I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II

I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II
Interlude : Mimpi Buruk



Suhu dingin yang menusuk kulit, dengan pemandangan putih sejauh mata memandang. Di sebuah tempat yang tidak diketahui asalnya dan hanya tempat seperti kota mati dengan benteng-benteng yang menjulang tinggi.


Seorang gadis dan laki-laki remaja dewasa terlihat mengintai di tempat itu, menelusuri ke tempat kota mati itu dengan pakaian tebal yang sedang mereka kenakan.


Nafas dingin dan udara yang dapat membekukan paru-paru. Suhu yang ekstrim itu membuat kota itu menjadi salah satu kota yang paling berbahaya di dunia, namun kedua orang itu terlihat baik-baik saja dengan pengintaian mereka yang cukup lihai.


"Kota yang diselimuti salju abadi, kota yang dipenuhi kegelapan, dan kota yang telah ditinggalkan sejak lama. Sepertinya ini memang tempat persembunyian mereka." Kata pria itu.


"Tapi masalahnya, tidak ada tanda-tanda dari mereka..." kata gadis itu ketika melihat ke sekitarnya.


Setiap pintu dan jendela telah rusak. Namun bekas-bekas dari rumah yang ditinggali itu sepertinya masih terlihat baru seolah pernah ada yang masih menggunakan rumah itu.


"Aku berpikir kalau salju ini benar-benar aneh..." kata pria itu, lalu dia melanjutkan, "Menurut peta ini, daerah ini berada timur benua dan tidak memiliki musim dingin sama sekali. Seharusnya tempat ini berada di negara tropis, tapi kenapa ada salju?"


"Itu juga telah menjadi pembahasan kita, karena itulah kita menyelidiki tempat ini. Namun aku merasakan perasaan buruk sejak kita memasuki tempat ini." Kata gadis itu.


"Aku juga merasakan itu."


Ketika pria itu melangkahkan kakinya...


Boom!!


Sebuah ledakan terjadi. Mereka berdua terlempar ke kejauhan karena hempasan tersebut.


"?!"


Sebuah penghalang tipis melindungi mereka dari ledakan. Ledakan itu membuat suara yang menggelegar ke seluruh penjuru kota.


"Sial ini jebakan!"


Ketika pria itu mengatakan itu, orang-orang yang memakai jubah putih mengelilingi mereka dari segala arah. Mereka semua menembakkan anak panah dan menghujani mereka berdua.


"Kita harus mundur!" teriak gadis itu.


"Aku tahu..."


Kemudian pria itu melemparkan bom asap ke tanah dan ledakan asap segera menyelimuti seluruh pandangan. Detik berikutnya sebuah benda yang berbentuk bola keluar dari dalam asap, itu berjumlah puluhan.


Kemudian benda itu mengakibatkan ledakan di seluruh penjuru— mengarah ke orang-orang yang menyerang mereka berdua.


"Maafkan aku... aku tidak percaya kalau ini benar-benar jebakan... mereka semua telah menunggu kita." Kata Pria itu.


Itu sebabnya mereka terus berlari keluar dari kota itu.


Pria itu terus mengeluarkan bom miliknya dan melempari ke arah rumah-rumah yang kosong. Ini bertujuan untuk mengalihkan perhatian lebih lama.


"Mereka— orang-orang itu terus bermunculan!" kata gadis itu.


Orang-orang yang memakai jubah dan perlengkapan serba putih itu terus muncul dari segala arah dan menyerang mereka berdua dengan anak panah.


"Mereka sangat mengganggu, aku akan menyerang mereka."


Setelah perkataan gadis itu, gelembung air serta embun-embun berkumpul dengan cepat dan membentuk bola air yang sangat besar. Lalu, bola air itu membentuk sebuah bor dan melesat dengan kecepatan tinggi.


"Bagus mereka semua mundur! Kita harus—"


Namun, sebelum pria itu menyelesaikan kalimatnya, sebuah anak panah yang aneh melesat dengan kecepatan tinggi, mengarah ke gadis itu.


"Awas!" teriak pria itu.


