
Aku merasakan sebuah kehangatan yang disebabkan oleh suhu ruangan, dan bisa merasakan kelembutan sebuah selimut yang menutupi tubuhku. Kemudian aku membuka mataku...
Aku bisa mengenali ruangan ini... ternyata ini adalah kamarku.
Aku terbangun di sebuah ruangan yang sangat kukenal dengan suhu ruangan yang hangat dan tidak ada yang menungguku di sini— padahal aku sudah mati...
Tunggu, itu artinya aku sudah bangkit dari kematian?
Hah? Sebentar, tidak mungkin aku kembali hidup! Makhluk macam apa aku ini yang bisa bangkit dari kematian, padahal sudah takdir manusia untuk mati tanpa bisa hidup kembali!
"Ugh!"
Kepalaku tiba-tiba sakit. Oke, aku akan tenang... Aku akan mengingat apa yang telah terjadi. Pada waktu lalu, aku telah memiliki luka fatal yang membuatku dipastikan untuk mati. Lalu, setelah itu...
"Ruangan putih itu..."
Ternyata aku masih bisa mengingat hal itu...
Ketika aku melihat sebuah proyeksi dari ingatanku, aku menyadari sesuatu yang masih jelas diingat dan dirasakan oleh diriku. Saat aku melihat pintu dan membukanya, aku...
"Aku bangun... dari kematian...?"
Secara teknis dan alam bawah sadarku— aku telah mati, tapi...
Aku langsung melihat tubuhku... aku memakai baju yang biasa, dibaluti oleh perban yang hampir menyelimuti seluruh tubuhku, dan juga kepalaku juga dibalut oleh perban juga.
Sepertinya perban ini masih baru, tapi aku tidak merasakan rasa sakit apapun dari luka tusukan. Kemudian, aku merabanya dan tidak merasakan adanya bekas dari luka fatal atau apapun itu...
"Ini tidak masuk akal..."
Namun, ketika aku memikirkan keanehan ini, sebuah kenop pintu terdengar dan pintu terbuka. Seorang gadis berambut hitam kebiruan, bermata hijau yang sangat kukenal dan sedang membawa pakaian yang dilipat.
Segera menyadariku, dia berteriak cemas dan memanggil namaku, "Tuan Yuuki!!"
Astia berlari ke arahku, segera melompat dan memelukku. Aku menangkapnya atas balasan dari pelukannya. Kemudian dia menangis ketika memelukku.
"Syukurlah Tuan Yuuki... syukurlah... aku sangat senang kamu sudah sadar."
"Ada apa Astia? Kenapa kamu sesedih itu?"
Kemudian Astia melepaskan pelukannya.
"Ha-habisnya kamu mati meninggalkan aku... tentu saja aku sangat cemas padamu."
Ternyata begitu. Kematianku bukan klaim sepihakku saja, ternyata perkataan dari Astia juga menyatakan diriku sudah mati, tapi karena sebab yang tidak kuketahui aku bangkit dari kematian.
"Pembohong..." kata Astia tiba-tiba.
"Maafkan aku..."
Pada faktanya aku telah melanggar janji yang kujanjikan pada Astia. Aku tidak bisa menepatinya karena aku telah meninggalkannya dalam kematian. Ini memang tidak bisa dihindari, aku memang merasa bersalah. Oleh karena itu...
Astia tersenyum manis kepadaku.
Huh~ baiklah.
"Terima kasih telah menungguku pulang..."
Hanya itu yang bisa kukatakan, tapi...
Kemudian Astia meraih tanganku, menggengamku dan mengatakan, "Ya! Selamat datang kembali, Tuan Yuuki!"
Air matanya terus berjatuhan ketika Astia melihatku sudah sadar.
Ternyata perasaannya tentangku saat ini benar-benar tergambarkan dalam percakapan saat ini. Astia benar-benar mempercayaiku.
"Oh iya, ngomong-ngomong, sudah berapa lama aku tertidur seperti ini?" tanyaku.
