I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II

I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II
Chapter 21.1



Aku berusaha menahan rasa sakit atas konsekuensi serangan ini. Aku bisa mendengar tulangku retak di bagian lenganku. Efek dorongannya juga membuat tekanan pada kakiku.


Aku juga bisa mendengar dan melihat retakan perlahan muncul di pedangku. Aku mengerti bahwa seranganku tidak bisa ditampung dengan pedang ini, padahal ini adalah pedang yang berkualitas.


Hydra itu tidak bisa menghindarinya dengan pergerakan apapun yang dimilikinya. Bergerak secara sangat cepat, sehingga tidak dapat direaksi olehnya.


"TIDAK MUNGKIN SERANGAN INI BISA MEMBUNUHKU!!"


Hydra itu berteriak dan meraung ketika tubuhnya perlahan menghilang atas serangan ini. Pada dasarnya, kemampuan ini jauh lebih besar dan jauh lebih kuat daripada sebelumnya.


Jadi, semuanya berakhir...


Energi dari serangan itu perlahan menyusut, Hydra itu juga menghilang.


"Terkonfirmasi. Keberadaan 'Ultimate Hydra' telah lenyap dari dunia ini."


Pernyataan dari Raja Azaka membuatku bernapas lega. Kemudian membuang pedangku yang telah patah dan hancur. Itu adalah konsekuensi dari pedang ketika menerima banyak kekuatan yang terkumpul pada satu titik.


"Baiklah, saatnya—"


Jleb!!


Sebuah rasa sakit yang luar biasa menghantam dadaku. Seseorang terlalu dekat padaku dan mengarahkan sesuatu padaku.


"Tidak!! Tuan Yuuki!!" aku bisa mendengar Astia berteriak khawatir di belakangku.


Tanpa kusadari sedikitpun, seseorang ini berada di dekatku dan melakukan sesuatu padaku.


(Akhirnya aku bisa membunuhmu.) katanya.


"Ugh!"


Darah terus kumuntahkan. Aku menyadarinya, sebuah pedang panjang menusuk tepat di area dadaku— menembusku seutuhnya.


(Manusia 'rusak' sepertimu tidak akan pernah menikmati hidup. Jadi kau sebaiknya mati di sini saja.)


Ternyata aku mengenalnya. Dia adalah Varvatos dengan wujud manusianya... Huh~ aku pikir dia telah mati di tangan Astia, tapi...


"Apakah begitu? Sekarang siapa yang akan mati?" kataku.


(Apa?!)


Tangan kiriku telah menembus tubuhnya. Saatnya aku membakar seluruh selnya dan menghancurkan jantungnya.


(TIDAK!!)


Tubuhnya meledak dan menjadi abu. Tidak ada perubahan menjadi monster golem darinya. Dan juga tidak ada hindaran darinya yang menjadi lumpur. Mungkin Varvatos telah menipu Astia dengan menjadikannya sendiri menjadi lumpur, sehingga Astia mengira itu adalah efek dari kemampuannya.


Sekarang dia benar-benar lenyap.


Namun, aku tidak mengira hal itu terjadi. Serangannya telah menembus titik vital di bagian dadaku. Ini buruk, aku langsung tersungkur tanpa bisa menggerakkan tubuh sama sekali.


"Huh~ kenapa ketidakberuntungan selalu menimpaku?"


"Tuan Yuuki!! Tidak!!" Astia berteriak dengan khawatir dan menghampiriku dengan gadis lainnya.


Mereka semua pasti telah melihat diriku tertusuk tanpa mereka mengetahui keberadaan musuh lain saat tadi. Ini yang membuatku mendapatkan serangan fatal itu, tidak akan membuatku bertahan lama.


Jadi lima puluh persen peluangku untuk hidup telah lenyap—


"Tidak Tuan Yuuki!! Kamu tidak boleh seperti ini! Bertahanlah! Kumohon... demi diriku... Aku mohon Tuan Yuuki..."


Huh~ kenapa kamu menangis seperti itu Astia... padahal aku mengira kamu membenciku.


"Master!! Tidak... ini tidak boleh terjadi padamu master!"


"Jangan tinggalkan kami, master! Aku mohon padamu... kaulah penyelamat kami semua, jadi... jangan tinggalkan kami..."


Para gadis menunjukkan kekhawatirannya padaku. Padahal aku bukanlah pemimpin yang baik dan masih banyak keegoisan pada diriku, tapi kenapa mereka mengkhawatirkan aku?


Tapi aku tidak memiliki waktu lagi untuk menjawab mereka semua.


"Maafkan aku Astia... pada akhirnya... aku tidak bisa menjawab perasaanmu."


