I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II

I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II
Chapter 12.3



****


"Yuuki!"


Seseorang berteriak dengan nada cemas ketika memanggilku. Aku tidak tahu siapa dia, suaranya samar-samar ketika kudengar.


Apa yang sedang dia khawatirkan? Aku hanya bisa mendengar suara-suara itu, seolah dia telah putus asa dan berusaha menggapaiku. Selain itu, aku benar-benar tidak mengenal suaranya. Seperti suara radio yang rusak, itu adalah penggambaran sederhananya...


Namun...


"—Yuu—ki! Di... apapun— a...ku tidak a—kan membiakanmu... mati!!"


Hanya sebuah suara yang tidak jelas kudengar, tidak ada penglihatan apapun seperti suara radio yangg rusak. Namun dia memanggilku seolah mengenalku dengan baik, dengan nada cemas. Lalu kata terakhirnya yang cukup aneh.


Kalau kususun kata-katanya, membiarkanmu mati?


Apa itu?


"Tuan Yuuki."


Seseorang memanggilku lagi, tapi sekarang sudah sedikit lebih jelas.


"Tuan Yuuki?" Sekarang suaranya tidak ada rasa kecemasan, aku mengenalnya sekarang.


Huh~ ternyata suara yang kudengar tadi seperti radio yang rusak adalah mimpiku semata. Ternyata aku tertidur tanpa kusadari. Apa aku benar-benar begitu kelelahan?


"Tuan Yuuki?"


Suara itu memanggilku untuk ketiga kalinya, tapi sekarang sangat dekat.


Hanya ada satu orang yang memanggilku dengan sebutan 'Tuan' sebelum nama depanku, Itu adalah suara dari Astia. Namun, karena dia mengira aku tertidur, jadi aku belum mencoba untuk membuka mataku.


Aku bahkan bisa mendengar detak jantung Astia. Apa maksudnya ini? Karena itu aku akan menyadarkan Astia agar tidak membuatnya bertindak lebih jauh.


"Apa kamu ingin mencoba menciumku?"


Aku langsung membuka mataku sebelum Astia bereaksi dan mendapati wajah Astia tepat lima senti di depanku.


"Eeh! E-eh tidak! Tidak!" Astia langsung refleks menjauh dariku dan jatuh karena kecerobohannya, "Bukan! Bukan itu maksudku! A-aku hanya ingin tahu apakah Tuan Yu-yuuki benar-benar tertidur!"


Astia terbata-bata ketika wajahnya memerah. Huh, sepertinya memang tidak baik membuka mataku secara langsung.


"Oh begitu? Jadi?"


"Jadi aku tidak bermaksud melakukan sesuatu yang Tuan Yuuki katakan!"


Aku hanya menghela napas. Ternyata Astia salah paham.


"Bukan itu maksudku. Jadi apa makan malamnya sudah siap? Kamu datang ke ruanganku karena ingin memanggilku, kan? Jadi kenapa kamu begitu panik?"


"Ah itu..." Astia bangkit dan berdehem, "Baiklah, itulah sebenarnya maksudku. Oh iya, makan malamnya sudah siap dan gadis lain juga sudah selesai makan."


Untuk menekan rasa malunya, Astia bergumam dan perkataannya terus berputar-putar.


"Oke aku mengerti. Terima kasih." Kataku ketika meninggalkan kamarku.


Astia mengikutiku dari belakang di saat dia memegang dadanya, sepertinya dia menghela napas karena gugup.


Setelah beberapa saat, aku makan malam dengan tenang ketika Astia masih di dekatku.


Padahal aku bisa sendiri, lagipula dia pasti lelah kan setelah dari istana kerajaan?


"Apa kamu dan Marrona sudah mengantarkan perkamen itu kepada Raja Azaka?" tanyaku.


"Ah ya sudah. Yang Mulia juga terlihat senang saat menerima perkamen itu. Pasti Yang Mulia juga mengira kalau itu telah dibuat dengan baik oleh dirimu."


"Kuharap begitu."


Setelah beberapa menit aku merasakan keheningan, aku ingin memastikan sesuatu pada Astia.


"Astia, apa kamu pernah mengalami mimpi aneh? Seperti seseorang memanggilmu, tapi seolah-olah itu adalah kenyataan."


