I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II

I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II
Chapter 19.4



Sebuah penghalang telah lenyap berkat kemampuan Lilia.


Itu artinya, pertahanan yang dimiliki oleh monster itu telah berkurang. Meskipun begitu, ketahanan tubuhnya terhadap energi masifpun masih bisa ditolerir olehnya.


Aku juga belum memasukkan kecepatan regenerasinya yang begitu instan. Bahkan ‘Sonically Air’ milik Natasha yang telah melenyapkan monster golem dengan regenerasi instannya, sekarang serangan itu tidak lagi memiliki efek yang besar kepada musuhnya saat ini.


Bahkan efek dari tekanan yang berat serta dominasi Hydra ini yang bisa membuat gila lawannya, belum kucantumkan dalam ancamannya. Aku tidak bisa membuat prediksi lainnya kalau Hydra itu menggunakan ‘pelenyapan’ itu kembali.


Memang itu tidak berpengaruh pada kami bersembilan khususnya, tapi kalau pasukan kerajaan yang terkena efek itu, maka hanya akan ada pembantaian sepihak.


Sekarang, Hydra itu sudah mulai berfokus pada kami. Itu artinya dia yang akan langsung menyerang kami dengan kecepatannya yang tidak masuk akal.


“Baiklah, mari kita ganti rencana...” kataku kepada para gadis, “Aku dan kalian akan membuka ruang serang untuk Natasha. Kita akan priortaskan hal itu.”


Dalam beberapa momen, pergerakan Natasha tidak bisa terdeteksi oleh siapapun termasuk Hydra itu. Ditambah serangan Natasha yang bisa menembus tubuh monster itu hingga membuat lubang besar, sedangkan serangan masifku sekalipun tidak bisa melakukannya.


“““Dimengerti, master!””” jawab gadis lainnya dengan serentak.


Natasha juga mengangguk karena itu.


“Baiklah, sekarang—”


“Master!!” gadis lainnya membuat teriakan khawatir kepadaku.


Sebuah akar tajam menyerangku secara tiba-tiba, itu terlalu cepat hingga aku tidak bisa bereaksi dengan itu. Akar itu menyerempet ke arah wajahku, dan membuat luka di pipiku.


“Tenang saja, aku hanya tergores sedikit.” kataku.


Pada faktanya darah terus mengalir di pipiku, jadi aku mengusapnya dengan tanganku, dan langsung waspada terhadap serangan berikutnya.


Dan fakta yang lebih mengancam lainnya adalah... Akar yang telah mengenaiku itu telah menembus penghalang transparan Astia yang menyelimutiku.


Aku tidak percaya ini. Seberapa kuatnya serangan itu sehingga bisa menembus kemampuan pertahanan dari Astia?


Kalau begitu, aku akan memberikan saran kepada yang lainnya.


“Sepertinya mulai sekarang kalian tidak boleh terlalu bergantung pada kemampuan Astia yang ada di setiap dari diri kita. Kalian sudah melihatnya tadi, serangan itu sudah menembusnya.”


Meskipun begitu, penghalang yang tertembus tadi kembali tertutup dengan sendirinya. Tapi, apakah pertahanan dari Astia akan tidak berguna? Aku tidak tahu itu.


“Baik master!”


Setelah jawabannya, aku, Natasha, Elma, dan Marrona langsung melesat dan menyerang Hydra itu. Di sisi lain, Annastasia akan menyusul setelah membantu Lilia ke pasukan medis yang berada jauh di belakang.


Sudah kuduga, ternyata akar-akar raksasa yang berkecepatan tinggi itu juga bisa dikendalikan oleh Hydra. Sekarang adalah bagianku untuk membakar mereka semua yang menghalangi jalan kami.


“Master!” Natasha berteriak.


“Aku tahu.”


Aku melesat ke bagian depan, membakar pedangku dengan api yang terkonsentrasi. Lalu aku hanya mengandalkan reaksiku atas serangan yang berdatangan kepadaku bertubi-tubi. Aku menebas akar-akar itu dengan sedemikian rupa hingga akar itu tidak menghalangi jalan para gadis.


Tidak akan kulewatkan satupun serangan akar-akar raksasa itu. Aku terus membakar dan tidak membiarkan serangannya menyentuh gadis lainnya.


“INFERNO BEAM!”


Aku membuat jarak dan melesatkan energi merah untuk menghancurkan akar-akar yang keluar dalam tanah dalam area yang lebih luas.


Ledakan tercipta dengan sangat masif serta debu asap tersebar dan menghalangi pandangan.


Namun...


“Master! Awas!” Marrona berteriak.