"Sekitar sebulan penuh, mungkin." Kata Astia.
Hah?
Itu artinya aku sedang mengalami 'koma' selama sebulan penuh? Tapi kenapa waktunya mengalir begitu cepat? Dan juga, kalau aku 'koma', itu artinya aku benar-benar tidak mati?
"Tunggu Astia, dalam waktu sebulan, itu artinya aku telah mati selama sebulan penuh?" tanyaku, tidak lagipula pertanyaan macam apa itu...
"Tidak Tuan Yuuki. Ini semua berkat Yang Mulia, Tuan Yuuki. Ketika Tuan Yuuki menemui ajal ketika di gua itu, Yang Mulia menggunakan sebuah kekuatan yang membuat dirimu dibangkitkan."
Itu artinya aku memang telah mati, tapi karena sebuah kemampuan dari Raja Azaka, aku memperoleh kehidupan sekali lagi. Tapi memangnya apa itu?
"Aku tidak terlalu mengerti, tapi kemampuan yang digunakan Raja Azaka mempunyai sebuah konsekuensinya, bukan?"
"Itu benar. Yang Mulia mengatakan bahwa ada otoritas yang harus dia korbankan untuk mengembalikan nyawamu, Tuan Yuuki. Um sepertinya tentang keterikatan dengan 'makhluk panggilan'."
Ternyata begitu. Aku juga mengingat tentang otoritas yang diperoleh 'Tuan' dari makhluk panggilan, seperti contohnya aku menggunakan perintahku kepada Astia yang berlandaskan otoritas majikan kepada budak. Dan dalam kasus ini, Yang Mulia memiliki otoritas itu terhadapku karena aku adalah makhluk panggilannya.
Pada akhirnya dia sudah tidak memiliki kuasa atas diriku, yang artinya aku tidak memiliki keterikatan perintah apapun dari Yang Mulia.
"Begitu... ngomong-ngomong dimana gadis lainnya?"
"Sebagian dari mereka sedang mengambil jam istirahat, dan sisanya masih bekerja."
"Bekerja?"tanyaku.
Tunggu, aku benar-benar tidak mengerti. Apa yang telah dilakukan mereka selama sebulan ini. Bukankah mereka bekerja di bawah perintahku? Lalu mereka bekerja untuk siapa?
"Sebelumnya maaf aku telah membuat keputusan sebelum aku menanyakanmu, tapi kita tidak mempunyai waktu." Kata Astia, kemudian melanjutkan, "Sebenarnya aku sendiri membuat keputusan untuk membuat sebuah restoran dengan memanfaatkan Mansion Tomoe ini. Tapi tenang saja, keputusan ini juga berlandaskan dari apa yang pernah dikatakan Tuan Yuuki padaku."
Ini terlalu mengejutkan. Astia telah mendirikan sebuah pekerjaannya sendiri untuk menopang kebutuhan yang kukira itu darurat. Dan itu berlandaskan atas interpretasi dari perkataanku? Perbuatan Astia di luar prediksiku.
Namun aku menjadi tenang. Ternyata mereka tidak terlalu sedih atas kematianku, mungkin?
Namun aku mengetahui kalau aku meninggalkan mereka, mereka akan memiliki dasar bertahan hidup atas dasar nilai-nilai hidup yang diberikan oleh Astia. Jadi aku tidak terlalu khawatir tentang kondisi mereka kedepannya.
"Ternyata begitu... ternyata kalian akan tetap baik-baik saja meskipun tanpaku."
Meskipun begitu, Astia langsung membantah perkataanku.
"Itu tidak mungkin! Kami melakukan ini semua karena kami mempunyai harapan atas Tuan Yuuki. Kami juga bertahan selama ini karenamu... Jadi jangan tinggalkan kami lagi, Tuan Yuuki..."
Astia terus memegang tanganku dengan kehangatan kedua tangannya. Ini sangat membuatku, tenang dan tidak ada yang kukhawatirkan tentangnya.
