I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II

I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II
Chapter 18.1



Di garis depan, Raja Azaka telah mengkoordinir pasukan sebaik mungkin. Ketika sebuah suara terompet digaungkan, mereka semua dengan serentak maju ke medan pertempuran. Butuh beberapa waktu untuk mencapai barisan paling belakang dari para petualang itu.


Tentunya barisan paling belakang itu adalah kelompok dari petualang yang bernama Angel Queen.


Raja Azaka telah mendapatkan seluruh informasi yang terkait di medan pertempuran dari para bawahannya yang mengintai di antara para petualang. Karena itu akan berbahaya kalau penaklukan ini dilakukan di awal-awal hari.


Dia harus mengumpulkan informasi tentang musuh dan kondisi alam sekitar yang diinformasikan oleh bawahannya telah berubah.


Raja Azaka hanya ingin menghindari lebih banyak korban dengan mengorbankan para petualang di garis depan.


Dengan rencana yang seperti itu, Azaka akan lebih mudah mengakses kelemahan musuh secara berkala dan mencari penanganan ketika waktu terus berjalan.


Setelah beberapa saat mereka bergerak ke medan pertempuran, di sebuah tempat, mereka dapat melihat perkemahan yang dapat menampung ratusan orang.


Sepertinya itu adalah perkemahan dari kelompok Angel Queen beserta petualang-petualang lainnya.


Dengan banyaknya pasukan tersebut dan peralatan armor berat yang memekakkan telinga, para petualang sepertinya menyadari tentang hadirnya pasukan kerajaan ke daerah itu. Karena itu ada beberapa orang yang terlihat mencolok, menunggu kehadiran pasukan kerajaan di depan kemah mereka.


“Kehormatan besar bagi kami atas kehadiranmu Yang Mulia...” kata seorang petualang ketika dia berlutut.


Petualang itu adalah wanita yang berambut panjang seperti api yang berkobar meskipun dilihat dengan mata normal, namanya adalah Violentina. Dia juga adalah pemimpin kelompok petualang yang bernama Angel Queen. Dengan peralatan yang selengkap itu, layaknya dia dapat disebut sebagai pemimpin dari kelompok yang terkenal.


Raja Azaka yang duduk di atas kudanya itu berkata, “Tidak perlu membuat formalitas seperti itu. Kami yang secara tidak langsung telah memperkerjakan kalian, jadi seharusnya kami yang berterima kasih pada kalian karena membantu penaklukan ini.”


“Ti-tidak, ini adalah permasalahan kita bersama dalam menaklukan monster kelas bencana itu, dan juga ini juga telah menjadi kesepakatan bersama. Jadi semuanya akan saling membantu.” Kata Violentina.


Kemudian Raja Azaka mengubah topiknya.


“Bagaimana dengan kondisi garis depan? Bukankah seharusnya kalian juga mengikuti para petualang yang berada di garis depan meskipun kalian adalah pasukan garis belakang?”


Ketika para petualang yang berada di garis depan terkonfirmasi telah mengatasi berbagai gelombang serangan musuh, seharusnya mereka telah mencapai ke tahap berikutnya, menaklukan musuh utama mereka, yaitu monster kelas bencana— Ultimate Hydra.


Namun, pasukan yang dipimpin oleh kelompok Angel Queen tidak memiliki pergerakan sama sekali meskipun mereka adalah pengendali informasi dan itu yang menjadi titik tumpu atas kemenangan.


“Ada alasannya Yang Mulia. Sebelumnya kami sempat terputus dengan sambungan dari pasukan yang berada di titik timur laut, tapi beberapa saat kemudian karena suatu hal, sambungan itu kembali terkoneksi.”


Namun, tidak hanya di situ saja keresahan Violentina.


“Masalah terbesarnya adalah, pada beberapa menit yang lalu, koneksi antara kami dengan pasukan di seluruh titik telah terputus.”


Karena perkataan Violentina, prajurit kerajaan terkejut ketika mendengar itu. Ini benar-benar masalah yang tidak bisa dipikirkan atau diprediksi oleh siapapun.


“Baiklah, coba jelaskan kronologinya.” Raja Azaka yang masih tenang, mengatakan hal demikian.


“Pada saat itu...”


Kemudian Violentina menjelaskan seluruh masalahnya.


Ketika pasukan di setiap titik berhasil menghabisi musuh mereka dan mengamankan area dari titik itu, mereka semua menyetujui kesepakatan bersama yaitu berkumpul dengan sisa kekuatan mereka. Sehingga pasukan yang berada di titik selatan dan di titik timur laut berkumpul dengan pasukan yang berada di titik timur.


Perkumpulan mereka bisa dibilang adalah tempat pemberhentian terakhir, seolah-olah itu adalah gerbang masuk ke dalam ruangan monster bencana itu.


Setelah mencapai kesepakatan itu, para petualang itu masuk ke dalam sebuah gua yang sangat besar di antara tebing-tebing tinggi. Area itu adalah Pegunungan Yatze yang menjulang tinggi, tapi ada sebuah ruang besar yang ada di balik tempat itu.


