I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II

I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II
Chapter 11.3



"Huh."


Dari tadi sejak aku terjerat dari akar-akar ini. Aku tidak tahu, tanpa menggunakan kemampuanku aku bisa melepaskan diri hanya dengan kekuatan fisikku. Hanya saja tiba-tiba sepertinya kekuatan dari monster itu telah lenyap.


Sepertinya Astia dan gadis lainnya melakukannya dengan sangat baik.


Duduk di atas rumput dan menegakkan pedangku, menopang diriku padanya sembari mengunggu para gadis.


Cukup lelah ketika aku mengatasi satu jam penuh hujan serangan monster tadi, makanya aku sedikit mengantuk.


Tidak ada satu detik ketika aku menyadari cahaya melintas di sudut penglihatanku. Aku memang mengantuk tapi aku tidak menurunkan kewaspadaanku.


Melesat tanpa berpikir— menghindari itu sebelum sepersekian detik kemudian cahaya itu jatuh dan membuat sebuah lubang besar di tempatku tadi. Tapi tidak hanya itu, sepersekian detik lagi kemudian teriakan terdengar dari jauh dan udara serasa mengamuk. Seperti tidak akan memberiku ruang untuk bergerak.


"SONICALLY AIR!!!"


Aku menghindarinya, itu cukup berbahaya. Serangannya cukup serius, menyebabkan jejak besar dan kerusakan fatal saat dilaluinya hingga ratusan meter.


Mereka benar-benar tidak memberiku ruang—


Ketika aku menghindari serangan yang merusakn itu, seseorang melesat di titik butaku. Serangannya cukup membunuh pria berotot seperti Giorgino hanya dengan ayunan tangannya sendiri. Namun, aku sudah terbiasa dengan serangan dan kebiasaannya itu.


Aku melompat, melewati dirinya seperti melakukan teknik akrobatik. Dia melihatku cukup terkejut.


Di saat kakiku menyentuh tanah, cahaya lain datang, sekarang jauh lebih banyak. Serangannya dari arah lain, berarti dengan orang yang berbeda juga. Aku melewatinya— melompat mundur beberapa kali. Serangannya menyebabkan lubang besar di tanah dan meledak beberapa kali.


"Apa hanya dengan ini kalian bisa menutupi kekurangan anggota kalian?"


Aku membuat provokasi. Mereka seharusnya mendengarku dan juga menyadarinya. Saat ini mereka kekurangan tiga anggota lainnya dan harus menutupi kekurangan itu semua dengan kemampuan mereka sekarang. Tapi pertanyaannya apakah bisa?


Seseorang berlari dengan cepat, membawa pedangnya di lahan terbuka.


Akhirnya Natasha ingin langsung berhadapan denganku...


Menebas, menutup seluruh jaraknya denganku. Aku mengangkat pedangku dan menghunuskannya sedikit dari sarungnya. Sebuah dentang pedang terdengar— pedang kami bergetar hingga mencapai ke tanganku, tapi itu tak berlangsung lama.


Mata Natasha menajam ke arahku dan tersenyum percaya diri seolah menguasai keraguannya.


Seseorang dengan keberadaan yang lemah meninjuku, membuat tusukan tangan ke arah perut bagian kiriku saat aku mengatasi serangan Natasha. Orang itu adalah Marrona.


Seharusnya serangannya dapat membuat lubang di perutku, tapi tidak semudah itu. Ini memang beresiko tapi— lima senti sebelum tangannya meraih perutku, aku mencengkeram tangannya, bergeser dari bidikannya dan menyandung kakinya sebelum tangan lainnya kembali meraihku...


"Kuhh..."


Hasilnya Marrona tersandung memalukan dan wajahnya menyicipi kasarnya tanah kering.


Resikonya dalam beberapa milidetik kemudian aku tidak dapat melihat serangan lanjutan Natasha, targetnya adalah bahu kananku. Tapi aku sudah menilai itu.


Sarung pedangku kulepas seutuhnya, mengambilnya dengan tangan kiri dan menghalau searngannya. Itu tidak sempurna dan bergetar, tapi cukup untuk membuatku membuat jarak.


Sebuah cahaya terlihat di mataku, tidak hanya satu tapi lebih banyak, tapi aku sudah menyadarinya. Aku mengeluarkan belatiku dan melemparkannya ke salah satu cahayanya. Sisanya aku tinggal menghindar seefektif mungkin.


Cahayanya tertinggal dariku dan menghantam pepohonan sehingga membuat lubang besar di mana-mana. Belatiku tidak bisa mengatasinya dan malah berubah menjadi bubur. Padahal aku hanya iseng mencobanya, ternyata hanya imajinasiku.


Sepertinya mereka sudah lebih cerdas dalam menyembunyikan keberadaannya—


Sebagai penyerang jarak jauh, Lilac dan Amarilis harus menghilang dari pandangan dan insting musuhnya. Dengan ini mereka tidak dapat diserang.


Cahaya-cahaya itulah serangan mereka. Panah yang terbentuk dari konsentrasi aliran magis mereka dan kemudian terpantul kan oleh sinar matahari. Makanya serangan mereka terlihat seperti cahaya-cahaya yang melayang.