Ternyata perasaanku terhadap Astia memanglah kenyataan.
Kemudian aku beranjak dari tempat tidur, dan menyadari bahwa Astia masih memegang tanganku dengan erat.
"Ada apa?" tanyaku.
"Tuan Yuuki... apa kamu mendengar sesuatu dari yang pernah kukatakan saat itu?"
"Apa maksudmu?"
Namun, Astia hanya menghela napas seolah lega akan sesuatu. Aku juga tidak pernah mendengar sesuatu darinya saat itu. Bukankah itu di saat kematianku?
"Tidak, tidak apa-apa."
Setelah itu, aku mengganti pakaianku dan Astia masih berada di dekatku ketika aku melakukan itu, padahal aku tidak terlalu terbiasa, tapi yasudahlah.
Ternyata luka yang ada di tubuhku juga menghilang. Kemungkinan ini berkat dari kemampuan Raja Azaka yang telah menukarkan otoritas makhluk panggilan dengan nyawaku.
Aku keluar dan turun ke lantai satu, lalu menuju ke arah aula, dan aku melihat sebuah momen dimana banyak orang yang sedang menikmati hidangan. Bahkan aku bisa melihat kesibukan para gadis yang mengantarkan hidangan untuk para pelanggan.
"Ide siapa ini...?" gumamku.
Namun langsung dibalas oleh Astia, "Pada dasarnya ini adalah idemu, Tuan Yuuki."
"Tapi, seharusnya dengan lokasi kita yang terpencil, tidak mungkin bisa menarik pelanggan yang sebanyak ini."
Pada dasarnya Mansion kami berada di dalam hutan yang terpencil dan jauh dari kawasan Kota Florend, tapi bagaimana caranya Astia mendapatkan pelanggan sebanyak ini.
Kalau aku sendiri, untuk mendapatkan pelanggan sebanyak ini, aku...
"Sebenarnya aku menggunakan hubungan baik kita dengan Yang Mulia untuk menarik pelanggan. Itu terjadi tanpa kesengajaan... waktu itu Yang Mulia datang ke tempat ini di saat kita belum membuka restoran, tapi keesokan harinya tempat ini sudah dipenuhi dengan banyak orang." Itulah yang dikatakan oleh Astia.
Tanpa sengaja darimana? Meskipun itu hanya kebetulan, tapi Astia telah mengeksploitasi popularitas dari Raja Azaka untuk mempromosikan tempat ini. Dan itu persis yang pernah kupikirkan untuk meramaikan tempat ini. Bahkan aku tidak pernah mengatakan pemikiran itu kepada Astia.
"Dan aku juga menggunakan daya tarik dan kecantikan dari para gadis untuk menarik pelanggan lainnya." Tambah Astia.
Aku tidak percaya Astia sudah berpikir hingga sejauh itu. Pantas saja aku bisa melihat para gadis kecuali Astia sedang memakai pakaian pelayan yang imut, sehingga membuat pandangan untuk orang-orang bahwa mereka benar-benar imut.
Aku hanya geleng-geleng kepala untuk itu.
"Ada apa Tuan Yuuki, apa aku salah?"
Tentu saja bagiku semua ini sempurna, tapi...
"Tidak, kamu tidak salah. Ini cukup untuk kapasitas ekspetasiku. Jadi kamu melakukannya dengan baik."
Bahkan ada batasan yang kumiliki sehingga aku tidak dapat melakukan hal yang Astia telah lakukan saat ini. Seperti dia juga menggunakan atau lebih tepatnya mengeksploitasi kecantikan para gadis untuk menarik pelanggan. Dalam sisi itu, aku tidak mempunyai keberanian untuk melakukan itu.
"Huh~ baiklah. Kalau begitu, sekarang apa yang akan menjadi tugasku? Secara teknis, sekarang kamu adalah pemimpinnya Astia." pernyataanku kepada Astia.
