
Suasana yang sunyi, tubuhku terasa nyaman. Entah aku tidak ingat kapan ya aku merasakan hal ini.
Kubuka mataku tapi aku tidak tahu dimana ini. Mataku berkeliling, hanya ada keasingan dimataku. Ruangan yang cukup besar dengan sensasi mewah.
Hanya ada Astia yang duduk tertidur di sampingku.
Apa sebaiknya aku tidak membangunkannya ya, sepertinya dia cukup pulas.
Tok
Tok
Suara pintu terketuk, lalu dibuka, seseorang masuk dengan atmosfer yang pantas disebut raja.
"Oh kau sudah bangun ya? Apa tubuhmu sudah baikan?"
Raja Azaka yang datang menjengukku, mungkin ini adalah salah satu ruangan di kastil kerajaannya. Makanya aku tidak mengenal ruangan ini.
"Sepertinya begitu."
"Bagaimana? Baguskan ruangan ini?"
"Aku tidak terlalu bisa menilai tentang ruangan dan perlengkapannya, tapi yang kulihat ini sepertinya barang yang mahal."
"Tentu saja! Ada keindahan sejati dibalik barang-barang itu. Karena ini semua harta milikku... Jadi bagaimana perjalananmu?"
"Yah cukup. Pengalaman yang tidak terduga."
"Begitu. Ellena rekanmu juga sudah menjelaskan semuanya yang telah terjadi, dan aku juga sudah memberikan apa yang harus dia dapat. Tapi dia sepertinya tidak ingin menggangumu lebih lama."
Memang sepertinya Ellena tidak terlalu dekat dengan hal yang berbau kerajaan, rasanya agak risih baginya di tempat ini.
Lalu Raja Azaka menoleh ke arah Astia yang tertidur.
"Apa kau tidak ingin membangunkannya?"
"Lebih baik dia begini. Umurnya masih muda, tidur yang cukup itu penting untuk kesehatannya. Akhir-akhir ini sepertinya dia juga mengalami kelelahan yang panjang karena perjalanannya.
"Itu juga berlaku untukmu."
"Ah tidak perlu memikirkanku. Aku sudah terbiasa dengan hal yang seperti ini."
"Tentunya itu bukan hal yang baik, bukan? Kau terlalu membebani dirimu sendiri. Yah tentang itu bukan urusanku... Kalau begitu mari kita ke topik utamanya."
Tentang itu ya.
"Tentang dirimu yang datang ke dunia ini dari negeri yang jauh itu... itu karena aku."
"Yang Mulia?"
Aku sih tidak terlalu terkejut atas perkataannya, tapi kenapa dia membanggakan pernyataannya itu? Lagipula semua kenalanku yang kupercaya hanya di dunia ini, jadi aku tidak terlalu memikirkan dunia asalku.
"Benar. Aku yang memanggil dirimu ke dunia ini menggunakan teknik pemanggilan. Tapi karena ada beberapa kegagalan, jadinya kau malah terdampar ke tempat yang jauh dari sini. Itu memang sangat disayangkan."
Oh aku tidak menduganya dia mengakuinya.
"Apa Yang Mulia menjemput kami saat itu bukan suatu kebetulan?"
"Tentu. Kesalahan yang telah kuperbuat harus kutanggung sendiri. Makanya di sana akulah yang menjemputmu. Tapi aku tidak menyangka kau harus berhadapan dengan para wyvern."
Jadi semua ini sudah jelas. Tentang mengapa dia pernah menyinggung masa laluku memang karena dia sudah bertujuan memanggilku ke tempat ini.
"Apa kau marah?" Katanya.
"Nggak juga. Aku tidak terlalu tertarik tentang itu. Kalau itu sudah terjadi buat apa aku mengeluh. Itu tidak akan mengembalikan ke duniaku kan?"
"Begitu ya. Baguslah. Itulah hal yang menarik darimu."
Memang dipuji itu bukan bagian dari kehidupanku. Malahan sebaliknya.
"Daripada itu, apa tujuan Yang Mulia memanggilku?"
Setelah aku menanyakan itu, sudut bibir Azaka menaik. Dia tersenyum sombong.
"Inilah saatnya..... Yuuki! Jadilah bawahanku!"
".....!!"
Kata-katanya bergema di telingaku. Apa-apaan itu! Oh sepertinya aku salah dengar.
"Sepertinya akhir-akhir ini telingaku sedang bermasalah."
"Yang kau kira salah dengar itu adalah kenyataanya!"
Ah begitu ya... Begitu darimana!!
Bawahanku... bawahanku... bawahanku...