Aku juga cukup terkesan saat mereka memulai pelatihan di saat monster itu— Cernunnos yang mengancam hidup kami, dan itu dilakukan tiba-tiba tanpa sepengetahuanku..


Setelah melihat perkembangan mereka, sepertinya sudah cukup untuk menyelesaikan pelatihannya.


Aku bertepuk sekali, "Baiklah sudah cukup sampai saat ini saja pelatihannya. Mari kita lanjutkan di sesi malam nanti."


"Mana bisa?" Natashan memotong, "Peraturannya adalah saat kami mengalahkan master atau master mengalahkan kami semua, di saat itulah pelatihannya berakhir."


"Tidak ada peraturan yang seperti itu." Aku langsung membalas keluhannya.


"Ugh"


"Meski kau bilang begitu juga, hanya ada hal sia-sia yang kalian lakukan. Kalian tidak akan bisa mengalahkanku dengan jumlah dan kualitas yang seperti ini. Dengan kata lain, permainan kalian membosankan."


Diserang oleh kata-kataku seperti itu. Mereka semua pasrah tidak berdaya.


Lilac dan Amarilis berkumpul dengan Natasha, Marrona terbangun dan membersihkan sisa-sisa tanah di wajahnya... Sepertinya mereka sudah menyerah.


"Yah, meskipun begitu, kemampuan individu dan kerja sama kalian sedikit meningkat."


Para gadis tersenyum dan saling tos.


"Fu, kupikir master masih terikat tadi. Padahal kalau momen itu masih terjadi, aku bisa meledek master seharian." Kata Lilac yang tertawa.


"Fufufu, ini terlalu menyenangkan." Lilac tertawa, "Aku pasti akan memberitahu Elma tentang ini. Aku menunggu ekspresi kesalnya saat mendengar hal ini."


"Itu mengingatkanku..." Gumam Amarilis, "Apa tim Lilia berhasil ya? Aku takut karena mereka bertiga yang paling bermasalah."


"Fu, tidak usah mikirin hal itu. Meskipun masing-masing individu mereka bermasalah, tapi Lilia tetaplah pemimpin yang mengaturnya. Baiklah ayo pulang."


"Benar juga."


Kemudian mereka bertiga pergi di saat Astia datang dari balik hutan.


"Bagaimana dengan yang tadi? Apakah itu cukup membuatmu terkesan, Tuan Yuuki?" Tanya Astia.


"Yah, itu juga bukan urusanku lagi."


Astia mencoba berlagak keren di hadapanku setelah mengalahkan monster itu, tapi aku pergi begitu saja tanpa menghiraukannya dan pergi mengambil tasku.


"...."


Sepertinya dia cemberut.


Aku berbalik, menyuguhkan tanganku kepada Astia, "Ayo pulang..."


Wajahnya menjadi ceria dan mencoba meraih tanganku.


Kemudian Astia memegang tanganku dengan tangan kosong, aku tidak tahu apa yang dipikirannya.


"Apa ini?" Kataku.


"Eh, kamu menawarkan tanganmu untukku bukan?"


"Siapa bilang, aku hanya minta laporanmu yang sudah kamu dapatkan dari Azaka. Nah sekarang, dimana itu?"


"Eh, ehh..." Suara datarnya yang menunjukkan kalau dia tidak menduga hal ini.


"Jangan bilang kamu melupakan hal sepenting itu."


"Tidak, tidak, bukan begitu..." Astia panik, "Aku benar-benar berpikir tanganmu ditujukan untukku, makanya aku sedikit kaget karena perubahan sikapmu itu. Selain itu bukankah lebih nyaman kalau sudah di rumah?"


"Alasan yang bagus, kalau begitu ayo pulang."


Aku menggendong tasku dan berjalan ke arah pulang. Astia mengikutiku dari belakang, sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu.


"Emm... Apa aku boleh menggenggam tanganmu?"


Apa yang dipikirannya?


Aku langsung menjawabnya, "Tidak, aku tidak punya alasan untuk itu."


"Sebentar saja ya? Kalau mau lima menit doang deh."


"Tentu—"


"Wah—"


"—Tidak."


Apa yang sebenarnya di pikiran Astia sekarang sih? Kenapa tiba-tiba keegoisannya muncul sekarang...


"Cih!" Astia mendecak dan membuang muka.


"Kenapa kamu malah manja?" Kataku.


"Manja? Mendapatkan perhatian itu penting meskipun hanya sekadar pegangan tangan doang."


"...."


Aku diam tidak menjawabnya. Aku sudah malas berdebat perempuan, mereka merasa selalu benar dan selalu mencari celah ketika mereka berbuat salah.


"Cih! Mending aku sama gadis lain saja. Itu sebabnya tidak ada yang tertarik denganmu, Tuan Yuuki."


Astia meninggalkanku dan bergabung ke sirkel para gadis. Namun, diam-diam Astia memberikan senyum ketika dia meninggalkanku.


Apa yang dipikirkannya sebenarnya? Apa Astia dengan memegang tanganku dapat memberikan perhatian kepadanya? Ya sudahlah, memikirkan arti dari kata itu saja sangat menyulitkan. Jadi lebih baik memikirkan hal lain saja.


"Perhatian ya..."


つづく


Jangan lupa like, komen dan klik favorit ya untuk membuat Author semagat terus dalam menulis!!