I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II

I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II
Chapter 29 : Operasi Blaue Nacht



Di sebuah kawasan yang dipenuhi kehijauan sejauh mata memandang, air sungai mengalir deras juga dapat di dengar. Terdapat kicauan burung di pagi hari yang cukup cerah, dan banyak tupai yang melompat-lompat ke pepohonan lainnya.


Hutan yang seperti itu memang sangat didambakan keasrian dan kenyamanannya untuk setiap orang.Namun, di balik semua itu, di jauh sana ada sebuah tanah yang kering dan gersang, dan banyak pohon-pohon yang mati.


Setelah berjalan melewati perbukitan dan sebuah gua, aku dan yang lainnya memang sangat menikmati keindahan dan ketenangan di hutan sebelumnya— tapi setelah melewati gua tersebut, aku cukup terkejut dengan kondisi alam yang sangat berbanding terbalik.


“Aku tidak percaya hutannya berubah 180 derajat setelah melewati tempat tadi.” ucap Astia yang miris ketika melihat kondisi sekitar hutannya.


Ini memang bukanlah musim gugur atau faktor alamiah apapun itu, tapi aku bisa melihat air sungai yang sudah sangat tercemar— limbah-limbah yang entah berasal darimana, memenuhi sungai yang kulihat saat ini.


Sebagai bukti betapa rusaknya tempat ini adalah— hampir tidak ada hewan apapun di sekitar hutan ini, terasa sunyi dan mengerikan, hanya tersisa suara burung gagak yang terdengar. Bahkan ketika aku melihat satu hewan pun, mereka sudah menjadi mayat yang kurus dan dikelilingi oleh lalat.


Untuk menjadi informasinya— kami telah berada di wilayah Kerajaan Heiliges, tapi bukan berada di pusat peradabannya, atau bisa dibilang kami berada di tempat yang tertutup.


Kerajaan Heiliges berada di wilayah paling timur dan kami harus menaiki kapal untuk sampai ke wilayah ini. Ini yang membuat kerajaan ini kaya akan keanekaragaman tumbuhan dan binatang yang eksotis.


Namun ketika kami berada di tempat yang berbeda sedikit saja...


Ini tidak bisa diharapkan.


Tempat yang saat ini kami kunjungi adalah wilayah yang sangat jarang untuk didatangi oleh satu pun manusia— bahkan aku pikir tidak akan ada orang yang akan bertempat tinggal di wilayah ini. Itu karena betapa tercemarnya kondisi udara saat ini.


Aku tidak tahu nama tempatnya, tapi wilayah ini dikelilingi oleh pegunungan dan hanya memiliki jalan masuk yang bercabang, yaitu sebuah gua yang bercabang. Bahkan ketika kami melewati gua itu tadi, kami harus menyusup untuk melewati penjagaan ketat dari sebuah pasukan keamanan.


Untuk saat ini aku belum bisa memastikan asal dari pasukan itu.


Namun saat ini kami sudah melewati penjagaan tersebut dan berada di wilayah yang lebih terbuka.


“Ryuuji, sekarang kami akan mulai bergegas. Kita akan menjaga jarak sejauh 10 menit perjalanan, untuk komunikasinya akan kuinformasikan setiap lima menit.” Ucap Laven ketika dia ingin bertindak


“Baiklah.”


Aku hanya cukup menyetujui itu, karena itu adalah rencana yang cukup masuk akal. Bersamaan dengan kepergian kelompok Laven, Fay juga menyatakan dirinya juga akan pergi.


“Aku juga akan pergi.”


Fay mengencangkan sabuk dari sarung pedang di punggungnya, setelah itu dia pergi ke arah yang berlawanan dari Laven.


Karena aku dan rekan-rekanku adalah pasukan utama dari operasi ini, kami hanya perlu menunggu panggilan dari Laven beberapa menit ke depan. Sebelum mendapatkan panggilan untuk kami bergerak, ada yang harus kukatakan untuk para gadis.