Suara-suara itu berputar-putar di kepalaku.
"Tentu saja itu akan kutolak."
"Penolakanmu tidak diterima! Ah tidak, aku akan memberimu dua pilihan... Kau lebih memilih menjadi bawahanku atau kau bebas..."
"Ya tentu saja aku memilih bebas..."
"...tapi kau akan dikenal sebagai buronan kerajaan."
Mati aku. Dari mananya yang kau sebut bebas?! Itu sama saja tidak akan ada waktuku untuk tidur.
"Itu sama saja tidak ada kebebasan untukku."
"Pilihan itu sudah kuberikan keringanan. Kalau tidak, kau akan menjadi bawahanku dengan mantra perintahku. Kau tidak akan bisa menolaknya."
Hah itu tidak masuk akal.
"Bagaimana bisa?"
"Tentu saja karena kau adalah mahluk panggilanku. Kau tidak akan bisa berbuat apa-apa dibawah mantra perintahku. Secara tidak langsung kau adalah peliharaanku."
Ini mirip dengan kasus Sheyta, dia juga termasuk mahluk panggilan. Tapi kenapa dia bisa terlepas dari mantra perintah?
"Padahal kau beruntung sudah kuberi dua pilihan sebagai ganti tidak menjadi peliharaanku. Karena itu aku akan menjamin tidak akan menggunakan mantra perintah padamu. Karena itu buatlah pilihanmu."
Pilihan yang rumit. Aku harus pergi kemana kalau aku menjadi buronan? Lalu bagaimana dengan Astia?
Menjadi buronan mungkin masih bisa kuatasi tapi apakah Astia kubiarkan bersama Ellena saja ya... kalau begitu dia tidak akan terkena imbasnya.
"Tentu saja Astia juga akan menjadi buronan."
Apa dia membaca pikiranku?!! Kalau begitu tidak ada pilihan lain selain itu...
"Kalau begitu aku memilih... aku akan bebas... tapi aku akan tetap membantu Yang Mulia. Secara tidak langsung aku akan tetap menjadi bawahanmu."
Mata Azaka melebar. Bagaimana? Ini tidak terlalu buruk kan?
"Hoo~ ohh. Kupuji dirimu! Ini sangat menarik! Kau melampaui harapanku. Memang begitulah gayamu Yuuki! Hahahaha!"
Azaka tertawa terbahak-bahak. Dia melupakan tentang Astia yang tetidur. Ingin kulempar kertas kemulutnya itu.
"Tidak, aku tidak membutuhkan pujian. Sama sekali tidak."
"Huh~ Tidak, kau layak mendapatkan itu. Ingin sekali kutulis dalam sejarah kalau raja tertawa sekeras ini hanya karena perkataan seorang bocah. Huh~"
Dia masih terkekeh ketika dia berbicara, apa perkataanku semenggelikan itu ya.
"Nah, kalau begitu... mari kupersembahkan hadiah kerja kerasmu selama ini! Mari ikut aku."
Azaka pergi keluar, sebaiknya aku mengikutinya.
"Astia, bagunlah... Eh kau tidak tidur?"
Tidak ada tanda-tanda dari Astia habis tidur. Sejak kapan dia bangun? Kenapa aku tidak merasakannya.
"Yah sebenarnya sejak Yang Mulia masuk ke kamar ini aku sudah bangun. Apa tidak baik ya aku menguping?"
Apa hanya keberadaan Azaka membuat Astia terbangun? Apakah keberadaannya sekuat itu ya.
"Tidak, bukannya tidak baik. Seharusnya kamu tadi tidak perlu pura-pura tidur. Tidak masalah juga kamu ikut mendengarkannya."
"Ah itu karena pembicaraannya terlalu intens, makanya aku tidak ingin mengganggu."
"Kalau begitu ayo pergi."
"Tentu!"
****
Kami pergi ke sebuah tempat, keluar dari ruangan, keluar dari istana dan berjalan-jalan di kota. Kami mengikutinya dari belakang.
"Yang Mulia apa tidak masalah berjalan-jalan tanpa pengawalan?"
"Kau pikir kau bicara dengan siapa? Hal seperti itu tidak perlu dipikirkan."
Ah begitu, dia percaya diri dengan keangkuhan dan kekuatannya sendiri. Itulah yang membuat karismanya sangat tinggi. Dia juga sepertinya tidak menakuti apapun.
Aku tidak memasalahkan hal itu, tapi tanpa pengawalan maka terlalu menarik perhatian.
Semua perhatian tertuju pada kami.
