I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II

I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II
Chapter 16.1



Ketika Visco dan Fay menuju ke garis depan, dia melihat sebuah kerusakan yang terjadi dalam formasi petualang. Padahal mereka telah mengatasi ribuan binatang iblis yang menyerang mereka secara membabi-buta.


“Apa-apaan itu...?!”


Fay terkejut dengan kondisinya. Seluruh petualang terus dipukul mundur dan tidak bisa memberikan serangan kepada seekor monster yang baru dilihatnya saat ini.


“Kita tidak mendengar informasi monster itu dari titik selatan, dan masih belum mendapatkan informasi apapun dari titik timur laut. Apa ini adalah monster baru yang menyerang di titik ini?” tanya Visco.


Monster itu berbentuk seperti ular tapi memiliki tubuh yang jauh lebih besar daripada Wyvern. Bahkan tidak hanya itu, kecepatan serang mereka puluhan lebih menakutkan daripada binatang iblis. Itu artinya tidak ada yang bisa melihat pergerakan monster itu sama sekali.


“Mari kita lawan!” teriak Visco.


“Itu harus kita lakukan!”


Kemudian mereka mengejar Vord yang masih menahan serangan bertubi-tubi dari ular raksasa itu. Ketika Visco dan Fay datang, mereka berdua secara bersamaan berteriak.


““Vord! Ganti posisi!””


Vord yang masih mengatur napasnya ketika menghalau serangan ular raksasa itu, melihat mereka berdua dan mengangguk. Kemudian Vord mundur untuk sesaat ketika Fay dan Visco melakukan serangan balasan.


“Baik!”


Ketika Visco meluncur ke udara dan mengangkat pedangnya, ular itu bereaksi terhadap kedatangan Visco dari arah lain.


“Rasakan pedang terkutukku ini!”


Pergerakannya tidak ada yang terpaksa dan meluncur seperti anak panah. Visco menyerang dan melepaskan tebasan horizontal ke arah moncong ular itu. Namun setelahnya, bukan itu yang dia harapkan.


Tubuh Visco tiba-tiba terpental dengan sendirinya, bahkan dia tidak bisa melihat serangan itu. Rasa sesak di dadanya ketika dia terhempas ke kejauhan. Meskipun begitu, itu adalah pengalihan.


Fay berada di titik buta penglihatan ular raksasa itu. Dengan kecepatan yang tidak masuk akal yang dimiliki olehnya, dia bisa menghindari reaksi cepat dari ular raksasa dan membelah tubuh dan kepala ular raksasa itu menjadi dua bagian.


Tidak hanya itu, ketika tubuh itu terbelah, sebuah guntur dari langit menyambar ke seluruh bagian ular itu. Ledakan terjadi yang membuat lubang besar di tanah, serta asap hitam yang ditimbulkan oleh ledakan itu.


Ketika Fay masih melayang di udara untuk mencapai pijakannya di tanah, di saat itu juga kecepatan yang di luar jangkauan Fay berusaha menerkam Fay dari balik asap hitam itu. Itu adalah ular raksasa itu.


“Sial!!”


Fay tidak akan bisa mengelak serangan ini ketika dia masih berada di udara, tidak ada pijakan untuk membuatnya menghindar.


“Kau pikir kau bisa bertindak seenaknya huh!”


Sebuah kata-kata itu menyelamatkan Fay dari kematian. Dengan tangkasnya Visco menabrakkan diri dengan tubuhnya ke sisi samping ular raksasa itu. Itu yang membuat serangan ular raksasa meleset dari tubuh Fay.


Sebelum ular raksasa itu kembali bereaksi dengan serangan berikutnya, para petualang memborbardir kekuatan dengan serangan ke titik ular raksasa itu. Ini tidak lebih dari kekesalan dari para petualang yang frustasi karena tidak bisa mengatasi serangan ular raksasa.


Itulah yang membuat seluruh kekuatan dari para petualang dilancarkan pada satu titik.


Kerusakan hebat terjadi, membuat tanah lapang yang hijau dipenuhi kerusakan dan sebuah lubang yang hampir menyerupai kawah-kawah di setiap penjuru di titik timur.


****


Ketika para petualang kelas tinggi sedang mengatasi serangan yang berada di garis depan, di sisi lain gadis cantik yang memakai pakaian seperti orang China sedang mengatasi binatang iblis dengan kemampuan bela dirinya dan teknik sihirnya.


Dia adalah Ellena.


