
“Bagaimana, apa kau sudah menjebak monster itu, Anna?”
Ketika Annastasia kembali, Lilia bertanya dan gadis lainnya juga menunggu jawabannya.
“Ya, semuanya berjalan lancar. Monster itu tidak menunjukkan adanya regenerasi dan menjadi hidup kembali. Yah, setidaknya aku sudah berusaha menutupi yang menjadi kekuranganku.”
“Aku juga takjub pada dirimu karena telah merencanakan hal ini.” tambah Amarilis.
Pada dasarnya, Annastasia memiliki kekurangan yang sangat mendasar atau yang paling mencolok pada dirinya, yaitu dia hampir tidak bisa menguasai teknik sihir apapun. Karena itu, Annastasia lah yang paling tidak diuntungkan dalam menangani monster-monster yang lebih kuat darinya.
Sehingga di antara para gadis yang hidup di atas atap Mansion yang bernama Tomoe, hanya Annastasia yang sangat lemah dalam kemampuan itu.
Namun, berkat pengalamannya bertahun-tahun karena lemah terhadap penguasaan sihir, Annastasia mencoba sesuatu untuk menutupi kekurangan hal itu. Sebagai gadis yang cepat dalam beradaptasi, Annastasia menggunakan hal lain yaitu metode menaklukan musuh tanpa sihir, yang artinya dia lebih mengandalkan sebuah alat yang cukup membuat kerusakan yang sama dengan sebuah sihir.
Dalam hal ini, Annastasia menggunakan bom dalam media tempurnya.
Rencana tentang pembasmian terhadap monster golem itu juga dipikirkan oleh Annastasia. Keuntungan lainnya juga terjelaskan sebelum mereka berlima maju ke garis depan.
****
Beberapa saat sebelum mereka berlima maju dan melawan monster golem...
“Baiklah Astia, kita sudah sepakat untuk melawan musuh yang tidak bisa ditangani oleh para petualang itu...” kata Lilia, “Tapi sampai batas mana kita membantu mereka?”
“Hmm begitu ya... Untuk menjawab pertanyaan itu, kita akan kembali kepada prinsip terbentuknya pasukan khusus ‘Tomoe’, yaitu kita bekerja dari balik layar sehingga orang lain tidak tahu tentang kerja keras atau bantuan dari kita. Itu artinya kita tidak perlu membantu mereka sepanjang penaklukan ini, lalu dengan itu fokus kita harus menitikberatkan pada kualitas kemampuan para petualang.” kata Astia.
“Aku mengerti. Dalam artian lain, kita yang bertugas menjadi ‘pengawas’ para petualang dalam menjalankan penaklukan, lalu kita akan segera bertindak ketika petualang itu tidak mempunyai kesempatan menang.”
Tujuan mereka adalah ingin para petualang untuk tidak meremehkan penaklukan ini. Setelah beberapa kejadian yang telah mereka alami di medang pertempuran, para petualang itu sedikit demi sedikit mengerti bahwa arogansi mereka yang membawa mereka kepada kekalahan.
Untuk membawa kesadaran agar mereka tidak meremehkan penaklukan itu, para gadis ingin para petualang mendapatkan pelajaran yang terjadi di medan pertempuran tersebut. Dengan kata lain, mereka akan dibiarkan atau mendapatkan sebuah kekalahan hingga batas tertentu.
“Karena itu aku ingin menguji seberapa kuat aspek-aspek yang mereka banggakan saat di medan pertempuran.” Tambah Astia.
“Baiklah...” sekarang Annastasia yang berbicara, “Sekarang kita sudah mendapatkan informasi dari Natasha dan Lilac yang berada di titik selatan. Informasi itu mengatakan bahwa ada monster yang berbentuk golem, memiliki segala tanaman rambat dan mengendalikan pohon sesuka hatinya. Natasha juga mengidentifikasi kalau itu adalah salinan dari monster yang bernama Varvatos.”
“Varvatos ya... aku jadi mengingat momen waktu itu.” Kata Amarilis.
“I-iya. Monster itu benar-benar sangat kuat.” Marrona dengan gugup juga berkata demikian.
Lalu Lilia masuk ke dalam pembicaraan dan mengeluarkan isi pikirannya.
“Kalau monster itu berada di sana, apa jangan-jangan keberadaan makhluk itu juga berada di segala titik? Kita juga belum mendapatkan informasi tentang monster itu dari master.”
“Kita harus membuka kemungkinan bahwa monster itu juga tersebar di berbagai tempat.” Kata Astia, “Kita juga tidak boleh melupakan kekuatan yang dihasilkan oleh monster itu.”
Lalu kembali dengan Annastasia dengan pernyataannya, “Seperti yang dikatakan Natasha, kekuatannya hampir setara atau memiliki seluruh kemampuan yang dimiliki oleh Varvatos, tapi monster itu tidak memiliki kesadaran atau kecerdasan yang tinggi seperti Varvatos.”
“Yang artinya, monster itu tetaplah monster.” tambah Amarilis, lalu dia melanjutkan perkataannya, “Lalu, bagaimana kita harus menghabisi monster itu tanpa membuat keberadaan kita mencolok?”
Ketika Amarilis bertanya, Annastasia mengangkat tangannya.
