I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II

I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II
Chapter 12.1



Mereka bertiga benar-benar melakukannya dengan baik. Aku tidak menolak fakta itu.


"Kalau begitu, mari kita beralih ke laporan berikutnya."


Nah, sekarang adalah giliran regu Astia dengan informasi yang telah mereka dapatkan dari Raja Azaka. Lalu, Astia memberikan padaku sebuah perkamen yang digulung dan disegel oleh cap kerajaan.


"Apa ini?" Tanyaku.


"Itu adalah surat resmi yang menandakan terbentuknya regu 'Tomoe' sebagai pasukan khusus kerajaan, secara resmi."


Apa-apaan pasukan khusus itu?


Perkataan Astia membuatku hanya membuatku menghela napas. Aku tidak percaya Raja Azaka benar-benar serius terhadap keputusannya, dan menerima kami begitu saja.


Baiklah, saat ini aku tidak akan menghiraukan tentang Raja Azaka yang membuat peresmian pasukan ini terlebih dahulu. Aku akan ke topik lain.


Aku membiarkan perkamen itu sebelum kubuka segelnya, dan menyingkirkannya dari pandanganku, karena itu tidak penting setelah dijelaskan oleh Astia.


"Lalu, apa dia menyebutkan sesuatu tentang rencananya?"


"Ya, seperti yang diprediksi Tuan Yuuki. Yang Mulia akan menunda penyerangannya sampai mendapatkan informasi yang cukup tentang monster kelas bencana itu."


Ternyata pemikiranku dan Raja Azaka sama untuk hal ini. Di posisi ketika memegang sebuah kekuasaan, dia akan menggunakan otoritas dan haknya untuk menjadi pengamat sementara. Setelah informasinya memasuki ke tahap yang cukup maka pihak kerajaan akan langsung bertindak.


Intinya kita tidak dapat maju ke dalam jurang tanpa mengetahui apa yang ada di dalamnya.


"Begitu, sampai kapan batas waktunya?" Tanyaku.


Pertanyaanku kepada Astia membuat dia mengingat kembali apa yang dikatakan Raja Azaka.


"Aku tidak tahu spesifik apa yang Yang Mulia maksud, tapi katanya batas waktunya sampai setengah hari setelah para petualang melancarkan serangannya."


Kemudian aku berbicara dengan suara yang pelan, "Begitu ya... Itu cukup beresiko."


"Beresiko? Memangnya kenapa?"


Ternyata suaraku didengar oleh Lilac.


"Ya, baiklah akan kujelaskan..."


Aku menaruh laporan Astia ke atas meja untuk sementara. Lalu aku menatap para gadis ketika aku menjelaskan...


"Mari kita asumsikan setengah hari yang dimaksud adalah dua belas jam penuh, lalu dengan dua belas jam itu para petualang menggunakan sebagian besar tenaga dan pasokan Mananya untuk melancarkan serangan dan bertahan. Kita tidak hanya berfokus pada Monster Hydra itu saja, tapi fokus kita juga teralihkan pada monster-monster tingkat tinggi lainnya. Kalau mereka bertarung tanpa henti dalam rentang waktu tersebut, aku tidak yakin mereka akan bertahan."


"Bahkan dengan pasukan pembalas?" Tambah Lilac.


"Benar." Balasku, "Kita asumsikan para monster tingkat tinggi seperti Wyvern dengan jumlah seratus yang tersebar di segala titik, kemudian melawan petualang yang berjumlah kurang lebih seratus orang juga. Apakah setiap satu orang dapat menahan satu Wyvern dengan kekuatan yang sama?"


Dengan jumlah monster yang sebanyak itu dengan ditambah kelasnya yang tingkat tinggi, itu adalah kemungkinan terburuk yang telah kupikirkan.


"Tentu tidak." Bahkan Natasha yang menjawab pertanyaanku dengan jujur, ketika dia melanjutkan, "Setiap petualang tidak memiliki kekuatan yang sama, bahkan ada yang hanya ikut-ikutan karena untuk ajang pamer diri dan tanpa sadar mengetahui kalau mereka itu lemah. Sedangkan, para Wyvern itu atau monster lain memiliki kelebihan yang sama dengan kekuatan rata-rata yang setara yaitu A+, dengan begitu para petualang harus sebaik mungkin untuk menutupi kekurangan dari salah satu anggota mereka."


Perkataan Natasha adalah salah satu kebenaran yang sulit disadari oleh orang-orang awam, bahkan misi ini bukanlah sebuah tempat untuk ajang pamer dari kekuatan mereka. Kalau mereka tidak siap, mereka hanya akan mati.


"Itu artinya mereka harus menjaga kekuatan dan tenaga mereka tetap konsisten. Dan yang terpenting adalah kerjasama dan mental yang kuat..."


Kalau mereka dapat menjaga hal yang kusebutkan dengan konsisten atau stabil, maka mereka semua akan dapat melewati rintangan pertama mereka.


Ini adalah efek domino. Kalau para petualang itu tidak dapat memenuhi satu hal saja, maka hal yang kusebutkan yang lain akan hancur juga.


