
Aku membuka mataku...
Aku berada di ruangan kosong yang putih dan sedikit redup. Aku tidak bisa melihat ujung dari ruangan ini. Sementara itu, aku sedang duduk di sebuah kursi kayu yang cukup tua.
Aku dimana?
Tapi aku tidak bisa mengidentifikasi ruangan atau kejadian apa ini... Kalau begitu aku akan mencoba mengingat apa yang terjadi...
“Begitu... ternyata aku sudah mati...”
Aku dapat mengingatnya. Aku telah mendapatkan luka yang sangat parah dan mendapatkan tusukan pedang yang menembus ke dadaku. Dengan itu aku mati...
Tentang janji itu... aku telah menepatinya. Aku berhasil melindungi mereka semua dengan pengorbanan nyawaku sendiri, jadi aku sedikit menghela napas.
Namun, pertanyaannya adalah— apakah aku masih mempunyai penyesalan?
Tentu saja aku masih mempunyai banyak penyesalan. Aku tidak bisa menepati janjiku yang lain kepada Astia. Untuk itu, maafkan aku Astia...
Aku tidak bisa bersamanya di sisinya— batasanku untuk menepati janjiku adalah di saat aku hidup, tapi saat ini aku sudah mati dan pada akhirnya aku tidak bisa mengungkapkan banyak hal padanya. Termasuk perasaanku padanya...
Penyesalanku yang lain adalah, aku tidak bisa melanjutkan perjalananku bersama yang lain. Aku mempunyai tujuan hidup untuk menyelamatkan adikku Sheyta, tapi aku juga terikat oleh batasanku sebagai manusia.
Pada dasarnya aku adalah manusia biasa. Kalau aku menemui kematian, aku tidak bisa bertindak banyak untuknya. Jadi apakah aku masih memiliki banyak tugas untuk kehidupanku saat aku masih hidup?
Tentu saja masih banyak.
“Uh? Cahaya?”
Aku bisa melihat cahaya yang menyilaukan dari arah depanku.
Kemudian cahaya itu memproyeksikan sebuah sesuatu yang bisa disebut ‘kenyataan’. Aku tidak tahu tempat apa ini, tapi yang bisa kusimpulkan bahwa aku telah mati.
Lalu, aku bisa melihat dua orang— pria dan wanita yang sedang berbicara, di sebuah bar yang sepertinya pernah kukenal. Pria itu terlihat hanya memesan sebuah air putih, sedangkan wanita itu sepertinya sudah lebih dewasa sehingga memesan segelas bir.
“Bagaimana Yuuki? Bukankah setelah perjalananmu dan pengalamanmu di dunia ini, akhirnya kau bisa mengerti tentang perasaan orang-orang?” tanya Wanita itu kepada pria yang di sebelahnya.
“Aku tidak bisa mengetahui motif di balik pertanyaanmu itu... tapi sepertinya aku sedikit memahami tentang perasaan orang, khususnya pada seorang wanita.” Kata pria itu.
Apa ini? Kenapa aku pernah merasa merasakan kejadian ini? Tempat itu, kedua orang itu... dan percakapan itu.
Ternyata begitu... ini adalah ingatanku. Tentang di mana aku sedang menepati janjiku pada Ellena tempo hari. Saat itu aku memberikannya hadiah permintaan karena telah berusaha menyembuhkanku, dan di saat itu juga dia meminta padaku untuk ‘berkencan’ padanya.
Aku yang pada waktu itu tidak memiliki alasan untuk menolaknya. Jadi saat itu adalah di pagi hari sebelum aku bertemu dengan para gadis, dan di saat itu juga aku hanya berdua dengan Ellena.
*****
“Ngomong-ngomong, bukankah terlalu aneh di saat kau mengajakku kencan tapi kau mereservasi sebuah bar?” tanyaku.
Yah aku bisa mengerti hal itu. Mungkin ini adalah kencan pertamaku selama hidupku, aku juga tidak mengerti tentang dunia perkencanan, tapi bukankah hal yang bagus kalau tempat yang dituju harus mempunyai kesan yang romantis, mungkin?
“Y-yah...” Ellena sedikit tersedak ketika dia ingin melanjutkannya, “Aku juga mempunyai tujuan untuk mengajakmu ke restoran yang mewah atau tempat yang menyenangkan, tapi uangku saat ini...”