"Hmm? Sepertinya aku juga pernah seperti itu. Namun, mimpi itu adalah sebuah memori sementara, jadi sangat mudah untuk dilupakan. Kalau seseorang memanggil namamu dalam mimpimu, mungkin itu adalah sebuah pecahan dari ingatan."


"Ya aku juga berpikir seperti itu..." Aku sedikit mempunyai firasat buruk tentang itu, "Namun, aku yakin mimpiku tadi berasal dari dunia ini."


Sebuah memori tentang perkataan Natasha dari monster itu kembali kuingat. Seperti yang telah dikatakan Natasha, bahwa aku akan mati dalam waktu dekat. Itulah yang membuat Natasha marah karena provokasi dari monster itu. Tapi apakah begitu?


Dan saat tadi, aku juga bermimpi dan mendengar suara dari 'seseorang' yang secara tidak langsung aku sekarat atau mati?


Dari kejadian dan pernyataan tersebut yang saling berkaitan, mungkin. Dalam waktu dekat, aku akan mati.


Namun itu hanyalah firasat tidak beralasanku.


"Memangnya mimpi apa itu?" tanya Astia.


"Hanya sebuah suara-suara yang tidak bisa kudengar dengan jelas. Tapi dari nadanya, sepertinya 'dia' benar-benar mencemaskan aku."


Mungkin ini memang tidak masuk akal, tapi suara itu benar-benar seolah kenyataan yang sedang dihadapinya dan dapat dirasakan olehku.


"Itu..." Astia sepertinya tidak bisa mengerti.


"Ini memang tidak masuk akal. Selain itu, aku mempunyai pemikiran, tapi ini tidak bisa dibuktikan..." sampai abad modern pun pemikiran ini tidak akan bisa dibuktikan, "Apakah mimpiku itu berasal dari dunia lain? Dimensi lain? Ingatan lain? Garis waktu lain? Atau bahkan itu berasal dari masa lalu? Masa depan? Semua itu di luar akal sehat manusia dan aku tidak tahu jawabannya."


Mimpi itu memang tidak pernah masuk akal.


"Aku juga sempat berpikir seperti itu, tapi pemahamanku tidak akan sampai pada hal itu."


Tanggapan Astia juga berlaku pada diriku. Segala kemungkinan itu bisa terjadi sampai tidak terbatas, tapi kalau aku terus memikirkan hal itu, aku tidak akan pernah bisa melangkahkan kakiku karena sesuatu hal buruk di masa depan.


Karena itulah, kalau sesuatu akan terjadi kepadaku, aku akan mengantisipasi hal terbaik di masa depan. Kalau kematian menghampiriku seperti yang kufirasatkan, aku tidak bisa apa-apa.


"Baiklah, aku selesai." Setelah topik yang cukup berat, aku beralih ke arah yang lain, "Aku akan kembali ke kamarku dan bersiap-siap dengan serangan malam."


Maksudku bisa saja malam ini ada serangan kejutan dari para gadis


"Aku akan terus menunggumu." Astia tersenyum dengan perkataannya.


Sekarang aku bingung dengan perkataan Astia barusan. Apa maksudnya?


Yah tidak ada untungnya mencari maksud dari perkataan itu. Jadi aku hanya bersikap normal.


"Oke."


Aku meninggalkan Astia di ruang makan dan kembali ke kamarku. Dalam diam aku kembali membaca buku.


****


Sekitar satu jam berlalu aku membaca buku, aku menutup buku itu lalu kutaruh ke lemari buku yang ada di kamarku.


"Apa aku harus membaca lebih banyak buku untuk meningkatkan pemahaman bacaku?" gumamku.


Pada dasarnya aku belum seratus persen memahami tulisan yang ada di dunia ini, tapi apa boleh buat, itu sangat diperlukan kalau ada informasi tertulis. Ini juga dihitung untuk mengisi waktu luangku.


Sekarang aku membuka jendela untuk membiarkan angin malam masuk setelah aku membawa satu buku.


Namun setelah itu...


"Master apa aku boleh masuk?" sebuah suara dari luar kamarku ketika dia mengetuk pintu.


"Ya silakan." kataku.


Kemudian Annastasia masuk ke dalam kamarku setelah membuka pintu. Aku yang di dekat jendela, menatap ke luar dan disinari oleh cahaya bulan, juga dapat melihat Annastasia kalau dia memakai pakaian yang ringan dan tipis.


