
Barrier itu terus bergetar dan tanah yang mereka pijak juga bergetar dengan sangat intens.
“Oh~ ternyata kau adalah Raja yang berasa dari Kerajaan Fioresd itu ya... ternyata kau masih terlihat muda. Kalau begitu sayang sekali kau akan mati sebentar lagi.”
Hydra itu menatap Raja Azaka dengan tatapan bosan. Raja Azaka yang sedang mengatur pertahanan itu sedemikian rupa, terus melakukan penguatan pada Barriernya yang ditabrak oleh sesuatu yang dapat membunuh pasukannya dalam sekejap.
“Oleh siapa? Terbunuh dengan kadal sepertimu?” kata Raja Azaka, “Kau pikir dengan penghapusan seperti itu akan menembus pertahananku. Kalau begitu bagaimana dengan ini...”
Puluhan lingkaran sihir raksasa tercipta di luar Barrier, kemudian lingkaran sihir itu melesatkan energi magis yang terkonsentrasi.
“Bagaimana bisa...? Seharusnya hal apapun itu akan terhapus saat dia area ‘pelenyapanku’, tapi kau...?”
“Huh! Kau pikir aku adalah orang yang sembarangan yang menjadi raja?! Kalau begitu bawalah kematian bersamamu!”
Puluhan energi sihir itu melesat, mengabaikan penghapusan milik Hydra dan mengabaikan seluruh hukum fisika. Merobek udara dan memekakkan telinga sehingga terlihat sebuah pelangi yang melayang di udara.
BOOM!!
Ledakan terkontruksi akibat distorsi tersebut. Serangan Raja Azaka mengenai seluruh kepala dari Hydra. Seharusnya monster itu hancur berkeping-keping dan tidak memiliki kesempatan untuk memulihkan diri.
Tapi...
“Apa sekarang kau melupakan penghalangku juga?”
“Apa?”
Tidak ada kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan magis itu. Ada sebuah penghalang yang sangat besar menyelimuti Hydra itu. Lalu beberapa saat kemudian, penghalang itu menyatu dengan tubuhnya secara dramatis.
“Enegi penghalang diriku sudah bersatu dengan diriku. Kalau begitu, segel dari tombak sialan ini juga tidak akan berguna lagi padaku!”
Setelah perkataan dari Hydra itu, sebuah benda terlampar dari tubuh Wyvern dan arah lemparan yang tak terkontrol itu mengarah ke pasukan kerajaan. Benda itu berputar-putar dan...
“Apa?!”
Yang pertama kali terkejut adalah Raja Azaka. Sebuah benda yang terlempar dari tubuh Hydra itu menembus seluruh Barrier dengan mudahnya, seolah Barrier itu adalah kaca tipis yang dilempar oleh batu.
Kemudian benda itu tidak menyakiti siapapun selayaknya benda mati. Itu adalah tombak panjang yang ramping berwarna merah kegelepan dan menancap ke dalam tanah.
Raja Azaka tidak merasakan ada bahaya yang terkandung dalam tombang panjang itu, oleh karena itu dia lebih memilih mempersiapkan pertahanan dari serangan berikutnya.
“Sekarang diriku sudah bebas melakukan apapun. Bersiaplah wahai manusia!”
Di saat itu juga, ribuan musuh datang menyerang dari segala arah.
“Serangan musuh!!"
“Mereka semua menyudutkan kita!”
Raja Azaka menyadari itu. Kedatangan musuh di segala tempat membuat seluruh barisan tidak akan aman, karena itu dia harus mengganti formasinya.
“Ganti Formasi melingkar!” teriak Azaka, “Prioritaskan pasukan medis di dalam penjagaan!”
“““Baik!!”””
Seketika, seluruh barisan depan langsung bergerak dan berpencar untuk menyamaratakan pasukan. Seluruh pasukan infantri dan kavaleri menuju ke pasukan medis.
Pada akhirnya pasukan medis berada di tengah pasukan, lalu dikelilingi oleh pasukan infantri dan kavaleri. Pasukan artileri juga mengikuti pergerakan infantri, yang artinya dalam beberapa detik semuanya telah terposisikan dengan baik.
Formasi ini bertujuan untuk menghalau serangan dari berbagai sudut yang ada.
Dengan keberadaan monster-monster yang menyerang, itu artinya pengaruh dari ‘pelenyapan’ itu sudah dihilangkan. Jadi Raja Azaka tidak mempunyai alasan untuk membiarkan Barriernya tetap berlangsung.
Itu tidak ada artinya meskipun Barrier itu tetap terjaga. Meskipun binatang iblis atau monster lainnya tidak bisa menembus pertahanan tersebut, maka sama hal dengan pasukan dari kerajaan, mereka tidak bisa menyerang monster karena ada penghalang tersebut. Begitu juga dengan pasukan artileri, serangan jarak jauh mereka tidak bisa menembus Barrier itu dari dalam.