“Setelah semua ini berakhir, kalian boleh mengambil libur.” Itulah pernyataanku, “Aku tahu kalian sangat kelelahan karena selalu mendapatkan masalah akhir-akhir ini— hidup kalian hampir berubah drastis setelah bertemu denganku, dan selalu mendapatkan bahaya...”


Ini memang benar-benar berat untuk mereka. Mereka harus mendapatkan kebahagiaan, merasakan masa muda mereka dengan tenang— karena mereka masih sangat muda dan banyak kebahagiaan yang menanti mereka, aku pikir aku harus membiarkan mereka mendapatkan masa mudanya sendiri, tanpa terkekang olehku.


“Jadi, setelah pekerjaan ini... aku akan melepaskan kalian.” kataku.


Ekspresi mereka berubah drastis. Kekecewaan dan panik menyelimuti wajah mereka semua.


“Ini juga berlaku untukmu, Astia.”


Ekspresi yang sama juga berada pada Astia. Aku tahu ini sangat menyakitkan, tapi aku tidak bisa mengekang mereka dalam pengaruhku. Mereka harus bebas dan mendapatkan jalannya masing-masing. Meskipun ini juga menyakiti perasaanku, tapi untuk kebahagiaan dan kebebasan orang lain, aku akan mengabaikan perasaanku.


Tanpa berlama-lama mereka langsung menerjangku.


“Master! Kenapa master memutuskan hal yang sekeji itu?!” teriak Natasha.


Keji?


“Iya, master! Kami mempunyai kesalahan apa yang membuat kami dipecat?” bahkan Lilac juga melakukan hal yang sama.


Mereka semua mengangguk dan mempunyai kekhawatiran yang sama. Mereka terlalu dekat hingga aku hampir terjatuh ke belakang.


“Kalian terlalu dekat...” aku menghela napas, “Aku tidak mengatakan kalian dipecat, tapi... aku ingin kalian menikmati hidup kalian dengan bebas. Sekarang kalian sudah tidak takut dengan ancaman dari luar dan kalian sudah tumbuh menjadi gadis yang kuat. Jadi kalian sudah tidak perlu mendapatkan arahan dariku lagi.”


Sebelum mereka bertemu denganku, masing-masing dari mereka telah diusir dari kampung halaman mereka dan berakhir tidak memiliki tujuan hidup— sendirian dan tidak ada yang membantu. Namun, sekarang mereka sudah mendapatkan motif itu dan saling berteman, bahkan mendapatkan rasa kekeluargaan di antara mereka. Kalau mereka membangun kelompok dan mempertahankan diri untuk hidup, aku yakin mereka akan berhasil.


Bahkan ketika mereka ingin mendirikan sebuah perusahaan atau semacam itu, mereka tidak akan kesulitan kalau bersama.


Itulah yang menunjukkan kalau mereka sudah tidak sendirian lagi untuk menjalani hidup.


“Um, itu artinya... master tidak bisa bersama kita lagi?” tanya Marrona yang gugup.


Aku menjawabnya dengan mengangguk.


Aku kembali mengangguk.


“Aku hanya ingin kalian mendapatkan masa muda kalian sepantasnya— seperti gadis-gadis remaja pada umumnya.”


Memakai makeup, berdandan dan memakai pakaian yang modis, mempunyai seseorang yang dicintai atau mempelajari hal penting lainnya untuk mereka, dan mendapatkan masa-masa muda mereka. Itu yang harus mereka dapatkan, tapi...


“Hal itu buat apa kalau Tuan Yuuki tidak ada?!!” teriak Astia.


Air mata mengalir di pipinya, ekspresinya marah sekaligus sedih.


“Aku tidak ingin kalian mendapatkan masalah lagi— itu yang kamu pikirkan tentang kami, kan?” tanya Astia, kemudian dia melanjutkan, “Kenapa kamu selalu saja egois dan selalu memikirkan keselamatan orang lain dibanding dirimu sendiri? Kamu bahkan tidak pernah memikirkan tentang perasaan gadis-gadis lainnya tentangmu, bahkan tidak mengetahui itu.”