Aku tidak tahu apakah itu pakaian rumahannya atau pakaian tidurnya atau apakah dia...


"Ada apa? Apa kau punya suatu keluhan tentang sesuatu yang kita diskusikan tadi?"


"Tidak ada, kupikir diskusi tadi berjalan dengan baik." kata Annastasia ketika dia melanjutkan, "Aku ke kamar master untuk mendapatkan novel yang telah master janjikan padaku tadi pagi.”


Setelah menutup kembali pintunya, Annastasia menghampiri diriku. Aku melihatnya...


Mungkin orang lain akan terduduk lemas atau akan jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat Annastasia, meskipun orang itu mempunyai harga diri yang tinggi. Dengan porsi tubuhnya yang bisa dikatakan ‘sangat menggoda’ membuat kenyataan surga dan neraka menjadi satu, seolah tidak bisa membedakan keduanya.


Sedangkan aku? Aku tidak bisa memikirkan hal lain selain penaklukan monster kelas bencana besok. Jadi aku tidak punya waktu untuk memikirkan itu semua.


“Tunggu sebentar, aku akan mengambilkannya...” kataku saat menutup buku, lalu mencari buku yang kubaca tadi pagi di lemari.


Sembari aku sedang mencari buku itu, aku akan membuat topik ringan.


“Bagaimana, apa kau sudah merasa baik dengan Elma? Sepertinya misi hari ini yang kau jalankan bersamanya berjalan dengan baik.”


“Yah, aku tidak merasa begitu padanya, tapi selama dia tidak mengganggu kelancaran misi, aku tidak terlalu membenci sifatnya.”


“Begitu, kau sekarang sudah mulai membiasakan diri dengan sifatnya. Ah ketemu.”


Aku menemukan buku yang telah kubaca tadi pagi, lalu berjalan ke arah Annastasia saat dia melihat ke arah lain.


“Ini bukunya.”


“Terima kasih.” Annastasia menerimanya dan melihat-lihat sampulnya, sepertinya dia memang tertarik dengan itu.


Setelah memberikannya buku itu, aku pergi ke arah tempat meja kantorku. Aku juga ingin menikmati waktu dalam membaca buku sederhana dan melakukan hal lain untuk menghilangkan rasa sepi di malam hari.


“Master.”


Tapi sebelum itu, tanganku di tahan ketika aku baru berjalan beberapa langkah.


Apa sekarang Annastasia masih punya urusan lain?


“Ada apa?”


Tidak akan ada yang bisa menebak hal ini, tiba-tiba Annastasia mendekat ke arahku sampai ke titik menekankan tubuhnya pada diriku. Tangannya, dadanya menyentuh tubuhku, bahkan wajahnya sangat dekat denganku. Di saat itulah suara godaan Annastasia keluar dengan pelan.


“Master~ apa malam ini kita bisa bersenang-senang?”


Sekarang aku tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh Annastasia. Godaannya sangat sempurna hingga akan membuat orang lain terpikat pada Annastasia dengan mudah


“Tunggu sebentar, aku perlu persiapan sebentar. Duduklah di kasurku” kataku.


Perlahan Annastasia sedikit melepaskanku, dengan itu aku pergi ke meja kantorku dan mengambil sesuatu. Aku juga melihat Annastasia sedang duduk di kasurku dan sedikit tersenyum.


Aku kembali dan menghampirinya.


“Baiklah, mari kita bersenang-senang.” kataku ketika saat ini aku sedang berhadapan dengan Annastasia, tapi dia telat menyadarinya.


“I-ini?” Annastasia terlihat bingung dan terkejut.


“Ada apa? Ini papan catur, seharusnya kau tahu hal ini kan?”


“I-iya tapi...” Annastasia terlihat ragu, jadi aku tidak bisa menebak pikirannya.


“Ada apa? Apa kau punya urusan lain? Atau kau memang kau tidak terlalu bisa bermain catur? Kalau itu masalahnya aku bisa mengajarimu. Mungkin malam ini adalah waktu yang tepat untuk mengisi waktu luang untuk bermain bersama, jadi bukankah ini yang disebut bersenang-senang?”


“Bukan begitu, aku bisa bermain catur ta-tapi... Yasudahlah! Saat ini aku akan menantangmu serius dan mengalahkanmu dengan cepat!”


