I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II

I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II
Chapter 11 : Kematian? Hanya Satu Langkah Lagi



"Eh?"


Rumput-rumput, tumbuhan dan pepohonan kembali tumbuh, seolah melupakan kalau mereka hancur karena kemampuanku. Dan itu terjadi... Monster itu kembali menyatu, membentuk sebuah tubuh dan bangkit kembali.


"Di-dia abadi?"


Mata Natasha melebar, terkejut karena perubahan monster itu benar-benar pantas dikatakan monster. Dia kembali pulih dengan sangat cepat.


(Berusaha Sekeras apapun kalian, manusia tidak akan pernah membunuhku.)


Aku melihat ke arah pelarianku...


(Apa kau ingin lari lagi?)


Tanaman merambat yang beracun sekaligus berduri menghalangi jalur pelarian kami. Jalan satu-satunya adalah mengalahkan dia, tapi bagaimana bisa?


"Natasha, apa kau siap?" tanyaku.


Maksudku siap mati...


Natasha sedikit takut dari efek dominasi dan ilusi monster itu, tapi dia mengepalkan tangannya.



"Ya, aku mendedikasikanku sekali lagi..." Ada sisa ketakutan pada Natasha tapi dia tetap teguh. Lalu diia menarik napas, "Demi-Human dari regu Tomoe, Natasha. Saya bersedia sebagai tanggapan atas panggilan master."


Uh, hormat sekali dia...


Aku menghunuskan pedangku, Natasha juga demikian. Ini adalah duet pertarungan melawan monster raksasa tanaman berbentuk golem... Baiklah, kunamakan...


"Cernunnos!"


Aku berlari, menerjang ke arah monster itu, Natasha mengikutiku dari belakang.


(Bodohnya)


Akar dan batang pohon mulai menyerang kami dengan cepat. Aku menebas pedangku dengan satu-dua tebasan. Serangannya mulai lebih kubaca, kubakar semuanya dengan pedangku dan menjadi debu.


Natasha, melompat melalui pohon dan berteriak,


"SONICALLY AIR!!"


Angin berputar menciptakan tornado, melesat ke arah monster itu. Kerusakannya tidak terlalu parah.


(Serangan yang sama tidak berpengaruh padaku.)


Akar dan tanaman merambat mengarah ke Natasha, bertujuan membunuhnya.


Aku mem-backup Natasha, puluhan tebasan kulayangkan, meringankan ototku dan menumpas habis serangan dari Monster Cernunnos.


Kami selamat dan bediri di atas pohon ketika monster itu memulihkan diri. Dalam sekejap, monster itu mengendalikan seluruh tanaman dan pepohonan, menyerang aku dan Natasha di segala sisi termasuk titik buta.


"Serangan yang sama tidak berpengaruh padaku."


Aku membuat Counter serangannya, kobaran api mengelilingiku dan amukan api berada di segala sisi.


Tidak ada yang tersisa di sekitarku kecuali abu. Tapi pepohonan dan tumbuhan kembali tumbuh dengan sendirinya dengan sangat cepat.


"Ini tidak akan selesai kalau kita tidak menghentikan regenerasinya." Kata Natasha yang frustasi.


"Aku tahu. Makanya kita harus lebih dekat untuk mencari titik lemahnya."


Kami kembali berlari, mendekat ke monster itu.


Sepertinya serangan dari monster itu lebih konsisten daripada sebelumnya. Serangannya terus dilancarkan meskipun dia tidak memerintahkannya atau ketika kami mencoba mendekat.


Aku yang terus membuka jalan untuk Natasha dari serangan monster itu.


"Cih serangannya semakin banyak." Sekarang aku menempatkan reaksiku pada tahap maksimal untuk menebas semua akar-akar yang menyerang kami dengan membabi buta.


Seranga Natasha butuh waktu untuk mengisi energinya kembali.


Natasha berhenti, menarik pedangnya.


"SONICALLY AI—"


Natasha hampir menyelasikan kata-katanya tapi, kakinya ditarik oleh akar itu dan dibuat menjauh dariku.


"Master!" Teriak Natasha ketika dia mulai menjauh


"Cih!"


