I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II

I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II
Interlude Chapter



"Kakak!"


"Sheyta!"


Aku berusaha meraih tangan Sheyta dengan seluruh kekuatanku.


Iblis jahat itu merebut adikku dariku.


Coba saja kalau aku tidak lengah, mungkin aku tidak akan kehilangannya.


Adikku juga berusaha meraih tanganku.


Pergerakanku terhenti, Astia dan yang lainnya tidak sadarkan diri di belakangku.


Kenapa badanku tidak bisa bergerak?!


"I-ini juga merupakan kekuatan iblis itu....!!"


Iblis itu tersenyum, melenyapkan Sheyta ke dalam lubang hitamnya.


"Sayang sekali, akhirnya aku telah mendapatkan mainanku kembali."


"K-kau—!!"


Tubuhku tidak bisa bergerak sama sekali. Aku berusaha memanggil Astia dan Ellena tapi suaraku tidak keluar. Apa yang dia lakukan?


Kemudian dia mengangkat tangannya, meluncurkannya dengan cepat. Tepat ke arah dadaku.


Dia menusukku.


".....!!!"


Ketika momen itu aku terbangun.


"Ah mimpi yang buruk sekali."


Kepalaku pusing, badanku sakit-sakitan. Dan kakiku dibalut dengan perban.


"T-tuan Yuuki...?!"


Astia kaget karena aku tiba-tiba terbangun. Matanya bengkak seperti habis menangis. Ellena juga sepertinya kelelahan karena berusaha menyembuhkanku.


"Tuan Yuuki maafkan aku! Aku tidak bisa menjagamu, aku yang membuatmu terluka. Karena kelemahanku aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis. Bagaimaana aku ingin melindungi adikmu, melindungimu saja aku tidak bisa. Aku sangat menyesal."


"Tidak, masalah itu tidak perlu kamu pikirkan. Aku bisa menjamin kalau ini bukan kesalahanmu. Ini karena aku masih terlalu naif, lagipula tidak ada yang bisa kita lakukan tentang itu. Aku akan memikirkannya itu nanti, jadi tenanglah."


Aku menepuk bahu Astia untuk menenangkannya.


Memang masih ada penyesalan dan kemarahan di dalam diriku, tapi di sisi lain aku tenang karena yang lain baik-baik saja.


"Lalu, apa yang kau pikirkan tentang adikmu sekarang?" Tanya Ellena.


"Untuk saat ini, aku masih terlalu lemah untuk menghadapi mereka. Aku ingin membuat perkembanganku sendiri, yang penting aku sudah memiliki tujuan yang harus dipenuhi. Yah lagipula adikku tidak selemah itu."


"Kalau begitu baguslah."


"Masih butuh waktu dan tenaga untuk menyelamatkan adikku. Aku tidak perlu buru-buru untuk melakukan itu. Lalu..."


Aku melihat keluar. Sepertinya kita masih dalam perjalanan pulang.


"Dimana kita?"


"Kita sudah masuk ke wilayah kerajaan Fioresd, tapi untuk mencapai ibukota masih butuh perjalanan satu hari."


"Begitu ya, terima kasih."


Perjalanan kami dilalui oleh kabut, tapi kabutnya tidak terlalu menghalangi pandangan jadi kami masih bisa terus melaju.


Eh kabut?


"Astia, sudah berapa lama aku pingsan?"


"Ehh, emm sekarang sudah pagi, kalau dihitung dari perjalanan pulang... mungkin dua hari."


Dua hari katamu?


Kabut ini, suasana ini, berarti kita berada di dataran yang lebih tinggi.


"Kupikir sekarang aku ingin mencari udara segar dan merenggangkan tubuhku dulu, lalu aku juga harus mencari sesuatu. Apa boleh beristirahat sebentar?" Kataku.


"Yah kami sih tidak masalah, tapi apa kau baik-baik saja? Lukamu cukup parah loh. Lalu apa yang mau kau cari?"


