I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II

I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II
Chapter 20.2



“Ugh! Kenapa k-kau terhindar dari kemampuanku?!”


Hydra itu meraung kesakitan, menatap Raja Azaka dengan kebencian yang mendalam. Jalannya waktu telah terhenti, seluruh pergerakan kami telah berhenti karena itu. Namun hanya kami bertiga yang terhindar dari itu semua, di antaranya adalah aku, Astia, dan Raja Azaka.


Aku tidak mengerti kenapa kami bertiga terhindar dari kemampuan tersebut. Kemungkinan Astia yang ‘dianggap’ pahlawan oleh Hydra itu telah diizinkan untuk tetap bergerak di penghentian waktu miliknya, sehingga Astia dapat bergerak saat ini. Tapi, untuk kasus diriku dan Raja Azaka tidak dapat kutemui alasannya.


“Kenapa katamu? Aku adalah raja seperti yang kau kira. Jadi keberadaanku di sini berhak untuk menolak kemampuanmu itu.” Kata Azaka.


Oke, aku tidak mengerti. Kenapa ada bagian dari hak raja yang bisa menolak kemampuan seperti itu? Lalu kemampuan gila macam apa itu?


“Kenapa kau terlalu percaya diri? Bukan kaulah orang yang kumaksud, tapi manusia itu!”


Itu artinya, diriku? Hah! Apa yang terjadi? Oke, aku akan tenang, bahkan monster itu telah menganalisa diriku sehingga dia menyebut diriku bisa menghindari kemampuan penghentian waktu ini. Yang Anehnya, aku bahkan tidak mengerti bagaimana cara menghindarinya!


Bahkan aku tidak memiliki informasi tentang itu!


“Apa maksudnya ini, Yang Mulia?” tanyaku.


Karena aku tidak bisa menjelaskan peristiwa ini dengan kemampuan berpikirku hingga batas tertentu, mungkin Raja Azaka mengetahuinya. Jadi aku bertanya padanya.


“Menurutku, kemungkinan besar karena kau berasal dari dunia lain. Jadi kita bebas menilai bahwa kekuatan monster itu tidak mempunyai pengaruh terhadap dirimu.”


Oke, baiklah. Tapi bagaimana bisa? Meskipun kita bisa memberikan pengandaian bahwa kemampuan penghentian waktu monster itu mencakup dunia ini sehingga tidak bisa mencapai ke dunia lain, tapi kan keberadaanku tetap di dunia ini.


Karena itu aku tetap tidak mengerti.


“Baiklah, mungkin secara garis besar aku mengerti kemungkinan seperti itu. Tapi bukankah manusia normal sepertiku seharusnya terkena kemampuannya seperti gadis lainnya?”


“Kau mungkin benar...” kata Azaka, “Tapi, pengetahuanku akan kebenaran juga tidak bisa menjelaskan hal itu. Yang lebih mengerti tentang dirimu adalah monster itu sendiri.”


“Sialan dirimu, manusia! Keberadaan ‘rusak’ sepertimu seharusnya dihancurkan! Karena itu diriku akan melenyapkanmu dalam kematian!”


Hydra itu memusatkan energinya pada satu kesatuan, dengan energi hitam pekat seperti itu, telah melenyapkan ribuan pasukan dalam sekejap. Aku harus berpikir untuk menghindar dari jalur serangannya.


Aku menghunuskan pedangku, dan membakar pedangku dengan api yang menyala. Namun...


“Apa kau pikir aku akan membiarkan kadal sepertimu melakukan hal itu lagi?!”


Puluhan lingkaran sihir raksasa terkonstruksi di seluruh sisi tubuh Hydra itu. Kemudian energi hitam pekat keluar dan melesat ke arah tubuh Hydra itu secara brutal.


Secara konsep kekuatan, kekuatan mereka bedua pada dasarnya sama.


Namun, perbedaan kemampuan Raja Azaka darinya adalah keefesiensian dan kefleksibelan dalam melancarkan serangannya.


Boom!!


Energi terus terkonstruksi dan mendestruksi musuhnya hingga ke tingkat Hydra itu tidak bisa melawan dengan kemampuan pertahanan dan daya tahan kulit tebalnya.


**“Raja sialan!!” **Hydra itu terus meraung dengan kekesalan dendamnya.


Semakin dia marah maka kekuatan dominasinya dan rasa kegilaannya yang diberikan ke sekitar akan lebih kuat. Namun, kemampuan itu telah dinihilkan oleh kemampuan penghalang Astia. Jadi kami tidak terkena efeknya.