Itulah yang membuat Barrier dari Raja Azaka tidak efisien. Maka itu hanya bisa disebut pembatas.
Oleh karena itu, untuk membunuh musuh-musuhnya, Raja Azaka akan menghentikan aktivasinya terhadap Barrier itu, dan itu terjadi.
Ribuan monster yang berada di luar Barrier akhirnya menerobos karena aktivasi terhadap Barrier itu telah dihentikan. Akhirnya peperangan kembali dimulai.
Pasukan Artileri menembaki binatang iblis dari jarak jauh dan kemudian pasukan infantri yang memakai tameng, melindungi dan menghalau binatang iblis itu menerobos formasinya.
Kemudian Raja Azaka membuat strategi untuk meminimalisir kerusakan yang ditimbulkan oleh musuh...
Dia langsung memutuskan untuk membuat Barrier dalam sekejap dan langsung membatasi masuknya monster-monster itu dalam jumlah yang banyak. Ini adalah rencana bagus menurutnya, karena musuh yang sudah terlanjur masuk ke dalam Barrier akan lebih mudah dihabisi karena jumlah mereka yang telah dibatasi.
Oleh karena itu Raja Azaka mengulangi hal itu berkali-kali hingga musuh-musuhnya menipis dalam segi kuantitas.
Namun ada dua hal yang dilupakan oleh Raja Azaka... yaitu tentang kesehatan mental yang dialami oleh pasukan kerajaannya pasca terkena efek yang membuat mereka gila dan dominasi.
Lalu yang lainnya adalah...
“Sekarang mari kita lihat seberapa besar pertahananmu...”
“Apa?”
Raja Azaka melupakan tentang keberadaan Hydra itu. Dia berpikir kalau pikirannya telah termanipulasi, tapi itu tidak mungkin karena kemampuan karismanya yang tinggi.
Seluruh tujuh energi magis telah dipersiapkan dan terkonsentrasi di dalam mulut Hydra tersebut. Hydra itu seketika melesatkan tujuh energi magis kegelapan yang terkonsentrasi dalam cakupan yang sangat besar.
Raja Azaka hanya bereaksi terhadap itu dan mencoba memperkuat Barriernya ke tahap maksimal.
Sebuah distorsi terjadi. Energi itu memekakkan telinga dan bercahaya ketika menabrak dinding dari Barrier tersebut. Namun retakan-retakan terdengar, bahkan itu tidak bisa disebut retakan. Satu persatu Barrier tersebut hancur berkeping-keping.
Raja Azaka tidak bisa membuat Barrier yang lebih kuat karena kecepatan serangan magisnya terlalu cepat. Meskipun dia ingin membuatnya lebih banyak dan kuat, maka Barrier itu akan semakin menyusut dan pada akhirnya benar-benar tidak ada ruang untuk mereka bergerak.
Raja Azaka masih mempunyai opsi lain...
“Ternyata begitu...”
Raja Azaka sudah membuat lingkaran sihir di luar Barriernya yang bertujuan untuk mengadukan tekanan magisnya terhadap serangan Hydra itu, tapi sayangnya lingkaran sihir itu langsung hancur karena Serangan Hydra sudah menghantam Barriernya secara terus-menerus.
Oleh karena itu, dia ingin memutuskan untuk menggunakan kekuatannya...
Tapi...
“Astia!”
Seorang gadis melompat ke depan dan Raja Azaka tidak menyangka itu terjadi.
Gadis itu mengangkat tangannya ke atas dan sebuah penghalang transparan raksasa tercipta. Bersamaan penghalang transparan itu terbentuk, ketujuh energi yang terkonsentrasi menjadi satu, langsung berubah menjadi serbuk cahaya.
“Apa... seranganku dinetralisir...?”
Kemudian Hydra itu mencoba mengonsentrasi serangan kuatnya yang berasal dari rahangnya, kemudian di ledakkan.
Namun, ketika mencapai penghalang tersebut, serangannya langsung berubah menjadi serbuk cahaya tanpa ada efek ledakan yang terjadi.
****
Seluruh pasukan melingkari kami dan pasukan medis setelah perintah dari Azaka.
Aku tahu itu yang terbaik, tapi orang-orang yang terkena oleh efek ‘dominasi’ yang membuat setiap kesatria barisan depan, membuat serangan dan pertahanannya tidak merata. Mungkin ini yang tidak disadari oleh Azaka sendiri.
Jadi kami sendiri yang harus bertindak untuk menutupi kekosongan daya tempur tersebut.
“Elma, mari kita ke barisan depan.” kataku.
