
"Apa sekarang kau punya sesuatu kejanggalan yang terbesit di kepalamu tentang negeri ini?" Tanyaku kepada Laven.
"Yah, kalau kau tidak mempersempit pertanyaanmu, aku tidak akan mengerti. Aku tidak tahu pasti tapi aku mempunyai pelanggan yang identitasnya tidak diketahui yang memberikan sebuah pekerjaan kepada kami beberapa waktu lalu."
Aku tidak mengerti cara kerja pembunuh bayaran itu seperti apa, tapi sebenarnya bisa saja Laven mempelajari tentang informasi si pelanggan agar tidak ada hal buruk di masa depan.
"Apa pelangganmu itu tidak kau cari latar belakangnya? Lalu pekerjaan apa itu?"
Kemudian Laven menjelaskannya setelah aku bertanya kepadanya.
"Mana mungkin, aku selalu mencari informasi apapun, sehingga kalau sudah aman baru kita proses permintaannya. Namun, pelanggan misterius itu..."
Laven menjelaskannya.
Pelanggan itu memang sangat misterius, dia menaruh segala informasi tentang permintaannya kepada Laven di atas kertas perkamen yang di ikat. Lalu Laven menemukan kertas itu tepat berada di depan pintu di saat Laven ingin keluar dari rumah ini. Jadi identitas si pelanggan tidak diketahui, atau bisa dibilang itu adalah sebuah permintaan yang iseng. Namun bisa juga tidak begitu, karena informasi yang tertera dalam kertas itu benar-benar sebuah permintaan yang disusun dengan serius.
Itu terjadi beberapa hari sebelum aku datang ke kota ini.
Itulah yang bisa kusimpulkan dari penjelasan Laven yang dia katakan kepadaku.
"Karena itulah permintaannya tidak bisa kuterima karena si pelanggannya sendiri tidak ada meskipun informasi dari permintaannya adalah benar." Tambah Laven.
Begitu ya, tapi itu bukan inti dari jawaban atas pertanyaanku.
"Apa sekarang kau masih punya kertas perkamen itu?" Tanyaku.
"Beri dia, Roger." Kemudian Laven meminta orang yang besar di sampingnya untuk memberikan sesuatu padaku.
"Baik bos."
Setelah beberapa saat, aku menyeruput tehku dan orang yang bernama Roger itu datang membawakan sebuah gulungan kertas perkamen yang diberikan kepadaku.
Sebelum aku membacanya, aku bertanya kepada Laven
"Kenapa kau masih menyimpan ini? Bukannya kalau sudah tidak berguna bisa kau buang saja?"
"Kau pasti sedang mengujiku ya?"
Huh, sepertinya dia tahu niatku.
"Tidak, aku hanya bertanya saja."
"Inilah kenapa aku tidak pecaya padamu..." Laven mengeluh ketika melanjutkan, "Lupakan. Aku tidak bilang menolak permintaan itu mentah-mentah, aku hanya menundanya saja sampai si pelanggan itu menunjukkan dirinya sendiri."
Ternyata penilaianku tidak salah. Dia memang kompeten dalam menjalankan profesionalitasnya. Namun kelemahan terbesarnya adalah, Laven tidak cocok dengan pekerjaan yang seperti itu dengan usia yang hampir sama denganku.
"Begitu ya."
Kemudian aku membaca kertas perkamen ini dengan teliti.
Isinya berkaitan dengan hal yang benar-benar tidak kuketahui.
Orang misterius ini meminta kelompok Laven untuk membunuh sebuah kelompok petualang yang bisa kubilang kelompok petualang ini bisa ditemukan di mana saja. Namun, pemimpin mereka menjalankan sebuah kepemimpinannya dengan cara yang 'rusak'. Yah kasus itu bisa ditemukan di manapun sementara dunia ini saja sudah mencapai kategori yang 'rusak'.
Lalu, kelompok petualang itu pernah mempunyai latar belakang yang cukup tabu, yaitu mereka pernah terlibat kontrak dengan iblis dan pernah bekerja sama dengan mereka. Salah satu buktinya adalah nama mereka terdapat di salah satu daftar nama yang "dilarang dibunuh" dalam sebuah buku yang ditinggalkan oleh sebuah organisasi iblis yang bernama 'Seven Deadly Demons'
Buku itu menjadi salah satu sejarah peninggalan dari insiden iblis yang terjadi di kota ini sekitar dua bulan yang lalu, sehingga pernah dibaca oleh banyak orang.