“Baiklah, sekarang saatnya menghentikan efek penghentian waktu ini.” Tambah Azaka.


Setelah perkataannya, aku tidak tahu apa yang telah dilakukan Raja Azaka, tapi seluruh waktu telah bergerak kembali seperti normalnya.


Orang lain telah menyadarinya— perubahan cepat yang dialami di sekitar mereka menjadi aneh dan berubah drastis. Karena itu, Rose yang pertama kali menyadarinya karena sebuah reaksi cepatnya.


“A-apa yang terjadi?!”


Rose menghentikan pergerakannya. Dia melihat ke arah depannya, dan melihat sebuah kenyataan yang terjadi. Monster itu hampir lenyap dengan lingkaran sihir yang terus melesatkan energi hitam pekat. Meskipun kemampuan Astia tetap bekerja di sana, tapi regenerasi Hydra itu terus menyusul kecepatannya daripada yang menghambatnya.


“Kalian?!” sebuah suara wanita yang terkejut terdengar dari arah belakang kami.


Kemudian kami semua menoleh ke arah suara itu, dan terkejut setelahnya.


“Violentina?!” Fay yang pertama kali menyebutkannya.


Seorang pemimpin petualang dari Angel Queen, berada di arah belakang kami. Kepalanya dibanjiri oleh darah yang ditutupi oleh rambut yang seperti api berkobar. Sayangnya dia dipenuhi luka hampir di seluruh tubuhnya.


Dia sedang memegang busurnya dengan dua bilah pedang panjang yang masih disarungkan di sisi kanan dan kirinya, telah berusaha mencapai ke barisan ini dengan luka sebegitu banyaknya. Namun hebatnya dia masih bisa tetap berdiri meskipun terlihat kesulitan.


Yang lebih buruknya adalah, Violentina sendirian dan tidak ada anggota yang tersisa dari kelompoknya


Karena bereaksi terhadap hal itu, Ellena pergi menghampiri Violentina dan langsung memberikan penyembuhan kepadanya.


“Violentina... pasukanmu...?” tanya Ellena yang penasaran, tapi itu sudah jelas jawabannya.


“Maafkan aku... aku tidak bisa menyelamatkan mereka.”


Itu artinya anggota yang tersisa dari Angel Queen hanyalah Violentina seorang. Ini sangat menyakitkan, tapi dia adalah salah satunya yang bertahan dari serangan itu selain Raja Azaka, dan artinya dia memang kuat karena kebertahanan hidupnya itu.


“Aku juga tidak akan bisa membantu apa-apa dengan kehadiranku di sini. Maaf, aku hanya membawa kalian beban.” Tambahnya.


Namun Ellena menolaknya, “Tidak, itu tidak benar. Kami pun bersyukur karena masih ada orang yang selamat dari serangan itu.”


“Terima kasih.”


Sementara Ellena berusaha menyembuhkan luka Violentina, kami semua berusaha memikirkan cara untuk menaklukan monster bencana itu. Masalahnya, meskipun regenerasinya sudah dibatasi dan dihambat oleh Astia, tapi kekuatan energinya masih di luar pemahaman kami. Jadi kami tidak bisa membunuhnya sebelum menghancurkan regenerasinya.


Bahkan kekuatan membabi-buta dan semasif yang telah Amarilis lesatkan, tetap tidak bisa menumpas seluruh keberadaan Hydra itu.


Baiklah, Raja Azaka kemungkinan besar memiliki informasi yang tidak kuketahui. Jadi aku ingin kepadanya...


“Yang Mulia, apa Yang Mulia tidak memiliki cara atau ide untuk mengalahkan monster itu?”


Aku melihatnya ketika dia dengan kukuh menyilangkan tangannya.


“Bukan berarti aku tidak tahu, tapi aku belum mendapatkan informasi yang cukup tentang kadal itu.”


“Kalau begitu, mari kita serang kembali.” Kataku.


“Itu usaha yang bagus.”


Dengan penyerangan kami, aku akan membuka seluruh kemungkinan yang bisa membunuh makhluk itu. Dengan begitu, Raja Azaka akan menganalisanya dan memberikan jawabannya.


“Ayo, Astia.”


“Siap, Tuan Yuuki!”


Sebelum kami melesat untuk menyerang Hydra itu, Raja Azaka memberikan arahannya padaku.


“Yuuki... berusahalah buka pertahanannya dan serang monster itu tanpa memberikannya ruang gerak.”


Itu terlalu berat bagiku. Bahkan dengan kemampuan kami semua tidak bisa membuat serangan yang bertubi-tubi, sehingga kami membutuhkan napas untuk melancarkan serangan kami. Jadi ada kalanya serangan kami berhenti dalam sesaat.