Serangan monster ini terus menumpuk, tidak membiarkanku pergi mengejar Natasha.


Tidak ada pilihan lain.


"INFERNO BEAM!!"


Energi merah meluncur dan meledak, menghabisi semua akar-akar yang menggangguku, kemudian menyebar seperti misil. Kemudian aku mengejar Natasha dengan kecepatanku...


Aku berhasil mengejarnya, membakar semua akar dan tanaman yang menjerat Natasha.


"Terima kasih... Aku..."


"Tidak ada waktu untuk— Kh!!"


"Master!!"


Akar dari dalam tanah menarikku ke dalam tanah, dan kemudian ditarik keluar hingga ke udara dengan ditunggu akar-akar dan batang yang bersiap menghujaniku.


Aku melihat Natasha... Dia juga ditangkap, dijerat seluruh tubuhnya oleh tanaman dan akar.


Hanya diriku yang bisa mengatasi serangan monster ini dan hanya Natasha yang bisa membuat kerusakan lebih pada monster itu. Tapi posisi kami berada pada di titik darurat.


Aku tidak bisa mengeluarkan 360 derajat apiku karena ada Natasha jauh dari posisiku, jadi aku memusatkan serangannya di hadapanku, menghabisi seluruh batang dan akar yang ingin menyerangku.


Aku terlepas dari jeratan itu, dan aku bisa membebaskan Natasha kembali... Tapi akar itu lebih cepat dari sebelumnya. Aku kembali terjerat, seluruh tubuhku tidak bisa digerakkan.


(Apa hanya segini?)


Aku membakar ke sekelilingku tanpa merusak bajuku dan juga tanpa melukai Natasha. Itu sulit sekali!


Aku kembali lepas, tapi sebelum aku menyentuh tanah, aku kembali dijerat lagi.


Tanaman-tanaman merambatnya itu mengikat tangan dan kakiku sampai aku tidak bisa menggerakkan tubuhku sejengkal sekalipun. Kh! Leherku mulai diikat dan tecekik olehnya.


Aku sulit bernapas. Akar-akar itu sudah siap untuk menusuk tubuhku. Aku bahkan tidak bisa menoleh ke arah Natasha.


(Bagaimana dengan ini, manusia? Kenapa kau tidak menggunakan kemampuanmu lagi untuk membakar tempat ini? Apa karena Demi-Human itu?)


Kh!! Banyak omong sekali.


"Abaikan saja aku master! Ini adalah kesalahanku, padahal aku sudah berjanji..." Ada kesedihan ketika Natasha berteriak, "Aku tidak apa-apa master. Selama itu master... aku rela menerimanya."


Sepertinya Natasha mengatakan itu dengan tersenyum. Itu adalah perasaannya. Tapi...


"A-Ak—Aku su-sudah bilang kan ka-kalau kau itu bukan bidak!"


Sangat sulit berbicara saat tanaman ini menyekik kuat leherku.


(Fwahahahaha! Pembicaraan aneh macam apa ini? Sesama mahluk lemah seperti kalian saling menjaga satu sama lain? Jangan membuatku tertawa! ... Ah, apa jangan-jangan salah satu dari kalian memiliki ketertarikan romantis? Ulat-ulat seperti kalian membuatku tertawa Fwahahaha!! )


"Diam kau!!" Natasha berteriak, "Mahluk sialan sepertimu tidak akan mengerti perasaan yang kumiliki!"


(Aku, tidak mengerti? Aku sudah memberi mimpi abadi kepada ribuan manusia dan menculik mereka. Apa kau bilang aku tidak mengerti? Sadarilah posisimu ulat!)


Ternyata begitu. Aku sudah menduganya... Mitos itu tercipta karena banyak orang menghilang di hutan ini, dan dalang dari semua ini adalah karenannya.


(Lucu sekali manusia-manusia itu, mereka terus bermimpi hingga tidak sadar kalau mereka sudah mati.)


Nah sekarang bagaimana aku keluar dari situasi ini...


Aku menyulut api di seluruh tanganku, mencoba keluar dari jeratan ini.


"Khh!!"