"Ah itu nanti saja. Kakiku juga sepertinya masih bisa dipakai untuk jalan."


"Oh yasudah kalau begitu."


Kami berhenti, lalu beristirahat.


Kakiku memang masih sakit tapi untuk berjalan sepertinya masih bisa.


"Hati-hati."


"Ya aku baik-baik saja."


Aku mencoba melakukan beberapa peregangan, yah ketika menggerakan kaki kiriku terasa sakit tapi sudah mendingan.


Setidaknya sekitar dua hari aku belum makan, jadi aku ingin mengambil sisa daging yang ada di kereta.


Uhh aku kelaparan.


"Tuan Yuuki, biar aku saja yang mengambil dagingnya. Kamu lebih baik bersantai dulu."


"Baiklah kalau begitu."


Padahal dia juga punya banyak luka ditubuhnya, tapi dia masih melayaniku. Padahal aku tinggal jalan doang.


Yah kalau itu maunya aku tidak masalah.


"Hey Yuuki, setelah ini apa yang kau rencanakan setelah kembali ke kota?"


Ellena bertanya padaku sambil menyiapkan kayu bakar untuk sarapan.


"Huh, aku belum merencanakan apapun. Mungkin aku akan memikirkan tentang quest yang diberikan Azaka."


"Maksudmu quest tingkat bencana itu, menghancurkan Hydra? Kau gila ya, kau pikir tinggal beberapa hari lagi hari itu akan datang?"


"Emm kurang dari seminggu, ah itu masih dalam ekspetasiku, jadi tidak ada masalah."


"Hah?! Bagaimana caranya kau mengatasi monster itu dalam waktu sedekat itu? Aku yakin monster Hydra itu sekuat iblis yang kita lawan waktu itu atau lebih kuat... Jangan bilang kau berada di garis depan lagi?!"


Aku tidak memikirkan apa-apa sih tentang itu.


"Mana mungkin. Kalau beruntung, aku ingin si Azaka itu memberikan pasukannya juga. Jadi persentase kemenangan tidak hanya berada pada para petualang saja. Kalau mau disebut bela negara juga seharusnya itu tidak masalah."


"Jadi apa yang akan kau lakukan?"


"Ah benar juga ya. Mungkin ada petualang-petualang yang lebih kuat dari kita. Jadi aku tidak yakin aku akan berguna. Lagipula aku tidak terlalu cocok dengan yang namanya kerja sama. Sepertinya aku hanya akan menjadi pendukung doang."


"Itu tidak benar Tuan Yuuki. Dari semua orang yang pernah kulihat, kamu orang yang paling kuat."


Astia datang dari kereta, membawa tas dan bahan makananya.


"Itu sarkasme bukan?"


"Tidak. Sungguh menurutku begitu... ah ini bahannya."


Entah kenapa perkataan Astia menyakitiku. Tapi aku menyadari kalau aku masih lemah.


"Terima kasih."


Aku melumuri dagingnya dengan madu, membiarkannya sebentar, lalu membakarnya.


"Padahal kau hebat dalam mempersiapkan rencana, tapi... yang kuyakin masakanmu memang enak.... Mmm! Ini enak!"


Ellena melahap makanannya. Yah syukurlah kalau begitu.


"Huh~"


Aku menghela napas dalam.


Aku sudah selesai sarapan. Sekarang waktunya aku mencari sesuatu.


"Yuuki kau mau kemana?"


"Ada sesuatu yang ingin kucari. Mungkin lokasinya di sekitar sini."


"Begitu. yasudah sana."


"Tuan Yuuki aku juga ikut."


"Ehh padahal kamu di sini aja juga gapapa."


"Tidak. Kondisimu belum membaik, jadi tidak ada salahnya aku menemanimu."


"Yasudah ayo."


Harus berapa lama aku bisa menemukannya?


"Apa itu tidak ada ya di dunia ini?" Gumamku.


"Tuan Yuuki?"


"Ah tidak ada apa-apa, ayo."