"Apa yang kalian lihat? Teruskan pekerjaan kalian! Buat negeri ini makmur karena kerja keras kalian! Aku tidak ingin tangan kalian terhenti karena hanya kehadiranku di sini!"
""Siap Yang Mulia!""
Mereka bersorak semangat karena dorongan Azaka. Yah itu yang harus dilakukan agar perhatian mereka tidak terus tertuju ke sini.
Lalu perhatian Azaka tertuju kepada anak-anak yang sedang bermain, kemudian menghampirinya.
"Apa yang sedang kalian mainkan?"
"Ah Yang Mulia Raja, kami sedang bermain peran sebagai pahlawan dan raja iblis."
"Begitu, jadi siapa yang jadi pahlawan?"
"Aku Yang Mulia! Aku juga berperan sebagai raja seperti Yang Mulia." Kata anak yang lain.
"Oh menarik. Kembangkanlah permainan kalian. Aku akan memberikan saran, ajak teman kalian yang lain, bukankah itu akan menambah kualitas dari permainan ini?"
"Ya, tentu."
"Kalau begitu akan kuberi kalian pertanyaan. Kalau dari masing-masing kalian berperan sebagai raja, siapa orang yang terpenting selanjutnya?"
"Mmm pengawal mungkin?"
"Itu pasti ratu bukan?"
Anak-anak lain mencoba memberikan jawabannya.
"Itu berarti kami semua berharga bagi Yang Mulia?"
"Benar sekali. Kalian adalah harta yang tak pernah tergantikan bagiku! ... kalau begitu ayo lanjutkan perjalanan kita." Dia menoleh ke arahku.
"Dah!"
Anak-anak itu melambaikan tangannya untuk kami, Astia juga melambaikan tangannya kepada anak-anak itu dengan senyuman manis. Itulah menariknya dari Raja Azaka. Ngomong-ngomong kita akan kemana lagi?
"Sebenarnya kita akan kemana? Dari tadi kita hanya berkeliling kota."
"Fufufu tidak ada yang spesial. Ikut sajalah."
Kami keluar dari gerbang kota, berjalan jauh dari gerbang kota yang ramai, ke tempat yang lebih sepi.
Masuk ke hutan. Kukira sudah tidak ada apa-apa dari tempat ini.
Ada sebuah rumah yang kulihat di ujung penglihatanku.
Kami semua menghampiri rumah itu.
Setelah kami di depan rumah itu, tidak disangka rumah ini sangat besar, ini lebih seperti mansion. Sebentar, siapa yang membangun mansion tua ini di tempat yang sangat terpencil ini?
"Inilah tempat yang akan kau tinggali sebagai bawahanku. Mulai sekarang kau harus tempati rumah ini."
"Hah? Kau mau aku tempati rumah yang sangat luas ini? Kau tidak ingin menyuruhku hanya membersihkan rumah ini doang kan?"
"Hahahaha!"
"Benar kan?" Tanyaku kembali.
"Bersih-bersih juga termasuk kewajiban yang harus dipenuhi untuk menjaga sebuah rumah. Jadi itulah yang harus kau penuhi kalau kau menempati rumah ini."
Hah kau pikir butuh berapa lama dan berapa orang yang harus membersihkan rumah sebesar ini. Kau ini ingin membunuhku dengan bersih-bersih?
"Kami hanya berdua, Yang Mulia tahu kan?" Astia mencoba masuk ke dalam pembicaraan.
Mungkin karena kekesalannya juga, Astia bahkan membuka suaranya. Aku sudah tidak tahan, aku hanya ingin Astia yang menggantikanku berbicara.
"Tentu saja aku tahu. Maka dari itu carilah bawahanmu juga."
Aku ingin kabur. Dikira butuh berapa duit untuk mengupahi sebuah bawahan? Bawahan yang hanya dibutuhkan untuk bersih-bersih? Mending tidak usah.
"Yang Mulia, boleh aku memberi saran?"
"Diizinkan Astia."
"Kalau kami membutuhkan sebuah bawahan, maka membutuhkan sebuah uang dan pekerjaan yang layak untuk mereka, karena kami saat ini sedang krisis ekonomi, apakah boleh Yang Mulia mengatur anggarannya untuk kami sampai kami bisa memiliki penghasilan sendiri?"
"Ah begitu ya. Terlalu dini bagi kalian untuk mendapatkan uang sebanyak itu ya? Baiklah! Penawaranmu diterima!"
"Terima kasih Yang Mulia! Bukankah itu bagus Tuan Yuuki? Dengan ini masalah keuangan kita di masa depan sudah teratasi!"
"Y-yah itu cukup melegakan."