Annastasia terlihat kesal lalu menujukkan tangannya mengarah kepadaku, dia terlihat serius dengan perkataannya. Karena itu aku sedikit bersemangat untuk melayaninya.


“Mari kita lihat, apa kau bisa sedikit menghiburku dalam duel ini?” kataku acuh tak acuh.


“Lihat saja! Aku tidak akan membuat master berpikir hal itu lagi, kalau pertarunganku membosankan!”


Akhirnya kami bertarung dalam permainan catur ini. Dengan semangat Annastasia yang berapi-api setidaknya akan membuat dirinya membuatku merasa tertekan dalam catur ini. Ketangkasan, teknik dan seluruh aspek dari bela diriku memang di atas Annastasia, tapi kalau dia menang dalam permainan ini, setidaknya aku dapat mengakuinya.


Namun, kalau dia menang sekali saja dan bertahan sedikit saja...


“Bagaimana bisa...?”


Sebuah suara keluar dari mulut Annastasia, dia terlihat putus asa dan pasrah.


Pasalnya, dia kalah denganku hanya dengan gerakan dasar yang telah kuberikan. Bahkan anak kecil saja dapat menyadari pergerakan bidak caturku.


“Itu artinya skakmat.” Aku sedikit menekankan perkataan itu.


“Aku tahu itu! Baiklah, sekali lagi!”


Setelah perkataannya, aku melayani seluruh permainannya dan taktiknya sampai dia pasrah dan sangat putus asa. Namun, aku cukup terhibur dengan dirinya yang terus tidak menyerah di saat dia berkali-kali kalah.


“Cih!”


Aku memang merasa Annastasia telah mengincarku dan sedikit menaruh rasa dendam padaku sejak pertama kali kita bertemu. Namun itu adalah rasa emosinya yang tidak mau kalah, jadi dia terus berusaha berkali-kali untuk mengalahkanku meskipun hanya membuatku tertekan sedikit saja.


Sekali lagi, aku menemukan sifat unik yang dimiliki oleh salah satu gadis yaitu Annastasia.


“Apa kau sudah puas?” tanyaku yang memiliki unsur provokatif.


“Tentu saja aku tidak akan pernah puas. Aku tidak akan menyerah untuk menaklukkan master!” dia menaikkan sudut bibirnya.


Karena jarak kami yang terbilang cukup dekat, tiba-tiba Annastasia langsung menerjangku dengan spontan. Dia menerjangku dengan seluruh tenaga dari tubuhnya, itu cukup membuatku jatuh di atas tempat tidur karena aku tidak memberikan tumpuan pada kasurku.


Seluruh tubuhnya membuat batasan pada pergerakan tubuhku hingga tahap maksimal, hanya kedua tangaku yang bisa kugunakan.


Di saat itulah, sebuah pisau kecil yang terselip keluar dari celah dada Annastasia, menyerang ke arah wajahku.


Tapi aku masih bisa menahannya, Annastasia tidak bisa memberikan dorongan lebih jauh karena perbedaan kekuatan lengan yang cukup jauh.


“Darimana asalnya pisau itu?” tanyaku ketika aku masi posisi di bawah.


“Huh! Itu adalah salah satu trikku dan...”


Di saat itulah seorang bayangan hitam muncul dari kegelapan sudut ruangan. Tangannya yang gesit menaruh target ke arah wajahku. Sepertinya aku mengetahuinya...


Daripada aku terus menahan berat badan tubuh Annastasia yang cukup mengganggu, aku lebih memilih untuk menerima semuanya. Karena itu setelah aku menepis pisau kecilnya, lalu aku memeluk erat tubuhnya.


“Eh?” sepertinya Annastasia cukup bingung.


Aku berbalik untuk menghindari dari serangan bayangan hitam itu dan bangkit dari tidur.


Aku melepaskan pelukanku dan melempar Annastasia ke atas kasur. Di saat jendelanya terbuka dan ada sedikit waktu, aku keluar karena ada batasan ruang yang kumiliki untuk memberikan serangan balasan.


Tapi, hanya itu. Sepertinya aku telah masuk ke dalam jebakan gadis-gadis lainnya.


つづく


Jangan lupa like, komen, dan klik favorit ya untuk embuat Author semangat terus!