Dia mendorong gadis itu dari jalur penembakannya, sebagai gantinya pria itu yang menjadikan tubuhnya sebagai tameng.


"Ugh!"


Pria itu terkena serangannya. Anak panah aneh itu telah menembus dari penghalang tipis yang menyelimuti tubuh pria itu.


"Tidak!" gadis itu berteriak khawatir atas kondisi pria itu.


Namun, pria itu masih bertahan, "Teruslah maju! Ugh! Kita tidak bisa berhenti di sini."


Tanpa mencabut anak panah yang telah menembus punggungnya, pria itu meraih yang tangannya— mereka terus berlari ketika mereka dihujani anak panah dari segala arah.


"Ke-kenapa penghalang milikku tertembus...?" tanya gadis itu.


"Aku tidak tahu. Kekuatan misterus mereka sepertinya dapat mengabaikan pertahanan sekuat apapun."


"Sepertinya rumor itu benar."


Mereka terus berlari tanpa kenal lelah di tengah hujan salju yang begitu lebat. Bahkan hujan anak panah juga menyertai mereka dan tidak membiarkan mereka lari dari tempat itu.


Meskipun anak panah biasa yang menyerang mereka tidak dapat menembus pertahanan dari kemampuan gadis itu, tapi ada sebuah anak panah yang misterius dan aneh yang mengabaikan itu.


Namun, ketika mereka terus berlari...


"Ugh!" gadis itu langsung terjatuh.


Anak panah misterius itu telah menembus kaki kirinya.


"Cih!" pria itu langsung menancapkan pedangnya ke tanah dan membuat api raksasa melindungi mereka.


"Pergilah!" teriak gadis itu, "Sepertinya mereka terus mengincarku. Aku akan mengalihkan dan menghambat mereka."


Namun pria itu mengabaikan perkataan itu, dia langsung membawa dan menggendong gadis itu dengan kedua tangannya.


"Apa kamu pikir aku akan membiarkanmu mati?"


"Tapi...!"


"Tenanglah, kita pasti akan keluar dari tempat ini dan memberitahukan kepada yang lainnya."


Tiba-tiba anak panah misterius itu langsung menembus pertahanan api itu, namun meleset.


Pria itu langsung berlari menghindari seluruh anak panah yang menyerang mereka. Di sisi lain, gadis itu terus melesatkan serangan elemen airnya ketika dia digendong.


"Ugh!"


Ketika gadis itu ingin memeriksa kondisi dari pria itu, pria itu langsung berteriak kepadanya.


"Jangan alihkan perhatianmu!"


Gadis itu pun tahu karena ada tekanan yang mendorong dirinya. Itu artinya pria itu telah terkena serangan lagi. Yang gadis itu prioritaskan saat ini adalah membuka jalan dari orang-orang yang berjubah putih itu.


"Tidak!"


"Maafkan aku... aku membuat keputusan yang salah. Tapi tenang saja, aku baik-baik saja." Kata Pria itu kepadanya dengan tenang.


Gadis itu frustasi dan membuat sihir yang lebih besar. Sebuah bola air raksasa langsung terkumpul dan menjadi sangat gelap. Lalu diluncurkan ke segala arah.


Kumohon bertahanlah...


Darah mengalir dan keluar dari mulut pria itu, tapi dia langsung mengelapnya dengan bajunya sebelum gadis itu menyadarinya.


"—" pria itu memanggil nama gadis itu dengan lembut, kemudian dia melanjutkan dengan suara yang pelan, "Bersiaplah... aku akan mendobrak benteng ini..."


Mereka dikeliilngi benteng ketika mereka berdua memasuki kota itu melalui jalur rahasia, tapi jalur rahasia itu sudah tertimbun salju tebal.


Sebagai jawabannya, gadis itu hanya mengangguk.


"Kalau begitu...!"


Api terpecik, kemudian meledak secara masif ke segala arah. Amukan api yang dihasilkan dari kemampuan pria itu menghancurkan sekitarnya dan menjebolkan benteng yang tebal itu.


"Cepat serang mereka! Mereka sedang terluka!" teriak seseorang dari atas benteng tersebut.