Alasanku adalah posisi pasukan kerajaan yang terlihat di depan mataku tidak terlalu bisa mengatasi seluruh serangan binatang iblis. Itu dikarenakan trauma yang dialami oleh mereka karena peristiwa kegilaan yang mereka alami tadi.
“Baik!” jawab Elma.
Untuk menjaga pasukan medis, ada satu orang yang tetap berada di posisi.
“Astia, aku akan serahkan posisi ini kepadamu untuk sementara. Aku akan kembali dalam beberapa menit.”
Karena Astia yang paling kompeten, maka dia adalah yang terbaik dalam pertahanan.
“Dimengerti.” kata Astia sambil mengangguk.
Kalau begitu...
Aku dan Elma langsung pergi ke garis depan ketika kami masih memakai topeng mata kami. Lalu saat di garis depan, petualang yang kelelahan mental dan fisik akan kami gantikan untuk menyerang.
Tanpa membuat kesatria itu menjawab pernyataanku, aku dan Elma langsung menghadapi binatang iblis dan kumpulan skeleton dalam jumlah banyak.
“Seperti biasa, Elma.”
“Baik, master!”
Elma tersenyum dengan percaya diri. Lalu dia mengangkat sabitnya dan di saat itulah petir-petir mengamuk di seluruh areanya. Kemudian dia melompat tinggi sebelum dia menyerang musuhnya secara membabi buta.
Tugasku adalah menebas kepala binatang iblis dan membunuh mereka sebanyak mungkin. Ketika aku bertemu dengan monster golem itu, aku menggunakan ‘Inferno Beam’ untuk melenyapkan mereka seutuhnya.
Untuk Skeleton itu... Elma yang mengurusnya, karena energi petir dan kemampuan elektromagnetiknya sangat merusak tulang-tulang Skeleton itu.
Dalam kasus dan misi ini, monster-monster pada umumnya akan mengalami peningkatan yang signifikan dala segi kekuatan. Oleh karena itu Skeleton yang mempunyai kelas D atau C pada umumnya, tapi sekarang mereka naik ke kelas B. Semua statistik tentang mereka berubah, sehingga serangan biasa tidak akan membunuhnya, atau kau bisa terbunuh karena jumlah mereka ditambah regenerasi instannya.
Namun kami sudah mengetahui triknya dalam melenyapkan regenerasi instan itu. Jadi kami tidak terlalu kesulitan dalam menangani ini.
“Elma, mundur!” aku langsung menginstruksikan hal itu
“Dimengerti.”
Ketika aku melihat Wyvern datang, kami memutuskan untuk mundur. Itu karena pasukan artileri yang bertugas untuk menumpaskan mereka. Kalau kami tidak mundur, serangan yang diluncurkan oleh pasukan artileri bisa memungkinkan untuk mengenai kami yang berada di bawah...
Begitulah... seperti yang kujanjikan, aku kembali ke posisi dan menemui Astia.
“Bagaimana Astia, apa kamu ada kesulitan untuk menjaga mereka?” tanyaku
“Untuk saat ini, aku tidak menemukan pertarungan yang membuat korban lebih banyak. Oleh karena itu aku lebih disibukkan untuk membantu pasukan medis lainnya.”
Ternyata begitu. Astia tidak menemukan kesulitan karena garis depan yang di dalam posisinya saat ini adalah aku dan Elma. Karena keberhasilan dalam menangani musuh, Astia tidak direpotkan untuk menangani korban yang akan berdatangan.
“Oh? Jadi kamu berkeliling?”
“”Benar... banyak korban di pos lain yang menderita kegilaan dan serangan mental. Oleh karena itu, banyak yang diantara mereka tidak bisa melanjutkan penaklukan.
“Baiklah...”
Namun, tiba-tiba sebuah energi besar menabrak Barrier besar ini. Itu terlalu mencolok dan membuat tanah yang kami pijak bergetar...
Itu berasal di posisi Azaka yang sedang menahan serangan Hydra itu sendirian. Aku tidak bisa membuat kemungkinan terburuk lain selain Barrier ini akan hancur dan membuat kita semua mati dalam sekejap.
Dengan begitu aku memberitahu Astia. Namun sebelum itu...
“Elma, aku akan menyerahkan posisi ini padamu.” Kataku.
“Eh?”
“Ya, ini darurat tapi... kalau kau mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan, panggil saja Natasha.”
Aku cukup mengenal mereka, jadi dalam kasus ini aku akan meninggalkan Elma sementara dan pergi bersama Astia.
Sepertinya Astia sudah menyadarinya juga...
“Ayo, Astia.”
“Baik, Tuan Yuuki!”
Kami langsung melewati barisan pasukan medis yang ada dan menuju ke arah Raja Azaka.