Namun ada beberapa kabar darurat terjadi... Angel Queen mendengar bahwa ketika mereka memasuki gua tersebut, sebuah longsor besar terjadi. Akhirnya mereka semua tidak ada pilihan lain untuk maju terus tanpa bisa menunggu pasukan kerajaan.


“Di saat itu juga komunikasi kami telah terputus karena penyebab yang tidak diketahui.” tambah Violentina.


Pernyataan Raja Azaka memang benar. Dalam situasi yang sangat darurat itu, seolah ada suatu hal yang membuat para petualang tidak akan mendapatkan bantuan dari luar dengan adanya longsor tersebut. Di saat para petualang akan menaklukan monster kelas bencana tersebut dengan sisa pasukan mereka. Kemungkinan besar merekalah yang akan dimusnahkan.


Tercatat bahwa ada ribuan hingga ratusan ribu orang yang telah tewas karena amukan monster tersebut di masa lalu, sekitar 500 tahun yang lalu. Itu yang menjadi bukti bahwa dengan kuantitas yang sebanyak itu pun tidak bisa menaklukan monster itu, meskipun pada waktu itu Kerajaan Fioresd sedang berperang dengan kerajaan lain.


Tapi itu yang membuat perbedaan besar atas kualitas mereka.


Di masa lalu juga dikatakan hanya seorang pahlawan misterius yang tidak diketahui identitasnya hingga saat ini, yang hanya bisa menyegel monster itu seorang diri. Namun dimana pahlawan itu? Tidak ada yang tahu.


“Apa reruntuhan longsor itu tidak bisa dihancurkan?” tanya Raja Azaka.


“Aku pikir itu berbahaya...” kata Violentina, kemudian dia melanjutkan, “Aku merekomendasikan untuk tidak menerobos masuk dan menghancurkan reruntuhan longsor itu, karena gua itu berada di antara tebing-tebing tinggi. Kalau kita menghancurkannya, kemungkinan besar akan terjadi longsor lainnya dan itu sangat merugikan.”


Karena itu Raja Azaka membuat keputusan darurat, berdasarkan informasi yang dikirimkan oleh pasukan khusus kerajaan yang bernama ‘Tomoe’ kepada Raja Azaka pribadi.


“Baiklah, ada hal yang harus aku katakan...”


“Apa itu Yang Mulia?”


“Sebenarnya ada sebuah gua yang sangat besar berada di titik selatan. Mungkin pasukan yang berada di titik selatan tidak menemui gua itu. Jadi ada kemungkinan gua itu adalah jalan alternatif untuk memasuki ke dalam gunung itu.”


Ini yang membuat Violentina dan orang-orang lain terkejut.


“Ohh! Itu berita yang mengejutkan! Kalau begitu itu adalah satu-satunya harapan kita!” kata Violentina.


“Tapi masalahnya ada satu, yaitu kita harus memutar ke arah titik selatan, dan itu memakan lebih banyak waktu.”


“Begitu ya...”


Tidak ada pilihan lain selain mengejar waktu yang sudah tertinggal itu. Mereka harus sesegera mungkin hingga mencapai gua yang disebutkan itu. Ketika mereka sudah sampai di tempat tujuan, mereka hanya bisa berharap untuk kemungkinan bahwa para petualang masih bertahan melawan monster kelas bencana tersebut.


“Baiklah, kita tidak perlu membuang waktu lagi. Persiapkan kelompokmu dan petualang untuk maju ke medan perang!”


“Dimengerti Yang Mulia!”


Kemudian Violentina mengintruksi seluruh petualang yang berada di tempat itu.


Bersamaan dengan pasukan kerajaan, mereka semua bergegas ke gua yang berada di titik selatan secepat mungkin. Beberapa ratus pasukan kavaleri yang paling depan dalam mengarahkan jalan, dan memiliki tujuan untuk memberantas musuh-musuh yang akan datang kepadanya.


Musuh-musuh baru kemungkinan akan bermunculan meskipun sebagian mereka sudah dihabisi oleh para petualang.


Hanya butuh satu jam perjalanan, mereka semua telah sampai di tempat yang dituju. Ini adalah informasi atau pemandangan baru mereka tentang keberadaan gua itu. Gua itu tidak pernah tercatat oleh peta manamu. Oleh karena itu, bagi kerajaan, yang menemukan tentang keberadaan gua ini patut diapresiasi.


Dengan pasukan yang menyentuh angka sepuluh ribu itu, mereka memutuskan masuk ke dalam Gua tersebut. Pada faktanya mereka merasakan aura kejahatan, rasa sakit, dan dominasi ketika mereka memasuki gua tersebut. Karena itu mereka sangat berharap para petualang yang berada di garis depan tidak menimbulkan korban yang lebih besar.


“Tunggu kami, semuanya...”


Harapan Violentona yang berharap pada keselamatan para petualang itu terus menyusut dikarenakan aura-aura yang menyelimuti gua tersebut.


Namun, ketika mereka telah sampai di garis depan, mereka tercengang dengan situasi yang telah terjadi.


つづく


Jangan lupa like, komen, dan klik favorit ya, untuk mmebuat Author semangat terus dalam menulis!