Tapi, akan aku usahakan bagaimana caranya.


“Baiklah...”


“Kalau begitu, aku akan membantu kalian dari jauh.” Tambah Azaka.


Aku mengangguk dan segera melesat ke arah Hydra itu dengan cepat.


Ledakan terjadi di arah kepala Hydra itu, tapi itu hanya sentuhan kecil baginya. Namun dengan satu anak panah magis yang dilancarkan Lilac, membuat ribuan anak panah lainnya keluar dari dalam asap dan mengarah ke seluruh bagian tubuh Hydra itu.


“Kenapa manusia ini selalu berpikir serangan yang sama berpengaruh padaku...?”


Namun itu adalah sebuah pengalihan...


Aku langsung melesat keluar dari asap bersama Astia. Koordinasi kami berdua persis ketika kami melawan Laven tempo hari. Tapi, hari ini bantuan lain membantu kami yaitu para gadis yang dipimpin oleh Lilia.


Puluhan bilah belati melesat ke arah Hydra itu dan mengoyaknya hingga ke tingkat kulit tebalnya tertembus seperti daging empuk. Itu pasti adalah kemampuan dari Lilia.


“Master!”


“Bagus, Lilia.” gumamku.


Dengan penyerangan Lilia, membuat Hydra itu teralihkan karena terkejut dengan serangannya yang dapat menembusnya dengan mudah.


Kemudian akar-akar raksasa menjulang tinggi dari tanah dan menghalangi jalan kami. Akar-akar itu menyerang kami secara brutal tapi aku dan Astia terus menghindarinya.


“Biarkan aku yang mengatasi ini, master!” teriak Annastasia yang melompat ke arah depanku.


Annastasia melemparkan puluhan bom ledak, lalu menghancurkan akar-akar itu hingga terkoyak habis. Sebelum akar-akar itu beregenerasi, kemampuan Astia terus menghambat regenerasinya.


Kami melewati Annastasia dan melewati akar-akar itu dengan mudah.


“Tuan Yuuki, aku akan menyentuh tubuh Hydra itu, lalu akan mencoba merusak bagian dalam dari tubuh monster itu.” Kata Astia.


“Baiklah, aku akan melindungimu.”


Sebagai tameng pertahanan, aku akan terus membuka jalan dari setiap halangan untuk Astia. Mungkin Astia memiliki rencana yang terpikirkan olehnya, atau sebuah kemampuan Astia yang telah terpikirkan olehku sejak lama.


Astia berpotensi besar merusak sejumlah besar organ dalam atau sel yang berada di dalam tubuh setiap makhluk dengan pengendalian airnya. Itu memang sangat berbahaya.


Mungkin dengan mengatur sistem regenerasi dari Hydra itu, Astia dapat menghentikan regenerasinya. Dalam batas ini Astia hanya bisa merusak dan menghambat regenerasi musuh-musuhnya dan memberikan rasa sakit yang luar bisasa pada musuhnya dari dalam. Sama halnya dengan kekalahan Varvatos, Astia menggunakan kelebihannya itu padanya.


Aku membakar pedangku dan menghalau seluruh akar-akar tajam yang melesat dengan sangat cepat. Aku menaruh kecepatan reaksiku hingga tahap maksimal. Kemudian, sebuah energi yang terkonsentrasi segera ditembakkan ke arah kami. Aku akan menggunakan ‘Inferno Beam’ tapi...


Seseorang menebas jalur serangan energi itu dan menghilangkannya secara sempurna.


“Kau...?”


“Aku akan memberikan jalannya pada kalian!” teriak Fay.


Setelah dia berteriak seperti itu, pedangnya dia arahkan ke Hydra, lalu sebuah guntur ekstrim menyembur. Sebuah ledakan masif terjadi, dan membuat Hydra itu mendapatkan luka parah di area kepalanya. Namun itu segera beregenerasi.


Tapi dengan pengalihan itu, kami akan segera lebih dekat.


Lingkaran raksasa tercipta dan segera menembakkan energi hitam pekat dari seluruh arah. Energi yang diciptakan Raja Azaka membuat mundur Hydra itu.


Namun, setelah mendapatkan serangan seperti itu, tiba-tiba sebuah cairan membanjiri di area sekitar tubuhnya. Itu adalah cairan yang sama seperti yang telah dimuntahkan oleh ular raksasa. Zat asam seperti itu dapat membuat besi terkuat pun menjadi bubur.


Itu sangat berbahaya...


“Tuan Yuuki, itu...”