Dari balik asap itu, salah satu kepala dari Hydra itu melesat dan tidak bisa kuprediksi. Itu terlalu cepat dan tiba-tiba. Rahangnya terbuka ke arahku dan berusaha melahapku seutuhnya.


Aku yang masih dalam menggunakan pedangku, dengan cepat kutancapkan ke dalam tanah— api raksasa mengelilingiku dan melindungiku dari arah apapun. Aku tidak bisa melihat ke arah lain karena dinding api ini.


Mesipun begitu, ini hanya untuk meminimalisir kerusakan dan sudah jelas dinding api ini hanya sebagai kertas kalau diserang oleh Hydra itu. Hasilnya Hydra itu tidak menerkamku tapi meleset, aku terkena moncongnya yang panjang dan terhempas ke kejauhan.


Karena tekanan yang besar itu, aku tidak bisa mengendalikan tubuhku dan terhempas, kemudian tersungkur.


Rasa sesak menyelimuti diriku. Dengan sebuah hantaman seperti itu, orang normal sepertiku akan bernapas menjadi sempit.


“Master!” mereka semua berteriak, tapi...


“Tidak perlu khawatirkan aku! Teruslah maju!”


Karena peringatan dari diriku. Mereka bertiga melesat dan menaiki kepala yang sangat panjang dari Hydra itu.


Huh~ benar-benar tubuh monster itu adalah naga dan kepalanya seperti ular raksasa.


Hydra itu meraung ketika mereka bertiga berhasil menaiki kepala Hydra dan membuat jalur di antara kepalanya, terus menuju ke tubuhnya. Aku hanya bisa melihatnya dari jauh, koordinasi mereka selalu optimal dengan bantuan dari pihak lain.


Aku juga bisa melihat ketika kepala lainnya segera menyerang mereka bertiga, mereka menghindari terkamannya, melompat ke atas lalu kembali turun dengan serangan yang melumpuhkan dari Elma. Kegesitan Marrona juga terus dipertahankan di atas sana.


Aku berusaha bangkit dengan pedangku. Aku ingin berniat menyusul mereka dan membantu menyelesaikan rencana yang telah dibuat.


“Ugh!”


Aku terbatuk dan mulutku mengeluarkan darah.


“Huh~ sepertinya tulang rusukku ada yang patah.” Aku sedikit menaikkan sudut bibirku karena itu, lalu menghela napas dengan perlahan.


Sepertinya tekanan besar dan hempasan tadi membuatku seperti ini. Penghalang transparan dari Astia juga rusak karena itu, tapi langsung kembali pulih.


Aku tidak menyangka potensi serangan monster itu semenakutkan ini. Kalau tadi peghalang Astia tidak ada, aku hanya akan lenyap seketika karena hanya hempasan dari moncong Hydra itu.


Baiklah...


Aku tidak boleh memperlihatkan kondisiku ini kepada orang lain, kalau tidak, mereka hanya akan khawatir terhadapku dan mengganggu konsentrasi mereka.


Aku berusaha berdiri, terbatuk sesekali dan langsung melesat— mengejar mereka bertiga yang berada di atas kepala Hydra itu.


****


Di sisi lain, Annastasia bergegas ke pasukan medis dengan menggendong Lilia di punggungnya.


“Bertahanlah Lilia!”


Di saat Lilia masih pingsan, Annastasia masih merasakan getaran dari arah lain, itu adalah serangan dari pasukan jarak jauh yang mengenai monster raksasa itu yang teridentifikasi sebagai Hydra.


Aku harap kalian semua baik-baik saja.


Annastasia hanya bisa mengharapkan teman-temannya dan masternya dalam keadaan baik saat di garis depan. Dia tahu mereka sedang menghadapi monster kelas bencana, tapi yang harus dia fokuskan saat ini adalah menyelamatkan pemimpinnya sekaligus temannya, Lilia.


Annastasia terus berlari dan akhirnya masuk ke dalam pasukan baris belakang dan menemui pasukan medis.


Situasinya lebih rumit daripada apa yang dipikirkan oleh Annastasia. Banyak korban yang berjatuhan, korban-korban yang terluka memenuhi area pasukan medis. Banyak yang berteriak kesakitan di antara mereka, keputusasaan juga menyelimuti mereka. Benar-benar di luar dugaan.


Oleh karena itu, Annastasia berusaha mencari petugas medis yang dapat menolongnya.


“Seseorang selamatkan rekanku.” kata Annastasia.


Annastasia melakukan itu bukan karena putus asa, tapi ketika dia pergi ke salah satu kemah, dia mendapati korban lainnya yang memenuhi ruangan itu. Pasukan medis juga terbatas dalam jumlahnya, karena itu Annastasia tidak bisa menemukan seseorang yang bisa membantunya.