Kemudian aku menutup mataku, dan di saat itulah kesadaranku telah lenyap.


****


"Tuan Yuuki...?"


Astia telah melihat sendiri Yuuki telah menutup matanya untuk selamanya. Setelah seluruh perbuatan yang Yuuki perbuat, tidak ada balasan baik untuknya atau pun pujian untuknya. Bahkan Astia belum sempat mengatakan perasaanya sesungguhnya, tapi kenyataan telah diperlihatkan untuk mereka semua.


Ellena yang langsung tanggap dengan kejadian itu dan berusaha menyembuhkannya, menatap kosong ke arah tubuh Yuuki.


"Tidak mungkin..." kata Ellena.


Kemudian Astia meraih tubuh Yuuki, "Jangan mati! Jangan mati! Jangan mati! Jangan mati! Jangan mati! Jangan mati! Jangan mati! Kumohon apapun itu..."


Namun tidak ada respon darinya.


"Bangunlah! Aku mohon Tuan Yuuki... kumohon bangunlah! Tolong bangunlah Tuan Yuuki... kubilang, bangunlah..." Astia terus menangis menatap wajah Yuuki, "Bukankah kamu sudah berjanji akan selalu ada bersamaku?!"


Kehancuran total dialami Astia. Yuuki tidak merespon apapun ketika Astia menangis seperti itu.


"Ternyata ini adalah maksud dari janjimu, master..." kata Natasha, "Kau tidak akan membiarkan salah satu dari kami terbunuh... tapi kau— sebagai gantinya kau mengorbankan dirimu sendiri... Apakah itu adil bagi kami?"


"Setelah semuanya berhasil... buat apa kami menjalani perjalanan selanjutnya kalau tanpa adanya dirimu, master?!"


Bahkan Elma yang kasar sekalipun menjatuhkan senjatanya, dan menangis di hadapan mereka semua.


"Kau yang paling mengerti tentang diriku, master. Kau juga telah memberikan senjata ini padaku. Banyak hal yang telah kau arahkan untukku sehingga aku mendapatkan tujuan hidup. Kau adalah simbol dari kehidupan kami, tapi kau... kau malah meninggalkanku di sini..."


Namun ada satu hal yang mereka sadari.


"Maafkan aku semuanya..." Astia mengeluarkan sebuah pisau dari belakang roknya.


"Apa yang kau lakukan Astia?!"


Astia mengarahkan pisaunya ke arah dirinya sendiri, namun Lilia segera menahannya.


"Aku tidak peduli apa yang akan terjadi... aku hidup karena pertolongan Tuan Yuuki. Kalau sekarang dia tidak ada... maka aku tidak perlu meneruskan hidup ini. Kalau Tuan Yuuki tidak bisa bersama denganku, maka aku yang akan bersamanya. Dengan ini aku..."


Kehancuran total bagi Astia. Dia tidak memiliki tujuan hidup selain bersama Yuuki. Bukan berarti dia telah mendapatkan pengaruh yang sangat besar, tapi alasan Astia untuk hidup karena Yuuki— dia telah terselamatkan dan jutaan kata terima kasih tidak akan pernah cukup untuk membalas perbuatannya. Itulah yang dirasakan oleh Astia.


"Bukan berarti kau akan membunuh dirimu sendiri, Astia!!" teriak Lilia, "Lalu untuk apa master mengorbankan dirinya untuk kita semua? Aku yakin master juga tidak ingin kau mati! Aku juga yakin master tidak ingin kau berbuat seperti ini!"


Kemudian Astia melihat tangannya sendiri, darah Yuuki yang bercak pada tangannya. Dia ingin berteriak dan menangis sepanjang hari— dia tidak melakukan apa-apa selain menangis dan frustasi karena tidak bisa melakaukan apapun.


Informasi yang telah tercatat di ingatan Astia bersifat sementara. Setelah kejadian itu, informasi yang telah dia dapatkan dari tombak itu telah lenyap.


"Ah!! Aaahh!!" Astia perlahan kehilangan kewarasannya dan mencoba meraih pisau yang terlempar itu.


Namun Lilia tetap menahannya.


"Sadarlah Astia!!"


Lilia menampar Astia dengan keras.


"Master pasti tidak ingin kau berbuat seperti itu! Sekarang dimana ketenanganmu yang biasanya selama ini, Astia?!"


"Ta-tapi, Tuan Yuuki...?"


"Kita semua tahu itu! Kita semua sedih dan hanya bisa menangis tanpa bisa berbuat sesuatu! Tapi bunuh diri bukanlah sebuah jalan keluar!"


"Master..." Marrona meraba tubuh Yuuki yang perlahan dingin, "Kenapa kau meninggalkan kami begitu cepat? Aku bahkan belum bisa memainkan banyak hal bersamamu."