Aku terus mencarinya, kalau tidak ketemu, mungkin aku harus ke dataran yang lebih tinggi. Itu akan membutuhkan waktu yang lebih lama, tapi anggap saja ini untuk melatih kaki kiriku.


Semakin dalam semakin tebal kabutnya, ini mengganggu.


Hmm sebaiknya aku harus menunda pencariannya. Sepertinya hutan ini cukup berbahaya, aku tidak terlalu tahu tapi sebaiknya kita kembali.


"Em Tuan Yuuki... sebenarnya apa yang kamu cari?"


Astia bertanya dengan kepolosan yang imut. Yah sebenarnya aku dari awal datang ke dunia ini aku ingin mencari itu, tapi hanya ini kesempatannya.


"Sebuah tumbuhan... ini... Ini dia Astia! Aku akhirnya menemukannya!"


Akhirnya aku menemukannya! Tumbuhannya berada di sekitar Astia.


"Apa ini Tuan Yuuki?"


"I-Ini ... Kopi...!!"


"Kopi?"


"Ya. Kalau tanaman kita olah dengan baik, ini bisa menjadi minuman yang berenergi, banyak manfaat yang bisa didapat kalau kita meminum ini!"


"Bukankah ini bagus?!"


"Tentu saja. Dari awal aku ingin menemukan tanaman ini! Kalau kita bisa membudidayakannya, kita bisa mengganti pekerjaan kita dengan membuat kopi. Jadi aku berencana membuat restoran atau kedai kopi. Mmm kenapa?"


Astia menatapku dengan senyuman manis. Apa jangan-jangan dia menganggapku aneh atau bahkan menganggapku banyak bicara....?


"Syukurlah Tuan Yuuki, aku sangat senang kamu bersemangat kembali."


Ah itu...


Kata-katanya membuatku terdiam. Sejak kapan dia menjadi seperti ini...


"Ah maaf aku terlalu bersemangat."


"Tidak tidak. Tuan Yuuki tidak salah tentang itu! Malahan... aku bingung bagaimana caranya aku menghiburmu setelah kamu kehilangan orang yang kamu sayangi. Tapi sekarang, aku sudah tidak khawatir lagi. Sungguh! Aku sangat senang."


"Begitu ya... K-kalau begitu, kita harus mengambilnya sebanyak yang bisa kita bawa. Bantu aku."


"Ya tentu!"


Aku terus memetiknya, dibantu oleh Astia, sampai waktu yang tidak kusadari.


Awoooo!!


"Astia itu..."


Suara itu seperti binatang yang sedang kesakitan.


"Kita harus melihatnya Tuan Yuuki."


"Oke, tapi kita tidak boleh lengah."


Kita menghampiri suara itu, setidaknya instingku mengatakan kalau itu tidak berbahaya.


"Tuan Yuuki ini..."


Seekor anak anjing, tidak, ini anak serigala. Dia terluka, kakinya mengalami pendarahan.


"Situasinya mirip sekali denganku. Apa serigala ini mengenai sesuatu atau tersandung sesuatu?"


"Sepertinya dia mendengar suara kita, jadi kupikir dia membutuhkan pertolongan dengan suara tadi, kasihan sekali. Tuan Yuuki apa kita bisa membawanya dan menyembuhkannya?"


"Benar juga, kalau aku membiarkannya pasti aku terus kepikiran. Ayo kita kembali dan membawanya."


Ternyata berat juga. Aku menyerahkan barang-barangku pada Astia, sebagai gantinya aku yang membawa anak serigala ini.


"Hey Yuuki kenapa kau lama sekali, padahal ingin kutinggal tapi— Eeh itu, apa yang kau lakukan?"


Ellena selalu mengeluh kepadaku, tapi ketika dia melihat aku membawa sesuatu, ekspresinya berubah.


"Ellena cepat tolong serigala ini. Lukanya cukup dalam, tapi sepertinya tidak mengenai tulangnya."