Sebelum Astia ingin menghentikan pergerakannya tapi Natasha sudah berada di depan kami dan dia berteriak.


“SONICALLY AIR!!”


Angin dan badai mengamuk di sekitarnya, membuat banjir zat asam itu menghilang, ditambah serangan ledakan dari jarak jauh yang dibuat oleh Amarilis dan Lilac.


Kalian semua patut diapresiasi!


“KALIAN! MANUSIA SIALAN!!”


Hydra itu mengeluarkan seluruh dominasinya dan membuat kami tertekan, menambah penyempitan di ruang bernapas kami, tapi kami tidak akan menyerah dengan itu.


Bahkan dengan kemarahannya, seluruh kepala Hydra itu menyemburkan semburan napas api yang terpadatkan. Namun! Itu tidak akan terpengaruh pada kami.


Aku dan Astia menembus api itu hanya dengan melewatinya saja, tanpa terbakar sedikitpun. Dengan begitu aku dan Astia melompat jauh ke depan atas pijakan air dari kemampuan Astia.


“Kau pikir diriku akan membiarkan makhluk hina seperti kalian mendekatiku?”


Kami mendekat padanya, dan rahang-rahangya berusaha menerkam kami, tapi dengan pijakan air ini membuat kami terus menghindar. Sedikit lagi kami mencapai tubuhnya...


Terisa satu kepala yang telah mengumpulkan energi hitam pekat di mulutnya.


BOOM!!


Serangan cahaya merah menghantam kepalanya. Aku sekilas melihat ke arah belakang, ternyata itu adalah serangan dari Violentina yang berusaha menarik busurnya. Itu bagus, kepala itu langsung hancur seketika.


Rose berada di arah lain jalur serangnya, Fay menciptakan guntur dari langit-langit, ‘Sonically Air’ milik Natasha segera ditembakkan dari bawah, serangan masif petir bercabang dari Elma segera dihempaskan melewati sabit besarnya dari sudut lain. Bahkan serangan belati Lilia dan serangan jarak jauh Lilac dan Amarilis, berpartisipasi membuat serangan dari segala arah.


Tujuan kami adalah menyerang Hydra itu dari segala arah dan melesatkan serangan masif padanya. Lalu tujuan utamanya adalah...


“Astia!!” Astia menggunakan kecepatan penuhnya, hingga beberapa jengkal lagi tangannya menyentuh tubuh Hydra itu. Aku akan mengatasi serangan dari belakang Astia, jadi...


Tidak ada penghalang baginya.


Sekarang adalah waktu Astia untuk merusak segalanya yang dimiliki oleh monster kelas bencana itu.


Tapi...


“Ternyata begitu... aku telah menemukan kelemahan terbesar kalian.”


Tiba-tiba Hydra itu menghilang dari pandangan kami, dan dengan sangat cepat dia berpindah ke arah yang lebih jauh.


“Sial! Dia berteleportasi...?!” yang pertama kali menjawabnya adalah Rose.


Namun itu belum selesai, bencana buruknya terlewati tanpa ada yang menyadarinya, tapi hanya Astia yang menyadari itu.


“Tuan Yuuki!! Tidak!!” Astia berteriak, mengarahkan tatapannya dan tangannya yang putus asa ke arahku.


Aku pun tidak menyadarinya...


Akar-akar tajam itu menjulang tinggi dan memiliki kecepatan yang tidak bisa kulihat, bahkan tidak hanya itu. Sebuah energi hitam pekat telah ditembakkan untukku seorang. Dan serangan itu tidak ada yang menyadarinya.


“Ugh!”


Aku berusaha menghindar dari sayatan dan tusukan akar itu. Tapi aku tidak bisa menghindari semua, beberapa akar telah menusuk beberapa bagian lenganku dan kakiku. Aku sedikit berhati-hati dalam menjaga titik vital tapi akarnya telah menyerempet bagian leherku. Ditambah, akarnya telah menebas area dadaku hingga ke perutku.


Aku bahkan tidak tahu dia mempunyai pola serangan seperti itu...


Bahkan yang terburuknya adalah... aku tidak bisa menghindari sama sekali energi hitam pekatnya itu.


Seluruh tubuhku diliputi hawa yang sangat panas, sepersekian detik kemudian, ledakan besar menghantam diriku dan menghempaskan aku hingga melebihi ratusan meter.


Penghalang Astia telah hancur, tubuh bagian depanku dibanjiri darah. Kepalaku terbentur sesuatu dan mengalami pendarahan yang hebat.


“Huh~ ternyata ini rasa sakit akan kematian...” aku hanya membalas kondisiku ini dengan helaan napas.


つづく