Pandangannya langsung jatuh ke bawah. Kondisinya juga tidak memungkinkan untuk mengeluarkan uang yang banyak, jadi aku mengerti pada posisi itu.
“N-nah! Bukankah kau juga sama, Yuuki? Kau juga tidak ingin membuang uangmu sebanyak itu dengan pergi ke tempat yang mahal, bukan?” tanya Ellena.
Meskipun Ellena mengatakan hal itu, tapi pada faktanya aku hampir tidak mempunyai uang sama sekali. Jadi keuanganku dan Astia untuk hari ini pada gawat-gawatnya.
Namun aku menjawab hal lain pada Ellena.
“Aku tidak pernah berpikiran seperti itu.” Kataku, “Aku juga tidak akan berkata membuang uangku dengan percuma ketika aku menyetujui apa yang telah kupilih. Pada dasarnya aku tidak ingin menghina seseorang, aku akan menerima ajakan siapapun itu kalau mereka benar-benar tulus. Jadi di saat kau mengajakku ke sebuah restoran yang mahal, kau jangan mengira aku akan berpikir ‘membuang-buang uang’. Aku pasti akan menerima hal itu sepenuh mungkin, meskipun keuanganku tidak mendukung.”
Itulah yang kumaksud. Meskipun aku sedikit risih terhadap Ellena karena sikapnya kepadaku, tapi aku masih menghargainya sepenuh hati dengan menerima kencannya hari ini dengan tulus. Jadi aku tidak pernah bermaksud untuk ‘membuang uang’ kalau orang yang mengajakku adalah ajakan yang tulus.
“Jadi, atas undanganmu... Aku senang, Ellena...” tambahku.
Kemudian aku melihatnya. Wajahnya memerah padam, lalu di saat aku menatapnya, dia berusaha memalingkan wajahnya dariku.
Kenapa dia harus malu dengan pernyataanku?
Setelah beberapa saat, Ellena menghela napas. Sepertinya dia sudah mulai tenang.
“Huh~ ternyata aku tahu sebabnya kenapa Astia jatuh cinta padamu.”
“Hah?”
Oke, untuk kali ini aku tidak mengerti tentang perkataannya. Mana mungkin Astia mempunyai perasaan yang seperti itu padaku.
“Huh, padahal aku tidak memintamu bercanda untuk saat ini.” Kataku,
“Kau kira aku sedang bercanda? Aku serius! Oke, mungkin keseriusanku ini masih belum terbuktikan pada kasus Astia, tapi cobalah ingatlah perjalananmu dengannya.”
Pada dasarnya yang dikatakan oleh Ellena masih abu-abu, tapi aku akan mengingat perjalananku bersama Astia.
Oke, setelah aku mengingatnya, aku hanya merasakan hal yang buruk pada Astia. Memori kelam tentang kematian orang tuanya selalu membuatnya bermimpi buruk di setiap malam.
Aku mencoba memahami tentang perasaannya pada waktu itu, dan berusaha mencari solusi untuknya. Jadi aku memberikan semua rasa kepedulianku padanya. Karena itu, aku tidak mendapatkan petunjuk tentang emosi romantis yang ditujukan padaku dari Astia.
Mungkin aku hanya tidak menyadarinya karena terlalu berfokus pada kesembuhan mentalnya.
“Mungkin kau benar Ellena, dan mungkin perasaan Astia terhadap diriku juga benar. Namun, apakah itu adalah rasa cinta terhadapku, itu masih abu-abu.”
Meskipun Astia benar-benar mencintaiku, tapi apakah aku berhak membalas cintanya? Tentu saja aku tidak berpikiran seperti itu.
Kalau aku membalas cintanya, aku adalah manusia yang hina, karena telah memanfaatkan kebaikan tulusku padanya sehingga Astia jatuh cinta padaku. Dengan kata lain, rasa cinta yang diberikan oleh Astia kepadaku hanya kebetulan karena aku telah ‘menyelamatkan’ hidupnya.
Itulah yang kupikirkan.
Aku juga merasa bersalah kalau aku mempunyai perasaan terhadapya. Aku telah berbuat jahat padanya dengan memberikan mantra budak kepadanya. Selama hidupku aku selalu merasa bersalah karena membuat Astia tersiksa. Itulah yang membuat aku tidak yakin bahwa Astia mempunyai perasaan romantis kepadaku.