Ini memang menyakitkan, tapi aku selalu menghindar dan memalingkan wajah ketika ada orang lain yang memberikan perasaan itu kepadaku.


“Yang ada di sini... semuanya sangat menyayangimu. Betapa sayangnya kepadamu hingga mereka sangat panik ketika kamu mati waktu itu. Aku tahu seberapa besar penderitaanmu ketika melihat kami atau melihat salah satu di antara kami terluka. Tapi setidaknya... terimalah sedikit kekhawatiran kami dan rasa sayang kami untukmu. Sekarang, aku katakan ini... aku tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan kalau kamu tidak ada bersamaku, Tuan Yuuki.”


“Master, yang dikatakan Astia memang benar. Aku tidak perlu mendapatkan masa mudaku seperti orang lain— selama master bersama kami, itu sangat menyenangkan.” kata Lilia.


“Master tidak perlu mengkhawatirkan kami ketika kami mendapatkan masalah, kami selalu bekerja sama memecahkan masalah itu kok.”


“Selama master ada di sisi kami... kami selalu mendapatkan hari-hari yang menyenangkan meskipun di hari-hari yang menyakitkan.”


Bahkan Amarilis dan Natasha juga mengatakan itu. Ini benar-benar di luar pemahamanku.


Seharusnya mereka akan mendapatkan ketenangan dan kenyamanan kalau tanpa adanya diriku, tapi...


“Master... semua perasaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya, telah kudapatkan setelah mengenal master dan kalian semua. Jadi aku sangat ingin menjaga hubungan ini tetap ada. Selama master ada, kami juga akan tetap ada.” Bahkan Elma mengatakan itu dengan suara yang paling halus.


Sekarang aku tidak memiliki kalimat untuk membantah perasaan mereka semua.


“Jadi, Tuan Yuuki... apa kamu ingin menerima perasaan kami semua?” tanya Astia.


Ini bukanlah perasaan asmara atau perasaan romantis, bahkan ini lebih berharga dari semua itu.


Aku berbalik dan memalingkan wajah dari mereka semua.


“Berbuat apa saja terhadapku, mempunyai motif apapun terhadapku, memiliki maksud tertentu terhadapku, melontarkan kata-kata manis terhadapku... itu semua terserah kalian saja. Aku hanya menerima pengakuan itu saja, kan? Huh! Itu seperti mainan anak-anak bagiku.”


Yang benar saja... meskipun aku telah mendengar keributan rutin dari Elma dan Annastasia, aku masih bisa tetap tenang. Kemudian aku mendapatkan ocehan mereka secara langsung, dan beberapa di antara mereka yang mencoba menggodaku... bahkan semua itu aku dapat terhibur meskipun itu hanyalah perbuatan yang receh.


Apa aku benar-benar sudah ditaklukan oleh mereka?


“Yuhu!! Akhirnya kita menang!” sorak Lilia.


“Kita akan bersama selamanya!!” teriak Lilac yang mengangkat tangannya ke atas.


Yah kupikir tidak perlu berlebihan seperti itu.


“Sepertinya tidak buruk bersama mereka...” gumamku.


Setelah kupikir-pikir aku harus melihat hubungan ini di dalam sudut pandang yang positif— yah ini sih tidak buruk.


Setelah banyak keluhan para gadis terhadapku, Laven menghubungiku.


[Ryuuji, kami sudah mengatasi penjagaan yang berada di gerbang depan bangunan besar itu. Sekarang giliranmu, ganti.]


“Ya, baiklah...” jawabku ketika menggunakan protofon ini.


Setelah mendapatkan panggilan itu, aku kembali menghadap ke para gadis yang sedang merayakan kesenangannya.


“Sekarang adalah waktunya kita. Mari kita bergegas.”


“““Dimengerti, master!!””” jawab serentak mereka.


Setelah mempersiapkan senjataku, kami bergegas ke arah tujuan dengan cepat dan terorganisir.


つづく


Jangan lupa like, komen, dan klik favorit ya!