Astia juga merasakan itu. Mereka semua telah kehilangan orang yang mereka sayangi. Astia mencoba mengerti tentang kondisi mereka, jadi Astia berusaha untuk tenang.


"Kau tahu, Astia..."tambah Lilia, "Bahwa indera yang terakhir berfungsi saat kematian adalah telinga? Itu artinya, mungkin master masih bisa mendengar percakapan kita. Jadi sebelum semuanya terlambat, kau bisa mengungkapkan isi hatimu sekarang di dekatnya."


Kemudian atas arahan Lilia, Astia mendekat ke dekat wajah Yuuki dan berbisik di telinganya. Bahkan aroma dari baunya yang tercium oleh Astia masih sama.


Bahkan di saat terakhirmu, keberadaanmu membuatku tenang, Tuan Yuuki.


"Tuan Yuuki, aku harap kamu masih bisa mendengar hal ini..." bisik Astia.


Kemudian Astia mengungkapkan isi hatinya.


"Kamu adalah orang yang paling kusayangi, Tuan Yuuki. Mungkin kamu berpikir kalau aku telah menyelamatkanmu, tapi yang sebenarnya aku yang tertolong dengan kehadiranmu. Kalau kamu tidak ada... aku tidak akan pernah bisa bertahan hingga sejauh ini, menangis sendirian di dunia ini... karena itu, aku sangat, sangat, sangat, sangat— aku sangat mencintaimu, Tuan Yuuki..."


Air matanya tidak terbendung, Astia hanya bisa menangis di dekat Yuuki berada. Menyesal karena perasaan itu tidak pernah dia katakan secepatnya, hanya sebuah angan-angan kosong untuk mendapatkan balasan atas cintanya.


Tidak ada pujian untuknya, tidak ada kasih sayang yang mendalam untuknya. Hanya mendapatkan perundungan dan pengucilan dari pihak lain. Itulah yang telah dialami oleh Yuuki. Jasanya saat ini pun tidak akan tersebar ke seluruh dunia. Jadi tidak akan ada yang mengenal nama Yuuki Ryuuji, meskipun dia telah menyelamatkan umat manusia.


Itu artinya tujuannya selama ini— bekerja di balik layar tanpa ada orang yang mengetahuinya... telah berhasil.


"Aku telah mendapatkan tekad besar dari kalian." Raja Azaka menghampiri Astia dan para gadis yang sedang meratapi kepergian Yuuki.


"Eh?"


"Pada akhirnya... kalian memang adalah keluarga sesungguhnya."


Itulah yang dimaksud oleh Azaka. Dia tidak pernah menemukan sebuah kelompok yang memiliki ikatan sekuat ini. Bahkan hubungan mereka masih tergolong cepat. Azaka yang tidak mengerti tentang emosi mereka, memutuskan untuk memberikan mereka apresiasi.


Namun Astia mengusap air matanya, dan bertanya pada raja Azaka, "Apa maksudnya, Yang Mulia?"


"Aku akan mengorbankan otoritas 'mahluk panggilan'ku dengan Yuuki."


"Apa?"


"Itu artinya aku akan kehilangan otoritasku pada Yuuki. Dia tidak akan terikat dengan peraturan yang telah kubuat. Dengan kata lain, aku menukar otoritasku dengan nyawa Yuuki."


Mungkin ada yang bingung terhadap pernyataan Raja Azaka, tapi Astia dapat mengerti hal itu dengan jelas, "A-apa itu artinya... Tuan Yuuki akan hidup kembali?"


"Benar Astia..."


Para gadis dan Astia sangat terkejut karena itu, tapi itu masih ada harapan untuk membawa kehidupannya menjadi lebih baik.


"Be-benarkah, Yang Mulia? Kalau begitu, apa yang harus kulakukan?" tanya Astia. Dia mendapatkan harapan itu, jadi mungkin ada yang harus dikorbankan atas konsekuensi itu.


"Tidak perlu." Jawaban Raja Azaka membuat Astia terkejut, "Aku telah mendapatkan apa yang aku mau. Lagipula aku tidak ingin membuat rakyatku menangis di hadapanku."


"Yang Mulia..."


Semua gadis mendapatkan cahaya di wajahnya kembali. Setelah mendapatkan harapan itu mereka semua mempesiapkan semua kemungkinan yang akan terjadi.


"Kalau begitu, mari kita mulai ritualnya!"


つづく


Jangan lupa like, komen dan klik favorit ya! Terima kasih hingga saat ini kalian membaca cerita ini.


Oh iya, kemungkinan akan ada ilustrasi pada bagian ini. Semoga saya ingat!