"Hah! Apa kau tahu aku sudah dua hari aku berusaha menyelamatkanmu. Kau pikir Manaku ini tidak terbatas?"


"Tolonglah, setidaknya tutup saja lukanya. Aku rasa serigala ini mengalami penyakit lainnya, kalau tidak serigala ini akan mati."


Hanya dia yang ahli dalam sihir penyembuhan, tapi kalau dia tidak bisa aku tidak akan memaksanya. Mungkin aku akan melakukannya dengan manual.


"Yah kalau kau mengizinkanku meminta sesuatu, mungkin aku akan mempertimbangkannya."


"Ditolak! Ayo Astia bantu aku."


Dia gila ya. Apa yang kupunya sekarang, aku bahkan tidak bisa membelikannya barang dengan uangku saat ini. Aku ini lagi sakit dan miskin tahu.


"Ee ... Eeh"


Aku membuka sebuah tas yang diberikan oleh Laven, mengambil perban. Lalu aku juga mengambil kantung yang berisi air dan obat yang kubuat.


Pernapasannya tidak teratur.


"Airnya... H-habis?"


Ketika aku ingin membersihkan kaki serigalanya dengan air tapi itu kosong.


"Y-yah itu karena aku menggunakannya untukmu. Bagaimana kalau aku saja menyembuhkannya tapi—" Ellena tersenyum sambil memohon-mohon kepadaku, serasa dia tidak bersalah.


"Ditolak!"


Cih, Ellena membuatku jengkel. Ocehannya yang tidak berguna membuat telingaku sakit.


"Astia bisa kamu membilas kakinya dengan sihir airmu?"


"Ya tentu!"


Astia membuat aliran air dari jarinya. Dia melakukannya dengan baik. Setelah itu aku membalutkannya dengan obat yang kubuat, lalu aku menutup kakinya dengan sebuah perban.


Dalam situasi ini aku meragukan obat yang kubuat sendiri, padahal sudah pernah diuji, tapi aku sudah melakukan yang terbaik.


Huh~ pernapasannya sudah kembali normal. Aku pikir obatnya sudah bekerja.


Setelah itu aku membalutnya dengan perban. Dan selesai.


Kami semua naik ke kereta, lalu kami berangkat kembali setelah sarapan.


Entah kenapa tubuhku menjadi lemas, apa aku belum sepenuhnya pulih ya...Yah suhu tubuhku masih dibilang tinggi sih.


"Astia, bisa kamu geseran sedikit? Aku ingin istirahat sebentar."


"Ya tentu."


Aku mengambil jarakku untuk tiduran agar tidak mengenai Astia. Lalu...


Aku menutup mataku, sambil tiduran, ada sebuah kelembutan di belakang kepalaku. Apa ini?


Hah! Bantal pangkuan?


Kenapa aku dipangku di atas paha Astia?! Bukannya tadi aku sudah memintanya bergeser...?


"Astia, aku ini masih demam lho, kalau kamu memangkuku seperti itu nanti bisa tertular."


"Aku sudah menduga hal itu. Aku juga tidak keberatan begitu kalau itu kamu kok."


....


"Terserahlah."


Dia hanya tersenyum manis didepanku, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Selain itu...


"Ellena, sebelumnya aku telah berhutang padaku karena berusaha menyembuhkanku. Berbahagialah! Aku akan memberikan satu permintaan apapun padamu."


Aku hanya kepikiran tentang Ellena. Dia sudah berusaha menyembuhkanku selama dua hari belakangan ini. Kalau aku tidak membalas kebaikannya, mungkin aku akan menyakiti harga diriku sendiri.


"Benarkah?! Padahal kau tadi tidak peduli meskipun aku minta sesuatu. Pada kenyataannya kau itu selalu memikirkan tentang rekanmu kan!"


"Tidak ada yang perlu dipikirkan. Aku hanya tidak ingin berdebat denganmu."


"Begitu!" Kata Ellena dengan tersenyum.


Setelah itu aku tertidur tanpa kusadari.


つづく