“Kalau kau masih tidak percaya bahwa itu cinta, kalau begitu akan aku buktikan.” Kemudian Ellena melanjutkan, “Cobalah kau ingat tentang yang terjadi pada peristiwa itu, di Kekaisaran Engrayn waktu itu.”
“Memangnya ada apa?”
“Ketika kau kehilangan ketenanganmu, dan pergi dari Astia— Astia panik dan berusaha mencarimu.” Kata Ellena.
“Memangnya kenapa? Bukankah itu adalah hal yang biasa bagi manusia. Perubahan yang tiba-tiba seperti itu, pasti akan membuat Astia panik.”
Aku mengingat hal itu. Saat itu aku memang benar-benar marah ketika aku melihat adikku disandera oleh pihak penyelenggara turnamen. Dan di saat itu juga ada iblis yang merusak ketenangan yang ada di sana.
“Itu...”
Aku tidak bisa menjawabnya.
Ini sama dengan hal kasusnya rasa khawatir orang tua terhadap anaknya. Mereka cenderung untuk mengedepankan keselamatan anaknya terlebih dahulu daripada nyawanya sendiri. Apakah rasa cinta orang tua kepada anak itu sama dengan rasa cinta dari hubungan lawan jenis?
Aku tidak tahu itu, tapi pada konsepya, definisi itu tetaplah sama.
Ternyata begitu. Aku belum pernah menemui kondisi itu di dalam hidupku kecuali yang pernah Astia lakukan padaku. Mementingkan kehadiranku dibanding keselamatannya? Benar-benar di luar pemahamanku.
“Memang perasaan yang dinamakan ‘cinta’ itu tidak pernah logis...”
“Yah, pada kenyataannya kisahmu dengan Astia seperti cinta antara remaja yang pemalu.” Kata Ellena.
“Cinta?”
“Ya, ketika kau tidak ingin mencintai orang lain... kecuali kau memiliki bukti bahwa dia mencintai dirimu.”
Aku mengerti tentang pernyataan dari Ellena. Itu seperti refleksi dari hubungan antara penulis dari novel detektif dan pembacanya.
“Dengan pernyataanmu, kita bisa membandingkan cinta di antara anak remaja lainnya. Seperti, mereka ingin melakukan sesuatu tapi tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaan mereka, sehingga mereka harus menunggu pengakuan dari orang lain sampai waktu yang tidak bisa diprediksi. Setiap orang pasti pernah mengalami hal yang seperti itu.”
“Oh? Apakah kau memiliki pengalaman seperti itu?” tanya Ellena.
“Tentu tidak. Aku tidak mempunyai hubungan yang emosional seperti itu kepada orang lain.”
Pada dasarnya aku tidak pernah memiliki kesempatan untuk merasakan momen seperti itu. Aku juga tidak pernah memiliki seseorang yang bisa kumintai tolong untuk membuat hubungan yang seperti itu. Yah, aku cuman anak yang dikucilkan, jadi mau bagaimana lagi...
“Yuuki, apa kau mengetahui caranya memulai hubungan romantis seperti itu dengan tulus?”
“Aku tidak mempunyai pengalaman itu, tapi aku mempunyai hipotesis. Kau hanya perlu memulai dengan lawan bicaramu dalam membentuk komunikasi lagi dan lagi, sehingga membentuk kepercayaan. Dan akhirnya menyadari bahwa dirimu menyukai dirinya dan dia menyukaimu juga...”
Meskipun ini adalah pendapatku pribadi, tapi secara universal ini terjadi bagi banyak orang, dan...
“Ketika mereka berdua mencapai ke tahap mereka tidak memiliki keraguan, yah mereka secara alami menjadi pasangan.” Tambahku.
“Ternyata begitu. Itu terjadi ketika mereka berdua memulai untuk mempercayai satu sama lain. Lalu, itu artinya kau dan Astia berada dalam hubungan cinta yang seperti itu?”
Perkataan Ellena membuatku berpikir berkali-kali. Sebentar, apa maksudnya?
“Tunggu, aku tidak berhak berkata seperti itu. Aku telah menyakitinya dengan memberinya mantra budak, dan terus melatihnya untuk bertahan hidup secara memaksa. Bukankah kalau dalam perspektif Astia, dia hanya akan membenciku?”
“Kenapa kau sangat yakin bahwa Astia akan membencimu karena hal yang seperti itu?” tanya Ellena.