Mari kembali ke topik.
Alasan si pelanggan ingin membunuh kelompok yang pernah berhubungan dengan iblis tersebut adalah karena kelompok tersebut diduga kembali berkerja sama dengan iblis dan juga berpengaruh dalam kekacauan dunia ini.
Itu memang sekadar sebuah dugaan, tapi aku dan pelanggan misterius tersebut mungkin mempunyai asumsi yang sama. Bahwa para petualang yang menghilang itu tidak mungkin diculik atau menghilang begitu saja hanya karena segelintir orang sedang mengincar mereka. Sebuah kemungkinan dalang di balik semua ini tidak hanya beberapa orang, tapi orang-orangnya berada di sekitar kita, bahkan bisa saja tersebar di seluruh dunia, sehingga menjalankan itu semua dengan mudah dan sangat cepat.
Sekarang aku mengerti. Ini akan menjadi petunjuk besar dari pencarianku.
"Laven, apa aku boleh menyalin isi dari perkamen ini?" tanyaku kepadanya.
"Memangnya buat apa?"
"Kenapa malah kau yang nanya balik. Huh~"
Tanpa menghiraukan Laven, aku langsung membuka selembar kertas perkamen dan menyalin semua isi dari informasi yang terdapat di kertas perkamen permintaan ini.
Baiklah, aku selesai dalam hal mengumpulkan informasi tertulis ini. Sekarang ada hal yang harus aku pastikan dari Laven.
"Ada hal yang harus kupastikan, apa kau sudah menyelidiki tentang kelompok petualang ini?"
Laven tersenyum dan memandang rendah diriku, aku hanya mengacuhkannya ketika aku sedang memasukkan salinan tadi ke dalam tas ranselku.
Aku berdiri dan menatap Laven ketika dia masih duduk, "Baiklah, kesimpulanku... Kau memang tidak berguna."
Senyumannya dan pandangannya terhadapku langsung menjadi kaku. Sejujurnya Laven lemah dengan hal ini.
"A-apa ma-maksudmu?"
"Sejak awal, sejak insiden iblis di kota ini kau memang tidak berguna. Kau selalu saja menghambat seluruh pergerakanku, menahan semua informasi yang ada di kepalamu hanya untuk kepentinganmu sendiri. Sungguh betapa egoisnya dirimu! Bahkan sekarang juga, kau ingin menghambatku lagi? Kalau sesuatu terjadi padaku lalu berimbas padamu, aku tidak akan peduli lagi dengan nasibmu. Kau menyebut ini kerja sama? Sampah."
Dengan tekanan mental yang kuberikan padanya akan membuat emosi dari Laven terpancing. Pada dasarnya Laven hanya remaja gadis biasa yang berumur 18 tahun, mentalnya tidak terlalu berbeda dengan beberapa gadis seusianya.
"K-kau!"
Orang besar yang bernama Roger ini mengepalkan tangannya, dia berteriak karena marah padaku.
"Maaf saja, aku tidak mempunyai masalah denganmu. Aku hanya mempertanyakan kredibilitas pemimpinmu."
Setelah kalimat yang kukatakan itu, tanpa menunggu reaksi Laven aku beranjak keluar dari rumah ini.
"Tunggu..." Sebuah suara yang suram dan tanganku ditahan oleh seseorang, ternyata itu adalah Laven.
Aku meliriknya tanpa menoleh ke arahnya seolah sudah tidak tertarik pada Laven. Rambutnya menutupi ekspresi wajahnya, tapi sepertinya dia benar-benar sedang kecewa.
"Maaf aku selalu mengecewakanmu. " Kata Laven dengan suara yang suram, "Entah kenapa aku selalu menjatuhkan harga diriku di saat di depanmu. Padahal akulah yang berhutang padamu, tapi aku malah mempermalukanmu dan membuatmu susah di saat hal yang genting seperti ini."
Air matanya perlahan jatuh dari matanya. Sepertinya dia benar-benar frustasi karena selalu terikat dengan 'hutang' itu. Untung saja aku melakukan hal ini, kalau tidak, Laven akan terus bermain-main dengan hal yang berkaitan dengan kerja sama, dan itu sangat merepotkan.