Keadaan di sekitar Annastasia telah menjadi terlalu sibuk, petugas medis berlari-lari ke segala kemah yang ada. Meskipun Annastasia meminta bantuan kepada petugas itu, tapi permintaannya langsung ditolak karena petugas itu telah mendapatkan permintaan dari korban lain.


Jadi hingga saat ini Annastasia tidak bisa menemukan orang yang bisa meluangkan waktunya untuk rekannya.


Setidaknya satu orang saja yang bisa membantunya, kalau tidak maka nyawa Lilia akan berada dalam bahaya.


“K-kau...” seseorang memanggil Annastasia, “Bukankah kau temannya Yuuki?”


Dia adalah wanita cantik yang memakai pakaian seperti gadis china, Ellena. Oleh karena itu, Annastasia menghampirinya segera.


“Ya, benar— tolonglah temanku ini Lilia, dia membutuhkan pertolongan medis segera, nyawanya dalam bahaya.” kata Annastasia.


Setelah Annastasia melihat darah yang keluar dari mulut Lilia saat tadi, Annastasia spontan mengatakan bahwa Lilia sedang terancam nyawanya.


“Lilia...?” Ellena melihat Lilia yang sedang digendong di punggung Annastasia, “Tunggu sebentar, sekarang dimana Yuuki dan Astia?” tanya Ellena.


“Sekarang master sedang berhadapan dengan monster itu. Pada awalnya kami juga berada di sana, tapi sekarang Lilia...”


Dengan begitu Ellena langsung memutuskan.


“Baiklah, ayo ikut aku. Kita harus mencari tempat yang lebih sepi dari sini.”


“Baik...” jawab Annastasia.


Mereka berdua mencari ke sudut area dari pos medis yang tidak banyak orang yang melewatinya. Dengan begitu Annastasia menidurkan tubuh Lilia di tanah dan sekarang adalah bagian Ellena yang mengurusnya.


“Aku akan mulai...” kata Ellena.


“Sebelumnya maaf aku berlaku tidak sopan padamu tempo hari...” kata Annastasia yang sedang melihat Lilia sedang disembuhkan dengan sihir.


Itu adalah momen pada waktu Lilia, Elma dan Annastasia bertemu dengan Ellena di sebuah Guild Petualang saat rapat besar antara petualang kelas atas. Dengan sikap dirinya di masa lalu, Annastasia hanya ingin minta maaf kepadanya karena perbuatannya.


“Itu tidak perlu...” kata Ellena, “Aku sudah melupakan hal itu. Sekarang yang terpenting adalah menyelamatkan rekanmu.”


“Aku berhutang padamu.” tambah Annastasia.


“Yah, pada akhirnya aku tidak ingin membiarkan seseorang yang kukenal menderita.”


Ellena adalah Sorcerer, dan dia mempunyai kemampuan untuk memulihkan sebuah luka dari orang lain. Karena dia adalah seorang petualang yang berintegritas, dia hanya tidak ingin membiarkan orang lain terluka di depan matanya.


“Mereka— Yuuki dan Astia sedang berusaha melawan monster itu ya... bahkan teman-temanmu juga berada di sana.” Kata Ellena.


“Iya. Mereka jauh berada di sana...”


Karena itu Ellena merasa tersakiti.


“Pada akhirnya aku yang tidak berguna di sini... Di saat kalian mempertaruhkan nyawa kaliam, tapi aku... aku malah meratapi nasibku atas kehilangan seseorang yang sekarang sudah tidak ada.”


Ellena tersiksa dalam hatinya karena itu. Ketika dia kehilangan kakaknya yaitu Frank, dia merasakan kehancuran atas kehilangan keluarganya satu-satunya. Itulah penyebab Ellena tidak bisa kembali ke medan perang.


“Itu... seharusnya kau jangan berkata seperti itu... Setiap orang pasti membutuhkan sebuah ruang untuk mereka menangis. Itu wajar dalam setiap manusia.” Kata Annastasia.


“Meskipun aku tidak terlalu mengenalmu, tapi kau sepertinya memahami pada bagian itu ya... tapi, masalahnya kondisi kita saat ini sedang perang. Semuanya pasti merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan, tapi yang kulakukan hanyalah mengedepankan ego dan perasaanku di atas semuanya.”


“Ellena...”


Meskipun Annastasia dapat merasakannya, tapi pada bagian yang dikatakan Ellena adalah kebenaranya. Annastasia tidak bisa memaksakan Ellena bertarung lebih jauh, karena itu dia hanya bisa merasakan kehampaan yang menyakitkan.