“Cih! Monster-monster ini benar-benar mengganggu!”


Ellena frustasi dengan kedatangan binatang iblis secara terus menerus.


Namun dia mengatasi salah satunya dengan sekali serang. Dengan sekali tendang, dia dapat menghancurkan kepala binatang iblis itu hingga terpisah dari tubuhnya.


“Kalau kau terus mengeluh, kenapa kau tidak berlindung dan bersantai-santai di kemah itu saja.” Kata seseorang.


Dengan perawakannya yang besar selayaknya orang kuat yang berotot, dia mengeluarkan sihir dan membuat batu-batu besar menjulang tinggi, hingga mempertahankan posisinya sampai saat ini.


Dia adalah Gorou, rekan sekelompok dengan Ellena.


“Kau pikir aku cocok dengan kondisi dan kecepatan musuh yang semenakutkan ini?!” kata Ellena yang frustasi.


“Kenapa kau tidak kendalikan saja mereka? Bukankah identitas aslimu itu adalah Sorcerer?”


Gorou hanya bersantai mengatakan itu ketika dia mengatasi serangan dari musuh. Tidak ada sedikitpun binatang iblis yang mendapatkan jarak serangnya dan mencapai tubuh Gorou. Pertahanan areanya sangat bisa diandalkan.


Namun di sisi lain, Ellena masih mengeluh tentang kemampuan yang disebutkan Gorou.


“Bukankah sudah pernah kubilang? Kemampuanku itu membutuhkan waktu!!” Ellena berteriak ketika masih menyerang binatang iblis satu persatu.


Dia kesal dengan pernyataan Gorou terus-menerus, karena itu dia mengerahkan kekesalannya pada binatang iblis itu. Setelah itu dia melompat ke udara ketika sebuah elemen api menyelimuti tangannya.


“Kau mau ingin bermain bola anjing-anjing kecil?!” Ellena melompat ke udara dengan tangannya ke atas ketika sebuah bola api raksasa berada di atasnya, lalu dia berteriak, “Nih! Makan tuh bola!”


Ellena memijakkan kakinya ke tanah dan melihat binatang iblis itu terkena ledakan bola api. Melihat binatang iblis itu tersiksa, Gorou mendatangkan Ellena dengan sebuah pertanyaan.


“Lalu untuk apa aku membuat ruang seperti ini?!” bentak Ellena.


“Ya jangan marah-marah seperti itu dong.”


Setelah itu, Gorou kembali dengan sebuah pertanyaan yang lebih serius ketika Ellena memokuskan pikirannya.


“Bagaimana caranya kau memanipulasi dan mengendalikan mereka? Bukannya kau harus memilih agar orang yang didekatmu tidak menjadi sasaranmu juga?”


“Bagaimana? Tinggal lepaskan manipulasi pikiran massal saja kepada mereka. Konsep pengendalianku cukup berbeda. Selama ada emosi jahat atau emosi ingin membunuh, mereka akan mendapatkan pengaruhku.”


Inilah yang disebut pengendalian oleh Ellena. Selama mereka mempunyai kriteria itu maka sesuatu yang akan dikendalikan akan menjadi anjing yang menurut kepada tuannya tanpa mengibaskan ekornya sedikitpun.


“Itu artinya kalau ada pengkhianat di antara kita saat ini, maka dia akan terpengaruh juga?” tanya Gorou.


“Benar. Makanya itu yang kusebut dengan pengendalian massal. Baiklah akan kumulai.”


Setelah Ellena telah memokuskan pikirannya ketika dia berbicara pada Gorou, Ellena membuka matanya dan mengarahkan pandangannya kepada para binatang iblis itu yang sebentar lagi mencapai posisinya.


Kemudian Ellena mengarahkan tangannya ke binatang iblis itu, lalu dia memberikan pengaruhnya ketika binatang iblis itu secara agresif datang kepadanya.


Ellena tersenyum, lalu mengatakan, “Mari bermain bersamaku anjing-anjingku yang manis~”


Hanya berjarak satu meter dari tangan Ellena, tapi binatang-binatang iblis itu berhenti secara mendadak. Mereka semua terdiam seolah halusinasi menyelimuti pikiran dan tubuhnya.


“Selama bertualang bersamamu, aku baru melihat hal yang semacam ini.”