Anak panah serta sihir api dilesatkan dari atas benteng dan meledak masif ke arah tempat pria itu berlari. Setiap serangannya berhasil dihindari oleh pria itu. Lalu, air dengan cepat terkumpul dan membentuk puluhan bor— segera ditembakkan ke arah benteng itu dan berakhir menjadi reruntuhan.


"Akhirnya kita bisa keluar dari semua itu..." gadis itu menghela napas.


Sementara itu, pria itu tidak bisa mengatur napasnya— napasnya tidak beraturan dan mengeluarkan banyak keringat di wajahnya.


"Tuan Yu—"


Ketika dia ingin memanggilnya, pria itu langsung memotongnya.


"Aku tidak apa-apa, tenanglah. Aku tahu kota terdekat di sini, jadi bertahanlah...aku akan mengobati kakimu di sana."


"Tapi—"


"Aku tahu... ada anak panah yang berhasil mengenaiku, tapi aku bisa menahan itu..."


Setelah gadis itu memperlihatkan kekhawatirannya, pria itu terus menggendongnya hingga ke kota terdekat yang dikatakan pria itu.


Di sebuah kota yang lebih ramai dan dikelilingi oleh benteng untuk memasukinya, ada kesatria yang menjaga gerbang masuk tersebut.


"Kau yang di sana, berhenti!" penjaga gerbang itu meneriaki mereka berdua yang terlihat terburu-buru.


Ketika pria itu masih menggendong rekan gadisnya yang terluka, pria itu membisikkan sebuah kalimat yang hampir tidak bisa didengar dan memanggilnya.


"Maafkan aku karena tidak bisa bersamamu hingga akhir... Astia—"


Langkah kaki pria itu melambat dan akhirnya berlutut. Ketika gadis itu terlepas dari gendongan itu, para kesatria telah datang menemui mereka.


"Kau...?!"


Karena kedatangan mereka, gadis itu memohon, "Tolong biarkan kami masuk untuk sementara! Aku akan memberikan kartu identitas petualangku, jadi...!"


Tapi kesatria itu terkejut ketika melihat mereka berdua.


"Y-ya, ba-baiklah, tapi..." jawab kesatria itu yang kebingungan.


Namun gadis itu menjadi senang dan menatap ke arah rekannya, "Lihatlah! Kita berhasil masuk— Tuan Yuuki! Kita akan dapat melanjutkan rencana kita di kota ini! Dengan begitu kita akan memberikan serangan belasan!"


Kesatria itu menjadi bingung, "Um, nona... aku tidak tahu apa yang sedang kau bicarakan, tapi... rekanmu sudah..."


"Aku tahu rekanku terluka, makanya kita harus cepat-cepat mengobatinya."


"Tapi..."


Ketika gadis itu melihat lebih jeli, ada bekas darah yang dimuntahkan dari mulut pria itu. Lalu ketika dia melihat ke arah punggung pria itu... puluhan anak panah telah menancap dan menembus tubuhnya.


"Tuan Yuuki... kenapa kamu tidak merespon...? Kenapa tubuhmu dingin sekali? Bukankah kamu bilang tidak apa-apa?"


"Nona, temanmu sudah..." kesatria itu menyadarkan gadis itu...


"Tuan Yuuki! Tidak! Tidak! Tidak! Tidak! Tidak! Tidak! Jawab aku, jawab aku, jawab aku, jawab aku Tuan Yuuki!!" gadis itu terus menggerakkan tubuh pria itu dan mencoba menyadarkannya.


Tapi tidak ada respon darinya.


Pria itu berada di posisi berlutut, punggungnya dibanjiri oleh darah karena puluhan anak panah.


"Tidak Tuan Yuuki! Jangan tinggalkan aku sendiri..." gadis itu memeluk pria itu dan menangis.


Ketika gadis itu ingin mencoba berharap seluruh kejadian ini tidak terjadi, dia memanggil nama pria itu dengan pasrah.


"Tuan Yuuki!!"


Akhirnya dia terbangun...


つづく