Masalah selanjutnya adalah dimana aku mendapatkan bawahan yang ingin bekerja dengan kami? Lalu, apakah kegiatan kami hanya bersih-bersih?
Tidak, tentu saja mereka harus mampu dalam bertarung. Kategori inilah yang harus diutamakan.
Untuk masalah bersih-bersih, mengatur keuangan, dan memulai bisnis akan kuatur sebaik mungkin.
Yah sementara itu, aku harus mulai dari mana?
"Mari kita masuk."
Kami masuk ke dalam rumahnya.
Y-yah setelah melihat bagian luarnya, sudah kuduga kalau rumah ini sangat besar. Bahkan ruang tamunya saja dapat menampung untuk sebuah pesta besar. Tunggu, kupikir pemilihan kata ruang tamu ini kurang tepat. Lebih tepatnya aula?
Untuk disebut rumah tua bukanlah hal yang perlu dipikirkan, meskipun begitu ruangan dan barang-barangnya masih dalam kualitas yang bagus. Yah meskipun mereka semua kotor dan berdebu karena tidak terurus.
Keseluruhan rumah ini memiliki puluhan ruangan dan diantaranya ada belasan kamar juga.
Untuk keseluruhan ruangan yah ... semuanya berkualitas, hanya saja tidak terurus kebersihannya. Memang pantas disebut rumah tua.
"Bagaimana menurutmu?"
"Tidak terlalu buruk."
"Astia?"
"Eeh aku juga?! Mmm kalau begitu, ini cukup hebat. Kalau kita membersihkan keseluruhan rumah ini, aku yakin ini akan menjadi rumah yang indah."
"Begitu ya, seperti yang diharapkan."
Apa yang dia maksud?
Azaka menghampiri sebuah sofa. Dia mengayunkan tangannya, dengan itu seluruh debu beterbangan lalu menghilang. Dia duduk di sofa yang panjang itu.
Kemampuan yang mengesankan dan praktis.
"Oke sekarang, ceritakan padaku tentang kisah hidupmu."
"...?!"
Apa yang dia katakan?
Seluruh perkataannya tidak akan pernah bisa diprediksi untukku.
"Sayangnya tidak ada yang menarik dari kisah hidupku."
"Hahaha! Begitukah... hanya ada penderitaan kalau kau cerita tentang hidupmu. Baiklah, kalau begitu ceritakan kisah yang menarik yang ada di duniamu."
"Cerita seperti itu hanyalah sebuah cerita, tidak ada yang..."
Ketika aku melihat ekspresi Azaka, sepertinya dia serius, dia mengharapkan sesuatu dariku.
"Baiklah, aku akan menceritakan sebuah kisah yang menurutku menarik, dari seorang Raja Tirani yang berkuasa pada masanya."
"Hoo?"
"Ini adalah kisah dari Raja Pahlawan yang perkasa nan angkuh, mari kita mulai..."
Azaka dan Astia terlihat sangat tertarik untuk pembukaanku. Tentu saja, ini adalah kisah dari duniaku yang tidak ada di dunia ini.
Aku mulai bercerita.
"Ada seorang anak yang masih sangat muda. Dia hanyalah anak muda seperti anak-anak lainnya, tapi tidak ada yang menyangka ketika dia dewasa, dia akan menjadi seorang raja tirani dan diktator... karena kekejamannya yang meresahkan rakyatnya, rakyatnya mengeluh kepada para dewa. Lalu terciptalah seseorang sebagai alat untuk membunuh raja tirani itu."
Mereka berdua masih seperti sebelumnya. Oke akan kulanjut.
"Ketika mereka berdua bertemu, raja itu sangat marah ketika ada seseorang yang keberadaannya dipandang rendah, menantang raja untuk bertarung. Itu semua karena keangkuhan dan kesombongan sang raja."
...
"Tapi pada akhirnya raja menerimanya untuk bertarung. Mereka bertarung dengan sekuat tenaga, pertarungan mereka berlangsung dengan sangat lama yang membuat keadaan saat itu seperti akhir dunia. Tapi karena pertarungan itulah yang membuat orang itu menjadi rival sang raja dan akhirnya mereka bersahabat."
"Hoo, aku sedikit mengerti kenapa mereka seperti itu."
"Ketika seseorang yang dianggap sebagai alat untuk membunuh seorang tiran menjadi sahabatnya, itu yang membuat mereka spesial. Tapi itulah yang membuat raja tirani itu meredakan kekejamannya. Mereka menjalani kehidupannya dengan sangat menarik."
Aku akan masuk ke inti ceritanya.