“Huh~ akhirnya kau memanggil namaku dengan benar ya...”


Tapi bukan itu fokus Annastasia saat ini. Dia membutuhkan seseorang yang bisa membantunya di garis depan.


Annastasia telah mendengar seluruh rencana dan perkataan Astia saat Astia memberitahukan rencananya pada Raja Azaka, dia mendengar itu melewati sambungan telekomunikasi mereka. Itu artinya seluruh gadis telah mendengar itu meskipun ada jarak yang sangat jauh di antara mereka.


“Tapi kau belum terlambat untuk memperbaikinya.” kata Annastasia.


“Huh?”


“Saat ini kami sangat membutuhkan bantuanmu itu. Kalau kau menerimanya, kami akan sangat terbantu...”


Pasukan yang bertugas berhadapan langsung dengan Hydra itu hanya sembilan orang. Itu terlalu tidak masuk akal ketika Hydra itu telah melenyapkan ratusan petualang kelas tinggi dalam sekejap. Dengan perbedaan kualitas seperti itu, maka akan dibutuhkan seseorang atau beberapa orang untuk membantunya.


Apalagi, saat ini jumlah mereka berkurang karena keberadaan Annastasia dan Lilia yang sedang mundur.


“Karena itu, aku ingin meminta bantuanmu.” Tambah Annastasia.


“Tapi aku tidak akan terlalu berguna...” pasrah Ellena.


“Kenapa kau mengatakan seperti itu? Bukankah kau sangat jengkel dengan dirimu sendiri yang tidak berguna? Kenapa kau tidak buktikan saja?”


Ellena hanya bisa terdiam karena perkataan yang menusuk dari Annastasia. Setelah itu...


“Terima saja tawaran itu, Ellena.” Itu adalah suara dari arah lain.


Seorang pria yang berbadan besar, dengan penampilan seperti penyihir.


“Gorou...”


“Kalau kau berdiam saja di sini meratapi kesedihanmu dan membiarkan temanmu Yuuki bertarung sendirian di sana— bukankah itu keterlaluan?”


Perkataan Gorou benar. Perasaan Ellena saat ini masiih terikat oleh kesedihannya atas kehilangan seseorang yang dia sayangi yaitu kakaknya, tapi dia juga tidak ingin dirinya terus tidak berguna dalam situasi ini. Oleh karena itu Ellena harus menunjukkan kualitasnya di medan perang, meskipun itu adalah sebuah dendam.


“Huh~ Baiklah...” kata Ellena, “Tapi, bukankah berbahaya kalau beranjak dari tempat ini? Kasus pelenyapan itu juga bisa terpengaruh untuk kita.”


Tapi Annastasia langsung memotongnya.


“Astia juga sudah pernah bilang... dirimu dan Gorou salah satu orang yang terpilih oleh Astia.”


“Apa maksudmu?” tanya Ellena.


“Ternyata kau tidak mendengarnya... Yah pada intinya kau tidak akan pernah terkena efek pelenyapan itu, karena ada sebuah penghalang milik Astia yang sudah menyelimuti tubuhmu.”


“Sejak kapan Astia membuatku seperti itu?”


Ellena juga tidak sadar dengan kemampuan itu.


“Aku tidak tahu.” Kata Annastasia, kemudian dia melanjutkan, “Tapi, bukankah kau telah melewati efek pelenyapan itu di saat peperangan awal tadi?”


Anehnya Ellena baru saja menyadari hal yang sepenting itu. Akhirnya dia bertanya-tanya tentang kenapa dia juga tidak ikut menghilang ketika para petualang menghilang secara dramatis.


“Kemungkinan besar itu adalah pengaruh dari penghalang Astia.” Tambah Annastasia.


“Aku tidak sadar itu... Itu artinya Gorou juga?”


Kemudian Annastasia menoleh ke arah Gorou, dan menjawab, “Ya.”


Setelah banyak hal rumit yang dipikirkan oleh Ellena, dia akhirnya memutuskan.


“Baiklah. Kalau begitu, setelah kita menyembuhkan Lilia, kita akan bergegas ke garis depan.” kata Ellena.


“Kalau begitu aku juga akan membantu.” Kata Gorou yang maju ke sampingnya.


Dengan begitu, sebuah bantuan telah didapatkan meskipun Annastasia tidak menyangka hal ini. Tapi baginya ini adalah bantuan yang besar.


Setelah dalam proses penyembuhan Lilia, Mereka semua bergegas ke garis depan


つづく


Jangan lupa like, komen, dan klik favorit ya!