"Master!!"


Ketika aku mencoba, cekikan tanaman merambat di leherku semakin kuat. Semakin minim juga aku bernapas."


"Kumohon master... Jangan pedulikan aku..." Nadanya seperti hampir menangis.


(Huh, baiklah mari buat ini menjadi menarik. Diriku ini punya permainan khusus untukmu Demi-Human.)


"Permainan?"


(Ya. Permainan ini menentukan hidup dari manusia lemah itu yang kau sebut master.)


"Jangan menghina master!!"


(Terserah. Yang harus kau putuskan sekarang adalah menerima penawaranku, Demi-Human)


"Ja-jangan termakan oleh perkataannya, Na-Natasha... Khh!!!"


Tanaman merambatnya sudah berada di titik dapat menghancurkan tubuhku.


"Master!!" Natasha berteriak sampai aku mengetahui kalau suaranya hampir habis.


(Giliranmu sudah habis manusia. Hidupmu sekarang berada di tangan Demi-Human itu... Demi-Human, sadarilah posisimu, Kalau tidak manusia ini akan hancur kalau kau tidak membuat keputusan)


"Ba-baiklah, aku menerima permainanmu itu. Jadi apa itu?"


(Fwahahahah! Betapa bodohnya... Baiklah. Permainannya kau harus memilih satu pilihan dari dua pilihan yang akan aku berikan. Mudah saja)


"Apa itu?"


Kemudian, aku mendengar sebuah benda terbang kemudian menancap tanah.


"Itu..."


Aku tidak bisa melihatnya secara detail tapi sepertinya dari nada bicara Natasha, dia terkejut.


(Pilihan yang pertama. Ambil belati itu lalu tikam jantung mastermu dengan tanganmu sendiri lalu aku akan membebaskanmu...)


Monster ini...!!


(Atau, tikam jantungmu sendiri maka akan kubebaskan manusia rendahan yang kau anggap master ini... Bukankah itu mudah?)


"I-itu belati punya master...?"


(Fwahahahah! Tentu saja bukan...? Menarik sekali memainkan perasaan lemah manusia. Apalagi kalau belati itu dibuat untuk membunuh pemiliknya sendiri... Fwahahahaha! Betapa lucunya.)


"Baiklah, kalau seperti itu... Tidak ada keraguan bagiku untuk menyelamatkan master."


Ada sebuah suara dari arah Natasha, sepertinya jeratan tanaman merambat dilepaskan karena permainan ini.


Natasha berjalan, mencabut belati itu dari tanah dan mengarahkan mata pisaunya ke dadanya. Sepertinya begitu...


"He-hentikan Natasha!! Aku memerintahkanmu me-membuat keputusan seperti itu. Kh!"


"Tidak ada pilihan lain master. Aku harus melakukan ini untuk membuat master tetap hidup." Natasha terisak ketika mencoba tetap tersenyum.


"Apakah hanya segini kemampuan berpikimu Natasha?" Aku berusaha keras untuk tetap lancar berbicara meskipun batuk beberapa kali.


"Tidak..."


"Apa kau menyerah dan berpikir sudah tidak ada jalan keluar? Sekali lagi, Apa hanya segitu batas dari kemampuan berpikirmu, Natasha?"


Teruslah berpikir dan bercerita.


"Tidak, aku..."


"Apa sekarang dirimu membantah perintahku hanya karena kau menuruti perkataan monster itu?"


"Tidak, master! Aku akan selalu berada dibawah perintahmu dan selalu mengikutimu master! Karena itu aku akan mengabaikan perkataan monster itu!" Kata Natasha dengan serak tapi tegas.


"Bagus, setidaknya kau berhasil mengabaikan suara-suara itu..."


"Wahh..." Sepertinya Natasha terkejut ketika melihat senyum tipisku, tapi...


"Sekarang, bunuh aku..."


"Eh?"


Nada Natasha langsung berubah, belatinya juga jatuh dari tangannya. Sepertinya matanya menjadi kosong ketika terkejut karena perkataanku.


つづく


Jangan lupa like, komend=, dan klik favorit ya untuk membuat Author semangat terus!!