"Kalau begitu, seharusnya penyerangan pihak kerajaan harus dimulai sejak kapan kalau setengah hari terlalu lama?" Sepertinya Lilia terus mengikuti pembicaraan ini dan mengerti hal tersebut.


Di sampingnya, Natasha membuat Asumsi, "Penilaianku harus secepat mungkin. Mungkin tiga jam setelah penaklukannya dimulai."


"Tiga jam?!" Lilia kaget, "Bahkan itu waktu yang jauh lebih cepat daripada yang ditawarkan Yang Mulia!"


"Ya, menilai dari kondisi mereka dan kerjasama mereka yang terbilang masih baru, maka rentang waktu yang kukatakan adalah yang paling cocok."


Mungkin yang dikatakan Natasha adalah kenyataan yang dapat dilihat oleh mata, tapi kalau menambahkan hal itu mungkin menjadi lebih singkat.


"Hanya satu jam, tidak, bahkan aku akan berpikir hanya setengah jam." Perkataanku membuat tanda tanya besar di wajah para gadis, "Aku tidak yakin dengan pengalaman mereka, bahkan mereka tidak tahu kalau kondisi alam yang berada di Pegunungan Yatze telah berubah."


"Sa-satu jam itu... Apa petualang-petualang itu selemah itu?" Lilia heran sampai hampir tercekik oleh kenyataan.


"Bukan kekuatan mereka yang lemah, tapi rasa ego dan kesombongan mereka yang terlalu tinggi yang membuat mereka lemah. Karena itu, aku tidak pernah yakin kalau mereka akan bekerja sama selain kepada kelompoknya sendiri."


Aku mengatakan itu bukan tanpa alasan. Aku telah mempelajari tentang rasa kemanusian dan rasa Empati orang-orang yang ada di dunia ini. Aku juga pernah merasakannya saat kasus Astia masih menjadi budak. Saat itu Astia tanpa sengaja dijadikan tontonan di depan semua orang, dipermalukan dan disiksa tanpa ada yang menyelamatkannya. Empati mereka benar-benar tidak bisa diharapkan...


Perilaku dan sifat yang buruk itu yang akan membuat seseorang menurunkan kualitas tempurnya tanpa ia sadari. Apalagi ketika ada orang yang meremehkan monster-monster itu, maka dia hanya akan mati di tempat sebelum dia mengerahkan niat bertarungnya.


Lalu, Astia masuk ke dalam pembicaraan dan memberikan Argumennya.


"Baiklah, mari kita lupakan hal yang menyedihkan itu. Anggap saja para petualang itu memiliki kualitas petualang yang benar-benar menjanjikan menurut prestasi dan pengalaman mereka."


Sungguh, perkataan Astia yang akan menjadi kata penyemangat bagi para gadis. Aku sungguh terkesan padanya.


"Kalau mereka menjaga nama baik prestasi mereka dan menjalankan koordinasi mereka dengan baik, maka dalam waktu satu jam itu, para petualang pasti akan melewati hambatan pertama."


Yang dikatakan Astia memang benar. Kalau kemampuan dari para petualang itu benar-benar menunjukkan kualitasnya, maka menaklukkan monster-monster tingkat tinggi itu bukanlah hal yang sulit.


Kemudian Astia melanjutkan perkataannya, "Dengan begitu, tanpa menunggu bantuan dari pihak kerajaan, para petualang itu menuju ke tahap berikutnya. Yaitu menghadapi langsung monster kelas bencana, 'Ulitmate Hydra'."


Setelah peryataan Astia yang cukup dramatis, aku melanjutkannya tentang masalah yang ada di koordinasi tersebut,


"Setelah mengetahui rencana mereka, aku tidak tahu pemikiran siapa ini, yang menempatkan beberapa kelompok di titik ini." Aku menunjuk kelompok yang berada di titik timur penyerangan.


Kemudian Lilia menjawab, "Ah itu seorang pemimpin kelompok 'Pedang Tujuh Lautan' yang bernama Fay, sekaligus yang memimpin keberlangsungan pertemuan tadi, dan pemimpin kelompok lainnya beserta anggotanya."


Aku hanya bisa menghela napas, "Huh~ Aku tidak tahu apa yang dipikirkan orang itu. Apakah itu adalah pemikiran yang benar-benar direncanakan olehnya atau dia memang bodoh?"


"Aku juga berpikir hal yang sama. Aku tidak mengerti jalan pikirannya ketika dia memutuskan ke titik itu, yang mana monster utamanya berada di sana. Apalagi mereka hanya tiga kelompok, artinya hanya sekitar tiga puluh orang, maju ke tempat itu tanpa menunggu seluruh kelompok dan bantuan kerajaan. Itu hanya akan mengantarkan kematian kepada mereka."


Penjelasan Lilia benar-benar mendeskripsikan kenyataan yang akan dialami oleh ketiga kelompok itu kalau mereka serius menyelesaikan semuanya dengan ego dan rasa juangnya. Kalau mereka tidak menunggu bantuan dari pasukan kerajaan atau menunggu kelompok lain dari seluruh titik berkumpul, mereka hanya akan menghadapi kematian.


つづく