatakan informasi tersebut. Putri dari bangsawan tersebut menderita sakit yang tidak ada obatnya kecuali dengan tumbuhan yang berada di suatu tempat.


“Kalau kalian sudah mengetahui kondisinya, mari ikuti saya.”


Lalu pria itu berdiri dan pergi ke sebuah ruangan, kami juga mengikutinya. Dengan ruangan sebesar ini, sepertinya ini adalah salah satu kamar seseorang.


Kemudian pria itu membuka pintunya...


Kamarnya cukup gelap dan minim akan cahaya, kami terus memasukinya. Lalu aku melihat seseorang berada di tempat tidur, kondisinya aku tidak yakin... tubuhnya dipenuhi bercak hitam di sekujur tubuhnya dan masih dirawat oleh pelayan lainnya ketika dia mengalami kejang-kejang.


Aku merasa kalau penyakit ini bisa menyebar melewati udara atau sentuhan kulit.


“Seperti ini kondisi putriku...” kata pria itu cukup pasrah, “Pada waktu itu kami jalan-jalan ke sebuah tempat yang direkomendasikan oleh putriku, katanya di sana ada sebuah taman bunga yang sangat indah. Memang begitulah adanya, tapi... ketika putriku bermain-main di sana, dia tiba-tiba terkapar di tanah, dan aku menemukannya terbaring ketika bercak hitam itu menyebar secara tiba-tiba.”


“Sudah berapa lama kondisi putri anda seperti ini?” tanya Annastasia.


“Sekitar setahun sejak kejadian itu.”


Ternyata begitu. Kalau penyakit ini akan menyebar lewat udara atau sentuhan kulit, maka keluarga yang di sekelilingnya akan ikut tertular, dan mengalami hal yang sama seperti putrinya.


Menyedihkan sekali, padahal putrinya masih sangat belia.


“Oleh karena itu aku memohon pada kalian, aku mohon kalian bawalah tumbuhan yang ada di sana.”


“Lalu, darimana anda tahu bahwa obatnya adalah tumbuhan itu?” tanya Annastasia.


“Sebenarnya aku meminta tabib kekaisaran untuk mengobati putriku, tapi obatnya sangat sulit dijangkau dan berada di lokasi yang berbahaya. Aku juga berpikir bahwa kalau ada sebuah penyakit maka obatnya juga akan berada di tempat yang sama.”


Itulah perkataan dari pria itu.


“Itu artinya pada waktu itu kalian pergi ke tempat berbahaya itu?” kata Annastasia.


Aku juga berpikir begitu, kalau pria itu mengatakan hal tersebut, maka rekomendasi dari putrinya adalah pergi ke tempat yang sangat berbahaya meskipun ada sebuah keindahan yang berada di baliknya.


“Aku benar-benar tidak tahu soal itu, aku hanya mengikuti perkataan dari putriku.” Kata pria itu.


Aku tidak bisa berkata-kata dengan perkataannya. Meskipun dia tahu akan pergi ke tempat yang tidak diketahui, tapi dia tidak memeriksa tempat yang akan dikunjunginya itu, itulah penyebab kegagalannya dalam mengasuh anaknya.


“Huh, baiklah. Kami hanya diberi tugas untuk mengambil tumbuhan itu, bukan?”


“Benar, aku akan memberikan bayaran yang setimpal untuk kalian kalau kalian mendapatkan tumbuhan itu.” Kata pria itu, “Oh iya, aku lupa memberi tahu namaku, perkenalkan namaku Edward.”


Pria itu menyuguhkan tangannya kepada Annastasia.


“Baiklah...” kemudian Annastasia menjawab jabat tangannya, “Namaku Capella, dan ini rekanku Vega, lalu ini...”


Ketika Annastasia ingin memperkenalkanku, dia kebingungan memanggilku dengan CodeName apa, karena itu aku mengambil alih.


“Panggil saja aku Ryuuji...” jawabku.


Dengan panggilan seperti itu, tidak akan ada yang mengenalku.


“Baiklah. Sebelum aku memberikan lokasinya kepada kalian, bolehkah aku mengkonfirmasi kelas petualang kalian?” pinta dari Edward.


Sepertinya ini adalah formalitas.


Kemudian kami bertiga menunjukkan pelat petualang kami.


“Bukankah syarat minimalnya adalah petualang kelas A, tapi kenapa...” Edward heran dengan kelas petualangku


Kami memang bisa menghilangkan nama asli kami dari pelat petualang itu, tapi aku lupa untuk memalsukan kelas petualangnya.


“Ah itu, tentang saja Tuan Edward, rekan kami Ryuuji sangat ahli dalam membuat strategi meskipun kelas petualangnya hanya kelas E.” potong Elma.


Bagus, Elma! Itu benar-benar ide darurat yang sangat dibutuhkan.


“Kalau begitu, aku tidak mempermasalahkannya selama kalian berhasil membawa pulang tumbuhan itu.” tambah Edward.


“Kalau begitu, kami akan pergi sekarang.” Kata Annastasia.


Kami berbalik dan menuju ke pintu keluar. Setelah banyak informasi yang didapatkan dan lokasi tempat tumbuhan itu berada, kami pergi meskipun ada beberapa hal yang kupikirkan sejak tadi.


Dengan itulah Quest sisipan sebelum misi utama kami dimulai.


つづく