“Aku ada ide...” kata Annastasia, “Sebelumnya aku sudah menelaah karakteristik dari monster yang bernama Varvatos itu, kita bisa asumsikan kalau monster yang akan kita hadapi memiliki kemampuan yang sama. Dengan begitu, pertama, monster itu tidak akan menjauh dari hutan, dan saat ini para petualang telah dipukul mundur dari garis depan. Kedua, monster itu memilki tanda-tanda sebuah kabut di saat kehadiran mereka. Kalau para petualang tahu kalau monster itu sangatlah kuat, maka para petualang akan mundur dan kembali membuat rencana untuk menaklukan monster itu. Di saat itu terjadi, maka kita harus menggunakan kesempatan itu dan menyerang monster itu di dalam hutan!”
Lilia takjub atas pernyataan yang dilontarkan oleh Annastasia.
“Wah! Kau pintar sekali Anna! Dengan pengetahuan kita saat ini tentang batas kemampuan para petualang, kita bisa memprediksi bahwa para petualang itu akan benar-benar kesulitan dan mundur! Dengan begitu kita bisa maju ke garis depan!”
“Ngomong-ngomong, perkataanku belum selesai.” Kata Annastasia.
“Sebelum kita menjalankan rencananya, pertama-tama aku ingin meminta maaf terlebih dahulu.”
Gadis lainnya bingung karena perkataan Annastasia. Annastasia tiba-tiba meminta maaf ketika dia tidak memiliki kesalahan sedikitpun. Karena itu Astia menanyakannya.
“Ada apa Anna? Aku tidak melihat kesalahan dari rencanamu, jadi kenapa kau meminta maaf?” tanya Astia.
“Sebenarnya aku tidak memiliki kemampuan sihir sama sekali.”
““Eh?!”” gadis lain terkejut.
“Bukan berarti aku tidak bisa menggunakan sihir sama sekali, tapi aku sama sekali tidak ahli dalam bidang itu. Mungkin kali ini aku akan menjadi beban kalian.”
Di saat itu juga Annastasia kecewa dengan dirinya sendiri.
“Pantas saja aku tidak melihat dirimu mengeluarkan satu sihir pun selama pelatihan.” Pikir Astia.
“Tapi, meskipun begitu! Aku akan berusaha menutupi kelemahanku dengan cara yang lain!”
“Sebenarnya aku tidak mempermasalahkan kekuranganmu itu, tapi apa rencanamu?” tanya Lilia.
Lalu Annastasia mengeluarkan sesuatu dari tas pinggangnya, dia memperlihatkan itu kepada gadis lainnya. Sesuatu yang berbentu bulat dan cukup kecil sehingga bisa digenggam oleh tangan.
“Bukankah itu ‘bom’ yang dibuat oleh Tuan Yuuki?” tanya Astia.
“Benar. Master mempersilahkan diriku menggunakan barang buatan miliknya. Master juga sadar atas keterbatasan diriku dalam menggunakan sihir, jadi aku membuat alternatif lain dalam menyerang dengan menggunakan benda ini.”
Pada dasarnya, dunia itu belum mengenal istilah dari bubuk mesiu atau bom. Karena itu Yuuki mempersiapkan dan menciptakannya agar dirinya dapat membuat pertahanan atau serangan menggunakan benda itu. Inilah yang menjadi alternatif dia dalam kemampuan bersenjata dan inilah yang hanya dikenalkan kepada para gadis.
Dalam dunia dan zaman tersebut, orang-orang pada umumnya tidak mengenal istilah atau temuan yang seperti itu.
“Nah, di saat kita berhadapan langsung dengan monster itu, kita akan terus memojokkan dia dan memancingnya ke dalam hutan. Ini bertujuan untuk menyamarkan tindakan kita agar tidak mencolok dari kecurigaan para petualang pada kita. Lalu dengan begitu aku akan menunjukkan kualitas diriku sebagai anggota ‘Tomoe’.”
Pernyataan Annastasia dilandaskan pada tekad dan semangat yang kuat. Dia juga ingin menunjukkan keberadaan dia di dalam regu itu sangat berguna.
“Itu artinya kau yang akan memberikan pukulan terakhir pada monster itu? Dan kita yang bertugas mengawasi keadaan sekitar agar tidak diganggu?” tanya Amarilis.
“Kurang lebih begitu.”
“Huh~ baiklah, aku mengerti maksudmu.” Tambah Amarilis.
Setelah tidak ada tanggapan dari gadis lainnya, Astia yang menengahi diskusi tersebut.
“Kalau tidak ada penolakan untuk rencana itu, maka sudah diputuskan...”
Kemudian Astia menambahkan pernyataan lainnya...
“Kalau begitu aku akan menambahkan... Kita akan terus memojokkan monster itu dengan kemampuan kita, pertahanan kita tidak perlu kalian khawatirkan, karena kemampuan pelindungku akan tetap bersama kalian. Setelah monster itu akan berpikir bahwa kehidupannya terancam dan berniat melarikan diri, aku akan menggunakan kemampuanku dalam memblokir otoritas yang digunakan monster itu. Itu artinya elemen-elemen di dalam tubuhnya akan kurusak sedemikian rupa dan begitu pula regenerasinya yang bergantung dari konsep yang menyusun hutan itu.”
“Lalu, Anna yang akan melakukan penyelesaian akhirnya.” Tambah Lilia.
“Benar sekali.”
“Kalau begitu, mari kita bertindak!” kata Amarilis ketika pertempuran itu terus berlanjut.
****
つづく