"Pada suatu hari, karena tugasnya yang terabaikan, para dewa memberikan kepada keduanya yaitu kutukan kematian. Mereka adalah orang terkuat pada masanya, tapi hanya orang itu yang terkena kutukannya, itu mungkin karena dia lemah terhadap kutukan kematian atau dia memang menerima kutukan itu. Ketika sahabat raja di ambang kematian, dia berkata 'Wahai temanku, kenapa engkau bersedih karena akhirku ini? Aku ini hanya alatmu. Aku tidak lebih dari banyaknya harta yang engkau miliki. Aku yakin di masa depan engkau akan mendapatkan harta yang lebih baik dariku.' itulah katanya sebelum dia berubah menjadi debu."
...
"Untuk pertama kali dalam hidupnya, sang raja itu sangat sedih. Itu karena sahabatnya menemui ajalnya, alat terkuat para dewa. Karena semua itu raja tirani yang dulunya sangat angkuh dan kejam, dan saat ini dia begitu takut dengan kematian dan berusaha menghindarinya."
...
"Mencari hal-hal yang membuat umurnya panjang, mencari tanaman keabadian. Perjalanan paling panjang yang pernah dia lakukan sebagai manusia biasa. Bukan sebagai raja ataupun sebagai raja pahlawan. Sangat panjang, bahkan lebih panjang dari perjalanan yang pernah ia alami dalam hidupnya. Hingga akhirnya dia mendapatkan tanaman keabadian itu.
...
"Pencapaiannya tersebut sangat luar biasa dan dia merasa begitu bahagia, bahkan bisa dibilang itu adalah tujuan hidupnya. Tapi, di akhir perjalanannya dalam membawa pulang tanaman itu, dia memutuskan untuk mandi sebelum kembali ke negerinya. Disaat lengah itu, seekor ular biasa yang bahkan tidak ada harga dirinya, mencuri tanaman itu darinya."
"I-itu sangat menyedihkan. Betapa menyedihkan yang dirasakannya. Dia pasti sangat marah dan kesal."
"Benar. Kebanggaan dan kebahagiaannya, semuanya langsung sirna begitu saja. Tapi, yang keluar dari mulutnya bukan kemarahan atau kekesalan."
"Apa?"
"Dia tertawa lepas. Dia benar-benar merasa terhibur... mengorbankan sisa hidupnya untuk mencari sesuatu, tapi langsung kehilangannya. Meski kehilangan segalanya tapi dia masih melihat hari esok. Wujud seorang tirani benar-benar menarik baginya."
...
"Memang sangat konyol. Tepat di ambang kematiannya, dia akhirnya mengerti tentang manusia, dan pada akhirnya dia menjadi raja dengan penuh kebijaksanaan meskipun keangkuhannya tidak dapat dihilangkan. Di masa depan raja itu mendapatkan orang-orang yang berharga baginya, harta yang tidak dapat tergantikan olehnya. Bagiku, ini memang kisah yang sangat menarik."
...
"Manusia mempunyai kemungkinan tidak terbatas untuk berkembang. Hal itu tidak akan berubah sedetik pun sampai ajalmu tiba. Pada akhirnya, perasaan dalam hati manusia akan terus berkembang." Kataku sambil menoleh ke Astia.
Cerita ini sudaj mencapai titik akhirnya. Mereka terlihat menikmati cerita yang kusajikan ini.
"Itulah kisah yang dapat kuceritakan pada Yang Mulia, selesai."
"Itu, itu kisah yang sangat mengharukan."
Astia merasa tersentuh, dia terus berlinang air mata.
"Hoho legenda itu memang sangat menyentuh. Memang seperti yang diharapkan dari Raja Pahlawan. Berbahagialah, aku sangat terhibur. Sebagai gantinya, akan kuberi hadiah lagi lain waktu."
"Begitu ya, akan kuterima dengan senang hati."
"Jagalah kesehatanmu, Yang Mulia."
"Tentu... Baiklah akan kutinggal."
Kami dengan hormat berlutut, lalu setelah itu kami menyaksikan Raja Azaka keluar dari rumah ini.
Huh~ ternyata bercerita itu membuatku capek ya...
"Astia, sebelum kita membersihkan seluruh ruangannya, mari kita membersihkan aulanya dulu. Saat ini kita harus lebih kerja keras."
"Tentu! Dan juga perkataanmu yang terakhir di cerita, ternyata aku masih mempunyai banyak harapan!"
"Huh, apa maksudmu?"
"Ah tidak, ayo kita bersih-bersih."
Aku tidak mengerti maksud Astia, tapi akhirnya kami memulai pekerjaan kami.
Inilah awalnya...
つづく