“Hahahaha! Lucu sekali. Padahal ini juga momen yang langka buatku.” kata Ellena yang tertawa senang, “Membutuhkan satu juta perbandingan untuk mendapatkan kesempatan yang seperti ini. Tapi sekarang aku bisa mencapainya!”


Ketika Ellena berbicara pada Gorou, Gorou menyadari sesuatu.


“Ellena, kau tidak apa-apa? Hidungmu keluar darah.”


“Ah, kau menyadarinya ya...”


Tiba-tiba Ellena berlutut seolah dia tersiksa akan sesuatu. Karena itu Gorou panik dan menghampirinya.


“Hey! kau benar tidak apa-apa?” kata Gorou ketika dia menahan Ellena yang sedang kesakitan memegang kepalanya.


“Ahaha~ Sepertinya aku memasuki alam bawah sadar sesuatu yang menakutkan ketika aku mengendalikan binatang iblis itu.”


“Apa itu?” tanya Gorou.


“Aku tidak tahu, tapi sepertinya aku telah melewati pengaruh lain yang telah mengendalikan monster-monster ini dengan kekuatan dan dominasi yang lebih besar. Ini yang membuatku seperti ini.”


Ellena tidak mengetahui apa itu, tapi itu sangat membuatnya menggigil ketakutan saat mengendalikan binatang iblis itu dalam jumlah yang besar. Seolah-olah Ellena telah mengambil alih dari seseorang yang mengendalikan monster yang menyerang mereka dan itu jauh dari pemahaman manusia.


Efeknya yang membuat kepala Ellena seperti mau hancur dan itu sangat menyakitkan. Namun dia masih bertahan dari itu.


“Apa kau bisa melepaskan pengaruhmu sekarang? Sepertinya kau tidak memiliki kekuatan untuk itu.” Kata Gorou yang mengkhawatirkan Ellena.


“Tidak, aku ini sudah cukup bagiku dan aku tidak mau melepaskan hal ini. Ini juga masih dalam batas wajarku, tapi kalau aku mengendalikan lebih banyak binatang iblis lagi, kemungkinan aku yang akan dikendalikan.”


“Apa itu artinya monster-monster yang telah menyerang kita, telah dikendalikan?”


“Mau tidak mau kita harus berspekulasi tentang hal itu... Baiklah, sepertinya aku sudah lebih baik mengontrol rasa sakit ini.”


Setelah kalimat itu, meskipun masih merasakan rasa sakit di kepalanya, Ellena kembali berdiri dan memerintahkan sejumlah binatang iblis untuk menyerang binatang iblis lainnya.


“Kalau begitu, mari kita ke garis depan dan menggunakan kemapuanku untuk menembus pertahanan mereka!” tambah Ellena yang perlahan mendapatkan kembali semangatnya.


“Bukankah seharusnya kau ke tempat medis?” tanya Gorou.


“Hah! Pertanyaan macam apa itu?! Seharusnya kesempatan yang telah kudapatkan harus kumanfaatkan dengan baik!”


Karena itu Gorou pasrah, “Huh~ baiklah.”


“Lagipula, kau tahu kan kalau Astia berada di tempat ini? Itu artinya Yuuki masih bertanggung jawab kepada kita, dan menempatkan posisi Astia di titik ini. Dengan begitu semuanya akan sesuai rencana!” tambah Ellena.


Sepertinya Ellena telah mengetahui kalau Astia berada di posisi itu ketika dia menemui seseorang yang sangat mirip dengan Astia saat tadi. Meskipun Ellena menduga hal itu, tapi dia sudah mengetahui kalau Astia dan rekan-rekannya berada di titik itu karena suatu hal.


Ellena juga mengetahui seluruh rencananya karena momen pada malam itu. Jadi Ellena percaya diri kalau dia akan dibantu dari belakang meskipun keberadaan Astia untuk saat ini tidak diketahui.


“Sepertinya kau meyakini kecurigaanmu pada gadis itu adalah Astia, yah kalau kau terus meyakini hal itu mungkin aku akan berharap pada kemungkinan yang berjalan dengan baik.” Gorou juga berharap akan kemenangan itu juga.


“Kalau begitu, mari kita pergi.”


Setelah melewati beberapa binatang iblis dengan pengaruh Ellena terhadap binatang iblis yang telah dia kendalikan, mereka berdua dengan lancar menumpaskan beberapa barisan binatang iblis. Lalu beberapa saat kemudian mereka berhasil ke posisi garis depan.


つづく


Jangan lupa like, komen, dan klik favorit ya, terimakasih!