“Yah, aku hanya mengatakan karena pada umumnya begitu.”
Kalau aku bertindak dan melakukan sesuatu yang buruk kepada orang lain, aku hanya akan mendapatkan kebencian dari orang lain. Bukankah itulah kebenarannya?
“Astia tidak pernah mengatakan apapun yang seperti itu. Bukankah itu benar? Bukankah kau yang seharusnya mengerti itu dan menyadari itu sejak awal?”
“....”
Aku tidak bisa menjawabnya. Aku benar-benar tergoyahkan dengan pemikiranku sendiri.
Lalu, perasaan apa ini? Hatiku merasa ada hal yang aneh dan tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata... seperti degup jantungku menjadi lebih cepat...?
“Ini persis seperti yang kau katakan tadi...” kata Ellena, kemudian melanjutkan, “Mereka berkomunikasi satu sama lain lagi dan lagi... Dan mencapai tahap dimana mereka mempercayai satu sama lain.”
Aku tidak menyadari itu sama sekali. Ternyata itulah yang dialami oleh diriku dengan Astia.
*****
Aku telah melihat cahaya yang memproyeksikan ingatanku itu yang berada di masa lalu.
“Hey, hey. Mari kupikir, ketika dua orang lawan jenis membicarakan tentang cinta, padahal mereka berdua sama-sama tidak ahli dengan itu. Bukankah itu adalah sesuatu yang lucu dan pantas ditertawakan?”
Huh~ aku hanya bisa menghela napas di sini.
Dia benar... Ellena telah memberikanku banyak petunjuk. Karena itu... baiklah, saatnya aku berpikir.
Pada awalnya, aku dan Astia hanya memiliki hubungan yang buruk seperti seorang majikan dan budak. Namun, perlahan waktu berjalan, kami terus berhubungan baik dan membentuk komunikasi untuk mengerti satu sama lain di antara kami.
Lalu dengan semangat dan kepercayaannya terhadapku, Astia terus menunjukkan pengaruh positif yang diberikannya sehingga aku mempunyai pandangan yang lebih luas terhadap manusia. Itulah yang membuat Astia menjadi orang yang paling kupercayai.
Rasa empati dan kepeduliannya bahkan di luar pemahamanku, sehingga aku tidak menyadari itu. Jadi pada akhirnya aku membuat kesimpulan yang salah pada saat itu, bahwa aku masih percaya dengan perlakuan burukku membuat Astia benci padaku.
Padahal aku tidak pernah mendapatkan bukti itu langsung dari ucapan Astia, tapi aku malah membuat kesimpulan yang sepihak.
Dan saat ini...
Ellena memang benar. Itu hanya seperti cinta. Kalau begitu, aku akan menerimanya.
Aku menyadari satu hal... Kami tidak akan bisa bergerak kecuali kalau kami mengakui bahwa kami sedang jatuh cinta.
“Apa... apa-apaan ini?” Aku hanya bisa meremas kepalaku saat ini.
Tidak bisa menyadari perasaan yang telah tumbuh di atas kesalahpahaman yang mendasar, aku sungguh...
Ini sama saja seperti mempelajari perasaan orang lain karena seseorang mengatakan aku telah ‘ditembak’ oleh seseorang yang sangat dekat padaku. Namun, aku tidak bisa menyadari itu...
Aku sungguh... menyedihkan.
Aku sebegitu menyedihkannya sehingga aku baru menyadari hal itu ketika aku telah mati.
Logika adalah cinta. Kecuali kita sedang jatuh cinta, logika tidak akan bekerja. Lalu kenapa aku tidak ingin mengakui bahwa aku sedang jatuh cinta?
Ini benar-benar bodoh. Namun ketika aku menghina diriku sendiri, tiba-tiba terdapat sebuah pintu tepat beberapa meter dari tempatku. Huh~ sepertinya ini akan menjadi tempat pengadilanku. Baiklah, aku akan mengakui dosa-dosaku beserta penyesalanku.
Aku berdiri dan menghampiri pintu itu. Ketika aku membuka kenop pintunya, sebuah cahaya yang sangat terang menusuk mataku. Aku tidak bisa melihat apapun karena cahaya itu, tapi...
Di saat itulah aku terbangun dari kematian...
つづく
Kalau ada typo mohon dikoreksi ya, terima kasih yang telah membaca. Jangan lupa like, komen dan klik favorit ya!