Seharusnya aku mempunyai hal yang harus kuprioritaskan yaitu beristirahat, tapi aku tidak mau berdiam saja ketika melihat mereka bersusah payah dalam menangani pelanggan.
"Eh? Seharusnya kamu beristirahat saja, Tuan Yuuki. Lagipula kamu adalah pemimpin yang sebenarnya."
"Tidak, meskipun yang telah kamu lakukan itu berdasarkan pemikiranku, tapi yang menjalankannya adalah dirimu, Astia. Jadi aku tidak berhak mengatur apa yang telah kamu jalankan sejak awal."
Setelah Astia berpikir sesaat, dia memutuskan, "Um, baiklah... Untuk saat ini kami sedang kekurangan orang yang ahli di dapur, jadi aku membutuhkanmu sekarang."
"Baiklah... Aku akan ke sana sekarang."
Sebelum aku beranjak pergi ke dapur, tanganku ditahan oleh Astia.
"Ada apa?" tanyaku, mungkin dia mempunyai suatu hal yang harus diberitahu kepadaku tentang pekerjaan ini.
Namun kalimat yang keluar dari mulut Astia adalah...
"Aku menyayangimu, Tuan Yuuki."
"...."
Ternyata Astia mulai lebih jujur kepadaku, tapi oke. Aku akan mengambil pernyataan itu dalam interpretasi lain.
Setelah itu aku pergi ke dapur, tanpa diketahui orang lain. Ketika aku berada di sana, aku melihat Lilac yang sedang memasak sesuatu. Di saat Lilac menyadari sesuatu, tapi dia bukan menyadariku sebagai diriku tapi orang lain.
"Anna, aku kehabisan bahan mentahnya. Jadi tolong belikan—" perkataannya terhenti ketika dia menoleh ke arahku.
Huh~ sepertinya hal gawat akan terjadi.
"Master!!" dia berteriak dan berusaha memelukku, "Akhirnya kau hidup kembali, master!!"
Lilac benar-benar periang dan semangat di dalam segala hal, karena itu ketika dia melompat dan berusaha memelukku, aku sedikit kesulitan untuk menahannya.
"K-kau pikir aku itu mayat hidup?!" kataku ketika berusaha melawan pelukan dari Lilac.
Yah, secara teknis aku adalah 'mayat hidup' yang memiliki kesadaran.
"Fufufu! Seperti gayamu yang biasa master! Aku benar-benar menyukai itu!" tambahnya.
"Ba-baiklah, tapi yang harus kau lakukan adalah mengurusi pekerjaanmu!"
Kekuatannya benar-benar luar biasa ketika dia sedang semangat, bahkan aku hampir merasakan sensasi yang sama seperti tulangku retak.
"Baiklah!" di saat Lilac melanjutkan kegiatan memasaknya, dia menyadari sesuatu, "Oh iya, tapi aku hampir kehabisan bahan mentahnya. Kalau begitu, bisakah master memanggil Anna dan memintanya membeli bahan itu di kota?"
Ternyata sudah banyak hal yang dikerjakan oleh para gadis, mereka semua membagi tugas di masing-masing tempat. Kemungkinan ini adalah hasil dari pengalaman mereka saat pertama kali mereka datang ke tempat ini, dan itu membuahkan hasil yang baik di masa sekarang.
"Itu tidak perlu."
"Eh?"
"Sebenarnya Annastasia masih sibuk dalam melayani pelanggan, dan sepertinya tidak bisa diganggu. Jadi aku yang akan menggantinya dalam melakukan itu." Kataku.
"Benarkah, master?! Kalau begitu aku benar-benar tertolong!!"
Setelah itu aku diberi secarik kertas yang berisi bahan-bahan yang dibutuhkan oleh Lilac saat ini. Baiklah ini mudah...
"Baiklah, kalau begitu aku akan kembali dan membantumu."
"Terimakasih master!"
つづく