Sekarang Raja Azaka sedang berjuang seorang diri dalam mempertahankan Barriernya dari serangan kuat dari Hydra itu. Aku tahu dia tidak memiliki jalan keluar seperti yang kulihat dari perobaannya yang gagal dalam membentuk aktivasi sihir.
“Sepertinya Barrier ini sudah di ujung tanduk...” kataku.
Retakan terdengar di seluruh penjuru, dan sedikit demi sedikit itu dihancurkan oleh serangan Hydra.
“Karena itu, sekarang adalah giliranmu Astia...”
“Aku akan berusaha sebaik mungkin...” Astia mengangguk.
Kami akhirnya sampai di tempat Raja Azaka berada...
Aku juga melihat sebuah tombak panjang misterius yang berada di dekat Raja Azaka, tapi bukan itu perhatian kami.
“Sekarang! Astia!”
Astia melompat ke arah depan Raja Azaka dan membuat pertahanan yang sama seperti dia gunakan pada kami.
Sebuah penghalang transparan terbentuk dalam sekejap. Hasilnya serangan Hydra itu menjadi serbuk cahaya.
Hydra itu menunjukkan keterkejutannya, lalu dia mencoba melakukan serangan yang sama, tapi langsung berubah menjadi serbuk cahaya ketika menabrak penghalang transparan Astia.
“Kenapa bisa seranganku tiba-tiba menghilang?”
Ketika Hydra itu terkejut, Raja Azaka memanggil Astia...
“Bukankah itu kau... Astia?”
“Iya Yang Mulia, ini aku Astia...” jawabnya.
Setelah mendapatkan jawabannya, sebuah lingkaran sihir rakasasa tercipta di luar penghalang, lalu melesatkan energi sihir yang pekat dengan warna hitam.
Kemudian melesat dan berbenturan dengan penghalang milik Hydra tersebut. Namun tidak seperti sebelumnya, sekarang serangan Azaka memiliki efek yang signifikan.
Serangannya meledak dan membuat retakan besar di penghalang tersebut. Sepertinya itu cukup berhasil meskipun masih belum bisa menghancurkannya.
Ketika Hydra itu kembali tenang, dia melihat ke arah kami.
“Hahaha! Meskipun seranganku dinetralisir tapi seranganmu tetap tidak memiliki efek kepadaku, wahai manusia!” kata Hydra itu, kemudian dia melanjutkan, “Namun sekarang— k-kau! Bukankah kau...!!”
Kalimat Hydra itu terhenti akan sesuatu ketika melihat kami. Dia seolah terkejut karena ada kehadiran yang membuatnya terkejut. Dia juga membuat satu langkah mundur karena efek keterkejutannya terhadap sesuatu.
Sebenarnya apa itu?
“Bukankah kau...!! Pahlawan itu?!!”
Sebuah keterkejutan juga melanda kami. Hanya ada kami bertiga yang ada di tempat ini, tapi Hydra itu menyebutkan tentang ‘pahlawan’. Itu artinya jelas bahwa ada seorang pahlawan yang telah menyegel Hydra itu di masa lalu, dan dia berada di sini?, itu yang membuat Hydra itu sedikit melangkah mundur ketakutan.
Karena itu aku langsung menoleh ke arah Azaka dan menatapnya. Dia juga menatap ke arah lain yang bukan Hydra itu...
Itu artinya bukan Raja Azaka yang menjadi pahlawan sebenarnya...
Lalu siapa pahlawan yang dimaksud?!
“Aku mengerti... ternyata kau orangnya. Pantas saja tombak sialan itu memiliki energi yang sama seperti dirimu. Sekarang aku yakin kau adalah pahlawan itu...”
Siapa yang benar-benar dia maksud?
Tidak ada yang sesuai dengan ciri khas pahlawan yang ada di sini. Jadi aku benar-benar kebingungan. Kemudian Hydra itu memberikan dominasinya yang lebih kuat ketika dia marah.
“Kenapa kau selalu menghalangi jalanku, pahlawan sialan!!”
Sungguh, siapa yang dia maksud?
Karena kejanggalan itu, Raja Azaka lah yang berbicara.
“Sebenarnya kau itu sedang berbicara dengan siapa?” tanya Azaka.
“Ada apa dengan kebodohan dirimu manusia? Kenapa kau tidak menyadari ada pahlawan yang berada tepat di depanmu itu!”
Aku langsung menoleh ke seseorang yang tepat di depan Raja Azaka.
“Astia?!”
“Aku?” Astia menunjuk dirinya sendiri karena kebingungan.
Semua yang ada di sini sangat kebingungan dan mendapatkan pernyataan yang sangat berat itu... realitas menjadi kacau balau dan sangat membingungkan.
Sebenarnya apa yang terjadi...?
つづく