Hasilnya, Laven secara tulus dan benar-benar ingin membantuku.
Aku membalikkan tubuhku dan menghadap ke arahnya, menunjukkan aku kembali tertarik padanya dan pembicaraan ini.
"Baiklah, sekarang adalah waktunya untuk menunjukkan seberapa seriusnya dirimu dan kelompokmu dalam menjalankan tugas ini."
Aku kembali duduk bersama Laven. Dia mengusap air matanya yang tersisa ketika dia ingin membicarakan tentang informasinya.
"Kalau kau ingin mengulik informasi tentangnya lebih jauh, maka malam ini adalah waktu yang tepat untukmu. Mereka mengadakan perekrutan anggota hari ini, itu karena mereka ingin membuat lebih banyak pengikut yang cukup kuat untuk memulai misi rahasianya." Kata Laven
"Bagitu ya..."
Secara garis besar aku dapat mencerna perkataan Laven. Itu artinya, apakah kelompok petualang itu mengadakan perekrutan anggota untuk tujuannya yang pernah dia lakukan di masa lalu? Itu bisa menjadi kemungkinan besar yang dapat dicatat.
"Intinya kau harus berhati-hati kalau kau diterima sebagai anggotanya. Aku tidak terlalu niat untuk menyelidiki sebagian besar kekuatan mereka atau pemimpin mereka."
Perkataan Laven juga termasuk poin-poin yang harus kuperhatikan ketika aku melakukan penyusupan. Anggap saja seluruh anggota dari kelompok itu telah dicuci otak sehingga apa yang sudah mereka lakukan, mereka tidak pernah merasa bersalah.
"Itu kalau kau benar-benar berhasil diterima dalam kelompok itu ya... Kalau kau tidak memenuhi persyaratan dan ketentuan mereka sehingga kau tidak lolos, itu akan percuma saja."
"Persyaratan ya... Itu berarti mereka akan melakukan seleksi." gumamku atas pernyataan Laven, "Lalu apa persyaratannya itu?"
"Kelompok mereka termasuk kelompok yang besar dan terkenal, jadi akan ada terjadi seleksi kekuatan yang melibatkan semua peserta, atau bisa dibilang duel? Begitulah, lalu persyaratan terakhir—”
Begitu ya. Dengan seleksi itu aku sendiri setidaknya harus mengeluarkan seluruh kemampuanku yang artinya itu bisa menimbulkan konsekuensi besar di masa depan. Lalu, syarat terakhirnya... Aku tidak percaya. Benar-benar alasan yang tidak masuk akal atau memang pemimpin itu mempunyai kebijakan untuk menguji anggota barunya? Namun, itu masih bisa diatasi.
"Aku akan mengatasi itu." Kataku.
"E-eh, kau yakin? Mengatasi semua orang-orang itu dan persyaratan itu?" Laven kaget karena perkataanku ketika aku bangkit dari tempat duduk.
"Ya, aku bisa mengatasi seleksi itu meskipun itu dapat merugikanku. Lalu dengan persyaratan yang terakhir, aku akan berusaha mencari orang yang cocok untuk itu." Aku menatap Laven dan mengucapkan kalimat terakhirku, "Kau juga ingin membantuku bukan?"
Laven menatap anggotanya, Roger dan Bravo. Seketika mereka bertatapan dan mengangguk, Laven kembali menatapku dengan serius.
Laven bangkit dari tempat duduknya, lalu menyuguhkan tangannya, "Baiklah. Sekali lagi aku akan mengonfirmasi hal ini. Ryuuji, bekerjasamalah denganku untuk menemukan jawaban dari kekacauan dunia ini, dan seluruh alasan dan misteri di baliknya."
Aku membalas jabat tangannya, "Itulah yang kuharapkan. Kau dengan anggotamu dan aku dengan anggotaku. Dengan kesepakatan yang saling menguntungkan ini, aku yakin kerja sama kita akan berjalan dnegan baik."
Meskipun Laven kebingungan saat aku mengungkapkan 'anggotaku' tapi tetap menerimanya dengan serius.
Dengan itu, aku menuju ke lokasi tempat tujuanku setelah kami memutuskan untuk bekerja secara terpisah untuk sementara.
つづく
Jangan lupa like, komen, dan klik favorit ya!